
Merasa telah merebut hati Aini dan membuat Putri semakin tersisihkan, tidak ingin membuat Bagus semakin merasa sangat berdosa, sehingga lebih memilih untuk menghentikannya sampai di sini sebelum semakin jauh.
"Maafkan aku karena tidak menceritakan ini. Aku sedang memikirkan jalan keluar dari masalah yang menimpa rumah tangga kami. Semua ini bisa terjadi karena akulah penyebabnya. Jadi, jangan salahkan Putri dan membuatku semakin merasa bersalah."
"Apa maksudmu, Bagus? Astaga! Kenapa setelah Putri melakukan semua hal buruk padamu, tapi masih tetap sama sikapmu padanya? Sebenarnya terbuat dari apa hatimu," umpat Aini di seberang telpon yang saat ini kembali merasa sangat kesal.
Beberapa saat lalu berbicara dengan Putri yang membuatnya merasa sangat shock hingga tensi darah naik, kini semakin bertambah pusing begitu mendengar respon dari Bagus yang menurutnya berhati malaikat karena tidak membenci Putri meski sudah dikhianati.
"Aku hanya berpikir hal yang sebenarnya terjadi ini adalah karena aku," ucap Bagus dengan wajah muram.
Ia sama sekali tidak memperdulikan apapun lagi selain jalan keluar dari nasib rumah tangganya. Bahkan saat ini ia juga tidak melirik sama sekali sosok wanita yang tidak kunjung pergi juga dan malah sabar menunggunya selesai berbicara di telpon.
'Sebenarnya apa yang diinginkan Amira Tan? Aku tahu saat ini dia sedang bersorak kegirangan karena apa yang dikatakannya saat itu benar adanya. Apakah tujuannya datang ke sini adalah untuk menghinaku? Dari mana dia tahu bahwa aku sedang ada di sini?'
Lamunan Bagus seketika buyar begitu mendengar suara Putri dan membuatnya menghela napas kasar dan berat.
"Jangan pernah menceraikan Putri jika kamu masih mencintainya setelah perbuatan buruk yang dilakukan. Namun, jika kamu sudah tidak bisa menerimanya dan jijik melihatnya, ceraikan dia tanpa pikir panjang. Oh ya, tadi dia pinjam uang dan aku mengatakan tidak akan pernah meminjamkan uang padanya untuk biaya menikah dengan selingkuhannya."
Baru saja Bagus berniat untuk membuka mulut menanggapi, sambungan telpon sudah terputus secara sepihak. Ia bisa mengerti bahwa saat ini Aini benar-benar sangat murka pada Putri, sehingga berbicara sangat kasar untuk meluapkan amarah.
Sayangnya, lagi-lagi ia yang menjadi sasaran dan membuatnya merasa semakin pusing kali ini.
Bagus kini meletakkan ponsel miliknya di sebelah kiri tempatnya duduk dan beralih menoleh ke arah sosok wanita dengan pakaian kerja berwarna hitam tersebut.
"Bagaimana bisa kau tahu bahwa aku sedang ada di sini? Apa kau ingin mengatakan bersedia membantuku?"
Sementara itu, sosok wanita dengan rambut hitam berkilat yang digelung ke atas, sehingga terlihat sangat rapi tersebut hanya terkekeh geli. Ia kali ini tidak bisa tinggal diam dengan kesalahpahaman dari pria yang membuatnya merasa sangat iba tersebut.
"Percaya diri sekali kamu. Bagaimana mungkin kamu berpikir aku datang mencarimu? Sepertinya Putri berhasil membuat kepalamu hampir pecah karena perselingkuhannya."
__ADS_1
Amira yang bersikap sangat tenang, kini membuka tas dan mengambil sesuatu di sana, yaitu satu bungkus rokok dengan pemantik api. Kemudian menawarkan pada Bagus.
"Rokok!"
Bagus yang kini memicingkan mata saat melihat satu bungkus rokok di tangan Amira. Namun, ia hanya menggelengkan kepala karena selama ini tidak merokok.
"Kamu merokok?"
Ekspresi wajah heran yang selalu ditunjukkan oleh semua orang ketika mengetahui seorang wanita merokok sudah biasa dilihatnya dan membuat Amira Tan kini mengambil satu batang dan menyalakan pemantik hingga bau tembakau yang terbakar mulai menguar di udara.
"Aku pikir ekspresimu akan sangat berbeda karena menurutku, kamu adalah pria langka karena malah merasa bersalah saat istri berselingkuh dengan pria lain hingga hamil. Rasanya sekarang ini aku ingin memukul kepalamu agar bisa kembali ke setelan pabrik."
Amira Tan yang kini sudah menyesap satu batang rokok di tangannya dan beberapa saat mengembuskan asap yang langsung mengepul dan lama kelamaan menghilang ditelan udara.
Bagus yang memang tidak merokok, tapi menjadi perokok pasif karena selama ini bekerja dengan orang-orang yang merokok.
Tentunya semua orang tahu bahwa perokok pasif adalah orang yang bukan perokok, tapi menghirup asap rokok orang lain dan seringnya berada dalam satu ruangan tertutup dengan orang yang sedang merokok.
Bahkan ada kasus dari perokok pasif yang merupakan temannya juga terkena penyakit jantung koroner yang menyebabkan serangan jantung, nyeri dada dan gagal jantung.
"Apakah kau tidak sadar?"
Amira Tan menoleh ke arah Bagus dan memicingkan mata. "Apa tidak terbalik? Bukannya sekarang ini kau yang tidak sadar?"
"Perokok aktif bisa membahayakan kesehatan orang-orang di sekitarnya," sahut Bagus yang kini mengembuskan napas kasar.
Sementara itu, Amira Tan merasa tertampar dengan perkataan dari Bagus dan seketika membuang sisa puntung rokok yang tadi berada di sela-sela jarinya. Kemudian menginjaknya.
"Kenapa sekarang kau malah ceramah? Aku sampai lupa tujuanku menemuimu. Aku tadi baru selesai menemui klien di sana dan saat akan kembali ke kantor, melihatmu di sini. Kebetulan ada yang ingin kubahas denganmu mengenai gugatan cerai Putri."
__ADS_1
Bagus yang saat ini merasa ada sesuatu yang tidak beres, kini menatap intens wajah yang terbilang cukup cantik meskipun tidak secantik Putri.
"Apa ada masalah? Bukankah kau sama sekali tidak tertarik dengan perihal yang menyangkut Putri karena sangat membencinya?"
"Jujur saja aku memang membencinya. Apalagi sekarang ia semakin liar. Namun, aku tidak ingin ikut campur dengan masalah pribadi kalian, tapi jika itu menyangkut pekerjaan, aku tidak bisa menolak." Amira menghentikan perkataannya karena ingin melihat respon dari Bagus.
"Lebih baik katakan kabar buruk itu sekarang! Aku sudah siap menerima kabar yang menurutku tidak lebih buruk dari pengkhianatan istriku."
Kalimat yang lolos dari bibir Bagus kini terdengar sangat menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.
Namun, tidak bagi Amira Tan yang sangat membenci Putri dan ingin wanita itu hancur mengikuti jejak sang ibu yang dulu berselingkuh dengan ayahnya.
"Tadi klien yang kutemui adalah Ari Mahesa "
"Aku tidak mengenal klienmu. Kenapa kau menceritakan padaku?" Bagus masih merasa bingung karena tidak paham dengan arah pembicaraan dari Amira Tan.
Sementara itu, Amira Tan kini mengarahkan tangannya untuk membungkam bibir yang menyela perkataannya saat ia belum selesai berbicara.
"Diam dan dengarkan saja!"
Sementara itu, Bagus yang sangat terkejut dengan perbuatan dari saudara tiri sang istri, refleks menjauhkan wajahnya begitu beberapa saat kemudian tangan dengan jemari lentik itu melepaskan bibirnya.
"Jangan sembarangan menyentuh lawan jenis!"
Amira Tan yang hanya menanggapi dengan sangat santai, tidak memperdulikan rengutan dari pria yang menurutnya sangat bodoh dan polos tersebut. Entah polos atau lugu, ia tidak bisa membedakannya.
"Ari Mahesa adalah ayah dari Arya Mahesa yang merupakan selingkuhan Putri Wardhani."
Sengaja Amira Tan menaikkan nada suaranya dengan nada yang mengintimidasi karena ingin menghilangkan kebodohan Bagus agar mengerti arah pembicaraannya.
__ADS_1
To be continued