Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
130. Pendapat Rendi


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Rendi yang baru saja mengantarkan Arya ke kontrakan Putri, memilih langsung kembali ke apartemennya. Namun, saat ia fokus mengemudi, mendengar suara dering ponselnya berbunyi, sehingga langsung memasang earphone dan menjawab telepon yang diketahuinya adalah dari mama sahabatnya.


"Halo, Tante."


"Di mana putraku, Ren? Kamu pasti tahu di mana Arya karena aku tadi mendengar percakapan dari ayahmu dan juga suamiku yang menyuruh mengusir Arya. Aku benar-benar sangat mengkhawatirkan putraku karena sampai sekarang belum kembali juga ke rumah."


Sosok wanita yang tak lain adalah Rani Paramita kini terlihat sangat gelisah di seberang telepon. Tentu saja sebagai seorang ibu dan wanita yang telah


sembilan bulan lebih mengandung dan melahirkan putranya, merasa sangat khawatir saat Arya nekad pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa.


Bahkan ia yang tadinya berpikir bahwa Arya akan kembali setelah sang suami melakukan segala cara, yaitu melarang semua orang untuk membantu putranya. Berharap putranya akan kembali saat tidak ada lagi yang menolong.


Sosok wanita paruh baya yang saat ini berada di dalam kamar, terlihat sangat gelisah dengan wajah pucat. Dari semenjak Arya keluar dari rumah, ia benar-benar tidak berselera makan dan membuatnya merasa tidak bersemangat melakukan apapun.


Rani Paramita merasa dunianya tidak berarti apa-apa setelah putranya memilih untuk pergi dari rumah demi wanita yang dianggapnya sangat murahan karena berselingkuh dari suami dan menganggap hanyalah seorang wanita matrealistis pengincar harta.


Ia berjanji akan membuat hidup wanita yang telah merebut putranya darinya tersebut akan hidup menderita karena berani mengusik ketenangan keluarganya. Hidup putra satu-satunya yang selalu menjadi kebanggaan keluarga menjadi hancur hanya gara-gara seorang wanita murahan.


Ia yang tidak bisa tidur nyenyak, sangat mengkhawatirkan keadaan dari putranya dan memilih untuk mencari tahu sendiri tanpa sepengetahuan sang suami dan memilih untuk menghubungi sahabat baik Arya, yaitu Rendi.


Berharap bisa mendapatkan kabar perihal putranya dan ingin bertemu untuk menasihati putranya agar kembali ke rumah. Kini, ia mendengar suara bariton dari Rendi dan membuatnya menyimak penjelasan dari seberang telepon.


"Iya, Tante. Aku tahu Arya ada di mana, tapi sepertinya tidak bisa mengatakannya karena menghargai keinginannya. Lagipula bukan aku ingin membela Arya yang telah melakukan kesalahan, tapi hanya ingin mengatakan bahwa saat ini sangat salut pada putra Tante karena memiliki pendirian yang tidak bisa digoyahkan oleh siapa pun."

__ADS_1


Jujur saja mendengar kalimat terakhir dari Rendi membuat Rani seolah tertampar karena putranya lebih memilih wanita yang dianggap murahan daripada ia yang telah melahirkan putranya.


Namun, ia kali ini berusaha untuk menahan diri karena tidak ingin usahanya sia-sia. Ia ingin menemui putranya dan merayu agar kembali ke rumah. Menyadarkan putranya yang tersesat dan berharap cepat sadar, yaitu meninggalkan wanita murahan itu.


"Iya, aku tahu putraku adalah pria yang luar biasa dan bertanggungjawab. Jadi, dia tetap pada pendiriannya untuk bersama wanita itu. Karena itulah aku ingin kamu mengatakan di mana Arya berada karena ingin menemuinya untuk meminta maaf. Meskipun papanya masih belum merubah pendirian, tapi aku ingin melihat putraku saat ini baik-baik saja."


Hening selama beberapa saat dan membuat Rani merasa ragu. Ia merasa sangat khawatir pada keadaan putranya dan berharap Rendi mau memberitahunya.


Sementara itu di seberang telepon, Rendi merasa sangat bingung untuk mengambil keputusan karena takut jika ia memberitahu wanita di seberang telpon, sahabatnya akan marah padanya.


"Maaf, Aunty. Sepertinya aku harus bertanya pada Arya dulu. Apakah dia tidak keberatan jika mengetahui tempat tinggalnya."


"Aku mohon katakan padaku, Ren. Aku benar-benar ingin sekali menemui putraku. Seorang ibu yang kehilangan putranya tidak akan pernah bisa hidup dengan baik."


Namun, ia harus mengatakan itu agar Rendi mau mengatakan di mana putranya saat ini.


Sementara itu di sisi lain, Rendi kini tengah merasa sangat bimbang dan merasa tersindir dengan apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya tersebut.


Ada kegetiran defensif yang menjalar di setiap urat syarafnya ketika ia mendengar suara seorang wanita yang menekankan tentang kasih sayang seorang ibu.


Ia merasakan sakit di hatinya kala memikirkan seorang ibu.


Karena sudah lama ia tidak mendapatkan kasih sayang dari sang ibu. Tidak ingin membuat seorang ibu merasa tersiksa karena kesedihan, ia kali ini benar-benar merasa kasihan.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya ia memutuskan hal tanpa bertanya terlebih dahulu pada Arya.


"Sekarang Arya tinggal di kontrakan Putri, Tante. Arya kini tinggal bersama wanita yang dicintainya."


Baru saja Rendi menutup mulut, ia mendengar suara dari seberang telpon yang terdengar sangat terkejut dan sudah diduga respon dari ibu Arya akan demikian.


"Apa? Tinggal di kontrakan bersama wanita itu? Bukankah dia masih mempunyai suami? Apa dia mau menjadi wanita murahan dengan tinggal bersama dua pria? Astaga, dunia seperti mau kiamat saja jika di dunia ini banyak wanita sepertinya."


Rani semakin merasa jijik pada wanita yang dianggapnya telah merebut putrinya karena ia tidak pernah menyangka jika hidup putranya akan berakhir seperti ini.


Berhubungan dengan seorang wanita bersuami dan bahkan memiliki anak. Sementara sekarang hamil dan mengaku anak dari putranya.


Meski sebenarnya ia sama sekali tidak percaya karena yang terjadi adalah wanita itu masih tinggal bersama suami dan bisa saja itu bukanlah anak dari Arya.


"Berikan aku alamat kontrakan wanita itu karena ingin segera melihat keadaan putraku. Membayangkan Arya tinggal di tempat sempit yang jelek saja membuatku merasa sangat pusing. Apalagi sekarang mengetahui bahwa putraku tinggal satu atap dengan suami dan anak wanita itu."


Saat masih sibuk memijat pelipisnya yang pusing, di sisi lainnnya terlihat Rendi yang memilih untuk menepikan mobil di pinggir jalan.


Karena ia ingin berbicara serius dengan ibu dari sahabatnya dan sekilas bisa melihat banyaknya kendaraan melintas di jalur yang cukup ramai dan dekat dengan area yang dipenuhi gedung-gedung tinggi pencakar langit di kanan kiri, tak jauh dari tempat berhenti.


"Maaf, Tante. Ini memang terdengar sangat konyol, tetapi merupakan kabar baik karena dengan begitu, Arya tidak akan terlunta-lunta di pinggir jalan atau tidur di kolong jembatan. Lagipula Putri sudah mengatakan bahwa ia tidak pernah berhubungan dengan suaminya semenjak menjalin kasih dengan Arya. Jadi, sudah bisa dipastikan bahwa dia hanya akan berhubungan dengan Arya."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2