Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
271. Egois dan obsesi


__ADS_3

Satu hari yang lalu, Ari Mahesa sudah siap dengan setelah jas kerja yang melekat pada tubuhnya. Hari ini, ia ingin pergi ke kantor bersama dengan putranya.


Sebenarnya ia dari dulu tidak tega juga jika terus membiarkan putranya tersebut pergi ke kantor naik kendaraan umum. Rasanya sudah cukup dulu saja saat Arya tidak tinggal bersama dengannya.


Arya masih saja menolak saat sang ayah menawarkan agar putranya itu pergi ke kantor dengan salah satu mobil yang ada di rumah.


"Biarkan aku naik motor sport saja, Pa. Aku sudah cukup lama tidak melemaskan otot-otot tanganku." Itulah jawaban Arya saat sang ayah memberi tawaran padanya beberapa hari lalu.


Pagi ini, ia beberapa kali mengetuk pintu kamar putranya, tetapi tak kunjung membukakan pintu.


Ia mulai khawatir terjadi sesuatu dengan putranya. Ia sudah berpikir jelek saja dengan putranya. Namun, tidak menyerah dan terus mengetuk, kali ini diiringi dengan suara panggilan.


“Arya, apa kamu baik-baik saja?” Ia terus mengetuk pintu kamar.


“Arya, apa kamu masih belum bangun?”


Arya kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam tujuh pagi. Biasanya Arya sudah bersiap-siap jika pria itu akan pergi ke kantor.


‘Apa Arya memang tidak ke kantor hari ini? Tapi biasanya ia akan mengatakan padaku jika libur.’ Ari Mahesa bertanya sendiri dalam hati.


“Arya ….” Sekali lagi ia memanggil putranya sambil terus mengetuk pintu. Ia hampir saja putus asa dan meminta pada Mery untuk mengambilkan kunci cadangan kamar.


Namun, belum sempat ia memanggil, pintu yang sedari tadi ia ketuk terbuka juga, menampilkan Arya dengan wajah kusut dan mata yang masih terpejam. Sepertinya berjalan sambil memejamkan mata.

__ADS_1


“Apa hari ini kamu tidak ke kantor?” Ari bertanya pada putranya yang bersandar pada daun pintu yang terbuka.


Ari segera mengikuti langkah Arya saat mengatakan jika akan ke kantor siang nanti. Pria itu juga mengatakan jika masih sangat mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya lagi karena kepalanya sedikit pusing.


Akhirnya mengatakan agar putranya beristirahat saja di rumah dan tidak perlu pergi ke kantor dulu hari ini.


Setelah memberikan pesan, ia segera keluar dari kamar dan membiarkan putranya itu untuk tidur kembali.


Sebelum berangkat, ia juga berpesan pada pelayan, agar membuatkan Arya bubur dan menyiapkan obat untuk di minum oleh putranya saat nanti sudah bangun. Ia juga memberikan beberapa pesan lain pada kepala pelayannya untuk disampaikan pada putranya.


Bahkan segera menghubungi Calista untuk memberitahu jika pagi ini Arya tidak bisa datang ke kantor.


Sementara itu, Calista yang mendapat kabar dari pria paruh baya yang dianggap akan menjadi mertuanya, berinisiatif untuk datang ke rumah Arya setelah mendapat persetujuan dari pria paruh baya itu.


Pukul sepuluh pagi, Calista sudah tiba di kediaman keluarga Mahesa. Satpam yang berjaga di depan pagar yang memang sudah mengenal Calista mempersilakan wanita itu untuk masuk.


Semua pekerja dan pelayan di rumah itu memang sudah mengenal Calista, karena wanita itu beberapa kali datang ke sana sebagai tamu nyonya pemilik rumah tersebut.


Calista langsung menanyakan keadaan Arya saat pelayan mempersilakan ia untuk masuk.


"Tuan Arya sepertinya masih tidur, Nona. Saya baru akan membawakan bubur ke kamarnya dan meminta agar dia makan terlebih dulu supaya bisa minum obat,” ujar pelayan bernama Mery.


Calista mengikuti langkah Mery yang pergi menuju dapur. Kepala pelayan tersebut terlihat memasukkan bubur yang masih mengepulkan uap panasnya ke dalam mangkuk. Kemudian meletakkannya di atas nampan bersama dengan segelas air putih dan beberapa obat.

__ADS_1


“Biar aku saja.” Calista mengambil alih nampan di tangan Mery. Kemudian membawanya menuju kamar Arya.


Saat Calista masuk ke dalam kamar yang memang tidak dikunci tersebut, ternyata Arya baru saja bangun dari tidurnya.


Tentu saja Arya cukup terkejut dengan kedatangan Calista yang tiba-tiba saja ada di kamarnya.


Calista segera menghampiri Arya dan menyodorkan bubur di dalam mangkuk pada pria itu. Calista juga menjawab pertanyaan pria itu yang memang terkejut dengan kedatangannya.


Jawaban yang Calista berikan memang jujur dan wanita itu tidak sedang bersandiwara sama sekali. Termasuk jawaban jika ia datang ke sana untuk mengambil kesempatan yang ada saat Arya sedang sakit dan istrinya tidak bisa merawat pria itu.


Bagi Calista, ia tidak perlu berbasa-basi di depan Arya. Ia ingin Arya menyadari perasaan Calista pada pria itu selama ini.


Calista yakin, sebenarnya Arya sudah menyadari, tetapi selama ini ada Putri yang begitu Arya cintai.


Namun, kali ini Calista berharap jika masalah yang sedang Arya dan Putri hadapi cukup besar, sehingga mereka tidak akan bersama lagi. Ya, se-egois dan sejahat itulah keinginan Calista.


Arya benar-benar sudah membuat ia tidak bisa berpaling lagi pada pria lain dan semakin membuat ia ingin memiliki Arya sepenuhnya.


Semakin pria itu menolak, maka Calista semakin merasa tertantang.


Setelah memastikan Arya makan dengan baik dan meminum obatnya, barulah Calista pamit. Ia harus kembali ke kantor dan siang nanti harus menggantikan Arya untuk bertemu dengan klien pria tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2