
Sudah tiga hari Putra selalu dititipkan di rumah nyonya Lily. Anak laki-laki itu terlihat lebih berisi karena porsi makan selalu lebih banyak daripada saat bersama Tsamara.
Nyonya Lily tidak pernah melarang Putra untuk makan apapun yang ada di rumahnya selama anak itu menginginkan.
Bahkan, tidak hanya nyonya Lily saja yang memberikan perhatian pada Dedi.
Amira Tam— kakak tiri Putri melakukan hal yang sama. Wanita itu beberapa hari belakangan ini sering datang membawa makanan dan mainan baru untuk Putra.
Meski orang tua Putra bukanlah saudara kandungnya, tetapi Amira tidak mengurangi rasa sayang pada balita yang mulai pandai berucap dan meminta sesuatu.
Hari ini, Amira belum terlihat datang. Mungkin wanita itu sedang sibuk, pikir nyonya Lily yang setiap hari menyambut dengan ramah.
Hingga siang pun tiba dan Bagus datang dengan membawa bungkusan makanan untuk Putra dan nyonya Lily.
Bagus memberikan bungkusan itu pada nyonya Lily, lalu mengajak Putra untuk makan di rumah mereka. Bagus tidak terlalu nyaman jika makan di rumah tetangganya itu, sehingga memutuskan untuk pulang selama jam istirahat.
Di rumah, Bagus dengan sabar menyuapi putranya. Makanan yang didapatkannya dari sebuah kedai kecil, membuat anak itu senang, meski sudah sangat sering menikmatinya.
Di tengah kegiatan mereka, terdengar seseorang datang dan mengetuk pintu. Bagus menjawab panggilan dengan suara yang tidak asing.
Bagus yang segera bangkit dari kursi dan membuka pintu, kini bisa melihat sosok wanita dengan berpakaian rapi ala kantoran tengah tersenyum dan beralih ke putranya.
"Amira?"
“Aku datang membawa makanan dan mainan untuk Putra,” ucap Amira Tan dengan tersenyum.
“Kami baru saja makan. Kamu tidak perlu repot-repot datang dengan membawa makanan serta mainan untuk putraku."
Amira menjawab dengan perasaan tidak enak karena ia takut jika wanita di hadapannya tersebut salah paham dengan ucapannya. Padahal, ia hanya berpikir tidak baik jika saudara tiri istrinya tersebut selalu datang untuk memberikan mainan serta makanan pada putranya.
Balas budi serta belas kasih yang tak lebih dari rasa iba seolah menyakiti harga dirinya dan tidak ingin jika kakak iparnya tersebut mengkasihaninya.
“Tidak apa-apa makanan ini bisa kamu hangatkan nanti. Untuk makan malam pun tidak masalah. Terimalah.” Amira Tan mengerti apa yang saat ini dipikirkan oleh pria yang dianggap di hati malaikat tersebut. Jadi, sama sekali tidak marah ataupun kesal dan bersikap biasa saja.
“Masuk! Silakan duduk.”
Keduanya berada di ruang tamu. Amira terlihat sangat senang bisa melihat Putra yang juga tampak selalu ingin berada di dekatnya.
“Aku dengar dari nyonya Lily. Kamu selalu datang kemari. Bukannya aku tidak mengizinkannya, tapi sebaiknya tidak perlu melakukan ini lagi. Putra adalah tanggung jawabku. Aku masih bisa mengurusnya dan memberikan apa yang diinginkannya.”
Mendengar pernyataan itu, hati Amira terasa kecewa. Amira memberikan semua itu tanpa mengharapkan imbalan, tetapi tidak diterima baik oleh sosok pria yang terlihat seperti sedang menjauh.
“Aku melakukannya karena ingin. Bukan karena hal lainnya. Lagipula, Putra membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Aku hanya ingin memberikannya walau sedikit.”
“Aku mengerti, tapi tidak ingin ada prasangka buruk para tetanggaku. Sudah cukup kehidupan keluarga ini menjadi berantakan karena kelalaianku sebagai suami. Aku hanya bisa berharap Putri segera sadar dengan keputusannya dan kembali untuk menyayangi Putra.”
“Setidaknya, biarkan aku tetap datang untuk melihat keadaan Putra. Aku hanya ingin memastikan anakmu ini selalu terjaga dengan baik dan mendapatkan apa yang dibutuhkan selama berada di rumah nyonya Lily.”
Bagus terdiam sejenak, pria itu terlihat masih tidak bisa menerima kebaikan dari iparnya tersebut. Akhirnya, hanya mengizinkan Amira untuk datang tanpa memberikan apapun.
__ADS_1
Jika Amira melanggarnya, Bagus berhak melarang nyonya Lily untuk mempertemukan Amira dengan Putra.
“Tolong hargai aku sebagai pemilik rumah ini. Maaf jika aku melakukan batasan ini. Aku hanya merasa tidak enak jika kau terlalu baik padaku dan Putra.
Tentu saja saat ini Amira merasa sangat kesal dengan sikap Bagus yang awalnya selalu lembut itu berubah arogan padanya. “Baiklah, aku mengerti.”
Setelah itu, Amira berpamitan pada Bagus. Wanita itu pergi begitu saja dengan rasa kecewa.
Meskipun sebenarnya merasa tidak enak serta kasihan pada saudara ipar tersebut, tetapi tidak membuat Bagus menarik keputusannya karena memang ingin menjaga batasan dari seorang pria dan wanita.
Ia tidak ingin ada kesalahpahaman antara kedekatan seorang Amira Tan dengan putranya. Apalagi jika sampai terdengar kabar miring mengenai hubungan ia dan iparnya tersebut seperti berselingkuh atau pun memiliki hubungan khusus.
Hal itulah yang menjadi pertimbangan saat ia memilih untuk menyuruh Amira menjaga jarak dan tidak sering datang dengan membawa beberapa mainan untuk putranya.
Beberapa saat kemudian, Bagus harus kembali bekerja. Ia mengantarkan Putra ke rumah nyonya Lily lagi.
“Anak Ayah pintar. Jangan nakal sama nyonya Lily. Ayah akan pulang malam hari ini dan akan membawakan camilan untukmu.”
“Iya.”
Putra kembali bersama nyonya Lily, bermain seperti biasa. Sementara Bagus sudah pergi dengan mobil yang menjadi satu-satunya pemberi pemasukan.
Selama di dalam mobil taksi yang dikemudikannya, Bagus masih memikirkan Amira Tan.
Wanita itu memang baik padanya selama ini. Tidak hanya mengenai Putra, bahkan Amira meminjamkan uang untuk biaya pernikahan Putri begitu saja.
Kekurangan yang ada dalam dirinya memang membuat Putri tidak bisa menerima.
Namun, Bagus masih mencintai wanita itu, meski cintanya bertepuk sebelah tangan untuk saat ini.
Dulu awal-awal Putri pergi, beberapa kali menghubungi Putri untuk sekadar bertanya kabar, tetapi setiap panggilan yang dilakukan tidak mendapatkan jawaban.
Bahkan, Putri mematikan ponselnya. Semua pesan tidak terbalas, membuat hati Bagus semakin sakit dan ingin tahu kehidupan apa yang kini dijalani istrinya.
Bagus tahu, Arya pasti tidak akan dengan mudah bekerja jika bukan di perusahaan keluarganya.
“Semoga kamu baik-baik saja.” Bagus kini hanya fokus mencari uang untuk putra-putrinya. Masa depan anak-anakku itu masih panjang. Ia tidak ingin anak-anaknya mendapatkan pikiran buruk mengenai orang tuanya."
"Harapannya, anak-anaknya akan terus tumbuh menjadi anak yang pandai dan selalu sayang pada kedua orang tuanya, termasuk ibunya.
Hari ini, keberuntungan menghampiri Bagus. Taksinya tampak ramai mengantarkan penumpang ke sana-kemari.
Otomatis kini pemasukannya bertambah, semua berkat keteguhan dan kesabarannya.
Sesuai janji, ia juga berhenti di sebuah minimarket untuk membeli beberapa camilan.
Tidak hanya itu, ia juga membelikan satu mainan baru untuk Dedi sebagai hadiah karena sudah menjadi anak yang baik dan penurut.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Bagus kembali ke rumah dan menjemput Putra tepat pukul sembilan malam.
__ADS_1
Ia mengetuk pintu rumah nyonya Lily, dan dari dalam, terlihat putranya berlari menghampiri dan menghambur memeluk erat kakinya. Tentu saja melihat senyuman manis dari malaikat kecilnya tersebut, seketika rasa penat yang dirasakan setelah seharian bekerja di jalanan langsung hilang.
Hal yang dari dulu dirasakan adalah rasa lelah seketika musnah ketika melihat senyuman dari anak dan istri yang menyambut di rumah.
Namun, sekarang semuanya berbeda karena hanya ada bocah balita tersebut yang menyambut dengan senyuman manis dan terlihat bahagia ketika ia datang. Ia saat ini sudah memeluk serta menggendong putranya.
“Putra tidak mau tidur. Ia ingin menunggu ayahnya datang,” ungkap nyonya Lily dengan tersenyum ramah.
“Terima kasih, Nyonya. Aku ada sedikit oleh-oleh untukmu. Semoga kamu suka. Maaf jika tidak bisa memberikan lebih dari ini.”
“Bukankah sudah aku katakan untuk tidak memberikan apapun! Cukup berikan semua ini pada putramu. Ia membutuhkannya daripada aku.”
“Sekali lagi terima kasih.”
“Besok, aku tunggu kedatangan Putra. Kebetulan akan ada tamu yang mampir kemari. Putra pasti akan menyukai anak dari keponakanku.”
“Jika Nyonya sibuk, aku tidak akan membawa putraku kemari. Ia bisa saja ikut bersamaku lagi.”
“Aku tidak berkata seperti itu. Tetap bawa Putra kemari dan aku akan mengajaknya bermain dengan anak-anak dari keponakanku.”
“Baiklah. Aku akan membawa Putra kemari besok pagi. Terima kasih.” Bagus yang berbicara sambil mengulas senyuman, kini berpamitan dan mengajak putranya beristirahat di rumah kontrakan.
Begitu berada di rumah mereka, Putra sangat bahagia mendapatkan mainan dan camilan yang tadi dibelikannya.
Anak itu tidak berhenti bersorak karena mendapatkan mainan baru.
“Asik! Mainan.”
“Kamu menyukainya?”
“Ya, ini bagus sekali, Ayah.”
Bagus mencium kening putranya, lalu memeluk dengan erat. Berharap anak itu akan terus mendapatkan kebahagiaan, tanpa adanya kesedihan seperti yang dirasakannya.
"Setelah ini, kita makan bersama, lalu tidur. Besok pagi, nyonya Lily sudah menunggumu. Jadi, tidak boleh tidur terlalu malam.”
“Ya, Ayah.” Putra tersenyum, lalu segera makan makanannya hingga tidak tersisa dengan disuapi oleh sang ayah.
“Baiklah, sudah habis. Sekarang ayo kita cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi, lalu ke kamar untuk tidur.”
Bocah laki-laki itu hanya mengangguk tanda setuju ketika digandeng sang ayah.
Keduanya berjalan ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas sebelum tidur, selesai dengan semua itu, Bagus menggendong Putra hingga sampai di kamar.
Sebelum tidur, Bagus menyempatkan diri untuk membacakan dongeng. Tidak lama setelah itu, Putra benar-benar terlelap ke alam mimpinya dengan tersenyum bahagia.
“Anak Ayah yang hebat. Maafkan ibumu dan jangan membencinya, Sayang," ucap Bagus yang kini sudah memberikan sebuah kecupan di kening putranya.
To be continued...
__ADS_1