Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
120. Membereskan masalah


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kamu mau membantu saudaramu mencari orang yang biasa menikahkan pasangan?"


Tentu saja kembali ditodong oleh pertanyaan yang menyudutkan, seolah ia merupakan seorang saudara yang tidak tahu diri. Amira Tan hanya bisa tersenyum masam dan kesal karena kalimat saudara selalu ditekankan oleh Bagus padanya.


Ia mengembuskan napas berat yang mewakili perasaannya saat ini. Bahkan ketika ia menatap ke arah pengunjung mini market yang baru saja keluar, yaitu sosok wanita dengan perut membuncit sedang menenteng kantong plastik dan berjalan menuju ke arah motor yang terparkir di sebelah kirinya.


Saat melihat wanita itu naik motor sendiri ketika hamil besar, membuatnya mengingat Putri yang merupakan adik tirinya. Ia berpikir jika itu Putri, mungkin akan seperti itu jika tidak ada yang menemani pergi belanja ketika hamil besar.


'Apa Putri akan seperti wanita tadi jika Bagus kembali ke kampung dan Arya kembali ke rumah keluarga besar Mahesa?'


'Memang pilihan wanita sialan itu terlihat menarik dan menjanjikan di awal, tetapi sama sekali tidak mengetahui jika di keluarga konglomerat terdapat banyak sekali peraturan yang serasa mencekik leher hingga kesulitan untuk bernapas.'


Membayangkan jika nantinya Putri benar-benar masuk ke dalam keluarga besar Arya, hanya akan hidup menderita, kini Amira Tan yang baru saja mengembuskan napas kasar, memilih untuk membantu.


"Baiklah, aku akan menyuruh orang itu untuk datang ke sini. Apa kau ingin pernikahan diadakan di kontrakanmu?"


Refleks Bagus merasa sangat lega karena satu masalah telah terpecahkan. Meskipun ia tahu bahwa yang terjadi adalah akan datang masalah lain yang jauh lebih besar ke depannya.


Namun, ia kali ini memilih untuk memikirkan satu persatu dulu masalah mengenai pembebasan dosa dari sang istri yang telah berselingkuh.


"Tidak, aku tidak ingin pernikahan diadakan di sana karena ingin menyembunyikan fakta buruk ini dari mereka. Jadi, lebih baik suruh orang untuk menjemput mereka karena aku tidak ingin pulang hari ini. Aku ingin menenangkan pikiran dengan mengajak anakku."


Awalnya, Amira Tan berpikir bahwa Bagus akan menyaksikan pernikahan siri antara istrinya dengan Arya, tapi baru mengetahui bahwa ternyata tidaklah demikian.


"Baiklah, aku terpaksa akan menyuruh orang untuk mengurusnya, tapi memangnya kamu mau ke mana? Malam ini, kamu mau tidur di mana?"

__ADS_1


Tentu saja selain penasaran, Amira Tan juga sangat mengkhawatirkan keadaan ayah dan anak itu. Ia tidak ingin jika terjadi sesuatu seperti bunuh diri karena sedang frustasi. Apalagi pria itu membawa bocah berusia 3 tahun tersebut yang biasanya selalu rewel.


Sementara itu, Bagus yang berniat untuk pergi ke salah satu tempat kos teman kerjanya yang tinggal sendirian, tidak ingin mengatakan pada Amira Tan.


"Yang pasti, bukan tidur di pinggir jalan. Kamu tenang saja karena aku punya kenalan yang bisa memberikan kami tempat menginap. Aku belum siap untuk melihat Putri bersama pria itu tinggal dalam satu kamar."


Menyakitkan dan menghancurkan hatinya, itulah kata yang tepat untuk mewakili perasaannya saat ini.


Kali ini ia tidak bisa lagi berpikir apapun ketika pria yang telah merebut kebahagiaan keluarga kecilnya tersebut sudah bersama dengan sang istri.


Pastinya ia sangat mengetahui apa yang saat ini dilakukan oleh mereka ketika berdua di rumah. Meskipun tadi ia sudah mengancam, tetapi menyadari tidak bisa menghentikan nafsu liar seseorang.


Kali ini, ia bisa menebak jika sang istri saat ini tengah berbagi peluh dengan pria itu untuk mencari puncak kenikmatan haram yang mungkin suatu saat nanti akan membuat mereka mendapatkan balasan dari perbuatan buruk yang dilakukan.


Ia pun bangkit dari posisinya dan menatap ke arah Amira Tan sebelum pergi.


"Tidak selamanya manusia akan selalu berada di atas, tapi ada masanya ketika seseorang itu berada di bawah sepertiku. Aku sedang berada di titik terendah dalam hidupku dan masih bersyukur bertemu denganmu yang mau sedikit mengurangi beban berat ini "


Tentu saja Amira Tan mengetahui bahwa roda berputar seperti poros yang akan membawa semua orang pada posisinya masing-masing, mulai dari bawah sampai ke atas dan begitu pula sebaliknya.


Amira Tan kini bangkit berdiri dari posisinya karena ingin pergi dari sana juga. Namun, sebelum itu, ia bersitatap dengan iris kelam penuh sejuta kesedihan itu.


"Lebih baik, kamu ajak putramu ke apartemenku."


"Apa maksudmu ke apartemenmu?" Bagus yang kali ini merasa sangat terkejut dengan sikap perhatian dari Amira Tan malah membuatnya kebingungan.

__ADS_1


"Jangan berpikir macam-macam padaku karena aku tidak seperti wanita sialan itu. Aku punya satu unit apartemen dan tidak kutempati semenjak terjadi insiden pembunuhan satu tahun lalu."


"Akhirnya aku kembali ke rumah orang tuaku karena takut jika ada orang jahat yang datang ke apartemenku."


Amira Tan yang berprofesi sebagai seorang pengacara itu menyimpan banyak rahasia mengenai berbagai macam kejadian buruk yang dialami.


Ia mengetahui bahwa perbuatan itu berhubungan dengan kekalahan dari para lawan dari klien yang memakai jasanya, sehingga merasa marah dan memilih untuk melampiaskan padanya dengan menakuti-nakuti setiap hari ketika masih tinggal di apartemen.


Sementara itu, Bagus yang kini semakin lebih mengenal wanita di hadapannya tersebut, tidak mengalihkan pandangannya dari wajah penuh dengan sorot kekhawatiran.


"Apa selama ini banyak orang yang mengancam membunuhmu? Seperti yang kulihat di film-film, bahwa pekerjaan dari seorang pengacara rawan mendapatkan berbagai ancaman."


Tidak ingin berniat untuk menjelaskan tentang apa yang selama ini dirasakannya, Amira Tan memilih untuk terbahak.


"Kamu terlalu banyak menonton film dan terbawa arus dari alurnya. Jangan menambah beban berat di otakmu itu karena nanti akan semakin bertambah besar rasa pusing yang kamu rasakan. Ayo, aku akan mengantarmu ke apartemenku!"


Amira Tan kini berjalan mendahului Bagus untuk menuju ke arah mobil miliknya yang diparkir di sebelah kiri minimarket. Kemudian memberi kode pada Bagus agar segera masuk ke dalam mobil.


Meski sebenarnya merasa sangat tidak nyaman dengan tawaran Amira Tan, Bagus terpaksa menuruti perintah dari wanita yang menurutnya sangat berjasa padanya.


'Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dan kamu segera mendapatkan jodoh yang baik, Amira,' gumam Bagus yang kini sudah duduk di kursi depan sebelah sosok wanita yang berada di balik kemudi.


Sementara Amira Tan yang kini langsung menyalakan mesin mobil, mengemudikannya meninggalkan area mini market. Ia menggunakan earphone untuk menelpon seseorang.


Ia menghubungi seseorang untuk membereskan masalah Putri dan Arya, agar hari ini bisa menikah siri dan tidak membuat Bagus merasa berdosa lagi.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2