
Arya cukup tahu diri. Sesuai dengan kesepakatan, mereka bertemu di dekat kasir sebelum membawa barang belanjaan ke meja kasir untuk dihitung total jumlahnya.
"Apa barang yang kamu cari tidak ada si sini" Arya bertanya saat ia mendapati tidak ada barang yang Calista beli untuk diri sendiri. "Atau kamu terlalu repot mencari daftar belanjaan yang aku kirim padamu?
"Hingga kamu tidak bisa mencari barangmu sendiri?" Arya kini merasa tidak enak pada Calista.
"Tidak. Barang yang aku cari memang sedang kosong. Mungkin nanti aku akan mencarinya di tempat lain." Calista segera mengelak. Ia sebenarnya bingung mau membeli barang apa dan untung alasannya bisa dicerna oleh akal Arya.
"Ya sudah. Aku akan pergi membayar ke kasir dulu. Kamu mau ikut atau menunggu?" tanya Arya. Ia memindahkan barang-barang di troli Calista ke dalam miliknya.
"Aku akan tunggu di sana saja," jawab Calista sembari menunjuk sebuah kursi yang ada di bagian luar supermarket.
"Baiklah."
Arya sudah selesai memindahkan barang dan mulai mendorong trolinya menuju kasir, mengantri dengan beberapa pembeli lain yang juga akan membayar barang belanjaan mereka.
Calista duduk menunggu sembari memainkan ponselnya. Ia berencana mengajak Arya makan dulu sebelum ia mengantar pria itu pulang.
Ya, walaupun kecil kemungkinan Arya akan menerima ajakannya, tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba saja dulu.
Calista terlihat asyik berselancar di jejaring sosial miliknya. Melihat beberapa postingan temannya bersama pasangan mereka yang memamerkan kemesraan dengan bangga, membuat Calista mendengkus kesal.
Di antara teman yang lain, hanya Calista yang tidak pernah memamerkan kekasihnya. Bukan tidak ingin, tetapi memang tidak punya.
Calista pernah mengatakan pada teman-temanya jika ia sengaja tidak memerkan sang kekasih karena takut meraka akan jatuh cinta pada kekasihnya.
Tentu saja teman-temannya percaya, secara Calista adalah wanita cantik, cerdas dan kaya. Bukan hal yang mustahil jika mempunyai kekasih yang tampan dan gagah pula.
Melihat bagaimana Calista menolak para pria dari kalangan atas yang ketampanannya tidak perlu diragukan lagi, tentu mereka percaya.
Namun, semakin lama mereka semakin penasaran dengan sosok kekasih Calista yang selalu disembunyikan.
Sebagian diantara mereka mulai ragu apakah Calista benar-benar mempunyai kekasih.
Sebuah notifikasi pesan chat berhasil mengalihkan perhatian Calista dari sosial media miliknya.
Jangan lupa minggu depan datang, ya. Datang ke pesta ulang tahunku. Undangannya akan aku kirimkan lewat chat pribadi.
Itu adalah sebuah pesan yang dikirim oleh salah satu teman Calista bernama Karin, di dalam grup chat mereka.
Siap. Aku tidak akan lupa.
Calista membalas tanpa ragu.
Undangan itu dibuat khusus untuk yang memiliki kekasih. Jadi, kalian wajib membawa pasangan kalian jika ingin masuk.
Si pemilik acara kembali mengirim pesan.
"What?" Calista memekik pelan. "Undangan macam apa ini." Calista medengkus kesal.
__ADS_1
Calista tidak habis pikir, aturan macam apa yang dibuat dalam undangan tersebut.
Wah, aku tidak sabar ingin melihat kekasih Calista.
Aku juga.
Minggu depan pasti akan menjadi malam bersejarah untuk kita. Calista akan membawa kekasihnya.
Ingin cepat minggu depan.
Rentetan balasan dari ketiga teman Calista yang lain membuat wanita itu semakin kesal dibuatnya.
Sepertinya Karin sengaja membuat aturan aneh dalam undangan tersebut. Atau mungkin keempat temannya itu memang bersekongkol? Ah, Calista mulai frustrasi.
Kalian sengaja, kan?
Dengan kesal Calista mengetik balasan itu.
Aku ingin mengadakan pesta ulang tahun yang berbeda, Calista. Aku ingin di pesta nanti para tamu benar-benar merayakan bersama pasangan masing-masing.
Karin mengirim balasan.
Aku tidak akan datang!
Calista kembali membalas dengan emoji mendengkus.
Jangan marah, Calista.
Calista, jangan merujuk.
Calista tidak peduli dengan tanggapan teman-temannya yang lain, ia masih kesal dengan ide gila Karin.
Saat Calista ingin keluar dari percakapan dalan grup chat tersebut, sebuah pesan terakhir muncul dan membuatnya semakin kesal saat membacanya.
Kamu akan menyesal kalau tidak datang. Aku akan memberikan pengumuman penting di pesta nanti. Jadi, kalau kamu tidak datang, aku pastikan kamu tidak akan tahu informasi itu dari siapa pun.
Itu adalah balasan yang Karin kirimkan dan semakin membuat Calista geram karenanya.
Ia terus saja menggerutu, mengumpat Karin. Sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Arya yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Apa kamu baik-baik saja, Calista?" tanya Arya saat melihat Calista yang tengah mengumpat pelan sembari menatap layar ponsel di tangannya.
"Ah, iya. Kamu sudah selesai?" Calista cukup tersentak.
Ia kemudian berdiri dan tersenyum menatap Arya yang tengah menatap heran padanya.
"Kamu baik-baik saja?" Arya kembali melemparkan pertanyaan yang sama.
"Iya. Ayo, aku akan mengantar kamu pulang." Calista berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Sementara itu, Arya mengikuti di belakang wanita itu.
Calista membatalkan niatnya yang akan mengajak Arya makan. Pesan dari Karin sudah membuat suasana hati Calista menjadi buruk.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Calista yang biasa selalu mendominasi obrolan pun kini hanya diam.
Hal itu, membuat Arya keheranan dan sesekali melirik wanita yang duduk di kursi sebelahnya.
"Kamu yakin baik-baik saja?"
Sebagai teman kantor yang dekat dengan wanita itu, Arya sedikit tahu sifat Calista. Wanita itu seperti sedang gelisah.
"Sebenarnya ... tidak jadi," jawab Calista.
"Ada apa?"
Calista tampak ragu untuk mengatakannya, tetapi tak urung ia menceritakan juga semuanya pada Arya
Arya tertawa mendengar cerita Calista. Membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya.
"Lagipula kamu kenapa mengaku sudah punya kekasih? Padahal sebenarnya tidak," ujar Arya disela tawanya.
"Kamu menyebalkan. Bukannya memberikan solusi, malah menertawakan aku," kesal Calista.
"Lebih baik jujur saja." Arya memberikan saran.
"Tidak bisa begitu. Bisa-bisa, aku akan jadi bahan ejekan mereka."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Teman-temanmu pasti akan mengerti kalau kamu jujur dan aku yakin kamu akan tetap bisa ke pesta itu walaupun tanpa pasangan. Temamu tidak akan setega itu, Calista."
"Tidak semudah itu," tukas Calista. "Aku butuh bantuan kamu," sambungnya.
"Aku?" Arya menujuk wajahnya sendiri.
"Ya," jawab Calista dengan cepat. "Aku ingin mengganti traktiran makan dari kamu itu dengan hal lain sebagai ucapan terima kasih yang sudah kamu janjikan."
"Batuan apa?"
"Ikutlah besamaku ke pesta itu dan berpura-puralah menjadi kekasihku untuk malam itu saja," pinta Calista.
"What? Kenapa harus aku?" Arya menatap sebentar Calista. Kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Karena kamu teman laki-laki yang paling dekat denganku," jawab Calista. Ia memiringkan tubuhnya agar menghadap Arya yang tengah fokus mengemudi.
"Aku mohon, bantu aku. Hanya malam itu saja dan aku yakin hanya kamu yang bisa melakukan itu." Calista mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
To be continued...
__ADS_1