
Bagus saat ini berjalan menyusuri jalanan di sekitar area tempat tinggalnya. Rencananya hari ini ia akan menemui Amira Tan agar membantunya untuk mencari orang yang nanti menikahkan Putri dengan selingkuhannya.
Meskipun dari tadi bola matanya berkaca-kaca ketika menyisir jalanan kota, tetapi ia sekuat tenaga menahan diri agar tidak sampai lolos membasahi pipi dengan rahang tegasnya.
Bahkan kali ini ia tidak bisa menahan ledakan amarah yang menyeruak memenuhi jiwanya kala melihat di depan mata, wanita yang masih berstatus sebagai istrinya tersebut terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan selingkuhannya.
Tanpa memikirkan perasaannya yang saat ini benar-benar hancur berkeping-keping. Ia merasa seperti seorang wanita lemah yang tidak punya daya apapun untuk menghancurkan orang-orang yang menginjak-injak harga dirinya.
Bagus yang kini masih menggendong putranya, memilih untuk berhenti di halte bus ketika kekuatan kakinya mulai melemah dan tak kuasa menopang beban berat tubuhnya saat ini. Dengan mendaratkan tubuhnya pada tempat duduk yang masih tersisa dua orang, ia kini menatap ke arah putranya yang berada di pangkuannya.
Terlihat bocah berusia 3 tahun tersebut sedang memegang mainan mobil-mobilan dan asyik berbicara sendiri, meskipun terdengar tidak jelas.
'Putraku, kamulah kekuatan ayah, Sayang. Sebenarnya tadi ayah ingin meninggalkanmu di rumah agar ibumu tidak berbuat liar dengan bajingan itu, tapi jika melakukannya, yang menjadi korban adalah kamu, Sayang. Ayah tidak ingin kamu melihat tingkah liar ibumu.'
Wajah Bagus saat ini benar-benar terlihat sangat pucat, seperti kehilangan tenaga dan ia masih merasa lemas, sehingga tidak kuasa untuk berjalan.
Ia memilih untuk menurunkan tubuh putranya di sebelah kirinya dan membuatnya meraih ponsel miliknya di saku celana.
"Sebentar, Sayang. Ayah mau menelpon dulu."
Sementara bocah laki-laki itu masih sibuk dengan mainannya, Bagus pun kini memilih untuk menghubungi sosok wanita yang masih ada hubungan darah dengan Putri. Kali ini ia tidak tahu harus menghubungi siapa lagi karena hanya terlintas nama Amira Tan di pikirannya saat ini.
Meskipun ia mengetahui bahwa Amira Tan merupakan seorang wanita yang sangat keras dan arogan karena selalu bersikap sesuka hati, membuatnya merasa bahwa saudara tiri istrinya tersebut masih mempunyai hati dan belas kasih.
__ADS_1
Meskipun tidak ditunjukkan pada Putri, tapi ia merasa sangat yakin jika Amira Tan tetap menyayangi Airin karena merupakan adik sendiri.
Cukup lama ia menunggu ponsel berdering, tapi tidak kunjung diangkat juga dan membuatnya mengerutkan kening.
'Sepertinya dia sibuk. Pada siapa lagi aku harus memintanya tolong? Tidak ada yang boleh tahu jika istriku akan menikah siri dengan pria yang telah menghamilinya. Aku tidak mungkin meminta tolong pada tetangga dan juga temanku karena itu hanya akan mempermalukan aku sendiri.'
Jujur saja Bagus saat ini yang benar-benar sangat terluka dan hancur melihat pria yang menjadi penyebab keretakan rumah tangganya datang dan meminta bisa tinggal di kontrakan, tapi saat tadi mendengar jika tidak tinggal di kontrakan bersama Putri, akan memilih untuk kembali ke orang tua.
Seharusnya ia menolak dan membiarkan pria itu kembali dan meninggalkan Putri, sehingga ia bisa kembali bersama dengan istrinya.
Namun, saat menyadari bahwa Putri bahkan tidak sudi lagi melihat wajahnya karena sekarang sangat memuja sosok pria bernama Arya Mahesa itu, membuatnya memilih untuk melepaskan meskipun jauh dari dalam hati tidak rela.
'Aku benar-benar tidak kuat, Tuhan. Bahkan aku sendiri yang mengurus pernikahan istriku sendiri. Aku benar-benar sangat gila karena di saat seperti ini, masih merasa kasihan pada Putri—wanita yang telah menjadi seorang penghianat keluarga kecilnya.'
Embusan napas panjang dan kasar terdengar sangat jelas keluar dari bibir Bagus saat ini. Namun, ia kali ini tidak bisa berpikir jernih untuk meminta bantuan siapa lagi yang bisa dipercaya.
Bahkan nanti ia akan mengatakan pada tetangga sekitar bahwa pria selingkuhan istrinya adalah saudara jauh dan sementara tinggal bersama mereka karena tidak mungkin ia mengatakan itu adalah suami siri Putri yang malah akan merendahkan harga dirinya sebagai seorang suami.
Meskipun pada kenyataannya adalah seperti itu, tapi paling tidak, ia ingin berusaha menyembunyikan aib keluarganya agar tidak mendapatkan hujatan dari semua orang.
'Ini hanya sementara karena mereka akan pergi setelah mempunyai uang. Mungkin setelah pria itu bekerja dan mendapatkan gaji, akan mengontrak rumah dan tinggal bersama Putri di tempat lain, sedangkan aku nanti akan kembali ke kampung setelah berhasil melunasi utang pada bos.'
'Meskipun mungkin masih enam bulan lagi gajiku dipotong, tapi paling tidak, aku masih punya penghasilan. Lebih baik aku bekerja di kampung seadanya dan fokus mengurusi anak-anak tanpa memperdulikan Putri lagi.'
__ADS_1
Rencana Bagus memang terdengar sempurna, tapi kali ini ia benar-benar tidak yakin apakah bisa terlaksana atau tidak. Apalagi di kampung, orang tuanya sudah meninggal.
Sementara rumah peninggalan orang tuanya ditempati oleh adiknya bersama suami dan tiga anak. Ia tidak mungkin menambah beban adiknya dengan tinggal bersama mereka, sehingga memilih untuk mengontrak rumah kecil-kecilan nanti.
Meskipun ia harus mencari uang lebih sebelum kembali ke kampung nanti. Meninggalkan kenangan buruk di kota yang selama ini menjadi ladang mencari nafkah selama bertahun-tahun.
Meskipun ia tidak bisa berubah menjadi orang kaya, tapi bersyukur karena tidak menjadi pengangguran dan hanya akan menambah utang jika itu sampai terjadi.
Kini, Bagus bisa melihat orang-orang yang duduk menunggu di halte langsung berdiri begitu melihat bus datang. Sementara ia masih stand by di tempatnya karena bingung mau ke mana.
Bahkan saat ini, pikirannya benar-benar sangat kalut. Apalagi ketika membayangkan jika Putri dan pria itu berada di rumah hanya berdua dan kemungkinan besar sedang berbuat hal yang tidak pantas untuk kesekian kalinya.
'Seharusnya aku tidak meninggalkan mereka berdua di rumah. Bukankah aku hanya akan menambah dosaku karena membiarkan mereka berduaan? Namun, aku benar-benar tidak kuat melihat mereka.'
Berbagai macam pikiran buruk kini menari-nari di otaknya saat ini. Ia tidak tahu harus bagaimana karena belum mengetahui siapa yang bisa menikahkan Putri dan pria itu.
'Aku tidak boleh membiarkan mereka semakin berbuat dosa. Jadi, harus segera menikahkan agar tidak lagi membuat dosaku bertambah besar.'
Membayangkan istrinya bercinta dengan pria itu di dalam kontrakan saja sudah membuat darah Bagus mendidih, tetapi sialnya, menyadari tidak bisa melakukan apa-apa.
"Dasar pria tidak berguna!" umpat Bagus yang kini menampar wajahnya sendiri dan membuat putranya mengangkat tangan untuk menyentuhnya.
To be continued...
__ADS_1