
"Turunkan aku di depan saja!" ucap Arya pada sahabatnya karena tidak ingin hidupnya yang mengenaskan diketahui oleh Rendi.
Sementara itu, Rendi yang menuruti perintah dari Arya, kini menepikan mobilnya. Meskipun ada berbagai macam pertanyaan yang menari-nari di otaknya saat ini kenapa Arya menyuruhnya untuk berhenti di tepi jalan raya.
"Apa kontrakan Putri di daerah sini?"
"Ada di dalam gang itu. Aku akan berjalan saja menuju ke sana." Arya melepaskan sabuk pengaman karena ingin segera bertemu dengan Putri dan melihat bagaimana reaksi wanita yang sangat dicintainya itu begitu melihatnya.
Sementara itu, Rendi yang kini langsung menahan pundak Arya saat melihat sahabatnya akan keluar. "Apa mobil tidak bisa masuk ke dalam gang? Apa boleh aku ikut?"
Refleks Arya menggelengkan kepalanya dan memilih untuk melepaskan tangan Rendi dari pundaknya.
"Jangan melihatku saat terpuruk seperti ini. Aku tidak ingin kamu melihatku tinggal di kandang ayam itu. Rasanya aku sangat malu menyuruhmu mengantar ke sini, tapi aku tidak punya ongkos untuk naik taksi. Jadi, naik mobilmu tidak akan dihitung utang oleh papaku dan tidak akan membuat perusahaanmu bangkrut."
Tentu saja saat ini Rendi lagi-lagi merasa sangat iba pada nasib dari sahabatnya dan mendengar kalimat yang terdengar mengiba tersebut malah membuatnya merasa sangat menyesal karena tidak bisa membantu Arya.
Akhirnya ia menuruti keinginan Arya dan melepaskan tangannya yang dari tadi menahan bahu sahabatnya tersebut.
"Hubungi aku jika nanti pria itu tidak mengizinkan kalian tinggal bersama. Aku akan mengantarkan kalian ke terminal keberangkatan. Kalian pergi saja ke tempat salah satu kerabat sahabat baikku saat kuliah. Nanti aku akan meminta tolong padanya untuk membantumu tinggal di Surabaya."
Sebenarnya saat dalam perjalanan tadi, Rendi sibuk mencari jalan keluar untuk Arya dan mengingat pernah pergi ke Surabaya yang merupakan tempat tinggal sahabat baiknya dulu.
Arya yang tidak bisa berpikir jernih sekarang, hanya mengangguk perlahan dan beralih membuka pintu mobil. Kemudian ia keluar dan membungkuk untuk berpamitan.
__ADS_1
"Pulanglah, nanti aku akan menghubungimu jika tidak boleh tinggal di kandang ayam yang tidak layak dihuni itu."
"Baiklah. Hati-hati, Bro. Pergilah, aku ingin melihat saat kamu berjalan menuju ke kontrakan Putri." Rendi mengibaskan tangan dan melihat Arya menuruti perintahnya dengan menutup pintu mobil, hingga suara itu terdengar masuk ke telinganya.
Sementara itu, Arya yang kali ini terus berjalan sambil menenteng koper, berbelok ke arah sebuah gang dan menuju ke kontrakan Putri. Selama berjalan, ia mengamati beberapa rumah yang berdekatan dan seperti tidak ada jarak antara rumah yang satu dengan yang lain.
Bahkan ia kali ini bisa melihat beberapa ibu-ibu yang duduk di depan rumah tengah menatapnya, seolah ingin bertanya siapa dirinya dan akan pergi ke mana. Namun, ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena terus melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah kontrakan Putri yang sebentar lagi sampai.
'Astaga, rasanya sangat aneh berjalan sambil membawa koper seperti ini. Pantas saja para ibu-ibu itu memperhatikan aku dari tadi. Mereka pasti sedang bergosip dan bertanya-tanya siapa aku dan mau apa datang ke sini.'
'Persis seperti yang dikatakan oleh Putri dulu, para tetangganya selalu asyik bergosip karena tidak punya pekerjaan. Sementara Putri bilang lebih memilih untuk diam di rumah dari pada membicarakan keburukan orang lain saat berkumpul bersama para ibu-ibu itu.'
Saat Arya sibuk beragumen sendiri di dalam hati, ia benar-benar merasa deg-degan karena akan bertemu dengan pria yang merupakan suami sah Putri— wanita yang sangat dicintai dan kini telah mengandung benihnya.
Baru saja ia selesai mengumpat di dalam hati pada orang tuanya, Arya yang sudah sampai di depan kontrakan Putri, melihat wanita itu tengah membungkuk dan berniat untuk duduk di kursi yang ada di teras.
Kemudian ia menyapa dengan tersenyum lebar. Namun, melihat ekspresi wajah wanita yang seperti tidak suka melihat kedatangannya, membuat ia sangat kesal dan mengungkapkan apa yang ada di otaknya.
"Sepertinya aku tidak diterima di rumah ini. Jadi, lebih baik aku kembali ke rumah dan menuruti semua perintah dari orang tuaku."
Putri yang masih belum berhasil menormalkan degup jantungnya yang kencang, kini semakin merasa ketakutan begitu mendengar suara bariton dari pria yang seolah ingin meninggalkannya.
Ia tidak ingin itu terjadi karena hanya akan membuatnya kehilangan tujuan hidupnya. Ya, Arya adalah tujuan hidup Putri dan tidak ingin sampai kehilangan sosok pria yang teramat sangat dipujanya tersebut.
__ADS_1
Refleks ia berlari secepat mungkin untuk mencoba menghentikan Arya yang terlihat berbalik badan dan berniat untuk pergi.
"Tidak, Arya. Jangan pergi." Putri masih menahan lengan kekar pria yang kini juga menatapnya. "Aku tadi baru saja mengatakan pada Bagus dan belum memberikan jawabannya. Jadi, aku belum tahu apakah dia akan mengizinkan kita tinggal di sini."
"Lebih baik kita masuk ke dalam karena aku tidak ingin para tetangga melihat dan bergosip."
Putri yang kini langsung menarik pergelangan tangan kiri Arya untuk segera masuk ke dalam rumah dengan konsekuensi akan mendapatkan kemurkaan dari Bagus, tapi itu tidak akan dianggapnya karena tidak ingin para tetangga sibuk mencari tahu tentang Arya.
Sementara itu, Arya yang kini berakting sangat tenang, padahal sejujurnya di dalam hati, ia merasa sangat khawatir jika nanti mendapatkan kemurkaan dari suami sah Putri.
Arya yang masih membawa koper masuk ke dalam rumah, kini membiarkan di dekat kursi dan melihat Putri sudah mengunci pintu.
"Di mana pria itu?" Arya bertanya sambil mengedarkan pandangannya.
Karena ia kali ini tengah mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan hanya bisa mengembuskan napas kasar saat melihat rumah berukuran kecil yang tadi disebutnya kandang ayam.
'Astaga, dari luar jelek dan sempit, ternyata di dalamnya jauh lebih buruk. Mana mungkin aku betah tinggal di sini. Jika bukan karena ingin menunjukkan pada orang tuaku. Bahwa aku bisa hidup tanpa bantuan mereka, mana mungkin mau tinggal di kandang ayam seperti ini.'
Netra dengan iris tajamnya kini melihat area dalam rumah kontrakan Putri yang tidak ada tembok pembatas karena hanya ada ruang tamu sempit dengan empat kursi kayu usang dan dua kamar yang dibelakangnya ada dapur dan meja makan.
"Jadi, seperti ini rumah para orang-orang kalangan bawah? Di sini, mau apapun pasti kelihatan karena dari depan hingga belakang tanpa ada pembatas apapun. Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika kamu betah tinggal di sini selama bertahun-tahun, Sayang."
To be continued...
__ADS_1