
Putri kini sedang mondar mandir tidak jelas di dalam kamar. Tentu saja ia kini sedang memikirkan cara apa yang akan menghasilkannya uang. Tentu ia tidak bisa meminta kepada Bagus karena ini juga akan ia rahasiakan.
"Siapa yang menelpon?" tanya Bagus yang sadar dengan gerak-gerik sang istri.
Putri menoleh dan menatap Bagus dengan tatapan malas.
"Arya. Apakah salah?"
"Tentu saja salah. Aku masih suamimu, Putri. Kamu tidak diperbolehkan berhubungan dengan orang lain saat masih berstatus sebagai istriku," tutur Bagus yang tidak pernah bosan mengingatkan istrinya.
Meskipun sebenarnya ia tahu bahwa itu akan percuma saja karena di mata Putri, ia sama sekali tidak ada.
Bagus menepuk bahu istrinya lembut, tetapi diempaskan oleh Putri.
Putri yang sudah muak pada Bagus, akhirnya memilih pergi menjauh.
Sementara itu, Bagus yang masih tidak bergeming dari tempatnya, hanya memandang siluet belakang sosok wanita yang sangat dicintai telah semakin menjauh.
Ia benar-benar sangat bingung dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Bagus kemudian berjalan menuju kamar dan merebahkan tubuhnya. Ia berharap jika istrinya bisa sadar dan kembali ke jalan yang benar.
Sementara itu, Putri duduk terdiam di kursi ruang tamu. Ia menguras habis otaknya guna menemukan cara agar mendapatkan uang. Ia berpikir ingin meminjam uang, tapi pada siapa?
Putri tidak mungkin meminjam kepada tetangga di sini. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Ini sudah larut, tetapi ia belum menemukan caranya. Ingin menghubungi orang lain pun takutnya akan mengganggu.
Masih terduduk di tempatnya. Ia menopang kepalanya dengan menjadikan tangan kanannya sebagai tumpuan.
Kepalanya bahkan sedikit berdenyut, sepertinya hari ini ia terlalu kelelahan. Ia menangis dan menghadapi masalah besar, lalu sekarang dibingungkan di tengah malam seperti ini.
"Aku harus menghubungi siapa? Siapa yang akan meminjamkan kami uang? Apakah keputusanku tidak akan membuat Arya menyesal?" gumam Putri disela lamunannya.
__ADS_1
Beberapa menit pun telah berlalu, ia masih terdiam melamun sambil memijat area kepala yang cukup pusing. Ia berpikir akan mencari jalan keluar besok pagi saja.
Kantuk mulai menyerang. Wanita itu berkali-kali menguap hingga matanya berair.
"Lebih baik aku pikirkan besok pagi saja."
Putri bergerak ke arah kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sebelum terlelap, ia sempat memikirkan apa yang akan terjadi.
Ia akhirnya meninggalkan Bagus meninggalkan rumah ini dan semua masalah yang dihadapi. Setelah itu, mulai menutup matanya dan terlelap dalam alam bawah sadarnya dan menggapai negeri impian dalam bunga tidur.
****
Sayup burung berkicau, udara sejuk juga segar Putri rasakan. Embun dan uap pagi, sukses membuat hawa dingin menyelimuti pagi ini. Putri seperti biasa sudah menyiapkan sarapan untuk Bagus meski mereka tidak makan bersama.
Disela-sela memasak, Putri teringat jika ia memiliki seseorang yang bisa membantunya. Namun, jika ia memintanya pada Bagus, apa mungkin akan membantunya? Namun, dengan alasan apa?
Putri saat ini tengah menatap ke arah sosok pria yang yang sedang memasukkan makanan ke dalam kotak bekal seperti biasanya.
Bagus yang seketika menghentikan kegiatannya, melirik Putri sekilas.Ia memiringkan kepala dan merasa curiga karena tiba-tiba sang istri meminjam uang. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi dan tidak ingin sibuk menebak-nebak, akhirnya memilih untuk bertanya.
"Untuk apa?"
"Untuk sesuatu hal. Aku butuh uang," sahut Putri yang tidak ingin mengatakan untuk apa uang itu akan digunakan karena tahu jika pria itu tidak akan pernah mau memberikannya.
Putri menghela napas berat. Seharusnya Putri tau jika keuangan mereka hanya pas-pasan. Putri seharusnya tidak meminta lebih.
Bagus bangkit sambil meneguk air putihnya.
"Jika alasan yang kamu berikan tidak jelas, aku tidak akan memberikannya," ucap Bagus sebelum melenggang pergi.
__ADS_1
Putri terdiam di tempat, ia semakin frustasi dan bingung harus apa. Hingga, ia memilih untuk memeriksa ponsel. Saat memegang benda pipih tersebut, ia melihat ke arah layar ponselnya dan menemukan nomor sang kakak tertera di kontaknya.
Sesaat, Putri pikirkan matang-matang apa yang ia butuhkan dan apa yang akan diucapkan demgan benar. Sang kakak pasti tidak tega melihat adiknya kesusahan seperti ini. Sang kakak adalah harapan terakhir Putri. Ia harus bisa meyakinkan kakaknya.
Putri mengatur napasnya, ia hirup dan keluarkan secara teratur. Kemudian menekan tombol telepon dan mulai menghubungi sang kakak. Ia menggigit ujung jarinya menahan gugup.
Semenit penuh ia menunggu, masih belum ada jawaban apa nomor kakaknya. Apakah ini terlalu pagi untuknya menelpon? Putri kembali menekan tombol panggil. Berharap jika kakaknya dapat menerima sambungan telepon tersebut.
Beberapa menit berlalu dan sudah berkali-kali menelepon kakaknya. Apa sang kakak mengganti nomor ponselnya? Apa harapan terakhirnya akan hancur begitu saja? Oh tidak, Putri memijat kepalanya yang terasa pusing.
Baiklah. Satu-satunya jalan adalah menunggu Ini masih pagi dan mungkin sang kakak tengah sibuk.
Putri saat ini tengah duduk di sebelah putranya yang sibuk bermain. Ia saat ini tengah memikirkan keadaan Arya. Berpikir bahwa saat diusir dari rumahnya dan tidak membawa apa-apa.
Ia berpikir betapa teganya orang tua Arya hingga menyita semuanya, tapi ini adalah ide yang bagus. Memikirkan bahwa Arya tidak akan diatur oleh sang ibu yang sangat tidak disukainya.
Bahkan wanita itu sangat menentang ia menjadi istri Arya. Tidak hanya itu, hinaan serta caci maki membuatnya benar-benar merasa sangat terluka dan sesak kala mengingat hinaan ibu pria yang sangat dicintai.
Putri saat ini berpikir akan menikah dan pergi jauh bersama Arya. Tidak ada yang akan mengganggu kehidupan mereka. Termasuk kedua orang tua Arya.
Putri akan menghilang dari semuanya. Agar ia bisa hidup tenang bersama kekasih pujaannya.
Namun, ia merasa aneh dengan penuturan Arya, tidak mungkin juga orang tua sang kekasih melepas putranya begitu saja. Apalagi saat ia lihat raut wajah wanita di hadapan yang seperti tidak bisa jauh-jauh dari putra satu-satunya yang akan menjadi penerus keluarga.
Ia tahu bahwa wanita itu terlihat sangat melindungi putranya dan tidak akan membiarkan siapapun merebut Arya.
Namun, yang dikatakan oleh Arya merubah semua pemikiran Putri tentang Arya. Wanita itu mengatakan sangat menyayangi anaknya, tapi buktinya? Ia membiarkan pergi tanpa membawa apa-apa.
Putri kembali termenung, ia terdiam beberapa saat, tetapi kepalanya berputar, memikirkan apa yang bisa dijadikan pembalasan pada wanita tua itu. Pembalasan bagi wanita yang telah menghinanya habis-habisan dan tak kenal ampun.
__ADS_1
To be continued....