Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
203. Wanita terpelajar yang bodoh


__ADS_3

Banyak pertimbangan yang membuat Bagus memilih dengan lembut saat menolak Amira Tan. Meskipun sedang menahan diri sekuat tenaga agar tidak tersenyum mengejek wanita hebat tersebut karena ia tidak sebanding dengan pengacara terkenal dan memiliki banyak uang yang pastinya bisa dengan gampang menginjak-injak harga dirinya.


Sudah cukup ia merasakan sakit hati teramat dalam karena sang istri berselingkuh. Bahkan berjanji tidak akan menikah lagi seumur hidup dan memilih fokus mengurus dua anaknya. Hal itulah yang membuatnya tidak tertarik untuk menanggapi pernyataan cinta sang kakak ipar.


“Maafkan aku. Sungguh aku sama sekali tidak menyangka hal ini. Aku pun tidak mengetahui jika ternyata, kamu memiliki perasaan pada pria tak berguna ini."


"Aku memang pria yang tidak memiliki kepekaan, mungkin karena ini juga Putri meninggalkan aku. Aku tidak ingin kembali sakit dan menyakiti.


"Sebaiknya kamu mencari pria lain yang jauh lebih baik dariku. Dalam hatiku, masih ada nama Putri. Bahkan jika wanita itu kembali, aku akan menerimanya dengan sepenuh hati,” jelas Bagus untuk membohongi Amira Tan karena ia sendiri tidak tahu apakah akan bisa kembali lagi pada Putri atau tidak.


Bagus hanya ingin Amira Tan tidak mengembangkan perasaan yang dimiliki dan melupakan, dengan cara menyingkirkan. Bahkan bila perlu, ia ingin menanamkan kebencian pada wanita di hadapannya tersebut agar benih cinta yang tertanam mati tanpa menyisakan akar.


Hati wanita mana yang tidak sakit mendengar penolakan?


Bagus memang menolaknya dengan telak. Apalagi posisi adik tirinya masih berada di atas segalanya untuk pria di hadapannya tersebut. Amira Tan masih terdiam, tidak bisa berkata lagi.


“Maafkan aku. Baiklah, untuk saat ini, terima kasih atas semua pemberianmu ini. Jika ada waktu dan uang lebih, aku akan membalas semuanya. Hanya saja, aku tidak tahu kapan?”


“Cukup! Jangan bicara lagi!” Wajah Amira Tan memerah. Bahkan terlihat jelas, akan ada hujan di wajah cantik itu.


Amira Tan berdiri dari posisinya, begitu juga dengan Bagus yang merasa menyesal sudah melukai wanita di hadapannya.


“Aku harap kamu akan baik-baik saja setelah ini. Sungguh, jangan membuatku khawatir dengan tindakan lain yang membahayakan dirimu saat mengemudi nanti,” ujar Bagus penuh perhatian.

__ADS_1


Hati Amira Tan benar-benar seperti ditusuk pisau. Rasanya sangat sakit dan tidak bisa hilang begitu saja. Tubuh wanita itu bergerak, berbalik badan tanpa berpamitan kembali melangkah ke luar dari rumah.


“Amira, tunggu!" teriak Bagus yang saat ini dibebani rasa bersalah begitu melihat kepergian wanita dengan wajah memerah telah masuk ke dalam mobil.


Panggilan Bagus diacuhkan, Amira Tan benar-benar sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Dengan memegang kemudi, tangisnya pecah, bahkan ia merutuki ucapannya yang mengungkapkan perasaan pada Bagus.


“Bodoh! Sangat bodoh! Kenapa bisa mulutku mengatakannya?” gumam Amira di tengah kegiatan mengemudi.


Sementara di rumah Bagus, Putra mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan wanita yang tiba-tiba saja pergi dari sana.


“Bibi mana?”


“Sudah pulang. Baiklah, bantu Ayah membersihkan semua ini. Kita letakkan di atas meja makan untuk makanan dan camilan. Lalu mainanmu bisa dimasukkan ke kamar.”


“Iya.”


Dengan susah payah ia menaikkan semua ke atas meja makan dan sisanya ke kamar. Setelah semua selesai, Bagus mengajak Putra untuk menikmati makanan yang sudah diberikan Amira pada mereka.


“Enak!” ucap Dedi dengan mengacungkan ibu jarinya.


Bagus meraih ponselnya, lalu mengirim pesan pada Amira Tan. Perasaannya sungguh bercampur aduk dengan rasa bersalah.

__ADS_1


Beberapa pesannya berisi permintaan maaf, tetapi masih tidak ada balasan dari penerima pesan itu.


Hingga beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk dengan nama Amira. Ia membaca pesan singkat itu dengan wajah yang tidak bisa diartikan.


Aku tidak akan berhenti. Kamu terlalu baik untuk Putri. Bukalah hatimu agar aku bisa mengobati rasa sakit itu.


“Ayah.”


Lamunan Bagus buyar karena panggilan dari putranya. Anak itu sudah terlihat lucu dengan noda cokelat di sekitar mulutnya. Hal itu membuat Bagus tertawa dan meraih tisu untuk mengelap bibir anaknya.


“Makannya pelan-pelan, ya?”


“Iya.”


Bagus kembali berkutat dengan ponselnya, sebuah pesan balasan dikirim.


Aku tidak ingin terluka lagi. Sebaiknya, bukalah pikiranmu untuk menerima pria baik lainnya. Aku bahkan masih belum terbilang sebagai pria dan suami yang baik saat ini. Terbukti dengan kepergian istriku sendiri. Itu sudah menjadi tolak ukur yang pasti.


Tidak ada salahnya untuk membuka lembaran baru bersama seseorang. Mungkin, pikiranmu masih belum bisa terbuka saat ini. Aku akan dengan senang hati menunggu. Hingga kamu bisa berpikir dengan jernih.


Kemudian Bagus tidak lagi membalas pesan itu karena saat ini ia masih sibuk menata hatinya yang sangat shock mendengar pengakuan dari saudara tiri Putri.


'Kenapa wanita terpelajar sepertimu berubah bodoh dengan menyukaiku? Bahkan Putri saja pergi dariku, apalagi wanita hebat sepertimu—Amira Tan.'

__ADS_1


Bagus memilih meletakkan ponsel di meja makan, lalu kembali berkutat bersama putranya dengan makanan yang ada di sana.


To be continued...


__ADS_2