Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
218. Mimpi liar


__ADS_3

Malam pertama di luar kota, Arya dan Calista sedang duduk bersama di sofa. Mereka sedang menikmati minuman yang tersedia di minibar kamar hotel.


Calista cukup senang sudah bersama pria itu seharian ini. Mereka sungguh menghabiskan waktu bersama dengan berkeliling kota dan menikmati setiap pemandangan yang dilihat.


Setelah makan malam, mereka memang memutuskan untuk berada di hotel saja. Seperti saat ini, keduanya duduk di salah satu kamar dan menikmati minuman dingin bersama.


Calista beberapa kali menceritakan masa-masa kuliah pada Arya dan begitu juga sebaliknya. Masa-masa itu membuat mereka kembali ke masa lalu yang menyenangkan, tetapi juga membuat pusing saat memikirkan skripsi.


“Aku sangat mengingatnya, bagaimana wajah dosen pembimbing yang bingung dengan setiap tulisan dalam bab yang aku kerjakan. Mereka tidak ada yang berani menggoreskan pena merah di sana. Itu membuatku sangat lega. Akhirnya aku bisa selesai dengan kuliah,” jelas Calista pada Arya.


“Kamu sungguh menakjubkan, selain wajah cantik, ternyata juga memiliki kemampuan yang lumayan.” Arya memuji dengan menatap wanita di hadapannya.


“Ya, seperti itulah seorang Calista yang menjadi kebanggaan orang tua.”


"Sekarang kamu tampak sombong. Apa kamu mau menambah minuman?”


“Ya, tidak masalah.”


Arya kembali ke minibar untuk mengambil botol lain. Kali ini adalah botol dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Awalnya, Arya ragu untuk menuangkan minuman itu pada gelas Calista, tetapi wanita itu sendiri memintanya.


“Kamu yakin? Besok kita harus menemui satu klien besar. Aku tidak ingin ada kesalahan di sana,” ujar Arya memberikan peringatan ringan pada Calista.


Calissa hanya tersenyum sambil menyodorkan gelasnya. “Tenang saja. Setidaknya aku wanita berkelas dan tidak akan mabuk hanya dengan minum satu gelas.”


“Baiklah. Seprtinya aku meragukan orang yang salah.”


Setelah selesai dengan gelas kelima, siapa sangka, Arya-lah yang tidak bisa menahan diri. Kepalanya terasa berat dan mulai pusing.


Beberapa kali ia mengigau hal yang tidak penting. Hingga ahirnya tatapan mata Arya melihat Calista yang sudah tertidur di sofa.


“Apa kamu sudah tidur?” tanya Arya memastikan.


Tidak mendapatkan jawaban, Arya berdiri, lalu meraih tubuh wanita itu untuk dipindahkan ke ranjang.


"Kamu berkata tidak akan masalah dengan beberapa gelas, tetapi sekarang terlihat seperti seseorang yang akan membiarkan aku berbuat nekat.”


“Jika memang kamu mau, lakukan saja.” Calista berbicara dengan suara serak.


Mendengar izin yang diberikan Calista, Arya hanya tersenyum, lalu beranjak dari sana. Namun, tubuhnya di tahan dan Calista menarik tangan Arya hingga terjatuh.


“Jangan salahkan aku. Kamu yang menginginkannya.”


Dengan lembut, Arya memberikan kecupan. Mulai dari leher, hingga turun ke bagian yang masih terbungkus rapi. Tanpa meminta izin lagi, ia meloloskan pakaian wanita itu.


Suara lenguhan dan ******* yang menggema di kamar itu, membuat Arya semakin bersemangat melancarkan aksinya.


Di balik selimut tebal, tubuh keduanya bersatu dalam ledakan gairah. Tidak ada rasa menyesal, hanya kenikmatan dan fantasi liar yang mereka rasakan saat ini.


Suara merdu Calista semakin membuat Arya menggila.


Tubuh kekar Arya masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk menyelesaikan kegiatan itu segera.

__ADS_1


Bahkan seolah tidak akan mengalah, dan menumpahkan rasa rindunya terhadap kegiatan intim yang telah lama tidak dilakukannya.


“Kamu sungguh menggoda, Sayang.”


***


Calista terbangun dengan rasa pengar akibat minuman semalam. Hal yang ia ingat adalah sentuhan lembut dan liar dari pria di sampingnya.


Kini, senyum Calista merekah, tidak pernah sekalipun apa yang diinginkannya tidak terpenuhi. Bahkan, untuk memiliki Arya saja, sepertinya sangat mudah untuk Calista.


Wanita itu beranjak dari ranjang dan membersihkan diri di kamar mandi. Setelah itu, ia kembali mengenakan pakaian dan melihat ke luar pintu kamar.


Benar saja, di sana sudah ada makanan untuk pagi ini.


Calista membawa makanan itu masuk, lalu meletakkannya di atas meja. Ia kembali melihat ke ranjang, Arya masih setia dengan mata terpejam.


Ingatan-ingatan akan percintaan panas mereka semalam membuat Calista yakin bisa mendapatkan Arya setelah ini. Hanya saja, ia memerlukan cara yang lebih cerdik agar bisa memisahkan Arya dengan istrinya.


Tiba-tiba saja dari arah ranjang, Arya meregangkan tubuhnya, lalu tersenyum menyapa.


“Kamu sudah siap? Kenapa tidak membangunkan aku?”


“Aku tidak ingin mengusik tidur nyenyakmu.


“Baiklah, aku akan bersiap. Kita pergi ke perusahaan yang ada di bagian utara.”


“Bagaimana jika kita makan dulu. Aku lapar, kamu sungguh membuat tenagaku terkuras habis.”


Tiba-tiba saja suara tubuh terhempas lantai kini menghiasi ruangan kamar hotel di mana ada seorang wanita yang baru saja jatuh dari atas ranjang.


Ya, sosok wanita itu adalah tak lain Calista. Ia yang kini meringis menahan rasa nyeri pada tubuh dan kepalanya saat jatuh dari ranjang.


"Sial! Kenapa aku bisa jatuh dari ranjang?"


Calista kini menatap ke arah ruangan kamar hotel dan beberapa kali ia mengerjapkan kedua mata. Menyadari kebodohannya, refleks ia menepuk jidatnya berkali-kali.


"Sialan! Jadi aku cuma bermimpi? Padahal rasanya semalam terasa nyata. Aku seperti benar-benar bercinta dengan Arya penuh gairah dan gelora yang membara. Bahkan seperti aroma maskulin dari wangi khas tubuhnya menempel di kulitku. Namun, ternyata semua itu hanyalah mimpi semata."


Calista yang perlahan bangkit dari posisinya, kini memeriksa ponsel dan melihat mesin waktu sudah menunjukkan satu jam sebelum pertemuan dengan klien.


Refleks ia berjalan gontai menuju ke kamar mandi untuk mandi dan menyadarkan dirinya yang benar-benar sudah gila karena bisa bermimpi tentang bercinta dengan Arya.


Sementara itu di kamar hotel sebelah, terlihat Arya sudah sangat rapi.


Arya hanya memerlukan waktu lima belas menit saja untuk bersiap. Ia semalam mabuk dan langsung kembali ke kamar karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan Calista.


Ia sudah mengenakan setelan kemeja dengan jas dan celana kain yang senada. Kemudian menemui Calista untuk mengajaknya segera berangkat.


Beberapa saat kemudian, Arya dan Calista menuju lobi. Tepat di depan lobi sudah ada sebuah mobil yang menunggu mereka. Keduanya pun masuk ke mobil, lalu melesat menyusuri jalanan kota itu yang kini terlihat padat.


“Perusahaan itu sedang membuka beberapa kesempatan untuk kerjasama baru. Karena itu kita ada di sini, mereka pasti ingin menambah pemasukan untuk perusahaan yang terbilang kurang."

__ADS_1


"Kita akan menawarkan beberapa pilihan pada mereka agar bisa membuat pemimpinnya tertarik dan mulai menandatangani kontrak kerjasama dalam waktu dekat,” jelas Arya dengan menunjukkan proposal yang ada di tangan Calista.


“Jadi, kesempatan ini memang tidak bisa kita lepaskan begitu saja? Ini sangat terjadi, begitu maksudmu?” tanya Calista dengan memainkan pena di tangannya.


“Ya. Pemimpinnya bernama Tuan Yoko.


Campuran orang Jepang yang memilih untuk tinggal di sini dan enggan kembali karena ada banyak manusia di sini yang masih bisa ia jajah secara halus,” ujar Arya sedikit menyinggung.


"Dasar kamu!”


“Tuan, kita sudah sampai di perusahaan."


Mobil berhenti di depan lobi. Keduanya turun dan mendapatkan sambutan dari seorang keamanan yang ditugaskan untuk mengantarkan mereka ke lantai sepuluh gedung itu.


“Tuan Yoko sedang berada di ruang rapat, Anda bisa menunggunya untuk beberapa menit lagi, sembari menikmati hidangan yang sudah kami siapkan.”


“Terima kasih, sambutan yang sangat baik dari pihak perusahaan.”


Setelah menjelaskan mengenai posisi Tuan Yoko, pria berseragam keamanan itu berjalan menjauh dari mereka.


Arya dan Calista kembali memeriksa dokumen yang akan mereka bawakan. Setelah memastikan untuk kesekian kalinya, akhirnya Arya yakin dengan dokumen itu.


“Ternyata kalian sudah datang. Silakan masuk ke ruanganku!” ajak seorang pria dengan wajah asia.


Mereka masuk ke ruang kerja tuan Yoko. Di sana, sudah ada seorang sekretaris yang duduk bersama mereka. Arya dengan lihai menjelaskan tentang perusahaan, dibantu dengan penjelasan tentang kerjasama oleh Calista. Keduanya tampak serasi menjadi tim pemasaran.


Tepuk tangan diberikan tuan Yoko. Pria itu takjub pada penjelasan Arya.


“Sangat bagus, aku menyukainya. Hanya saja, apa keuntungan itu bisa ditambahkan hingga lima persen?”


Seperti yang Arya duga, pria itu memang membutuhkan nilai tambah untuk pemasukan perusahaan. Beruntung Arya menyiapkan semuanya sejak awal, sehingga bisa dengan baik memberikan apa yang diinginkan klien.


“Tentu saja, Tuan. Kami bisa menambahkannya hingga lima persen, sesuai dengan yang Anda inginkan.”


“Bagus sekali. Baiklah, kalian bisa menunggu jawabanku besok. Akan aku hubungi pihak perusahaan untuk hal ini.”


“Terima kasih, Tuan Yoko. Apapun yang akan Anda putuskan, kami sudah memberikan semaksimal mungkin.”


“Ya, aku tahu itu.


Selesai dengan keperluan bersama tuan Yoko, mereka kini melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah restoran.


Ya, saat ini sudah masuk jam makan siang dan mereka hampir saja melewatkan jam itu jika tidak melihat pada jam tangan.


"Arya, kita makan di sana saja! Aku lagi pengen makan yang cepat saji.”


“Oke.”


Mobil pun memasuki halaman restoran cepat saji, keduanya memesan, lalu makan bersama di sana sambil membahas tentang meeting barusan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2