Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
229. Berakting


__ADS_3

Rani kini berpura-pura berakting menampilkan senyuman manis dengan deretan gigi putih terlihat rapi pada sosok putra dan menantu yang sangat ia benci.


"Iya, Sayang. Apa yang dikatakan oleh Putri memang benar. Kalian bisa pulang ke rumah saat diizinkan oleh dokter saat nanti pergi dari sini. Mama tidak ingin cucu keluarga Mahesa tinggal di sebuah rumah yang sangat kecil dan tidak mendapatkan segala kemewahan yang dimiliki oleh keluarga kita."


Rani beralih menatap cucunya dengan menundukkan kepala. "Cucuku harus hidup bahagia dengan segala kemewahan dan mendapatkan apapun yang pantas diterima sebagai seorang cucu keluarga Mahesa."


Baru saja Rani menutup mulut, tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang beberapa langkah, tetapi ditahan oleh putranya yang memeluk dengan erat setelah menghambur ke arahnya.


Bahkan ia mendengar suara putranya yang seperti merasa sangat bahagia begitu mengetahui apa yang baru saja diungkapkan. Padahal ia hanya mengikuti permainan dari wanita yang dianggapnya adalah ular betina karena sangat licik.


Memanfaatkan situasi dengan mengatakan sebuah kebohongan pada putranya, tentu saja membuat Rani ingin sekali menarik rambut wanita yang merupakan menantunya tersebut. Hanya saja, ia tidak mungkin melakukannya di depan putranya yang saat ini mengungkapkan kebahagiaan ketika memeluknya.


"Terima kasih, Ma. Aku serasa mendapatkan kebahagiaan dobel hari ini karena setelah putraku lahir ke dunia, membawa kebaikan dengan merubah sifat keras Mama. Akhirnya Mama berubah pikiran dengan menerima kami semua untuk pulang ke rumah."


Wajah Arya terlihat berbinar dan menunjukkan kebahagiaan teramat sangat karena akhirnya bisa kembali ke kehidupan semula yang bergelimang harta dan tidak perlu tinggal di kontrakan sempit yang sudah beberapa bulan ia tinggali bersama sang istri.


"Aku tidak pernah menyangka jika kelahiran putraku akan dengan mudah merubah hati Mama yang sangat keras." Arya beralih menatap ke arah bayi mungil di tangan ibu. "Terima kasih, Putraku. Kamu telah membawa kebaikan dan aura kebahagiaan bagi orang tuamu."


Sementara Rani masih berakting dengan tersenyum simpul untuk menanggapi perkataan dari putranya. Padahal jauh dilubuk hati, ia merasa sangat muak dan ingin sekali mengumpat hari ini atas kebohongan yang dilakukan oleh wanita di hadapannya.


'Kau tidak akan pernah menang melawanku, wanita murahan! Lihat saja nanti karena kau tidak mungkin bisa menginjakkan kaki di istana keluarga Mahesa. Jangan pernah bermimpi. Selama aku hidup, tidak akan pernah terjadi hal itu.'


Puas mengumpat di dalam hati, kini Rani menanggapi perkataan putranya yang terlihat sangat bahagia dengan kebahagiaan semu.

__ADS_1


"Iya, Putraku. Kamu benar karena kebahagiaan ini tercipta setelah cucuku lahir. Lihatlah, dia sangat tampan dan menggemaskan."


Arya yang merasa sangat bahagia, masih belum melepaskan pelukan pada sang ibu yang menggendong putranya. Ia bahkan sudah tidak bisa berkata-kata untuk mengungkapkan kebahagiaan hari ini.


Jadi, hanya menganggukkan kepala perlahan untuk membenarkan semua yang diungkapkan oleh sang ibu.


Berbeda dengan Putri saat ini masih diam terpaku di tempat ketika melihat pemandangan dari anak dan ibu tersebut. Tentu saja semua itu hanyalah kepalsuan belaka karena ia mengetahui bahwa wanita paruh baya yang sangat licik dan disebut rubah betina itu, seperti sedang mempermainkan kepolosan putranya.


Ia hanya bisa mengungkapkan perasaannya di dalam hati untuk mengumpat hal yang membuatnya muak.


'Dasar wanita tua yang sangat licik. Dia bahkan rela membohongi putranya hanya demi untuk mendapat kepercayaan. Jika nanti Arya mengetahui bahwa ibunya tidak pernah mau menerima kami, bagaimana responnya?'


'Kenapa aku sangat bodoh karena tadi tidak merekam perkataan dari wanita licik ini saat mengungkapkan kebencian padaku dan juga putraku. Mungkin lain kali tidak akan pernah terulang karena harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.'


Saat Putri sibuk dengan pikirannya yang menebak-nebak kira-kira rencana apa dari wanita paruh baya itu, lamunannya seketika buyar begitu mendengar perkataan dari sang suami yang menatap ke arahnya.


"Sayang, kemarilah! Kamu pun harus merasakan kebahagiaan ini. Rasanya berpelukan seperti ini sangat nyaman." Arya melambaikan tangan pada sang istri agar segera mendekat dan mengikuti perbuatannya.


Putri beberapa kali mengerjapkan mata dan merasa sangat aneh jika sampai memeluk wanita yang dianggapnya seperti rubah licik tersebut. Namun, ia menyadari jika tidak mau melakukannya, sang suami akan berpikiran buruk padanya.


Akhirnya ia terpaksa menuruti perintah dari Arya. Seperti seorang artis yang sangat profesional, ia mengulas senyuman dan berjalan mendekat untuk memeluk mertua yang saat ini masih menggendong putranya.


"Iya, tentu saja aku tidak akan pernah keberatan untuk memeluk Mama."

__ADS_1


'Astaga, rasanya sangat mual mendengar perkataan sendiri yang penuh kebohongan seperti ini. Mama, memanggilnya seperti itu, membuatku ingin muntah. Aku tahu jika wanita tua ini juga merasakan hal yang sama sepertiku.'


'Kami akan seperti seorang artis profesional yang berakting dengan beradu ilmu. Ilmu siapa yang lebih mumpuni dan ingin membuktikan siapa di antara kami yang akan menang.'


'Akan kupastikan bahwa akulah yang akan menang. Tidak mungkin aku membiarkan wanita tua ini menang melawanku. Arya hanya akan bersama kami.'


Arya tidak akan pernah meninggalkan keluarga kecil kami. Dia akan semakin mencintaiku setelah melihat putranya,' lirih Putri yang hanya bisa mengungkapkan segala keluh kesah di dalam hati.


Meskipun saat ini ia sudah mengarahkan tangan untuk memeluk mertuanya dengan terpaksa tersenyum lebar.


"Terima kasih, Ma karena mau menerima kami untuk masuk ke dalam keluarga Mahesa. Tidak ada kebahagiaan yang lebih dari hari ini karena putraku akan mendapatkan haknya sebagai cucu dari Mama dan Papa."


Ingin sekali Rani mendorong wanita yang disebut ular betina itu karena merasa sangat jijik saat dipeluk seperti itu. Namun, ia tidak mungkin melakukannya karena Arya nanti akan marah dan rencana tes DNA akan dibatalkan sepihak.


Akhirnya ia saat ini berakting tersenyum dan menganggukkan kepala. Seolah tengah merasakan kebahagiaan yang sama dengan sepasang suami istri tersebut.


"Tidak perlu berbicara seperti itu karena ini sudah menjadi tugasku untuk memenuhi tanggung jawab sebagai seorang mertua dan juga nenek. Jika bayi ini benar-benar cucuku, sudah sewajarnya mendapatkan semua hal yang pantas sebagai cucu dari keluarga Mahesa."


"Sekali lagi terima kasih, Ma. Aku benar-benar sangat bahagia hari ini." Arya mengarahkan tangannya untuk memeluk sang ibu dan juga istrinya dengan binar kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.


Sementara respon yang sama ditunjukkan oleh dua wanita berbeda usia tersebut karena sama-sama menyembunyikan perasaan benci dan muak atas semua hal yang terjadi.


Hanya bisa menyembunyikan perasaan sebenarnya dan berakting tersenyum lebar dengan deretan gigi putih yang rapi, kini terlihat dari Putri dan Rani.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2