Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
277. Merasa terharu


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu, pria paruh baya yang berusia 60 tahunan dengan rambut sebagian memutih tersebut, tak lain adalah ayah Amira Tan tengah membicarakan untuk menghabisi nyawa pria yang telah membawa kabur putrinya.


Ia membayar para tukang pukul untuk menghabisi nyawa pria yang merupakan bartender di sebuah Club malam. Tentu saja pria yang bernama Edi Indrayana tersebut mengetahui hal itu karena tadi Jack datang ke rumah untuk menceritakan semuanya.


Tentu saja merasa sangat marah karena putrinya telah dibawa kabur seorang pria tidak dikenal, ingin menghabisi nyawa bartender itu.


Hal itulah yang membuatnya mencari agensi bodyguard yang pastinya bisa menghajar habis pria itu.


"Jadi, kalian habisi nyawa pria itu jika tidak mengatakan di mana putriku. Jika sampai terjadi sesuatu hal buruk pada Amira Tan, potong saja tangan dan kakinya, lalu lempar ke laut, agar dimakan ikan hiu."


"Beraninya ia membawa putriku satu-satunya!" umpat Edi Indrayana dengan wajah memerah karena marah.


Sedangkan sang istri kini masih tidak sadarkan diri karena dari semalam tidak tidur saat memikirkan, serta mengkhawatirkan putrinya.


Hingga akhirnya ia menyuruh dokter keluarga datang, agar memberikan obat tidur. Semalaman menangis tersedu-sedu dan tidak tidur, dikhawatirkan akan membuat kesehatan sang istri semakin memburuk.


Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat sosok wanita yang membuatnya sangat khawatir dari semalam.


"Sayang. Akhirnya kamu pulang juga." Edi Indrayana langsung beranjak dari sofa dan mulai berjalan mendekati putrinya.


Refleks ia langsung memeluk erat tubuh putrinya dengan penuh haru karena merasa lega saat bisa melihat putri kesayangannya telah kembali.


"Kamu baik-baik saja, kan? Apa ada yang luka? Apakah bajingan itu berbuat hal tidak senonoh padamu?" tanya Edi yang saat ini memilih untuk mengecek kondisi putrinya mulai dari ujung kaki hingga kepala.


Hingga ia menyadari jika ada perubahan dari putrinya. Mulai dari pakaian dan rambut panjang yang terurai itu.


"Aku baik-baik saja, Pa. Jangan khawatir. Tidak terjadi apapun padaku karena saat ini kembali ke rumah dengan selamat." Amira Tan ingin masalah tidak semakin besar karena ingin menyembunyikan kejadian yang hanya akan mempermalukan diri sendiri.


'Semua orang tidak boleh tahu jika aku menginap di hotel dengan bartender itu, tetapi tidak terjadi apapun padaku karena pria sialan itu tidak berselera denganku. Astaga, apa kata orang lain jika sampai mengetahuinya.'

__ADS_1


Amira Tan merasa khawatir jika sang ayah melanjutkan rencana untuk menghabisi pria yang malah menyelamatkannya tersebut. Hingga ia pun memilih untuk menceritakan tentang hal yang terjadi semalam.


Hingga berakhir di dalam kamar hotel, tetapi pria yang menolongnya memilih untuk menginap di kamar sebelah.


Mungkin ceritanya terdengar konyol, tetapi hanya itu saja yang terlintas di pikirannya saat ini. Berharap sang ayah mempercayai semua perkataannya dan tidak lagi melanjutkan rencana untuk membuat pria bernama Noah itu babak belur.


Bahkan tadi yang paling parah adalah mendengar sang ayah menyuruh para pria berbadan besar itu untuk melakukan mutilasi dan pembunuhan. Padahal ayahnya tidak ada background mafia dan pastinya akan dihukum berat jika sampai melakukan hal buruk itu.


Amira Tan kini beralih menatap ke arah para pria yang mungkin benar-benar bisa menghabisi bartender. "Semua masalah telah selesai. Lebih baik kalian pergi. Aku akan membayar waktu berharga yang terbuang sia-sia di sini."


Kemudian ia mengibaskan tangan dan begitu melihat sepuluh pria berseragam hitam dan wajah menyeramkan itu pergi dari rumahnya, seketika menarik pergelangan tangan kiri sang ayah.


"Apa yang Papa lakukan? Dari mana mengenal para pria menyeramkan itu? Ini negara hukum, jadi jangan melakukan tindakan konyol sesuka hati hanya karena masalah kesalahpahaman."


"Maafkan aku karena telah membuat kalian khawatir. Aku mabuk dan ponselku mati, jadi tidak bisa memberikan kabar."


Sang ayah yang kini seketika merasa lega sekaligus bahagia karena putrinya yang ada di hadapannya tersebut telah kembali.


Sementara Amira Tan saat ini masih menutup rapat mulutnya karena merasa terharu dan bola matanya berkaca-kaca ketika melihat kasih sayang sang ayah luar biasa besar untuknya.


"Terima kasih, Pa." Ia yang baru saja menutup mulut, kini merasa sangat aneh karena ketika mengedarkan pandangannya, sama sekali tidak melihat sang ibu.


"Mama?"


"Mama baru saja tidur karena ia dari semalam terus menangis saat mengetahui jika kau dibawa oleh seorang bartender. Jadi, mamamu khawatir dan tidak mau beristirahat. Jalan satu-satunya adalah menyuruh dokter untuk memberikan obat tidur saat ia pingsan."


Pria paruh baya tersebut mengusap beberapa kali punggung putrinya dan mengingat sesuatu. "Papa ingin menanyakan tentang sesuatu. Kenapa sekarang penampilanmu jadi seperti ini?"


"Apa kamu yakin jika pria itu tidak melakukan apapun padamu?"

__ADS_1


Refleks Amira Tan mengangguk yakin karena ia tahu bahwa saat ini masih perawan. Tentu saja mengetahui seperti apa seorang wanita yang diperkosa oleh laki-laki.


Ia pasti akan merasakan rasa nyeri pada bagian intinya karena melakukan pertama kali. Namun, ia tadi tidak merasakan apapun saat membersihkan diri di kamar mandi.


"Iya, Pa. Aku masih perawan sampai sekarang. Tenang saja! Aku ingin melihat mama dulu." Amira Tan berniat untuk berjalan menaiki anak tangga. Namun, suara dari sang ayah membuat ia mengingat sesuatu.


"Sebaiknya kamu menghubungi Jack karena tadi ia mengatakan akan menunggu di depan tempat tinggal bartender itu. Ada satu orang lagi bersamanya, tapi Papa lupa siapa namanya."


"Baiklah, Pa. Aku kehabisan daya ponsel, jadi perlu di charge dulu." Amira Tan kini menaiki anak tangga satu persatu dan sepanjang berjalan, ia merasa penasaran mengenai dua hal.


Hal pertama adalah mengenai bagaimana bisa Jack mengetahui jika bartender itu yang membawanya. Tadi ia ingin bertanya pada bartender itu, tetapi karena dikuasai oleh amarah, membuatnya lupa.


Sementara hal yang kedua adalah ia ingin mengetahui siapa pria yang bersama Jack. Tidak ingin membuang waktu, Amira Tan sudah mengisi daya dan menyalakan ponsel.


Butuh waktu beberapa menit dan ia pun bisa melihat ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari beberapa orang. Mulai dari Bagus, Jack, ayah, serta beberapa rekan sekantor.


"Apa mereka semua mengkhawatirkanku?"


Amira Tan terdiam sambil membaca pesan satu-persatu dan begitu ia merasa terharu atas perhatian dari beberapa orang itu. Bahkan ada satu pesan yang dikirimkan oleh Bagus dan membuatnya sangat terharu.


Amira, maafkan aku.


Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu, aku tidak akan pernah memaafkanku. Seluruh dunia akan mengutukku jika pria itu menyakitimu.


Aku tidak pernah berhenti berdoa pada Tuhan, agar pria itu adalah orang baik dan sama sekali tidak menyakitimu.


Mata Amira Tan kini berkaca-kaca dan ia pun sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menghubungi pria yang merupakan adik iparnya tersebut.


Hingga ia pun memencet tombol panggil dan menunggu jawaban dari seberang telepon. Namun, selama beberapa menit tidak ada jawaban juga dan membuatnya merasa sangat aneh.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2