
Jack yang tidak sabar menunggu Amira Tan di ruang tamu, akhirnya meminta izin kepada pria paruh baya yang lebih banyak bertanya pada Bagus.
Ia tadi merasa sangat kesal melihat Bagus membuntutinya, tetapi hal yang dipikirkan adalah dengan segera bertemu dengan wanita yang masih menjadi ratu di hatinya.
Akhirnya ia tidak memperdulikan pria yang dicintai oleh Amira Tan.
"Apa aku boleh menemui Amira Tan di atas, Om? Rasanya aku tidak bisa tenang saat belum melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
Sosok pria paruh baya tersebut sudah menganggap Jack seperti anak kandung sendiri karena mengetahui bahwa pria itu menyukai putrinya dan berharap keduanya bisa menjalin hubungan melebihi teman.
Ia memang telah memberikan restu pada Jack jika sampai putrinya menerima cinta pria itu. "Pergilah! Asalkan jangan berbuat macam-macam pada putriku karena aku akan menghabisimu!"
"Iya, Om. Tentu saja aku tahu batasan antara seorang pria dan wanita. Apalagi aku sangat menghormati Amira Tan dan tidak akan pernah memaksa wanita yang kucintai."
"Aku dari dulu percaya padamu, Jack. Kamar putriku ada di sebelah kanan anak tangga. Pergilah dan suruh dia turun!"
"Baik, Om." Jack segera bangkit dari kursi dan tersenyum sinis kepada Bagus. Kemudian ia menaiki satu persatu anak tangga dan langsung menuju ke arah kamar Amira Tan.
Sedangkan di sisi lain, Bagus tadi merasa sangat aneh ketika ia memperkenalkan diri sebagai suami Putri, tetapi pria paruh baya di hadapannya tersebut seolah tidak mengenal mantan istrinya.
Ia tidak ingin membahas hal itu karena ingin fokus pada keadaan Amira Tan. Meskipun nanti akan bertanya pada Amira Tan mengenai sikap aneh dari pria paruh baya itu.
'Ayah Amira Tan juga merupakan ayah biologis Putri, tapi pria ini seperti tidak mengenal putrinya sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku yakin ada yang tidak beres dan nanti akan menanyakan pada Amira Tan,' gumam Bagus yang saat ini kembali mengobrol dengan pria paruh baya di hadapannya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam ruangan kamar Amira Tan terdengar suara teriakan dari wanita yang sangat terkejut karena ulah Jack yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Lepaskan aku, Jack!" teriak Amira Tan yang berusaha untuk melepaskan tangan dengan buku-buku kuat itu dari perut dan dadanya.
Ia merasa sangat aneh dengan posisi yang sangat intim dan tanpa jarak tersebut karena ini adalah pertama kalinya Jack memeluknya secara tiba-tiba dan tanpa izin.
Sementara itu, Jack yang ini meluapkan perasaan dengan cara memeluk wanita yang sangat dicintai, membuka suara untuk menghentikan pergerakan dari Amira Tan yang seolah menolaknya.
"Lima menit saja, Amira Tan," Embusan napas kasar terdengar sangat jelas dari bibir Jack saat ini.
"Biarkan seperti ini selama lima menit. Aku sangat mengkhawatirkanmu dan takut jika terjadi hal buruk padamu ketika semalam pria brengsek itu membawamu dan aku tidak bisa menghentikannya. Maafkan aku karena kehilangan jejak dan tidak bisa mengantarkanmu pulang."
Jack saat ini masih tidak melepaskan kuasanya karena untuk pertama kalinya bisa memeluk wanita yang dicintai dan merasa sangat bahagia.
Bahkan ia berpikir bahwa kejadian yang menimpa Amira Tan seolah menjadi berkah untuknya. Hingga saat ini bisa memeluk wanita yang sudah diam dan tidak menolak lagi ketika ia memohon.
Amira Tan memang hanya diam dan membiarkan Jack memeluknya karena mengetahui bahwa pria itu sangat mengkhawatirkan keadaannya.
Apalagi sang ayah mengatakan bahwa dari semalam Jack tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatannya.
'Jack membuatku merasa terharu atas perhatiannya. Padahal aku selama ini selalu bersikap kasar dan arogan padanya, tetapi yang terjadi, ia masih terus ingin selalu berada di dekatku.'
Amira Tan kali ini memilih untuk memberikan waktu pada Jack selama waktu lima menit yang disebutkan. "Kenapa kamu sangat berlebihan seperti ini, Jack. Aku bukanlah seorang wanita lemah yang bisa dijahati oleh pria."
__ADS_1
"Jadi, aku tidak akan diam saja jika ada orang yang berbuat jahat padaku."
"Iya, aku tahu bahwa kamu adalah wanita yang sangat kuat dan hebat, tapi jangan melakukan hal ini lagi saat patah hati karena ditolak oleh pria bernama Bagus sialan itu." Jack akhirnya meloloskan kalimat yang menyakitkan hatinya.
Ia ingin melihat respon seperti apa yang ditunjukkan oleh wanita yang langsung melepaskan tangannya dan berbalik badan menatapnya.
Amira Tan seketika membulatkan mata karena tidak pernah menyangka jika Jack akan mengetahui kelemahannya. Tentu saja ia merasa sangat kesal karena dia itu mengetahui alasan menolak.
"Apa pria berengsek itu yang bercerita padamu?"
"Jadi benar? Padahal aku berharap kamu membantahnya, Amira." Raut wajah Jack yang mulai perlahan meredup karena harapannya untuk menjadi kekasih atau suami wanita di hadapannya tersebut sudah pupus.
"Sebenarnya apa yang tidak kumiliki dan dimiliki oleh pria bernama Bagus itu? Katakan karena aku ingin mengetahuinya."
Amira Tan saat ini kita langsung menjawab karena terdiam beberapa detik. Ia ingin memberikan penjelasan yang membuatnya tidak akan merasa malu di depan Jack.
"Sebenarnya aku tidak berniat untuk menjawab pertanyaan tidak penting itu, tapi melihat wajahmu yang sangat mengenaskan itu, rasanya tidak tega untuk melakukannya. Bagus adalah pria berhati malaikat karena disakiti oleh orang lain, tetapi sama sekali tidak merasa dendam."
"Sepertinya aku kagum pada cinta luar biasa yang dimiliki olehnya. Meskipun telah dikhianati oleh adikku, tetapi ia masih berharap bisa kembali pada Putri. Bahkan aku yang saat ini memiliki karir sukses dan juga wajah tidak terlalu jelek, tetapi tidak bisa mendapatkan hatinya."
"Padahal hanya itu saja kelebihannya yang membuatku jatuh cinta. Aku ingin dicintai sebesar itu dan menjadi satu-satunya wanita di hati seorang pria. Namun, aku belum menemukan orangnya. Mungkin lain kali." Amira Tan tersenyum simpul dan saat ini membebaskan tangan pada Jack, agar keluar dari kamar.
"Waktu lima menitmu telah habis. Lebih baik kamu keluar dan kembali ke ruang tamu. Aku akan turun setelah berganti pakaian."
__ADS_1
Tanpa memperdulikan respon dari Jack, kini Amira Tan langsung berjalan menuju ke arah walk in closet.
To be continued...