
Awalnya tadi, Arya berpikir ia akan merasa sangat puas ketika membuat Rani jatuh. Namun, ia malah merasa tidak tega begitu melihat wanita itu ternyata terkilir hingga kesusahan saat berjalan.
Ia yang ingin meredakan rasa sakit pada kaki Rani, baru saja membuat pijatan di sana dan berhasil membuat wanita itu meringis kesakitan dan memukulnya.
“Aku sedang membantu. Jika kamu tidak bisa diam, lebih baik aku pergi!” sarkas Arya yang mengungkapkan sebuah ancaman agar Rani diam dan tidak bersikap manja serta berlebihan.
“Tapi pijatanmu barusan sangat menyakitkan. Ini sangat luar biasa nyeri dan aku tidak sedang berakting. Maaf jika membuatmu kesal."
Rani kini memilih untuk mengalah dan tidak ingin berdebat tentang perbuatan Arya yang baru saja memijat kakinya. Meskipun sebenarnya di dalam hati ingin sekali mengumpat, tapi sadar, tidak mungkin melakukan itu pada putra dari pemimpin perusahaan.
Hingga ia mendengar suara bariton dari Arya yang semakin membuatnya bertambah emosi.
“Padahal kamu tidak biasanya ceroboh. Kenapa hari ini berkali-kali terkena jebakan?” ujar Arya yang akhirnya membuka sendiri niat jahatnya pada Rani sambil kembali memijat kaki yang terkilir itu.
Rani dari tadi sudah menahan diri agar tidak kembali berteriak saat kesakitan. Akhirnya kali ini ia sudah terbiasa dengan keadaan.
Tentu saja keadaan bersama pria yang selalu ingin diumpat karena membuat ia merasa seperti anak kecil selalu dimarahi oleh Arya. Hingga kalimat terakhir yang membuat Rani kesal karena menjadi seorang wanita bodoh.
“Jebakan? Jadi, kesialanku hari ini sebuah jebakan? Kamu yang membuatnya? Kamu sengaja menjebak hingga kakiku seperti ini?” Rani mengungkapkan nada protes dengan menunjuk ke arah kaki.
Arya sangat malas untuk menjawab. Kali ini ia hanya terdiam dan tidak menghiraukan kemurkaan dari Rani. Meskipun ia merasa sangat iba pada wanita berseragam hitam tersebut karena perbuatannya, tetapi tidak mungkin jujur dengan mengatakan menyesali perbuatan yang tadi membuat Rani jatuh dan terkilir.
“Kenapa kamu hanya diam?” Rani selalu merasa diabaikan ketika mengungkapkan kekesalan pada pria dengan paras rupawan tersebut.
Seharusnya ia menyadari bahwa nada protes yang baru diungkapkan sama sekali tidak berguna dan hanya kembali membuat Rani merasa kesal.
__ADS_1
'Sebenarnya di sini, aku yang bodoh atau ia yang terlalu cerdas? Aku benar, tetapi tidak bisa menyalahkan pria penguasa yang jelas salah ini,' gumam Rani dengan mengarahkan tatapan setajam silet pada pria arogan tersebut.
“Aku tidak perlu menjawab hal yang tidak penting karena hanya akan membuang waktuku saja."
Setelah menanggapi dengan sangat dingin, Arya bangkit berdiri dan pergi dari hadapan Rani yang masih duduk di kursi dengan posisi meluruskan kaki setelah ia beberapa saat lalu memijat pada bagian yang terkilir.
Saat berjalan menuju ke arah pintu keluar, Arya sempat berpikir untuk membelikan obat sebagai penebusan rasa bersalah. Akan tetapi, ia merasa gengsi untuk melakukan hal itu. Apalagi jika harus menyerahkan secara langsung pada Rani.
Kini, ia sudah membeli di apotek terdekat karena tidak tega pada Rani yang dari dulu selalu membantu serta menuruti perintahnya.
Namun, ia kemudian menyuruh orang untuk memberikan pereda kaki yang terkilir untuk Rani.
"Tolong kamu berikan ini pada Rani! Suruh oleskan dan pijat pada bagian kaki yang terkilir. Aku harus pulang karena ada hal penting yang harus diselesaikan."
Arya yang sudah menepuk pundak pria di hadapannya, kini telah berjalan pergi dan lama-kelamaan semakin menjauh dan menghilang di balik pintu kotak besi yang ada di lantai dua tersebut.
'Apa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka? Apakah calon pemimpin perusahaan itu menyukai Rani karena selalu bekerja bersama dan terbiasa bertemu? Hingga muncul perasaan yang tak lain adalah benih-benih cinta?'
Setelah ia selesai bergumam sendiri dengan menebak hubungan antara wanita yang tak lain adalah rekan kerjanya, pria bernama Adi melangkahkan kaki menuju ke arah ruangan istirahat para pekerja dengan kasta paling rendah di perusahaan.
Di sana, ia melihat ada beberapa wanita sedang berkumpul di depan Rani. Seolah pernah mengungkapkan rasa iba pada sesama rekan.
"Jika kakimu terkilir seperti itu, bagaimana caranya pulang ke rumah?"
"Kenapa kamu bisa ceroboh hingga kakimu bengkak seperti itu, Rani?"
__ADS_1
"Lebih baik besok kamu libur saja karena tidak mungkin bekerja dalam keadaan seperti itu."
Seperti itulah berbagai macam pertanyaan dan pernyataan dari teman kerja Rani yang merasa kasihan pada nasib buruk wanita itu.
Sementara Rani yang sudah memikirkan dampak negatif dari kaki yang saat ini sudah terlihat membengkak.
"Kalian tenang saja karena ini hanya masalah sepele dan pasti sebentar lagi juga akan sembuh. Iya, aku mungkin akan mengambil cuti jika masih belum bisa berjalan dengan leluasa. Apalagi dalam keadaan seperti ini, memberikan beban berat pada kaki yang terkilir juga tidak baik dan malah akan semakin bertambah parah."
Saat Rani baru saja selesai menanggapi beberapa teman yang mengkhawatirkan keadaannya, ia seketika mengalikan perhatian pada pria yang baru saja datang dan langsung memberikan kantong plastik padanya.
"Kalau ingin segera sembuh, pakai ini! Ini dari kekasihmu!" ucap Adi dengan candaan yang membuat empat wanita tersebut mengerutkan kening dan juga penasaran atas siapa yang dimaksud oleh makanya tersebut.
"Rani punya kekasih? Memangnya siapa?"
"Cepat katakan dan jangan berbelit-belit!"
"Iya, jangan membuat kami penasaran!"
Jika para rekan wanita Rani sama penasaran dan ingin tahu ada sosok pria yang dimaksud kekasih sahabat mereka, berbeda dengan yang bersangkutan.
Rani saat ini seolah bisa menebak siapa yang dimaksud oleh Adi. Namun, ia masih berpura-pura tidak tahu. Ia tidak ingin ada kabar miring yang beredar di perusahaan dan membuatnya langsung dipecat hanya karena sebuah omong kosong.
'Rasanya aku ingin membungkam mulut Adi dengan plester agar ia tidak banyak bicara dan menyebarkan berita palsu. Aku yakin bahwa yang dimaksud adalah Arya. Meskipun sebenarnya merasa heran sekaligus terkejut karena pria arogan yang selalu ingin menang sendiri itu mau membelikan obat untukku.'
'Meskipun sebenarnya itu adalah hal yang harusnya dilakukan karena bersalah padaku ketika mengerjaiku hingga terjatuh. Bahkan aku tidak akan bisa bekerja selama beberapa hari gara-gara Arya. Sayang sekali, aku tidak mendapatkan uang ketika memilih untuk cuti karena sakit.'
__ADS_1
Rani yang saat ini memilih untuk mengarahkan tatapan tajam pada Adi karena ingin pria itu segera pergi dan tidak menyebarkan gosip murahan.
To be continued...