
Merasa percuma untuk meminta Arya menurunkannya, akhirnya Putri hanya diam dan membiarkan pria yang memanggulnya seperti karung beras itu berbuat apapun padanya.
Hingga beberapa saat kemudian, ia mendengar suara seorang wanita dan disambung dengan suara bariton Arya.
"Maaf, membuatmu lama menunggu, Ririn. Ada sedikit drama dari kekasihku yang merasa cemburu saat aku menyuruhmu datang ke sini."
Arya kini menurunkan tubuh Putri hingga menapak ke lantai dan beralih menatap ke arah sosok wanita yang terlihat berantakan rambutnya karena perbuatannya.
"Perkenalkan, ini kekasihku."
Sementara itu, Putri yang beberapa saat lalu bersandar di dinding sambil bermain ponsel untuk menghilangkan kebosanan dan ketika menatap ke arah pria yang tak lain adalah sahabat baiknya, mengerutkan kening atas perbuatan yang menurutnya sangat memalukan.
Selama ini, ia tidak pernah suka melihat ulah lebay para pasangan kekasih dan berpikir bahwa Arya pun merasa sepertinya. Namun, semua pemikirannya seketika berubah begitu melihat sikap Arya setelah memiliki kekasih dan membuatnya merasa tidak suka.
Tidak suka melihat sahabatnya yang selalu ada untuknya tersebut telah berubah dan saat ia kemarin mengajak untuk menemaninya membeli buku, Arya tidak bisa karena mengatakan sedang pergi bersama kekasih.
Terpaksa ia pergi sendiri dan tanpa sengaja melihat di Mall bersama sang kekasih. Namun, ia sengaja bersembunyi dan tidak memperlihatkan diri karena tidak ingin bertemu dengan kekasih Arya.
Usahanya untuk berpura-pura tidak tahu, sama sekali tidak berjalan mulus karena pagi ini Arya menghubunginya untuk bertemu dan memperkenalkan kekasih. Tidak bisa menolak, akhirnya di sinilah ia berada sekarang.
Berdiri di depan apartemen untuk menunggu Arya memperkenalkan kekasih yang hari ini ulang tahun.
Bahkan ia harus berpura-pura merasa senang bertemu dengan wanita yang merebut pria yang selama ini sebenarnya disukainya dan membuatnya sampai detik ini belum pernah berhubungan dengan pria manapun karena berharap Arya melirik dan menyukainya karena sering bersama.
Melihat sosok wanita yang menjadi kekasih Arya dari dekat, kini membuatnya mengerti seperti apa selera sahabatnya, yaitu seorang wanita dengan tubuh padat berisi dan wajah keibuan yang anggun.
Sementara ia memiliki wajah yang jauh lebih terlihat seperti anak sekolah dan memiliki tubuh mungil yang hanya sepundak wanita di hadapannya.
Refleks ia berakting mengulas senyuman dan mengulurkan tangan. "Ririn. Senang sekali akhirnya aku bisa melihat tipe wanita yang berhasil menaklukkan hati seorang Arya Mahesa. Aku sangat salut padamu."
Awalnya, Putri sibuk merapikan rambutnya yang berantakan karena perbuatan Arya yang menggendongnya.
Kemudian ia membalas senyuman wanita yang diketahuinya masih sangat muda tersebut dan menjabat tangan yang menggantung di udara itu.
"Putri. Terima kasih atas pujiannya. Aah ... iya, maafkan aku karena sempat merasa cemburu padamu. Setelah bertemu langsung denganmu, sekarang aku sudah tenang karena merasa yakin bahwa Arya memang sudah menganggapmu sebagai teman rasa saudara."
Sengaja Putri mengungkapkan kalimat ambigu karena tidak mungkin berterus terang pada sahabat Arya tersebut bahwa wanita dengan postur mungil tersebut tidak akan pernah dilirik oleh sang kekasih.
Semua itu karena ia tahu selera Arya adalah wanita yang memiliki postur tubuh tinggi dan seksi sepertinya. Ia sangat percaya diri bahwa meskipun sudah memiliki anak dua, tubuhnya masih bisa dibandingkan dengan para gadis perawan.
__ADS_1
Semua itu karena ia memang tidak suka makan dan mengemil. Pedomannya dari dulu adalah tidak ingin lemak menghiasi tubuhnya dan membuat suami berselingkuh karena melirik wanita yang seksi.
Namun, sama sekali tidak pernah berpikir bahwa ia yang malah berselingkuh di belakang sang suami dengan seorang pria tampan dan lebih muda darinya serta berasal dari keluarga konglomerat.
Tentu saja saat ini Ririn merasa sangat tertampar dengan perkataan dari Putri yang dianggapnya sudah mengejeknya tidak secantik dan seseksi wanita di hadapannya tersebut.
Selama ini, ia selalu merasa percaya diri bahwa wajahnya yang imut akan selalu membuatnya awet muda dan tidak akan pernah terlihat tua.
Namun, setelah bertemu dengan Putri, membuatnya merasa tidak percaya diri ketika memiliki wajah yang terlihat seperti anak kecil.
'Sialan! Pedas sekali kata-kata wanita ini. Di mana Arya menemukan wanita arogan sepertinya? Dia seperti ular berbisa yang siap kapan saja menyemburkan bisa ketika membuka mulut dan sekarang berhasil membuatku terluka karena tidak percaya diri di hadapan Arya saat ini.'
Puas bergumam sendiri di dalam hati, Ririn yang merasa sangat malas untuk menanggapi karena sedang sibuk menahan diri agar tidak merasa emosi atas kalimat bernada sindiran dari Putri.
Berakting tersenyum, Ririn menoleh ke arah sahabatnya yang baru saja menekan passcode.
"Aku sangat haus karena terlalu lama menunggumu, Arya."
"Masuk dan langsung saja ambil minumannya sendiri. Anggap saja seperti rumah sendiri, meskipun ini pertama kalinya kalian masuk ke apartemen sepupuku."
Arya yang kini berjalan masuk, menarik pergelangan tangan kiri Putri dan beralih memeluknya begitu melihat sahabatnya ke belakang untuk mengambil minuman.
Tubuh Putri yang saat ini terhempas ke dada bidang berotot Arya, membuatnya langsung mencubit perut pria yang dianggapnya sangat nakal.
"Jangan macam-macam di depan sahabatmu yang belum memiliki kekasih. Nanti dia jadi cemburu padaku dan berkali-kali menelan ludah melihat kemesraan kita."
Mencoba untuk menghindar dan memberikan jarak di antara mereka, Putri mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mencari tahu kejutan apa yang dimaksud oleh Arya, tapi tidak ada sesuatu yang bisa dianggap sebagai kejutan.
"Mana kejutannya? Tidak apa-apa pun di sini."
Arya yang kebetulan membawa sesuatu di saku celananya, kini mengeluarkan dari sana dan memperlihatkan di hadapan wajah cantik Putri.
"Sebelum itu, kamu harus menutup mata dulu, Sayang."
Tanpa menunggu respon dari Putri, Arya sudah menutup mata sang kekasih dengan kain penutup berwarna hitam.
"Kamu semakin membuatku penasaran seperti ini." Meraba matanya yang sudah tidak bisa melihat apapun karena hanya warna gelap yang kini tampak di matanya.
Tanpa mempedulikan rengutan dari Putri, Arya sudah membimbing tubuh seksi itu agar segera melangkah masuk dan menuju ke ruangan tengah karena di sana sudah didekorasi oleh orang yang dibayarnya tadi.
__ADS_1
Arya yang melihat Ririn sudah membuka kotak kue ulang tahun, kini memberikan kode agar berjalan mendekat padanya dengan membawa kue tersebut.
Ririn yang saat ini sebenarnya sangat dongkol dengan semua yang dilihatnya, masih berakting tersenyum semanis mungkin, seolah ikut merasa bahagia atas kebahagiaan sahabatnya yang memberikan kejutan ulang tahun pada sang kekasih.
Cemburu, iri dan sakit hati, kini bercampur menjadi satu dan membuatnya merasa seperti seseorang yang tidak berguna karena tidak bisa membuat Arya jatuh cinta padanya.
'Rasanya aku sekarang ingin menangis karena melihat sahabat yang aku cintai dari kecil telah menemukan kekasih yang dicintai. Rasanya aku tidak rela jika wanita sok cantik dan berlagak ini mendapatkan Arya. Apalagi dia tadi sudah menghinaku.'
'Tidak, aku tidak akan membiarkan wanita ini merebut Arya dariku. Jika aku tidak bisa bersama dengannya, begitu juga dengan wanita ini, dia tidak akan pernah kubiarkan bersatu dengan sahabat kecilku.'
Ririn yang masih sibuk bergumam sendiri di dalam hati, kini melihat Arya meminta kue ulang tahun black forest yang diketahui harganya sangat mahal tersebut sudah dihadapkan tepat ke wajah wanita dengan mata tertutup kain tersebut.
Arya yang tadi langsung menyalakan lilin, saat ini sudah menatap ke arah sosok wanita yang sangat patuh dan belum bergerak sedikit pun.
"Buka penutup matamu, Sayang."
Putri yang dari tadi berdebar-debar dan penasaran dengan apa yang sebenarnya direncakan oleh Arya, kini langsung menuruti perintah dengan membuka kain penutup di mata.
Kemudian perlahan membuka kelopak mata yang saat ini dipegang olehnya. Refleks ia membekap mulut begitu melihat pemandangan di hadapannya ada kue ulang tahun dengan beberapa lilin di atasnya.
"Arya, apa ini?"
"Selamat ulang tahun, Sayang."
"Bagaimana mungkin. Darimana kamu tahu aku hari ini ulang tahun? Bahkan aku saja lupa jika kamu tidak membuat kejutan ini untukku. Terima kasih."
Putri yang berbicara dengan suara bergetar dan membuatnya merasa sangat terharu sekaligus bahagia. Bahkan bulir air mata sudah lolos tanpa seizinnya.
Sementara itu, Arya hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah bahagia, tetapi berlinang air mata tersebut.
"Aku tahu karena diam-diam melihat kartu tanda pengenal di dompetmu kemarin dan sama sekali tidak pernah menyangka jika hari ini kamu ulang tahun. Sekarang tiup lilinnya."
Arya kini memberikan kode pada sahabatnya agar mengikutinya menyanyikan lagu ulang tahun sebelum Putri meniup lilin.
Menjalankan peran sebagai teman yang baik, kini Ririn sudah bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuk wanita yang telah berhasil menorehkan luka mendalam di hatinya.
Wajah penuh kepalsuan yang kini ditampilkannya karena saat ini benar-benar merasa sangat cemburu pada kebahagiaan seorang wanita yang terlihat sangat bahagia tersebut.
'Seandainya aku yang berada di posisi wanita ini, pasti akan sangat bahagia. Dia terlihat sangat bahagia, sedangkan aku menderita. Sialan, kenapa dia harus muncul di antara kami.'
__ADS_1
To be continued...