Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
192. Lupa membawa pakaian ganti


__ADS_3

Mendengar Arya mendapatkan libur hari ini, seorang wanita tampak mengembuskan napas lega. Pasalnya, wanita itu sedikit tidak nyaman dengan keberadaan Arya yang setiap hari membuatnya kesal.


Rani bekerja kembali menjadi tim Arya, itu semua atas permintaan rekan yang mengeluh tidak ingin lagi berada dalam satu tim bersama anak pemilik perusahaan yang malas, ungkap pria yang sudah bekerja selama dua tahun di perusahaan itu.


Rani akhirnya terpaksa menerima perintah itu dari kepala cleaning service karena hanya ia yang bertahan selama ini berada di sisi anak pemilik perusahaan yang arogan itu.


Suatu keberuntungan, hari pertama kembali dalam tim Arya, ternyata pria tersebut tidak datang karena libur. Ia bekerja dengan tenang meski seorang diri di lantai tiga.


Bahkan, ia juga menerima tip tambahan dari pekerja yang mengambil lembur hari ini.


“Biasanya anak bos, kenapa sekarang jadi kamu, Ran?” tanya seorang karyawan yang biasa meminta bantuan Arya.


“Orangnya libur hari ini. Jadi, sekarang aku yang menggantikannya.”


“Pantas saja dia seharian ini tidak kelihatan dari pagi. Oh ya, bisa tolong beli makanan ringan dan minuman untukku? Hari ini aku bekerja sampai jam sepuluh.” Pria dengan kemeja biru itu mengeluarkan uang seratus ribu dari dalam dompet.


"Malam sekali?” ucap Rani yang menerima uang itu dengan respon terkejut karena terlalu malam.


“Biasanya bisa cepat karena ada Arya yang membantuku. Makannya aku mencari dia hari ini.”


“Putra presdir memang sangat cerdas. Hanya saja, aku heran kenapa disuruh kerja kasar sepertiku.” Rani hanya bisa melihat layar laptop yang menampilkan beberapa angka-angka dan sama sekali tidak dipahami olehnya. Bahkan ia merasa sangat pusing melihat itu.


“Kamu benar. Arya memang menuruni gen dari sang ayah. Laporan yang seharusnya selesai dua jam, dibantu oleh Arya dan dikerjakan dalam waktu hanya satu jam saja Padahal itu berkas yang sangat banyak. Saat dia libur, tidak ada yang membantuku untuk bisa pulang cepat."


“Keren juga, tapi penasaran, tidak? Kenapa ia bisa menjadi pegawai kebersihan?” tanya Rani ingin mengorek informasi yang valid karena merasa sangat penasaran.


Refleks pria dengan rahang tegas itu langsung menggelengkan kepala. “Kalau soal itu, aku sama sekali tidak tahu. Tidak ada yang tahu selain bos dan pemegang saham atau dewan direksi.”


"Lagipula itu bukan urusan kita. Lebih baik fokus bekerja tanpa memikirkan hal yang meresahkan."


"Kamu benar. Aku tadi hanya berpikir jika kau mengetahuinya. Ternyata sama saja dengan yang lain." Rasa penasaran yang sama sekali tidak mendapatkan jawaban, kini membuat Rani terdiam karena sibuk memikirkan tentang hal yang berhubungan dengan Arya.

__ADS_1


Hingga ia berjenggit kaget begitu mendengar suara bariton dari pria di hadapannya.


"Astaga! Cepat belikan aku makanan dan minuman untukku karena aku tidak bisa berpikir jika belum mengisi perutku." Mengibaskan tangan dan kembali menatap ke arah komputer.


Saat menyadari kebodohannya karena melupakan perintah dari salah satu staf perusahaan yang membutuhkan jasanya, kini Rani pun berjalan keluar dari gedung perusahaan itu. Ia membeli pesanan pria itu dan kembali beberapa menit kemudian.


Setelah kembali, Rani kembali bekerja, sedangkan pria itu pun melakukan hal yang sama, yaitu masih bekerja di kursi dengan menatap komputer yang menampilkan banyak angka dan dianggap hanya membuat ia pusing.


Sampai akhirnya, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Beberapa staf perusahaan yang hari ini lembur, sudah siap untuk pulang setelah merapikan meja kerja dan berkas-berkas yang dikerjakan. Hal yang paling ditunggu adalah saat jam pulang kantor.


Meskipun mereka tahu jika setelah tiba di rumah masing-masing, langsung beristirahat dan waktu cepat bergulir dan menjadi pagi, sehingga kembali berangkat bekerja lagi.


Merupakan sebuah hal yang menjadi rutinitas mereka sehari-hari, terlihat sangat membosankan karena selalu sama yang dikerjakan, tetapi masih dilakukan. Tentu saja akan terus bertahan demi gaji yang selalu diterima di awal bulan.


Satu-satunya kalender yang membuat semua staf perusahaan sangat bersemangat adalah pada saat gajian. Pastinya mereka tidak akan berhenti tersenyum simpul ketika gaji masuk dan berencana untuk membeli apapun yang sudah direncanakan.


“Terima kasih ya, Ran. Ini, ada sedikit uang untuk kamu. Jika besok Arya masih libur, aku bisa meminta tolong padamu, kan?"


"Aku pulang dulu.”


“Iya. Terima kasih juga untuk tipnya hari ini." Rani masih tersenyum saat menatap yang pemberian staf itu di genggamannya.


"Kalau setiap hari begini, aku bisa mengumpulkan uang untuk modal membuka usaha nanti. Aku tidak mungkin selamanya bekerja menjadi cleaning service seperti ini. Lebih baik menjual sesuatu dan bisa menjadi bos untuk diri sendiri."


Rani yang dari dulu menyisihkan sebagian gaji untuk ditabung karena ingin memiliki modal ketika membuka usaha setelah keluar dari perusahaan.


"Aku tidak mungkin selamanya bekerja di perusahaan ini. Siapa tahu tiba-tiba ada pangeran tampan berkuda putih yang menjemputku dari kemiskinan dan mengajak menikah. Jadi, aku tidak perlu harus membawa sapu, alat pel dan juga lap saat berjalan ke mana-mana.


Rani sadar jika pekerjaan seorang cleaning service memang sering dipandang sebelah mata, hanya saja ia tidak ingin memperdulikan hal itu karena baginya, yang penting adalah bekerja benar, bukan buruk seperti pencuri dan pembunuh.


"Akhirnya bisa pulang ke rumah."

__ADS_1


Rani kini bersiap untuk keluar dari perusahaan dan memilih untuk naik ojek online yang dianggapnya sangat murah daripada taksi.


***


Suasana pagi hari di perusahaan terlihat sosok wanita yang mengulas senyuman ketika baru saja tiba.


Rasanya kemarin adalah hari terbaik untuk Rani. Ia bisa bekerja dengan baik dan tenang tanpa Arya meski seorang diri seperti kemarin.


Apalagi ia tidak mendapatkan kemurkaan dari Arya karena selama ini selalu mendapat omelan seperti seorang anak kecil. Jika kemarin ia merasa lega, tetapi berbeda dengan sekarang.


Semua berubah pada hari ini. Ia bertemu dengan Arya di ruang loker, lalu seperti biasa.


Raut wajah Arya tidak begitu senang dengan kabar mengenai kebersamaan mereka dalam satu tim.


Keduanya berada di lantai empat untuk membersihkan area toilet dan juga lantai di lorong yang ada di sana.


Saat berada di toilet, tidak satu pun dari mereka yang berbicara. Akan tetapi, beberapa kali Arya dengan sengaja membuat Rani terpeleset hingga terjatuh.


Namun, Rani hanya diam dan tidak mengeluarkan nada protes karena tahu jika pria itu seperti tengah membalas dendam padanya. Meskipun jauh di dalam hati ia sudah sibuk mengumpat dengan mengabsen kebun binatang.


Setelah pekerjaan di toilet selesai, Rani harus mengganti pakaian seragamnya. Gara-gara Arya, seluruh pakaian Rani basah dengan air dari alat pel yang tidak diperas dengan benar.


“Astaga! Sebenarnya ada masalah hidup apa, sih dia itu? Kenapa selalu saja seperti ini jika bekerja dengannya. Semenjak ia marah karena aku menjauh, membuatnya seolah semakin menyiksaku. Rasanya aku ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini, tapi nanti susah mendapatkan pekerjaan, bagaimana?"


"Jika itu terjadi, yang ada nanti malah aku hanya akan menjadi beban keluarga. Lebih baik aku bersabar karena Arya akan kembali ke tempat asli setelah memimpin perusahaan ini, tapi aku benar-benar sangat kesal padanya!"


Rani terus menggerutu selama beberapa menit. Hingga tanpa sadar tidak membawa pakaian ganti ke kamar mandi. Rani menjadi bingung karena ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya agar tidak mengeluarkan aroma tidak sedap saat bekerja.


“Sial! Kenapa aku tidak membawa pakaian yang sudah kuletakkan di depan loker? Siapa yang bisa membantuku?"


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2