Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
247. Tidak ingin goyah


__ADS_3

Jika dulu seorang Arya Mahesa sama sekali tidak memperdulikan hal itu, tetapi saat ini, pikirannya sedikit terbuka setelah mengalami luka akibat perbuatan wanita yang sangat dicintai.


Sebagai penerus perusahaan milik sang ayah, tentu saja akan banyak media yang menyorot dan mencari tahu tentang kehidupan pribadinya. Itulah salah satu alasan kenapa kedua orang tuanya ingin ia menikah dengan wanita yang sederajat dengan mereka.


Selain untuk memperkuat bisnis keluarga, mereka juga tidak perlu menjelaskan kepada awak media, siapa menantu mereka karena para pemburu berita dan publik pasti akan langsung menemukan jawabannya saat mengetikkan nama tersebut di laman pencarian internet.


Banyak hal yang Arya dan sang ayah bicarakan malam itu. Saat ini, yang membuat Arya terkejut adalah kalimat sang ayah yang mengatakan jika sudah mendapatkan sebuah jabatan baru.


Ia akan bekerja di perusahaan pusat milik sang ayah dengan menjabat sebagai wakil presiden direktur. Itu adalah jabatan yang langsung ia pegang di sana.


Tentu saja jabatan itu masih dibawah sang ayah yang menduduki jabatan tertinggi. Arya pikir, sang ayah tidak akan langsung memberikan jabatan itu di sana.


“Tapi aku harus menyelesaikan dulu pekerjaanku di bagian pemasaran, Pa. Aku juga masih harus menemui beberapa klien yang sudah menghubungi. Masih ada banyak tanggung jawab yang harus aku selesaikan di sana,” imbuh Arya yang merasa masih mempunyai tanggungjawab.


"Aku harus benar-benar menyelesaikan pekerjaanku sebelum berganti jabatan."


Ari tersenyum mendengar tanggapan yang diberikan oleh putranya. “Ya, lakukan apa yang seharusnya." Kemudian menepuk bahu kokoh putranya yang dianggap sudah banyak berubah menjadi seorang pria yang bertanggungjawab.


"Papa tahu, bahwa kamu sangat bertanggungjawab pada pekerjaan. Atau jika kamu mau, Papa akan mengutus satu orang yang akan menggantikanmu menyelesaikan pekerjaanmu di kantor.” Ari Mahesa memberikan tawaran pada putranya.


Tentu bukan hal yang mudah menjalani posisi Arya saat ini. Bertemu dengan klien tidak menjamin keberhasilan untuk ia bisa menjual produk yang ditawarkan.


Terkadang ada beberapa konsumen yang tidak langsung membeli setelah melihat produk yang ditawarkan.


Mereka juga harus menilai dan memilah, apakah sesuai dengan kebutuhan mereka atau tidak.


"Tidak perlu, Pa. Aku bisa melakukannya sediri. Aku tidak akan mundur jika belum menyelesaikan semua tugasku,” pungkas Arya dan mendapat anggukan setuju dari sang ayah.


“Papa bangga dengan kerja keras kamu, Arya. Sudah cukup larut, istirahatlah. Besok, pasti akan menjadi hari yang berat untuk kamu. Persiapkan mental dan hati kamu.”


Kemudian Ari beranjak dari tempat duduknya. Kemudian berjalan menuju ke arah pintu keluar setelah tadi kembali menepuk pundak putranya. “Lakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri. "

__ADS_1


"Sekarang, tidak ada lagi yang harus kamu pikirkan. Ingat, kita juga harus fokus dengan kesembuhan mama kamu.”


Ari beranjak meninggalkan ruangan kerja. Tidak lama setelah pria paruh baya itu meninggalkan ia sendiri di sana.


Benar apa yang dikatakan oleh sang ayah. Bahwa yang terpenting saat ini adalah kesembuhan sang ibu.


Mengingat wanita paruh baya tersebut, rasa bersalah seketika mencuat. Rasanya begitu banyak dosa yang sudah dilakukan pada wanita yang telah melahirkan dirinya.


Arya tidak pernah percaya dengan apa yang sang ibu katakan selama ini tentang Putri.


Mungkin jika sang ibu tidak memaksa untuk melakukan tes DNA itu, ia sampai detik ini masih terjebak dalam permainan yang diperankan oleh Putri sebagai tokoh utama dan pengatur cerita dalam skenario rumah tangga mereka.


***


Sesuai dengan janjinya tadi malam. Hari ini, Arya pulang ke kontrakannya.


Tidak ... bukan pulang, lebih tepatnya ia datang untuk berpamitan pada Putri jika tidak akan tinggal lagi di sana.


Seketika ia bergegas membuka pintu tersebut saat tahu jika orang itu adalah suaminya.


“Sayang ….” Putri langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya begitu pintu dibuka. “Aku merindukanmu,” sambung Putri dengan wajah berbinar begitu melihat sang suami pulang ke rumah juga.


Dengan ragu Arya mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan istrinya. Memberikan usapan lembut di punggung wanita tersebut.


“Maaf,” ucapnya dengan lirih.


Entah kata ‘maaf’ itu diucapkan sebagai permintaan maaf karena sudah membuat sang istri khawatir atau sebagai ucapan karena ia akan meninggalkan rumah itu.


Jika biasanya hati Arya akan menghangat dan sangat bahagia ketika istri memeluknya, tetapi tidak dengan saat ini. Perasaan itu telah berganti menjadi rasa sakit yang menyesakkan dada.


Namun, ia berusaha untuk menahan semuanya dan bersikap biasa saja.

__ADS_1


Mungkin Arya merasa sudah bersikap biasa saja, tetapi tidak dengan Putri.


Putri menyadari ada yang berbeda dengan suaminya. Wajah pria itu tidak seceria biasanya. Arya juga tampak lebih dingin dan murung.


“Kita masuk dulu, ya, Sayang. Setelah itu, kita makan bersama.” Putri mencoba mengabaikan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.


Ia akan bertanya nanti setelah mereka makan bersama dan ketika sedang mengobrol santai. Kemudian Putri melanjutkan memasak.


Sementara itu, Arya memilih untuk masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan Xander.


Bayi laki-laki itu sedang tertidur pulas. Matanya terpejam rapat dengan bulu mata lentik yang membingkai indah, menutupi kedua matanya.


Hidung yang mancung dan bibir mungil yang sesekali bergerak dan terlihat begitu menggemaskan. Pipi merona dengan rambut yang hitam dan lebat.


Tanpa sadar, kedua sudut bibir Arya terangkat dan mengulas senyum di sana. Tangannya terulur untuk mengusap pipi chubby anak itu.


Arya masih sulit mempercayai jika Xander bukanlah putranya, mengingat bagaimana anak itu begitu mirip dengannya. Namun, semua bukti yang ada berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.


Mungkin juga, masih terlalu dini untuk melihat kemiripan yang begiu kentara antara dirinya dan Xander. Bukankah wajah seorang bayi itu akan berubah seiring dengan proses tumbuh kembangnya?


Arya segera menggelengkan kepala saat ia merasakan hatinya trenyuh dan tidak tega jika harus meninggalkan anak itu. Tidak ... Arya tidak bisa lemah.


Ia hanya perlu tega dan seiring dengan berjalannya waktu, akan terbiasa tanpa anak dan istrinya lagi.


Arya merasa, mungkin ikatan batin antara dirinya dan Xander terjalin karena dari awal sudah menganggap anak itu adalah darah dagingnya.


Ikatan mereka sudah terjalin sejak Xander masih di dalam kandungan Putri. Bagaimana ia sering mengusap perut istrinya saat hamil dan mengajak berbicara bayi itu sejak masih di dalam rahim.


Arya harus benar-benar meninggalkan rumah itu. Ia tidak ingin hatinya goyah lagi dan masuk ke dalam permainan wanita yang telah menipunya, sesuai dengan perkataan sang ayah.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2