
Arya membiarkan saja Putri mengemas beberapa barang yang memang harus ia bawa.
Putri juga tidak banyak bicara lagi dan protes dengan keputusan yang Arya ambil.
“Aku akan mendukung apapun yang akan membuatmu bahagia. Jika dengan tinggal terpisah seperti ini bisa membuatmu mewujudkan semua harapan orang tuamu, maka aku akan berkorban."
"Aku hanya minta agar kamu tidak pernah melupakan janjimu. Datanglah ke sini untuk mengunjungi kami.”
Itu adalah kalimat terakhir yang Putri ucapkan sebelum Arya meninggalkan rumah kontrakan mereka.
Putri tidak ingin menanggapi ini sebagai sebuah perpisahan.
Ia juga tidak melepaskan suaminya untuk sebuah perpisahan. Ia hanya ingin mendukung dan tidak ingin membuat Arya berada pada pilihan yang sulit lagi. Tentu saja tidak ingin membuat suaminya memlilih antara ia atau keluarganya.
Biarlah untuk saat ini, ia akan mengalah. Putri yakin jika suatu saat ia akan memetik hasil dari buah kesabarannya tersebut.
Kemudian ia mengantar Arya sampai depan rumah. Putri menatap punggung suaminya yang masuk ke dalam mobil sport mewah milik pria tersebut.
Putri masih ingat, dulu Arya pernah berjanji akan mengajaknya jalan-jalan keliling ibu kota menggunakan mobil mewah tersebut.
Kini, ia hanya bisa tersenyum getir saat mengingat semua ucapan suaminya. Bahkan satu hari lalu, Arya masih mengucapkan sebuah kalimat manis yang membuat Putri merasa menjadi wanita paling beruntung karena bersuamikan seorang Arya Mahesa yang merupakan satu-satunya penerus perusahaan besar tersebut.
__ADS_1
“Sekarang kamu sudah kembali menjadi Arya Mahesa yang merupakan putra konglomerat. Nama keluarga yang pernah kamu lepaskan demi wanita biasa sepertiku. Bahkan dulu kamu rela kehilangan segala kemewahan yang diberikan oleh keluargamu agar bisa tetap hidup bersama denganku."
"Aku tahu, pasti semua ini sangat sulit untukmu. Jadi, sekarang biarkan aku yang berkorban untukmu, Sayang."
"Aku dan putramu akan sabar menunggu untuk waktu itu. Waktu dimana nanti kau akan mengatakan dengan suara lantang pada publik jika kami adalah keluargamu.” Putri bergumam sendiri dengan angin malam yang menusuk pori-pori kulitnya.
Sementara itu, Arya meninggalkan rumah kontrakan yang selama ini penuh dengan berjuta kenangan itu. Saat ini perasaannya sangat campur aduk.
Berulang kali ia meyakinkan diri jika keputusan yang ia ambil adalah yang paling tepat.
***
Setelah dari rumah kontrakannya, Arya tidak langsung kembali ke rumah kedua orang tuanya.
Arya memilih untuk membelokkan kendaraannya menuju kantor sang ayah karena sedang lembur.
Pria itu menceritakan jika ia sudah bicara dengan Putri dan juga memberitahu sang ayah, bagaimana reaksi Putri saat tahu jika ia akan meninggalkan rumah itu.
“Tentu saja ia senang saat tahu kamu pergi dari sana, Arya. Ia bisa bebas melakukan apapun dengan pria lain di rumah itu tanpa takut ataupun waspada dengan kedatanganmu. Terbukti, bukan? Kalau dia memang hanya membutuhkan uangmu saja.”
“Kenapa Papa bisa menyimpulkan seperti itu?” tanya Arya yang sebenarnya tidak sependapat dengan pemikiran dari sang ayah.
__ADS_1
“Jika dia mencintaimu, pastinya akan berusaha untuk terus menahanmu di sana. Tidak peduli apakah kamu akan menjadi penerus perusahaan keluarga atau hanya menjadi karyawan biasa. Dia tidak akan setuju begitu saja,” imbuh Ari yang menjelaskan, agar bisa merubah pemikiran putranya.
Ari Mahesa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang ada di depan mata, untuk mencuci otak putranya dan membuat Arya kembali mendengarkan apa yang dikatakan olehnya.
Arya ingin membantah, tetapi ia tidak bisa.
“Sore nanti, biar aku saja yang menemani mama di rumah sakit."
"Papa istirahat saja di rumah. Kata Om Putra, jadwal Papa hari ini sangat padat dan pastinya lelah. Aku tidak mau kalau sampai Papa mengabaikan kesehatan sendiri."
"Aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan mama dan bercerita banyak hal dengannya,” ujar Arya.
“Kalau begitu, aku pulang dulu, Pa. Besok aku juga sudah mulai ke kantor lagi untuk menyelesaikan pekejaan yang sempat terbengkalai." Bangkit berdiri dari kursi dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.
Sementara itu, Ari Mahesa yang merasa sangat senang karena melihat putranya tidak pernah lagi membantahnya seperti dulu, kini bernapas lega.
'Cepatlah sadar, sayang karena putra kita telah kembali. Kamu harus melihatnya. Perjuanganmu untuk merebut kembali Arya dari wanita murahan itu telah berhasil. Jadi, kamu harus segera bangun,' lirih Ari Mahesa yang kini menatap ke arah bingkai foto yang ada di atas meja.
Bahwa di sebelah kanan terlihat fotonya yang tengah memeluk sang istri ketika putranya masih kecil dulu.
To be continued...
__ADS_1