
Arya sedang berbaring di kamar bersama Putri. Ia memberitahu mengenai acara yang akan diadakan di rumah.
Sementara itu, Putri sudah sangat bersemangat untuk bisa mengikuti acara itu.
Namun, dengan cepat Arya mengatakan tidak boleh ikut. Ia tidak memberitahu mengenai penolakan ibunya, tapi lebih memberikan pengertian mengenai kondisi perut yang sudah membesar.
“Di rumah saja. Nanti saat acara sudah selesai, aku akan membawakan makanan dan camilan untukmu.”
Sebenarnya saat ini Putri mengetahui apa alasan yang membuat ia tidak diperbolehkan datang ke rumah keluarga besar Arya adalah bukan karena kondisi kehamilannya yang sudah masuk masa persalinan.
Namun, semua itu karena mertua tidak pernah menyukai ia menjadi menantu dan malah berniat untuk menyingkirkan dengan cara apapun.
Bahkan saat ini, Putri mengingat tentang kejadian saat wanita paruh baya tersebut datang ke rumah dengan marah-marah dan memaksa serta mengancam agar ia meninggalkan Arya.
Bahkan tidak pernah ia lupakan penghinaan itu. Saat ibu Arya hendak membelinya dengan uang agar mau pergi dari kehidupan pria yang teramat sangat dicintai dan menjadi ayah biologis dari bayi yang berada dalam kandungan.
Bahkan saat itu, ia merasa seperti tidak lebih berharga dari apapun ketika tatapan mata mertuanya tersebut memandang hina seolah ia adalah seonggok sampah yang tidak berguna sama sekali.
'Aku tahu bahwa pasti wanita tua itu sedang merencanakan sesuatu yang jahat untuk memisahkan kami, sehingga tidak mengizinkan aku untuk datang. Sementara suamiku adalah pria yang lugu karena mempercayai semua perkataan sang ibu tanpa berpikir negatif.'
'Sepertinya aku harus menekankan pada Arya agar ia segera pulang nanti dan tidak lama berada di sana.'
Putri saat ini tengah berakting tidak terjadi apapun antara ia dan juga mertuanya, sehingga memilih untuk diam dan tidak lagi protes saat Arya akan pergi ke rumah keluarga besarnya.
“Aku sedih karena tidak bisa ikut denganmu pada acara keluarga, tapi tahu bahwa itu demi kebaikanku dan juga anak kita. Baiklah. Selamat bersenang-senang.”
"Kamu marah? Jangan marah, Sayang.” Arya sangat hafal dengan ekspresi wajah sang istri.
Meskipun terlihat tenang dan menyembunyikan kekesalan karena ia akan pergi ke rumah tanpa sang istri, kini Arya ingin menebus kesalahannya agar wanita dengan perut membuncit tersebut tidak berlarut-larut saat marah.
“Tidak, aku tidak marah. Hanya saja, aku kecewa dengan ibumu yang masih belum bisa menerimaku sebagai menantu. Padahal tinggal menghitung hari aku melahirkan cucunya. Sepertinya aku tidak boleh berharap banyak dari ibumu."
"Mungkin tidak akan pernah mau mengakui putraku adalah cucunya. Namun, aku tidak akan mempermasalahkan hal itu karena yang terpenting bagiku hanyalah pengakuan darimu, Arya. Anak ini harus mendapatkan haknya sebagai putramu."
"Tentu saja aku akan memberikan haknya dan melakukan kewajibanku sebagai seorang ayah untuk putraku yang akan lahir di dunia sebentar lagi.
Arya tidak menjawab tentang perihal sang ibu yang memang tidak mengizinkan Putri datang. Ia mencoba untuk mengalihkan percakapan itu dengan beberapa kisah hari ini di kantor.
Beruntung, sangat mudah mengalihkan percakapan dengan istrinya, Arya pun merasa lega dan kembali membujuk Putri untuk beristirahat.
***
Di rumah mewah berukuran sangat luas degan banyaknya furniture mewah dan berkelas, yaitu kediaman keluarga Mahesa, Rani sedang sibuk mempersiapkan semuanya.
Rumahnya yang akan menjadi lokasi arisan. Segala macam hidangan dan minuman ia pesan dari salah satu catering yang menjadi langganannya.
Tidak hanya itu, dekorasi untuk acara besok juga dipesan dari salah satu event organizer .
Wanita itu memilih area taman belakang untuk menjadi tempat di adakannya arisan sosialita bersama teman-temannya.
Tidak sabar menunggu besok, Rani tampak tersenyum menatap ponsel di tangannya. Hal itu memancing keingintahuan Ari Mahesa yang sedang berada di sampingnya.
“Sepertinya kamu ini mulai gila karena senyum-senyum sendiri.”
__ADS_1
“Astaga! Mama lagi senang. Jangan mengganggu!”
"Pasti ada sesuatu yang kamu rencanakan. Memangnya ada yang membuatmu bahagia selain anakmu itu?”
“Tentu saja! Aku sedang berusaha menyenangkan diri sendiri, agar tidak terus-terusan memikirkan posisi Arya di perusahaan.”
“Aku lihat, ada banyak sekali kue dan makanan. Memangnya untuk apa? Akan ada acara apa?"
“Bukannya Mama sudah bilang, besok ada arisan di sini. Temen-temen Mama akan datang semua. Mereka akan membawa anak gadis masing-masing dan berkisah mengenai keseharian dari masing-masing.”
"Sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan.”
“Tentu saja, tapi ini adalah sebuah rahasia."
Rani kembali berkutat dengan ponselnya dan mengirim pesan ke grup. Foto makanan dan minuman, serta lokasi untuk besok dikirimkan sebagai ajang pamer. Ada banyak dari teman-teman itu membalas dengan takjub.
Wah ... luar biasa. Ini buat besok? Mewah sekali. Jadi tidak sabar buat hari esok.
Iya. Kamu selalu tahu cara untuk memuliakan tamu.
Jadi malu karena bulan lalu, arisan di rumahku hanya ada beberapa jenis makanan saja. Kamu memang paling TOP.
Sama saja. Menurutku di rumah kalian juga sudah sangat mewah dan berkelas. Aku juga suka dengan hidangan yang kalian suguhkan.
Kali ini, biarkan aku yang menjamu dengan baik para tamuku.
Setelah membalas pesan itu, Rani memutuskan untuk segera tidur agar besok pagi bisa kembali sibuk dengan kegiatan yang akan diadakan di sana.
Satu persatu hiasan untuk dekorasi taman belakang terpasang dengan baik. Tidak hanya itu, makanan dan minuman ada di tempatnya.
Sebuah meja besar tampak penuh dengan bingkisan yang bisa dibawa pulang teman-temannya nanti.
“Kenapa putraku belum datang? Para temanku yang lain sudah dalam perjalanan sekarang.”
Rani tampak khawatir dengan putranya. Jika Arya tidak datang hari ini karena wanita yang sangat dibenci, ia akan merutuki apapun tentang wanita itu.
Namun, setelah tiga puluh menit, akhirnya Arya datang seorang diri. Seketika Rani lupa jika putranya tidak memiliki kendaraan pribadi untuk bisa sampai di rumah itu.
“Naik apa ke sini tadi, Sayang?” tanya Rani.
“Bus. Apa lagi, Ma." Arya menjawab sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling area taman yang sudah banyak orang sibuk pada bagian masing-masing.
“Kenapa tidak minta jemput? Mama bisa suruh supir untuk ke tempatmu.”
“Terlambat, sepertinya Mama lupa kalau aku tidak memiliki kendaraan pribadi.”
Sebuah pukulan telak hingga membuat wanita paruh baya tersebut menelan ludah.
Ingin menguraikan suasana penuh keheningan terasa mencekam di antara mereka, Rani menyuruh putranya untuk duduk, sembari menunggu teman-teman sosialitanya datang.
Arya memilih berkeliling rumah dan ia juga masuk ke kamarnya yang dulu. Kamar yang ia rindukan
Kali ini ia seolah bisa bernostalgia untuk beberapa saat di sana. Arya meraih beberapa barangnya yang masih ada di sana.
__ADS_1
Tidak lupa juga ia melihat beberapa pakaian dan koleksi pribadinya. Teringat jika pernah menyimpan beberapa lembar uang, Arya membuka laci meja dan menemukan sejumlah uang yang bisa ia gunakan sebagai tambahan.
Tidak berselang lama, ibunya berteriak memanggil nama Arya untuk turun dari lantai dua dan bergabung ke taman belakang.
“Ya, Ma?”
Suara Arya sontak membuat para gadis yang ada di sana menengok dan terpesona. Sedikitnya ada lima wanita yang datang bersama ibu mereka dan sisanya mengajak cucu. Bahkan anak bungsunya.
“Arya, sini! Mama mau kenalin kamu sama teman-teman dan juga para putri mereka.”
Arya memicingkan mata, berharap apa yang ada di pikirannya tidak benar, tetapi gelagat sang ibu mencurigakan.
Satu persatu bersalaman dan berkenalan dengannya. Mereka memasang wajah manis dan juga menunjukkan ketertarikan.
Acara pun dimulai dengan baik dan lancar. Beberapa kali Arya membantu di sana untuk sekadar mengocok wadah kecil berisi nama-nama peserta yang datang.
“Oke, ya! Kita kocok sekarang arisannya.”
“Satu, dua, tiga!”
Salah satu wanita melakukan tugasnya dan sebuah nama disebutkan di sana. Semua tertawa bersama. Hingga acara berlanjut dengan menikmati hidangan yang sudah ada di sudut tempat itu.
Arya tidak berselera makan dan memilih menyendiri di kursi dengan berkutat pada ponselnya. Beberapa pesan masuk dari Putri dan membuat Arya merasa tidak enak hati meninggalkan istrinya.
Tidak lama setelah itu, seorang wanita datang dengan membawa minuman. Ia menyodorkan minuman itu dan duduk di kursi kosong yang ada di samping Arya.
“Aku dengar, kamu putra satu-satunya di keluarga ini. Punya rencana apa untuk perusahaan?”
“Tidak ada.”
“Aneh. Biasanya jika seorang anak laki-laki sudah memegang perusahaan keluarga, pasti akan tahu apa yang ingin dilakukan dalam perusahaan itu.”
“Aku tidak tahu dan juga tidak nyaman berbincang mengenai perusahaan denganmu. Lagipula, kamu ini siapa?”
“Aku sampai lupa berkenalan. Terlalu fokus pada hal lain.”
Arya menggeleng, lalu berpindah tempat dari kursi itu.
Kali ini, Arya duduk di kursi taman yang ada di samping gazebo. Pria itu kembali membaca pesan masuk dari istri, lalu wanita lain datang dan bertanya hal yang sama seperti sebelumnya.
Kesal, ia memilih untuk masuk ke kamarnya dan berbalas pesan dengan Putri dengan tenang di sana. Namun, tidak lama setelah itu, sang ibu datang dan membujuk untuk kembali pada acara.
“Untuk apa aku ada di sana?”
“Kamu tidak ingin menyapa anak-anak teman Mama?”
“Oh, jadi benar pemikiranku. Mama sengaja mengundang aku agar bisa diperkenalkan dengan mereka? Mama sadar atau tidak? Anakmu ini sudah memiliki seorang istri dan sebentar lagi akan melahirkan cucu untuk Mama."
"Apa itu masih kurang? Putri cantik dan merupakan ibu rumah tangga yang tidak diragukan lagi!”
Mendengar protes dari putranya, Rani tidak bisa lagi berkata. Rasa kesalnya lebih banyak dari sebelumnya. Kali ini, Rani akan benar-benar melakukan cara lain untuk memisahkan Putri dengan Arya.
To be continued...
__ADS_1