
"Aku masih melamar pekerjaan di salah satu perusahaan besar. Siapa tahu mereka mau menerimaku bekerja di sana," ucap Mery yang kini berusaha untuk bersikap seperti biasa.
Sementara itu, Putri dari tadi tidak berhenti mengamati sosok wanita yang dicurigainya merupakan salah satu kekasih Arya.
'Wanita ini sangat cantik dan sepertinya sangat berbahaya. Aku harus waspada dan tidak menganggap remeh kehadirannya di antara kami. Tadi Ririn, sekarang Mery. Sepertinya memiliki kekasih tampan benar-benar membuatku harus menjaga Arya dengan sangat hati-hati.'
Puas bergumam di dalam hati, Putri kali ini bersikap selayaknya seorang kekasih yang melindungi dari para wanita penggoda.
"Lepaskan tanganmu, Sayang. Aku merasa tidak enak karena perbuatan romantismu padaku akan membuat para wanita merasa iri."
Awalnya Arya menggelengkan kepala, karena berpikir Putri marah padanya. Namun, begitu melihat tatapan tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya, akhirnya ia menuruti keinginan sang kekasih.
"Baiklah, tapi jangan cemburu padaku , oke." Mengedipkan mata dan menurunkan tangannya dari pinggang ramping Putri.
Refleks Putri langsung mengangguk perlahan dan terkekeh. "Tentu saja, tapi aku tidak suka kamu menunjukkan keromantisan di depan orang lain karena hanya akan membuat orang merasa iri. Oh ya, dia siapa?"
Putri mengarahkan bola matanya pada sosok sosok wanita yang sangat tidak disukainya karena berpenampilan sangat seksi dan terbuka bagian atas tubuh.
Sangat berbeda dengan penampilannya yang memakai pakaian biasa dan tidak suka menggoda pria. Hanya saja, pertemuan tidak sengaja dengan Arya, seolah benang takdir yang menghubungkan mereka, sehingga ia bisa saling mencintai.
"Dia Mery." Arya tidak ingin menjelaskan hubungan antara ia dan Mery karena ingin hari bahagia Putri tidak terganggu dengan masa lalunya.
Kemudian Mery mengulurkan tangan ke arah wanita yang sangat tidak disukainya dan berpura-pura tersenyum semanis mungkin. Ia tadi memang memaksa sahabatnya untuk mengatakan di mana Arya karena ingin menyapa sebentar sebelum pergi ke Mall untuk shopping.
"Mery."
Sementara itu, Putri hanya tersenyum simpul. Ia pun menyambut uluran tangan dari wanita yang dianggapnya seperti wanita penggoda tersebut.
"Putri."
"Kalian adalah sepasang kekasih dan membuatku merasa penasaran. Siapa di antara kalian yang pertama kali jatuh cinta?"
__ADS_1
Putri yang tidak mau mengaku bahwa ia menyukai Arya saat pertama kali melihat di salon, refleks menunjuk ke arah pria di sebelah kirinya.
Sementara itu, Arya langsung menunjuk ke arah dirinya sendiri. Keduanya refleks sama-sama saling tertawa.
Melihat kekompakan dari pasangan di depannya, membuat Mery merasa sangat marah dan geram. Namun, ia tidak bisa menunjukkan kemarahannya karena harus bersikap sebaik mungkin.
'Kali ini kalian berdua bisa tertawa, tapi tunggulah sebentar lagi. Kalian tidak akan bisa tertawa seperti ini lagi. Aku akan membuat kalian berdua saling membenci satu sama lain.'
'Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Arya. Apapun akan aku lakukan agar aku bisa memilikimu lagi!' lirih Mery di dalam hati yang kini tengah menahan diri untuk tetap bersikap tenang dan menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
"Wah ... kalian berdua benar-benar sangat kompak sebagai pasangan kekasih. Sebenarnya aku tadi hanya ingin menyapamu, sebentar sebelum pergi berbelanja."
Sebenarnya Arya mengetahui ke mana arah perbuatan dari Mery yang tiba-tiba muncul di apartemen dan mengganggu kebersamaannya dengan Putri, sehingga ia tidak ingin gara-gara masa lalu, membuat hubungannya yang baik dengan sang kekasih terganggu.
"Apa kau sudah selesai berbicara?" tanya Arya yang merasa bosan mendengar perkataan dari mantan kekasihnya yang terlalu banyak bicara dan berkata hal yang tidak penting.
Ia tidak ingin Putri merasa cemburu dan terlalu banyak menanggapi perkataan wanita di depannya tersebut.
'Sial! Padahal aku sudah berdandan secantik mungkin dan berharap dia kembali terpesona padaku. Ternyata semuanya sia-sia!'
Arya mulai menyahut karena ingin segera mengusir Mery dari apartemen agar bisa kembali berduaan dengan Putri.
"Tidak masalah."
Mendengar pria yang masih sangat dicintai berkata seolah-olah mengusir dan ingin membuatnya menjauh, membuat perasaan Mery seolah seperti diiris oleh tajamnya pisau, sehingga meninggalkan luka yang sangat mendalam.
Namun, sebisa mungkin ia menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dan mencoba menampilkan senyuman semanis mungkin.
"Kamu sama sekali tidak pernah berubah. Selalu to the point, jelas dan tidak pernah bertele-tele. Selalu tidak memperdulikan kira-kira bagaimana perasaan wanita yang kamu ajak bicara."
'Sialnya, hal itulah yang aku sukai darimu,' gumam Mery yang kini mengingat kejadian di masa lalu yang paling membahagiakan untuknya.
__ADS_1
Sementara itu, Putri yang merasa sangat senang melihat sikap dingin dan ketus Arya, beralih menatap ke arah pria yang berada di sebelahnya.
"Arya memang selalu berbuat sesukanya dan mengatakan apa yang dirasakan. Terima kasih telah mencintaiku. Aku sangat mencintaimu."
Arya mengecup lembut kening Putri karena ingin menunjukkan pada mantan kekasihnya tersebut bahwa ia sudah tidak memiliki perasaan apapun.
"Aku juga sangat mencintaimu."
Berharap dengan melakukan hal itu, mantan kekasihnya tidak berencana jahat pada hubungannya dengan Putri karena jika sampai itu terjadi, ia tidak akan pernah memaafkan Mery dan membuat perhitungan."
"Kami masuk dulu," ucap Arya tanpa memperdulikan wanita yang saat ini tengah menatap tidak suka ke arahnya dan diikuti oleh sepupunya yang dari tadi hanya diam seperti patung karena sama sekali tidak berbicara apapun karena hanya menjadi penonton.
Di sisi lain, Mery yang merasa sangat kesal dengan perbuatan Arya hingga membuatnya sangat cemburu, hanya bisa merungut dan mengumpat di dalam hati.
'Brengsek! Kau benar-benar ingin menguji kesabaranku. Nikmati saja hari-harimu bersama wanita itu karena sebentar lagi aku akan membuat kau membenci wanita itu.'
Setelah puas mengumpat, Mery berjalan dengan sesekali menghentakkan kakinya untuk melampiaskan kekesalannya.
"Sudah aku bilang, Arya kini punya kekasih. Kamu saja yang kurang kerjaan ingin melihat kekasih Arya karena penasaran.
Sementara itu di dalam apartemen, Arya seolah merasa sangat lega karena sudah terbebas dari masa lalu dan fokus pada masa depannya.
Ia yang kini beralih menatap ke arah Putri sambil mengedipkan mata. "Sekarang apa yang harus kita lakukan, Sayang?"
Sementara itu, Putri yang mengerti arti tatapan nakal dari Arya, kini hanya mengarahkan sebuah cubitan pada paha kuat itu.
"Kemarin kamu sudah menghajarku dan tubuhku benar-benar sakit semua. Bahkan pinggangku seperti patah saja sekarang. Tidak mungkin kamu mau lagi."
Saat Putri baru saja menutup mulut, ia merasakan tangan kuat menelusuri punggungnya dan kembali mengarahkan tatapan tajam pada Arya karena ingin membicarakan tentang hal serius pada pria yang tidak berhenti menggerayangi tubuhnya.
To be continued...
__ADS_1