
“Ingat, ya, Arya. Pokoknya aku mau kamu totalitas memerankan peranmu sebagai kekasih satu malamku di pesta nanti. Buat teman-temanku percaya,” Calista kali ini ingin acara berjalan dengan sukses dan berhasil menampar rasa penasaran dari teman-temannya.
Mereka sudah memesan makanan, hanya tinggal menunggu pelayan membawakan pesanan saja.
“Baiklah." Arya menjawab singkat.
“Ini, nih. Aku tidak mau kamu bersikap dingin padaku di pesta nanti, ya. Tapi kalau dengan perempuan lain yang ada di pesta itu, kamu wajib bersikap melakukan itu.”
“Kenapa begitu? Tidak adil namanya Bukankah kalian sama-sama wanita?”
“Itu beda. Posisinya, aku itu nanti sebagai kekasihmu. Wanita yang mempunyai posisi spesial di hatimu. Sementara mereka bukan siapa-siapa. Jadi, kamu wajib bersikap dingin pada para wanita itu,” tegas Calista.
"Memangnya untuk apa kamu ramah pada mereka? Mau tebar pesona?” Calista mendelik kesal.
"Siapa tahu, ada yang cocok dan mau dijadikan istri keduaku,” celetuk Arya dengan asal karena jujur saja ia masih tidak baik-baik saja saat ini.
Calista tahu jika Arya hanya bercanda saja, karena tidak mungkin pria itu meninggalkan istrinya yang begitu sangat dicintai. Hanya saja, rencana dari Ari Mahesa membuatnya merasa sangat senang karena telah sukses mengubah perasaan Arya pada istrinya.
“Untuk apa mencari wanita lain jika di depanmu saja ada bidadari secantik ini.” Calista menimpali candaan Arya dan beberapa saat kemudian terkekeh geli.
“Memangnya kamu mau aku jadikan istri kedua?”
“Jangankan istri kedua, jadi istri ketiga, keempat, kelima dan seterusnya saja aku mau. Selama pria yang akan mejadi suamiku adalah kamu.” Calista mengerjapkan matanya beberapa kali, diiringi senyum yang begitu manis.
Hal itu tentu saja membuat Arya tergelak melihat tingkah wanita yang seperti tengah berakting menggodanya.
“Kamu itu masih muda dan cantik, Calista. Masa mau dijadikan istri kedua.” Arya mengeleng sembari terkekeh.
__ADS_1
“Bukan masalah untukku selagi pria itu adalah kamu.” Calista seolah-olah meyakinkan pria di depannya jika ucapannya sungguh-sungguh.
“Arya, apa kamu sedang ada masalah dengan istrimu?”
Pertanyaan Calista membuat ekspresi wajah Arya berubah seketika. Pria itu langsung terdiam dan kembali berwajah dingin.
“Apakah itu sangat penting untuk kamu ketahui?” tanya Arya yang sebenarnya merasa malas dan tidak nyaman membicarakan Putri.
“Tentu saja,” jawab Calista dan membuat Arya mengerutkan kening mendengar jawaban wanita itu.
“Alasannya?” Arya mengangkat sebelah alisnya sembari menatap Calista.
“Jika itu benar-benar terjadi, aku akan menikung istrimu dan membuatmu berpaling darinya,” jawab Calista dengan terkekeh.
Ia mencondongkan tubuhnya agar semakin dekat dengan pria yang duduk di seberang meja, di depannya.
“Sangat yakin sekali,” balas Calista dengan penuh percaya diri.
Untuk beberapa saat, tatapan mereka bertemu, membuat jantung Calista berdegup kencang dan nyaris saja melompat dari singgasananya.
“Permisi. Pesanannya sudah siap.”
Ucapan dari pelayan restoran yang membawakan pesanan mereka, berhasil membuat kedua orang itu mundur dan menegakkan kembali badan masing-masing.
Arya kini mempersilakan pelayan itu untuk meletakan makan mereka di atas meja.
Sementara itu, Calista terdengar menggerutu.
__ADS_1
'Kenapa mengganggu saja? Kan jadinya tidak bisa menatap pria pujaan hati lama,' gerutu Calista di dalam hati, sambil memasang wajah masam dan mengerucutkan bibir. Bahkan ia kini sudah mendengkus kesal.
Arya mengucapkan terima kasih pada pelayan yang telah selesai menata makanan mereka di atas meja. Ia kemudian beralih pada Calista yang masih mengerucutkan bibir.
“Kamu kenapa?”
“Kesal aku. Pelayan itu datang diwaktu yang tidak tepat,” jawab Calista.
“Calista ... Calista. Kamu ini ada-ada saja. Sudah, ayo makan dulu.”
'Pokoknya aku turut bahagia kalau kamu benar-benar bertengkar dengan istrimu. Saingan aku sudah berkurang satu dan aku semakin yakin bisa mendapatkan hatimu,' gumam Calista lagi dengan penuh keyakinan. Wanita itu kemudian meminum jus miliknya.
"Aku senang jika kamu ada masalah dengan istrimu."
“Kenapa kamu jujur sekali, Calista. Kamu tidak takut aku akan marah dengan kejujuranmu itu? Bukankah kamu temanku, tapi kenapa malah senang saat tahu aku sedang betengkar dengan istriku?”
“Jadi benar kalian sedang bertengkar?” Alih-alih menjawab pertanyaan Arya, Calista justru memberikan pertanyaan lain pada pria itu.
Arya pun menyadari jika ia terjebak dengan kata-katnya sediri, secara tidak langsung, ia membenarkan ucapan dan dugaan Calista tentang dirinya dan Putri.
Sepertinya Calista memag sengaja memancing supaya Arya mengakui sendiri kebenarannya.
“Sudahlah. Ayo makan! Aku sudah sangat lapar.” Arya kemudian memasukan makanan yang ia sendok ke dalam mulut.
Tidak peduli dengan Calista yang sedang menatapnya sembari tersenyum penuh kemenangan.
To be continued...
__ADS_1