Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
196. Memuaskan pasangan


__ADS_3

Mendengar tuduhan tidak berdasar dari sang istri yang dianggap terlalu berpikiran negatif hanya karena ada parfum lain yang tercium di pakaian, Arya saat ini tidak ingin ada kesalahpahaman.


Kini memilih untuk meraih punggung tangan dengan jemari lentik sang istri dan mengecupnya perlahan untuk menenangkan perasaan cemburu yang merupakan tanda cinta padanya.


“Aku menolong karyawan yang terjatuh. Kakinya terkilir dan tidak bisa berdiri. Kebetulan saat itu, aku ada di sana. Jadi, tadi membantunya hingga bisa berdiri. Mungkin karena itulah ada aroma parfum lain di pakaianku dan tanpa sengaja kamu menciumnya."


"Aku sangat mencintaimu dan tidak akan berselingkuh, Sayang. Apalagi kamu akan memberikan keturunan untukku dan semakin melengkapi kebahagiaan rumah tangga kita. Jadi, Jangan berpikir macam-macam karena aku bekerja di perusahaan untuk kalian—istri dan anakku."


Meskipun Putri mengetahui bahwa pria yang duduk di samping kanan tersebut sangat mencintainya karena sudah membuktikan dengan meninggalkan istana yang melambangkan kemewahan milik keluarga besar Arya, tetap saja ada rasa khawatir serta takut.


Jika sampai pria dengan paras rupawan dan berusia lebih muda empat tahun darinya tersebut akan menduakan cinta hanya karena tergoda oleh wanita yang bekerja di kantor, entah apa yang akan terjadi padanya.


Jujur saja ia sangat takut jika apa yang dikatakan oleh mertuanya akan terjadi. Ancaman dari ibu pria yang sangat dicintai terlihat menakutkan dan tidak bisa membuatnya tidur nyenyak.


Bahkan ekspresi dari wanita paruh baya tersebut tidak pernah bisa Putri lupakan. Apalagi ketika mengumpat dan menghina, serta mengatakan akan memisahkan ia dengan sang suami dengan cara apapun, semenjak itu, selalu dipenuhi ketakutan.


Membayangkan jika Arya pergi darinya, mungkin ia sudah tidak mempunyai siapapun di dunia karena keluarga telah membenci gara-gara keputusan menikah dengan pria itu.


Hingga ia berjanji tidak akan pernah mau bercerai dengan Arya meski apapun yang terjadi. Putri saat ini terlihat menyembunyikan rasa cemburu dan juga bersikap seolah tidak pernah terjadi kecurigaan yang ia rasakan, kini hanya menanggapi dengan berpura-pura tidak lagi curiga pada sang suami.


"Syukurlah. Aku tadi sempat berpikir yang buruk setelah mencium aroma lain dari pakaian kerjamu. Pantas saja aromanya melekat ketika aku membereskan dari keranjang pakaian kotor. Ternyata seperti itu. Apakah ia adalah seorang wanita yang cantik?”


Tentu saja Putri masih tidak menyerah untuk mencari tahu siapa dan seperti apa wajah wanita yang ditolong oleh sang suami, kini ia menunggu hingga pria yang baru saja memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulut tersebut mengunyah perlahan hingga menelan.


Rasanya seperti sangat lama dan tetap saja masih dengan sabar Putri menunggu penjelasan tersebut. Hingga suara bariton kembali terdengar dan membuatnya memasang indra pendengaran dengan tajam agar tidak ada yang terlewat.


Bahkan ia tidak berkedip menatap pria dengan rahang tegas dan bibir sensual bergerak ketika menjelaskan.


“Ya, tetapi aku tidak begitu mengenalnya. Ia seorang petugas kebersihan.”

__ADS_1


Arya memilih untuk mengatakan hal yang sebenarnya karena berpikir jika mengarang sebuah kebohongan mengenai staf perusahaan, khawatir jika wanita yang sangat dicintai tersebut datang ke perusahaan dan tiba-tiba mencari mengenai salah satu karyawan yang ditolong.


Sebenarnya, ia sempat berpikir ingin menceritakan tentang hal-hal yang dirasakan saat bekerja, tetapi kembali khawatir jika Putri merasa iba begitu mengetahui posisi di perusahaan yang tak lain hanyalah seorang karyawan rendahan serta kasar seperti cleaning service.


Hal itulah yang membuatnya sampai sekarang tidak ingin menceritakan pada wanita itu. Ia berpikir jika sang istri mengetahui hal itu, akan mengganggu ketenangan dan juga janin di dalam rahim Putri.


'Maafkan aku. Aku terpaksa berbohong dan tidak mau ada hal buruk yang menimpa putra kita yang belum dilahirkan ketika kamu berpikiran buruk dengan menuduh berselingkuh.'


'Jangankan berselingkuh, bahkan untuk bernapas saja rasanya sangat sulit ketika merasa diawasi oleh papaku.'


'Makanya aku fokus bekerja agar terlihat bertanggung jawab dan papa percaya padaku. Jika melihat keseriusanku saat bekerja sebagai karyawan rendahan di perusahaan, pasti tak lama lagi posisiku akan dinaikkan.'


'Jika itu terjadi, baru aku akan menceritakan semua hal yang ada di perusahaan ada istriku,' gumam Arya yang saat ini tengah maunya makanan.


Putri tampak lega dengan pengakuan dari suaminya. Kini ia bisa menikmati makanannya dengan tenang.


Arya yang kini terlihat mengulas senyuman mendengar pengakuan perasaan dari sosok wanita yang semakin cantik dan membuat nafsu selalu bertambah besar, ia kini mendekatkan wajah pada daun telinga sang istri.


"Tunjukkan dan buktikan padaku di kamar nanti, oke!" Arya menjauhkan wajah sambil mengedipkan mata.


Sementara Putri yang saat ini merasa sikap sang suami hari ini sangat nakal, refleks langsung mengarahkan tangan pada pada di bawah meja tersebut. Seolah ingin memberikan sebuah hukuman.


"Dasar suami mesum!"


"Tapi kamu suka, kan?" tanya Arya yang masih berusaha untuk menggoda sang istri dan terkekeh geli.


"Kamu benar. Bukan suka, tapi gila karenamu." Putri menjawab godaan dari Arya dengan sudut bibir melengkung ke atas dan wajah memerah karena malu.


Ia akui bahwa semua yang dikatakan oleh Arya memang benar. Ia memang sangat menyukai dan mencintai pria itu dari pertemuan pertama mereka. Hingga ia rela meninggalkan suami dan dua anak hanya demi bisa bersama Arya.

__ADS_1


Ia menganggap bahwa semua itu adalah benang takdir yang memang menghubungkan mereka hingga sampai berakhir seperti ini. Berharap akan bahagia selamanya dengan pria yang menjadi suami keduanya itu.


Beberapa saat kemudian, mereka selesai dengan makan malam. Keduanya menyempatkan diri untuk duduk berdua di ruang santai.


Sambil menonton televisi, Putri tampak berada di sisi Arya dengan kepala yang bersandar di bahunya.


Putri mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya saat melahirkan nanti. Beberapa keperluan bayi juga ingin dibeli sebelum hari melahirkan tiba.


"Saat usia kandunganku sembilan bulan, kita pergi membeli semua keperluan putra kita."


Arya terlihat santai menjawab keinginan dari sang istri. Ia masih fokus menatap layar televisi yang menampilkan film Romance. Padahal ia lebih suka menonton film action. Namun, hari ini Putri memencet remote film romantis itu.


“Ya, aku akan mengantarkanmu berbelanja pakaian untuk anak kita nanti. Beberapa hari lagi, aku akan menerima gajiku. Jadi, kita bisa membeli semua perlengkapan anak kita."


Kini, Putri mengeratkan pelukan dan mengungkapkan perasaan bahagia dengan melabuhkan kecupan di pipi sang suami. “Terima kasih, Sayang. Aku tahu, kamu pasti akan melakukan semua yang terbaik untuk anak kita.”


Arya awalnya sangat terkejut dengan perbuatan sang istri yang seolah memancing suasana, sehingga tidak tinggal diam.


Bahkan ia kini sudah mengusap wajah Putri perlahan dan tersenyum menyeringai. "Kamu telah sukses menggodaku, Sayang. Bagaimana jika kita melakukannya di sini."


Arus menepuk sofa empuk di ruangan santai itu dan sudah membayangkan akan seperti apa mereka bergerak liar dan intim.


"Aku ingin mencoba pengalaman yang baru, Sayang. Apalagi perutmu sudah sangat besar seperti ini. Sepertinya ada banyak cara lain yang lebih menyenangkan."


Sementara itu, Putri berniat untuk menanggapi perkataan dari Arya. Namun, ia saat ini tidak bisa melakukannya karena bibirnya sudah dibungkam oleh pria dengan rahang tegas yang sudah mengarahkan tatapan penuh nafsu.


Saat ini, yang ada di pikiran Arya adalah mencoba gaya bercinta dengan beragam cara untuk memuaskan pasangan. Salah satu kunci keromantisan pasangan suami istri, menurutnya adalah kebutuhan **** yang tidak membosankan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2