
Tentu saja respon dari Putri sudah diduga oleh Amira, yaitu sama sepertinya. Membulatkan kedua mata, serta dengan mulut yang terbuka karena efek terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang dilihat serta didengar.
Ia hanya menatap sinis pada Putri karena merasa sangat kesal, sehingga membuatnya kembali menanggapi dengan kalimat pedas serta sinis.
"Tidak perlu berekspresi berlebihan atas apa yang dilakukan oleh suamimu hari ini. Bukankah kamu sudah lama mengenal Bagus dan mengetahui sifatnya? Jadi, tidak perlu sok terkejut seolah kamu tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan oleh suamimu."
"Cepat berikan padaku pakaiannya karena Bagus yang menyuruhku untuk ke sini."
Berkali-kali Putri menelan kasar salivanya, tetapi ia kali ini tidak sempat untuk sekedar berpikir karena mendapat ancaman dan membuatnya memasang wajah masam pada Amira Tan.
Tanpa membuka suara untuk berkomentar, akhirnya ia berjalan dan membuka lemari. Kemudian mengambil pakaian yang merupakan milik suaminya dan masih tersimpan rapi di dalam sana.
Pakaian Bagus memang masih berada di sana karena pria itu tidak mengambil semua saat memutuskan untuk pisah kamar setelah mengetahui bahwa ia berselingkuh dan hamil benih pria lain.
Ia tahu bahwa semenjak mengetahui hal itu, Bagus tidak pernah lagi mau tidur seranjang dengannya. Suaminya tidur di kamar sebelah dan hanya membawa pakaian beberapa saja.
Putri kini sudah memegang pakaian yang dulu menjadi awal mula statusnya dari seorang perawan menjadi istri. Sekarang, statusnya akan kembali berubah, yaitu menjadi istri Arya.
'Aku bahkan tidak pernah berpikir akan berstatus seperti ini, tapi takdir membawaku sampai ke sini. Bagus pun menjadi korban dari kebahagiaanku dan Arya. Kami memang bahagia di atas penderitaan orang lain, tapi aku tidak ada pilihan lain.'
Dengan embusan napas kasar, Putri kini berbalik badan dan melihat Amira Tan masih berdiri di tempatnya.
"Aku akan memberikan sendiri pada Arya. Kau keluar saja!"
Sementara itu, Amira sebenarnya dari tadi sibuk dengan pikirannya mengenai ingin membantu Tsamara untuk pergi dari rumah ini, sehingga hanya membiarkan Putri berbuat sesuka hati.
'Tidak mungkin ia tinggal di rumah ini saat istrinya bersenang-senang di atas penderitaannya. Mungkin aku akan menyuruh Bagus tinggal di apartemenku untuk sementara, sampai dia benar-benar kembali ke kampung halaman. Aku akan bicara dengannya nanti.'
__ADS_1
Amira Tan yang kini mendengar suara Putri dan sudah melihat wanita itu berjalan keluar dari ruangan kamar, ia hanya diam mengamati siluet belakang wanita yang ada di hadapannya tersebut.
"Wanita itu benar-benar tidak tahu malu! Bisa-bisanya dia berjalan keluar dengan sangat percaya diri dan tidak merasa bersalah pada Bagus!"
Puas mengumpat, kini Amira Tan berjalan mengekor sosok wanita yang saat ini tengah berjalan mendekati ibu dan anak di sudut ruang depan. Namun, ia tidak melihat sosok pria yang tadi dihukum olehnya dengan pukulan bertubi-tubi.
'Ke mana dia? Apa dia pergi karena tidak ingin melihat istrinya menikah?'
Sementara itu, Putri yang saat ini tengah berjalan mendekati sosok pria yang masih sama seperti tadi, yaitu duduk di kursi sebelah sang ibu. Kemudian mengulurkan tangan untuk menyerahkan pakaian yang akan digunakan untuk menikah.
"Maafkan aku karena hanya bisa memberikan ini padamu."
Putri memasang wajah memelas karena saat ini merasa bersalah pada pria yang akan menikahinya, harus memakai pakaian bekas suami pertamanya.
Sementara itu, Arya yang saat ini tengah menatap ke arah setelan jas tersebut, berniat untuk menerimanya dengan mengulurkan tangan. Namun, tangannya diempaskan oleh sang ibu dan membuatnya seketika menoleh.
Hal yang selama ini ditahan oleh Rani Paramita dari tadi semakin bertambah besar begitu melihat sosok wanita yang sangat dibenci membawa pakaian dan ia bukanlah orang bodoh tidak tahu apa-apa.
Ia kini tengah mengarahkan tatapan tajam pada putranya karena sangat kesal sekaligus murka.
"Diam! Mama akan tinggal dan menemanimu saat menikah, tapi tidak akan pernah membiarkanmu memakai pakaian bekas pria miskin itu!"
Awalnya Arya ingin membantah perkataan dari sang ibu karena berpikir bahwa itu tidak ada salahnya dibandingkan tidak memakai setelan jas lengkap. Apalagi ia tidak membawa pakaian resmi seperti itu. Namun, tidak jadi membuka mulut saat melihat sang ibu menelpon seseorang.
"Bawakan aku jas lengkap untuk pernikahan dan kirimkan ke alamat yang kukirimkan sekarang juga. Lima belas menit harus sudah sampai!" ucap Rani Paramita yang kini baru saja menutup telpon dan beralih menatap ke arah sosok wanita masih berdiri di hadapannya.
"Pergilah! Jangan berdiri di hadapanku karena mataku bisa sakit melihatmu!" Mengibaskan tangan agar wanita yang sebentar lagi akan menjadi menantunya tersebut segera menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Masih belum sembuh rasa sakit yang tadi ditorehkan oleh calon mertuanya tersebut, kini semakin merasa terluka ketika kebaikannya dan Bagus hanya dianggap sampah, sehingga ia kini menoleh ke arah Arya untuk mengetahui pendapat pria yang akan menjadi suami keduanya.
"Arya, apa kamu tidak akan memakai ini? Kamu tahu, kan jika melakukan ini sangat berat bagiku dan bagi Bagus.
Di sisi lain, Arya yang kini memilih untuk bangkit berdiri dari posisinya karena berpikir untuk menguraikan kesalahpahaman wanita yang dicintainya.
"Kamu dengar sendiri, kan kalau Mama kini tengah menyuruh orang untuk mengantarkan setelan jas untuk menikah, jadi mana mungkin aku memakai itu."
"Tidak mungkin aku akan melawan Mama yang mau tinggal dan menyiapkan kebutuhan untuk kita menikah. Aku tadi juga meminta uang sebagai mahar karena tidak mungkin menikahimu tanpa mas kawin."
Tanpa banyak bicara, Putri kini hanya menjawab singkat. "Aku mengerti. Kalau begitu, aku kembalikan ini dulu di kamar."
Sebenarnya saat ini ia ingin sekali memarahi pria yang ada di hadapannya tersebut agar tidak patuh pada sang ibu, tapi menyadari bahwa jika melakukan hal itu hanya akan memperkeruh suasana.
Tanpa menunggu jawaban dari Arya, kini Putri sudah berbalik badan menuju ke arah Amira Tan yang terlihat seperti sedang mencari-cari sesuatu.
"Apa kamu sedang mencari Bagus? Aku ingin kamu sekalian memberikan ini padanya karena tidak mungkin aku menyimpan ini. Aku tidak berhak dan tidak boleh menyimpan barang ini setelah menjadi istri Arya."
Beberapa tetangga yang tadi sebagian sudah pulang karena tidak mungkin menunggu Putri selesai merias diri, sedangkan beberapa orang yang tadi dimintai pertolongan oleh Bagus sebagai saksi, masih ada di depan rumah dan terlihat duduk di kursi depan.
Sementara itu, Amira yang beberapa saat lalu sibuk mencari keberadaan Bagus, tetapi tak kunjung menemukannya. Hingga saat ia kembali lagi ke dalam rumah, melihat Putri berbicara padanya dengan membahas tentang pakaian dan kembali menyulut api amarah.
Namun, ia kali ini tidak ingin menanggapi perkataan Putri dengan emosi karena benar-benar tengah mengkhawatirkan keadaan Bagus.
Refleks ia merebut pakaian itu dari tangan Putri dan memilih untuk berjalan keluar dari kontrakan karena ingin menelpon Bagus. Tadi ia sudah bertanya pada tetangga yang ada di depan rumah, tapi tidak ada satu pun melihat kepergian suami malang itu.
Bahkan sudah menyuruh orang untuk memeriksa di kamar, tetapi tidak ada di sana. Tanpa memperdulikan ekspresi wajah masam Putri, Amira Tan memilih berlalu pergi dari sana dan berjalan keluar.
__ADS_1
To be continued...