
Satu minggu sudah Arya bekerja sebagai cleaning service dan tentu saja sama seperti biasa, rekan yang selalu membantu adalah Rani.
Melihat sikap wanita itu semakin lama dianggapnya terlalu baik karena sering memberikan makanan, semakin membuatnya merasa curiga.
Arya kembali mengingat beberapa wanita yang menganggap ia seperti pohon uang karena bisa meminta apapun saat ia masih mempunyai banyak uang karena mendapatkan fasilitas dari sang ayah.
'Wanita munafik ini sangat tidak tahu malu. Jika ia berpikir dengan bersikap baik dan sering memberikan makanan bisa naik jabatan, itu salah besar karena aku tidak akan membuat mimpinya jadi kenyataan,' gumam Arya yang saat ini menatap tajam Rani.
Rani yang kali ini mengulurkan makanan, membuka suara untuk menguraikan suasana penuh keheningan di antara mereka.
"Makanlah ini sebelum kembali bekerja karena akan membantumu mendapatkan sumber energi, sehingga bisa bersemangat lagi saat bekerja."
Tanpa berniat untuk menerima makanan dari tangan Rani, kini Arya memilih untuk mengempaskan tangan itu dan berharap tidak lagi melihat sikap penuh kemunafikan tersebut.
Suara gaduh terdengar jelas di ruang pantri saat Arya baru saja menepis kotak makanan yang diberikan Rani padanya.
Seluruh makanan yang ada di dalamnya berceceran di lantai dan membuat kotor area itu. Beberapa staf perusahaan yang mendengar kegaduhan datang melihat apa yang terjadi.
Saat itu, mereka melihat Rani sedang memungut makanan yang sudah tidak layak untuk dimakan.
“Rani, kamu kenapa?” tanya seorang karyawan yang melihat Rani sibuk membersihkan makanan yang berceceran di lantai.
Rani hanya menggelengkan kepala karena tidak ingin membuat rekan kerja khawatir.
“Tidak apa-apa. Tanganku licin, kotak makananku jatuh begitu saja,” ujar Rani beralasan dan menyembunyikan kenyataan bahwa beberapa saat lalu Arya bersikap kasar saat ia memberikan makanan seperti biasa.
__ADS_1
Sementara itu,Arya berpaling dan berjalan menjauh dari ruangan itu. Pria yang kini memilih kelaparan dari pada menerima bantuan Rani, sedang duduk dan menatap ke langit-langit tangga darurat.
Arya menghabiskan waktu di sana dengan menghisap gulungan tembakau yang tadi didapatkan dari seorang cleaning service juga.
Asap mengepul di atas kepalanya saat ia mengisap benda yang mengandung nikotin tersebut. Bahkan sudah beberapa kali isapan hingga puntung rokok itu sudah terlihat pendek. Mungkin sekitar lima menit ia duduk di sana.
Beberapa saat kemudian, terlihat ada yang masuk ke pintu darurat. Melihat sosok wanita yang tadi sudah ia marahi karena selalu menempel dan membuatnya merasa risi, ia mengembuskan napas kasar. Seolah mewakili perasaan saat ini ketika bosan dengan sikap wanita itu seperti seorang penguntit saja.
“Kamu lagi! Apa masih kurang kasar aku menolak semua itu?” tanya Arya dengan nada kesal dan mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi agar wanita di hadapannya tersebut pergi dan tidak selalu mencari perhatian.
Sementara itu, Rani yang merasa sangat kesal pada sikap kasar Arya, ingin merubah pria itu menjadi lebih baik, tapi usahanya seperti sia-sia belaka.
“Aku tahu susahnya bekerja menjadi seorang cleaning service. Apalagi tidak ada yang membantu atau mengenal kita selama bekerja di sini. Aku hanya berpikir kalau kita ini sama. Jadi, hanya bantuan kecil yang bisa aku lakukan.”
Mendengar penjelasan Rani, membuat Arya sedikit berpikir. Akan tetapi, setelah memikirkan semua, tetap saja tidak bisa mengurangi rasa curiga terhadap Rani.
“Apakah sebuah kebaikan perlu alasan? Aku sangat heran pada sikapmu karena hanya bersikap kejam padaku, sedangkan pada orang lain bersikap biasa," ucap Rani dengan nada protes karena heran mengenai apa penyebab Arya sangat membencinya.
Arya enggan menjawab, ia hanya melanjutkan kegiatan, lalu berdiri dan berlalu melewati Rani. Sebenarnya ia memilih untuk tidak ingin berdebat panjang, sehingga kembali bekerja dan meninggalkan Rani ke lantai dua gedung itu.
“Mana pasanganmu? Kenapa mengerjakan semua sendiri?” ujar kepala cleaning service yang melihat Arya seorang diri di lantai dua.
Sementara Arya hanya mengendikkan bahu karena tidak ingin memberitahukan keberadaan seseorang yang sangat dibenci.
"Aku sama sekali tidak tahu. Mungkin dia sedang tidur."
__ADS_1
Pria dengan postur tinggi tegap tersebut hanya geleng-geleng kepala melihat respon Arya pada Rani. Ia ingin membuat Arya bekerja sama dengan Rani yang tidak pantang menyerah itu, sehingga berpikir sangat cocok dipasangkan.
“Rani bukan tipe pegawai yang meninggalkan pekerjaan begitu saja. Jika seperti ini, kamu akan selalu bekerja sendiri tanpa ada yang mau menjadi pasanganmu."
Refleks Arya menggelengkan kepala dan berpikir ingin bekerja dengan tenang. Tentunya karena merasa sangat bosan melihat Rani setiap hari. “Aku tidak perlu orang lain untuk menemaniku bekerja.”
“Bukan menemani, tapi membantu. Gedung ini sangat luas dan tinggi. Ada banyak ruangan-ruangan yang perlu perhatian cleaning service seperti kita. Jika kamu masih saja egois, aku mau melaporkan kinerjamu agar selesai sampai di sini saja.”
Mendengar ancaman kepala cleaning service yang cukup frontal, Arya mencegah hal itu dengan memegangi tangan pria berusia lebih tua darinya tersebut.
“Pak, jangan! Maafkan aku!” ucap Arya dengan wajah memelas. Berharap pria itu mau memaafkan dan tidak melaporkan pada pihak HRD.
"Kalau begitu, cari Rani sekarang dan kalian kembali bekerja sesuai dengan jadwal." Mengibaskan tangan untuk mengusir pria muda itu dan tersenyum simpul begitu melihat siluet belakang Arya.
'Presdir benar-benar memberikan kuasa padaku untuk melakukan apapun pada putranya. Jika tidak, mana mungkin aku berani berbuat hal seperti ini pada pria yang kelak akan memimpin perusahaan ini.'
Tanpa membuang waktu, akhirnya Arya memilih untuk kembali mencari keberadaan Rani. Ia sudah berkeliling dan mencari di setiap lantai, hanya saja keberadaan Rani seperti menghilang saat ini.
Hingga akhirnya, bertanya pada beberapa cleaning service lain yang bertugas. Sayang, tidak satu pun dari mereka yang memberitahunya mengenai di mana Rani saat ini.
Kesal, tentu saja, pria yang biasanya memerintah dan memiliki kuasa tersebut, kini harus menerima tidak ada yang mau membantu. Bahkan karyawan lain yang menjadi cleaning service tidak memperdulikannya.
Setelah hampir tiga puluh menit mencari, ia hampir saja menyerah jika seseorang tidak memberitahunya mengenai keberadaan Rani yang saat ini ada di kantin.
Ya, setelah tadi sempat bertengkar dengan Arya, mendapatkan perintah untuk segera ke kantin. Ia tidak mau pusing memikirkan tentang perdebatan mereka, sehingga bekerja seperti biasa.
__ADS_1
Terlihat Rani sedang berada di kantin untuk membersihkan area tersebut. Seorang diri di dalam toilet, Rani tengah membersihkan seorang diri.
To be continued...