
Saat ini, Arya terdiam di tempat begitu mendengar kata-kata dari sang ibu yang membuatnya merasa emosi. Mungkin jika yang berdiri di hadapannya bukanlah sosok wanita yang telah melahirkannya, sudah membuat babak baru karena menyulut api amarah di hatinya.
Semua itu karena ia sangat mempercayai Putri melebihi siapapun. Tentu saja berdasarkan apa yang selama ini dilihat selama berbulan-bulan tinggal bersama wanita yang sangat ia cintai tersebut.
Baginya, Putra adalah seorang wanita yang sangat spesial dan mendapat kepercayaan darinya setelah membuktikan kesabaran ketika menghadapi sikapnya yang selalu seenaknya saat awal-awal menikah dulu.
Dengan sangat sabar wanita itu bekerja dalam posisi hamil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara ia hanya duduk diam dan bermalas-malasan di rumah tanpa merasa kasihan pada sang istri yang setiap hari harus kelelahan bekerja demi bisa memenuhi kebutuhan hidup.
Baginya, itu sudah membuktikan bahwa ia memiliki seorang istri yang baik dan tidak materialistis dengan mengincar hartanya. Mungkin jika wanita lain yang diperlakukannya seperti itu, akan langsung pergi meninggalkannya.
Namun, Putri tidak melakukannya dan tetap setia serta melakukan apapun untuk mempertahankan rumah tangga yang dibina. Hingga sampai sekarang melahirkan buah cinta mereka yang mewakili perasaan bahagia.
Arya yang awalnya tidak tertarik dengan perintah dari sang ibu, akhirnya membuka mulut untuk menanggapi. "Baiklah. Jika tes DNA bisa membuat Mama puas dan menerima anak, istriku, aku akan melakukannya."
"Aku melakukan tes DNA bukan karena tidak mempercayai bahwa anak yang dilahirkan oleh Putri bukan anakku, tapi agar Mama menyadari kesalahan dan mau menerima mereka dengan tangan terbuka."
Refleks Rani tersenyum simpul karena merasa sangat senang saat putranya telah masuk dalam jebakan yang ia susun. Tentu saja ia merasa sangat senang karena sebentar lagi akan berhasil menyingkirkan sosok wanita yang sangat dibenci.
Ia sangat yakin jika putranya akan langsung meninggalkan wanita itu begitu mengetahui bahwa hasil tes DNA sama sekali tidak ada kecocokan dan bukan merupakan darah dagingnya.
"Tentu saja Mama akan menerimanya sebagai menantu dan juga putramu sebagai cucuku jika benar-benar hasil tes DNA menyatakan 99 persen benihmu."
__ADS_1
"Aku pegang janji Mama. Jadi, harus benar-benar menerima anak dan istriku dengan baik tanpa bersikap kasar seperti tadi karena aku tidak ingin mereka merasa bersedih dan terluka atas sikap buruk Mama." Arya menjawab seadanya dan berniat untuk memberitahu sang istri bahwa ia akan melakukan tes DNA.
"Aku akan kembali ke ruangan istriku untuk memberitahunya."
Refleks Rani langsung berjalan mendekati putranya dengan menahan pergelangan tangan kiri untuk menghentikan langkah kaki panjang Arya. Ia tidak ingin gagal dalam rencananya dan membuat putranya patuh atas apapun yang direncanakan.
"Tunggu, Putraku!"
Arya yang saat ini mengerutkan kening setelah menghentikan langkah kakinya, kini kembali menoleh ke arah sang ibu. "Astaga! Ada apa lagi, Ma?"
"Bukankah kamu sangat mencintai Putri?"
"Tentu saja, jadi tidak perlu dipertanyakan lagi," sahut Arya masih tidak memahami apa maksud dari pertanyaan wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Jika kamu benar-benar mencintai istrimu, sebaiknya tidak memberitahunya jika diam-diam melakukan tes DNA. Dia akan merasa sedih dan terluka jika mengetahuinya karena berpikir kamu tidak mempercayai perkataannya."
Arya saat ini terdiam beberapa menit karena mencerna perkataan dari sang ibu. Awalnya, ia merasa sangat aneh mendengar kalimat manis dan terdengar sangat baik dari wanita yang diketahui sangat membenci sang istri.
Namun, akal sehatnya mendukung semua yang dikatakan oleh wanita paruh baya tersebut karena memang benar jika sang istri mengetahui saat melakukan tes DNA, seolah menjelaskan bahwa ia tidak percaya jika bayi yang dilahirkan oleh Putri adalah benihnya.
"Mama memang benar. Putri pasti akan berpikir seperti itu jika aku memberitahunya akan melakukan tes DNA pada putra kami. Baiklah, lebih baik aku tidak memberitahunya. Aku sangat yakin jika bayi itu adalah putraku."
__ADS_1
Kini, Rani menepuk baru lebar putranya dan kembali mengulas senyuman lebar dengan menampilkan deretan gigi putih yang rapi. Menunjukkan jika saat ini ia merasa sangat senang karena umpannya telah dimakan dan sebentar lagi akan mendapatkan hasil yang besar.
Ia sangat yakin jika putranya akan sangat membenci dan meninggalkan wanita itu tanpa berpikir panjang.
'Akhirnya rencanaku berhasil juga. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk melihat ekspresi putraku ketika meledakkan amarah pada wanita murahan itu.'
'Wanita yang sangat tidak pantas mendapatkan putraku. Hanya Calista yang menjadi menantu ideal dan bisa kuperkenalkan tanpa merasa malu pada teman-teman sosialita serta rekan bisnis suamiku.'
Selesai bergumam sendiri di dalam hati, kini Rani mengungkapkan pendapat pada putranya. "Mama melakukan semua ini demi kebaikanmu dan juga harus memastikan benar-benar jika bayi yang dilahirkan oleh Putri adalah benihmu."
"Inilah yang terbaik dan memang harus dilakukan sebagai syarat untuk masuk ke dalam keluarga besar Mahesa. Mama tidak mungkin melakukan ini jika wanita yang kamu cintai dan nikahi belum menikah."
"Status Putri yang masih menjadi istri orang ketika berhubungan denganmu, membuat Mama harus memastikan terlebih dahulu karena ini semua demi nama baik keluarga besar kita. Jadi, Mama harap kamu bisa mengerti dan bersikap adil dengan tidak membela salah satu diantara kami."
"Bukankah kamu harus adil pada orang-orang yang menyayangimu? Lagipula aku adalah seorang ibu seperti Putri dan pastinya tidak akan menjerumuskan putranya pada hal-hal yang buruk."
Sengaja Rani berbicara panjang lebar agar putranya tidak curiga dan meyakini bahwa semua yang dilakukan hari ini demi kebaikan, bukan menghancurkan.
Meskipun jauh di dalam hati, ia sangat berambisi untuk menghancurkan rumah tangga putranya yang dianggap tidak pantas dan hanya mempermalukan nama baik keluarga besar mereka.
Namun, ia berpikir bahwa dibalik semua rencana itu akan berakhir dengan kebahagiaan saat Arya menikah dengan Calista nanti.
__ADS_1
'Maafkan mama karena harus melakukan ini. Semua yang mama lakukan hari ini adalah demi kebaikanmu sendiri,' lirih Rani di dalam hati dan tersenyum puas ketika melihat putranya benar-benar patuh dengan cara menganggukkan kepala tanda setuju.
To be continued...