
Hari ini Arya kembali bekerja di kantornya seperti biasa. Baru saja ia datang, seorang wanita cantik yang sedang duduk di sofa yang ada di ruangan tunggu loby langsung menghampiri.
“Arya, kamu ke mana saja? Kenapa nomormu tidak bisa dihubungi? Kenapa chat aku juga tidak kau balas?” Calista langsung memberikan rentetan pertanyaan. Ia terlihat mengimbangi langkah kaki Arya.
“Aku hanya sedang istirahat saja.” Arya duduk di sofa yang tadi menjadi tempat duduk Calista.
“Apakah kamu sakit?” tanya Calista dengan raut yang khawatir.
Ia kemudian menempelkan punggung tangannya di kening Arya untuk memeriksa suhu tubuh pria itu. “Tidak demam,” imbuhnya kemudian.
“Bukan di situ, tapi di sini.” Arya memegang dadanya.
“Kamu sakit jantung? Ya ampun, Arya! Aku tidak menyangka jika kamu masih muda, tapi sudah punya penyakit seperti itu,” tukas Calista yang menyimpulkan sendiri pikirannya.
Iaenepuk-nepuk lembut punggung Arya dan berakting iba. Padahal sebenarnya ia sudah tahu apa yang terjadi pada pria pujaan hati, tetapi berpura-pura tidak mengetahui apapun.
Semua itu karena ayah Arya kemarin mengatakan semuanya. Bahwa Arya sudah kembali ke rumah dan tidak tinggal di rumah kontrakan lagi bersama sang istri yang tidak diharapkan.
“Kamu yang sabar, Arya. Kamu pasti kuat. Tenang saja, separah apapun sakitmu, itu akan bisa disembuhkan.”
Refleks Arya menghela napas mendengar ucapan panjang lebar wanita yang duduk di sebelahnya.
“Aku tidak sedang sakit jantung, Calista!" Arya berucap tegas.
“Lalu?” Calista kembali menatap Arya. Sorot matanya yang keheranan seolah menuntut sebuah penjelasan dari Arya.
“Sudahlah! Kamu tidak akan mengerti.” Arya kemudian beranjak menuju ruangannya.
Sementara itu, Calista masing termangu di tempatnya dan mengerti maksud ucapan Arya. Kini, ia hanya tersenyum smirk saat merasa jika kesempatan emas tengah menunggunya.
“Arya, tunggu!” Calista mengejar Arya yang sudah menghilang di balik pintu ruangan pria tersebut.
Akan tetapi, Calista tetap mengejar pria itu. “Arya, hari ini kamu ada janji dengan klien atau tidak?” tanya Calista yang sudah berdiri di samping Arya saat sudah duduk di kursi kerja.
“Tidak. Kenapa?”
“Baiklah, berarti kita punya waku yang cukup untuk membicarakan hal penting,” imbuh Calista dengan wajah berbinar.
Ia kemudian berjalan dan duduk di kursi yang ada di seberang meja kerja pria incarannya tersebut dan duduk berhadapan.
__ADS_1
“Memangnya hal penting apa yang harus dibicarakan?” Arya yang sedang membaca berkas di tangannya seketika menghentikan aktifitasnya dan menatap Calista yang tengah duduk sembari menopang dagu pada sebelah tangan yang dijadikan tumpuan.
“Ada dan ini sangat penting untukku,” jawab Calista dan berhasil membuat Arya mengerutkan kening.
“Tentang tawaranku yang mengajakmu ke pesta ulang tahun temanku dan perpura-pura menjadi kekasih satu malamku,” tutur Calista, kembali mengingatkan.
“Oh, itu.” Arya kembali membaca berkas di tangannya.
“Arya!” Calista terlihat gemas dengan pria itu karena jawaban singkat yang Arya berikan. “Jadi bagaimana? Apa kamu sudah membicarakan itu dengan istrimu?”
“Belum.” Arya menjawab dengan santai.
“Acaranya besok malam.” Calista mulai berpura-pura kesal. “Kalau kamu memang tidak mau, setidaknya bilang dari sekarang. Jangan membuatku menunggu ketidakjelasan seperti ini.”
“Ya sudah. Aku akan temani kamu besok malam. Kamu beritahu saja jam berapa kita berangkat ke sana,” sanggah Arya masih fokus dengan lembaran kertas di tangannya.
Kemudian beralih pada laptop di atas meja yang sudah ia nyalakan sedari tadi.
“Kamu serius?” Calista terlihat tidak percaya dengan jawaban Arya.
Arya menghela napas dan beralih pada Calista yang tengah menatapnya dengan tidak percaya.
Calista menggeleng cepat. “Tidak, tapi bagaimana dengan istrimu? Apa kamu yakin dia akan memberikan izin? Atau kamu sudah meminta izin semalam?"
“Aku tidak memerlukan persetujuan darinya. Jika aku ingin pergi, maka bisa melakukannya. Begitu pula sebaliknya,” imbuh Arya dengan tatapan tidak beralih pada berkas di meja.
Calista semakin tidak percaya dengan ucapan Arya setelah usaha seorang Ari Mahesa berhasil, membuat sosok pria di hadapannya seketika berubah.
Selama mereka berteman, Arya adalah suami idaman yang selalu memikirkan perasaan istrinya sebelum pria itu bertindak dan memutuskan sesuatu.
Karena hal itulah, Calista semakin ingin memiliki pria yang sedang fokus dengan laptop di depannya tersebut. Calista merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Arya setelah membenci sang istri.
“Apa kalian sedang bertengkar?” Calista memberanikan diri untuk bertanya dan masih berakting tidak mengetahui apapun.
Arya yang sedang fokus pada layar di depannya, seketika mengalihkan tatapannya pada Calista yang juga tengah menatapnya.
“Apa kamu juga harus tahu urusan pribadiku untuk pergi ke pesta itu? Kalau iya, maka lebih baik aku tarik kembali kata-kataku tadi,” ucap Arya dengan tatapan tajam.
“Jangan!” Calista langsung menegakkan badannya dan membulkatkan mata. “Baiklah. Aku tidak akan bertanya apapun lagi. Aku tidak peduli dengan urusan kamu dan istrimu karena yang terpenting, kamu akan menemaniku ke pesta itu besok malam.”
__ADS_1
Arya menghela napas. “Baguslah karena semakin banyak kamu bertanya tentang masalah pribadiku, maka aku tidak akan datang ke pesta itu,” ucap Arya dengan tegas.
“Iya.” Calista berdecak kesal sambil menelan ludah dengan kasar.
Ia kemudian melirik jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya. “Baiklah. Aku harus bertemu dengan klien satu jam lagi. Nanti siang, aku akan traktir makan di tempat yang kamu inginkan. Ingat, aku tidak menerima penolakan.”
Kemudian Calista beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan tanpa menunggu apakah setuju dengan ajakannya atau tidak.
Seperti yang tadi dikatakan, ia tidak menerima penolakan, sedangkan Arya hanya menggelengkan kepala saat melihat tingkah Calista.
Arya tahu jika Calista memang terkesan sangat blak-blakan dan tidak suka berbasa-basi jika membahas hal apapun.
Kini, ia kembali fokus pada layar laptop di depannya karena masih harus mengurus beberapa berkas sebelum menjabat sebagai wakil presiden direktur untuk mengurus perusahaan.
***
Menjelang makan siang, Calista sudah kembali ke kantor dan langsung mengajak Arya.
Sementara itu, Arya memilih sebuah restoran langganannya yang berlokasi tidak jauh dari kantor mereka.
“Kamu yakin mau makan di sini?” tanya Calista.
Mereka tidak membawa mobil karena hanya berjalan kaki menuju restoran yang Arya pilih.
Itu semua karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh.
“Ya. Selain jaraknya yang dekat dengan kantor, makanan di sana juga enak dan cocok di lidahku,” jawab Arya sembari terus berjalan menyusuri trotoar yang mereka lewati.
“Kenapa kamu tidak memilih salah satu restoran mewah yang memberikan fasilitas yang nyaman?” tanya Calista lagi.
“Bukankah di sana juga tempatnya cukup nyaman?” Arya bertanya balik pada wanita yang berjalan di sampingnya. Ia menatap sekilas pada Calista, kemudian kembali pada jalan di depan mereka.
“Iya. Baiklah. Terserah kamu saja." Calista mengangguk setuju.
Calista memang pernah beberapa kali menemani Arya makan di restoran itu. 'Makan di mana pun, asalkan itu bersamamu, aku tidak masalah,' gumam Calista pelan.
“Lagipula banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jadi, akan sangat membuang waktu kalau kita makan di restoran yang jauh dari kantor.”
To be continued...
__ADS_1