
Mobil yang membawa Amira Tan saat ini memecah jalanan ibukota yang padat kendaraan. Seolah tidak akan pernah sepi saat siang hari karena semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, baik di kantor, jalan raya, ataupun tempat-tempat yang lain.
Beberapa saat lalu, Amira Tan mempertimbangkan apakah ia akan pergi ke tempat adik tirinya atau ipar. Hingga ia mengambil keputusan penting dalam hidupnya untuk pertama kali mengenai masalah pribadi.
"Aku selama ini tidak mau bertemu dengan Bagus karena sakit hati atas larangan dia datang ke rumah. Namun, setelah mengetahui kabar buruk dari keluarga besar Mahesa yang akan menyingkirkan Putri, membuatku merasa khawatir pada pria tidak bersalah yang dulu dituduh bekerja sama dengan sang istri yang berselingkuh.
"Tidak, kali ini aku tidak akan membiarkan kamu dihina lagi. Bagus tidak boleh mengetahui kabar ini. Aku harus mengalihkan perhatiannya jika ia mencari tahu tentang Putri. Namun, aku tetap harus memberitahukan bahwa mantan istrinya sudah melahirkan."
Amira Tan mengambil pertimbangan yang sangat penting dalam hidupnya, yaitu tidak ingin melepaskan pria sebaik Bagus.
Ia berpikir jika di zaman sekarang ini sangat susah menemukan pria sebaik Bagus yang rela mengorbankan kebahagiaan demi orang lain.
Jadi, tekadnya sudah semakin bulat untuk mengincar iparnya tersebut yang ingin ia dapatkan. "Aku tidak akan membiarkanmu kembali pada Putri karena wanita itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya setelah mengkhianati ikatan suci pernikahan."
"Semua hal di dunia ini akan mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang ditanam. Begitu juga dengan Putri, ia akan menjalani karma yang mulai bergerak untuk mencari mangsa."
"Jika Putri tidak bisa masuk dalam keluarga Mahesa dan ditinggalkan oleh Arya, aku tidak rela jika Bagus memilih rujuk dan memaafkan semua kesalahan sang istri yang durhaka. Kamu berhak bahagia, Bagus. Kebahagiaan itu akan datang jika mau menerimaku sebagai pasangan, bukan kakak ipar lagi."
Amira Tan selama mengemudi berpikir bahwa ia akan menyembunyikan bahwa Arya saat ini sudah tidak tinggal bersama dengan Putri lagi. Itu sudah pasti akan membuat Bagus segera mengajak wanita yang masih berstatus sebagai istri tersebut untuk kembali ke kontrakan, agar tidak sendirian lagi.
__ADS_1
Itu semua karena pria itu sangat baik dan tidak akan pernah tega menyakiti seorang wanita. Meskipun sempat mengutuk Putri ketika pertama kali mengetahui tentang perselingkuhan dan diakhiri oleh penyesalan saat sudah sadar.
"Bagus harus segera mengurus surat perceraian karena Putri sudah melahirkan. Sepertinya aku yang harus bergerak secepat mungkin untuk menyelesaikan masalah ini."
Amira Tan saat ini menghubungi rekan kerjanya dan mengatakan harus secepat mungkin mengurus berkas surat perceraian antara Bagus dan Putri.
Kemudian setelah menempuh perjalanan selama 20 menit dari restoran menuju ke tempat peristirahatan Bagus, Amira turun dari mobil dan mulai melangkahkan kaki jenjangnya untuk mencari keberadaan Bagus.
Ia tidak yakin apakah Bagus ada di tempat itu atau sudah pergi untuk mencari pelanggan. Hingga ia saat ini mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan sekaligus bertanya pada salah satu pria yang sedang menikmati makan siang di bawah pohon rindang.
"Apa Bagus sudah kembali mencari pelanggan atau masih berada di mushola?" Amira Tan saat ini masih bertanya-tanya karena tidak tahu, apakah usahanya akan berjalan sebagai hasil atau tidak menemukan sosok pria yang dicari."
Hingga setelah menunggu beberapa menit, ia yang tengah duduk di kursi, ketika menoleh itu begitu mendengar suara dari pria yang dicari saat ini tengah berjalan menuju ke arahnya.
Akhirnya ia segera menghampiri iparnya tersebut dengan pikiran bahwa ada kabar penting yang dibawa.
Amira Tan merasa sangat lega karena ternyata masih bisa bertemu dengan Bagus—pria yang sangat ia cintai. Sosok wanita yang saat ini sangat bahagia setelah rasa rindunya seakan sirna begitu melihat wajah dewasa dan penuh kelembutan itu ada di hadapannya.
"Aku baru saja mendapatkan kabar terbaru bahwa Putri melahirkan anak laki-laki. Apa kamu sudah mengetahui hal itu?" Amira memang sengaja to the point karena tidak ingin membuang waktu untuk segera menyelesaikan proses perceraian antara Bagus dan Putri.
__ADS_1
Sementara Bagus yang saat ini diam karena tidak bisa berkomentar apapun ketika sakit hati mendengar kelahiran anak yang merupakan bunyi dari pria dari keturunan konglomerat tersebut.
Bagus saat ini masih merasa heran karena wanita yang berdiri di hadapannya tersebut tidak memberi informasi melalui ponsel saja, tapi langsung datang ke tempat istirahat saat siang hari.
"Apa kamu sengaja menemuiku hanya karena ingin mengatakan hal ini? Bukankah kamu tidak perlu repot-repot untuk datang ke sini karena bisa lewat pesan saja, kan?" ujar Bagus yang saat ini memilih untuk mendaratkan tubuh di sebelah wanita dengan perbuatan elegan dan tidak pernah terlihat asal-asalan penampilannya.
Saat ini, Amira hanya bisa menelan ludah karena mendapat penolakan lagi dari pria yang seolah mengerti bahwa ia tidak bisa melupakan adik iparnya tersebut.
"Aku datang ke sini karena sudah lama merindukan orang yang kucintai," sahut Amira dengan penuh percaya diri dan seperti menjadi sosok wanita lain karena terang-terangan menyatakan perasaannya.
Hingga apa yang baru saja dikatakan olehnya, mendapatkan ekspresi wajah penuh terkejut dari iparnya tersebut.
Bagus saat ini memilih untuk diam karena tidak tahu harus berkomentar apa lagi. "Kamu tidak salah makan hari ini, kan?"
Ia awalnya berpikir jika Amira Tan menuruti perintah untuk menjauh, berarti sudah melupakan perasaan cinta yang salah menurutnya. Hingga ia saat ini kembali dikejutkan oleh perkataan dari sang pengacara hebat tersebut.
"Aku sudah mengurus mengenai berkas perceraian kalian. Bukankah setelah Putri melahirkan, kamu harus segera menceraikannya? Jadi, tidak ada salahnya aku menemanimu di sini."
"Apa ada hal lainnya lagi selain itu?" tanya Bagus yang saat ini masih duduk dan seperti tengah terlihat menjadi suami yang tidak dianggap.
__ADS_1
"Tidak ada. Tujuanku datang ke sini hanya untuk itu," ucap Amira Tan yang memilih untuk mentoleransi rasa terlarang yang ia rasakan, serta menyembunyikan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Putri sebelum terjadi kemalangan yang dihadapi Bagus saat merasa iba pada istri.
To be continued...