
Noah yang berbicara sambil memakai jaketnya, kini memilih untuk melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu.
Sementara itu, Amira Tan masih belum puas dengan jawaban pria yang terlihat sangat santai, seolah tidak bersalah sama sekali, sedangkan ia saat ini masih belum selesai berbicara dan juga ingin menginterogasi pria yang sudah membuka pintu.
"Jangan kabur, berengsek!" Amira Tan berlari untuk mengejar pria yang tidak ia ketahui namanya tersebut.
Noah kini menghentikan pergerakan, tetapi sama sekali tidak berpaling untuk melihat wanita yang kini sudah berdiri tepat di belakangnya karena suara dari wanita itu terdengar sangat jelas.
"Kau tidak akan pernah bisa kabur dariku! Jadi, jangan pernah berpikir bisa bebas dari jerat hukum karena akan kupastikan jika kau tidak akan lolos begitu saja. Satu hal lagi, dari mana kau tahu kalau aku adalah seorang pengacara?"
Jika beberapa saat lalu Noah tidak berniat untuk menoleh ke arah sosok wanita yang masih belum sadar juga saat ia tolong, kini ia memilih untuk berbalik badan dan akhirnya berhadapan lagi.
"Kekasihmu yang mengatakannya semalam kita akan mengantarmu pulang. Sebelum kau mempermalukan diri sendiri, pastikan dulu mendapatkan bukti-bukti untuk menangkapku. Bukankah itu adalah syarat penting dalam hukum?"
"Setelah kau membawa hasil laporan dari rumah sakit, datang saja bersama para polisi ke club karena aku bekerja di sana. Tenang saja, aku tidak akan kabur ke mana-mana. Semua orang mengenalku dengan nama Noah Martin. Jadi, ingat itu adalah namaku."
Kemudian ia kini berjalan keluar pintu setelah membukanya. Namun, ia berbicara sebelum pergi dengan tanpa menoleh ke belakang. "Kau bukan tipe wanita idamanku, jadi tenang saja karena aku sama sekali tidak selera bercinta denganmu."
Kemudian ia melangkah pergi menuju ke arah lift di sebelah kiri ruangan kamar hotel. Meninggalkan sosok wanita yang kini sudah tidak lagi berbicara maupun menghentikannya.
Di sisi lain, Amira Tan masih terdiam mematung di tempatnya. Selama beberapa menit ia hanya diam dan merasa sangat shock dengan perkataan pria yang telah meninggalkannya di dalam kamar hotel sendirian.
__ADS_1
Hingga ia pun tertawa terbahak-bahak begitu merasakan miris dalam hidup. Mencintai pria yang sama sekali tidak tertarik dengannya dan hari ini kalimat penghinaan didapatkan olehnya dari pria tidak dikenal.
"Aku bukan tipe bartender itu?" Amira Tan kembali terbahak dan suaranya kini telah menghiasi ruangan kamar hotel mewah tersebut.
"Bahkan bartender itu sama sekali tidak berselera padaku? Astaga! Apakah aku harus senang ataukah menangisi malangnya hidupku ketika tidak ada satu pun pria yang tertarik padaku?"
Amira Tan kini masih terbahak saat merasa jika kalimat pria itu barusan adalah sebuah penghinaan untuknya. Hingga ia pun kini mulai mengerti jika apa yang dikatakan oleh pria tadi benar.
Ia memeriksa seluruh tubuhnya dan sama sekali tidak ada tanda-tanda jika pria yang bekerja sebagai bartender itu melakukan hal buruk padanya.
Saat ini, Amira Tan sudah menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan bisa melihat tas miliknya di sebelah kiri ia duduk. Ingin memeriksa ponsel miliknya dan melihat dompet serta memilih untuk membukanya.
Semuanya masih lengkap dan tidak ada yang kurang. Hingga ia pun menoleh ke arah pintu kamar. "Pria itu sama sekali tidak membuka dompetku karena tidak ada yang berkurang."
Namun, saat menyalakan, tetapi tidak bisa, membuatnya bisa menebak apa yang terjadi. "Pasti ini mati dari semalam. Apa yang akan dipikirkan oleh orang tuaku karena putri mereka tidak pulang ke rumah semalaman."
Tidak ingin membuat khawatir orang tuanya karena belum pulang dari semalam, kini Amira Tan memilih untuk segera membersihkan diri di kamar mandi karena tidak mungkin ia keluar hotel dengan wajah bangun tidur.
Hingga setengah jam kemudian, ia sudah bersiap dan check out dari kamar hotel. Seperti pesan dari pria yang tadi menyebutkan nama adalah Noah Martin, kini Amira Tan sudah membayar dengan kartu kredit.
Kemudian berjalan keluar dari lobi hotel dan memesan taksi online karena menebak jika mobilnya masih berada di club. Rencananya adalah ia akan ke sana nanti malam karena ada sesuatu yang ingin sekali diledakkan oleh pria yang menolongnya.
__ADS_1
Kini, Amira Tan sudah berada di dalam taksi yang mengantarkannya pulang ke rumah. Sebenarnya ia merasa sangat aneh pada pria bernama Noah Martin itu.
'Bagaimana mungkin ada pria dan wanita berada di dalam kamar hotel yang sama, tetapi sama sekali tidak melakukan apapun. Apa benar pria itu sama sekali tidak bernafsu melihatku? Apa aku sejelek itu?'
'Selama ini, aku selalu dikelilingi oleh para pria berengsek seperti Jack dan Bagus yang mewakili semua kebodohan seseorang atas nama cinta, sedangkan bartender itu adalah pria naif yang bahkan tidak berselera untuk sekedar menyentuhku.'
'Miris sekali nasibmu, Amira Tan. Kenapa aku merasa gagal menjadi wanita menarik? Padahal aku tidak terlalu jelek sebagai wanita. Aku memang tidak secantik Putri, tetapi kenapa seolah tidak ada pria yang menginginkanku?'
Amira Tan memilih untuk bersandar pada jok mobil dan memejamkan mata. 'Dasar bodoh! Kenapa aku malah bersedih saat tidak terjadi apapun denganku? Seharusnya aku merasa senang dan bahagia karena masih perawan setelah menginap di hotel semalaman dengan seorang pria.'
Menyadari kebodohannya, kini Amira Tan memilih untuk menepuk jidatnya dan ia pun menikmati perjalanan dengan membuka pintu mobil. Dengan merasakan semilir angin yang menerpa wajah dan rambutnya yang terurai di bawah bahu, ia berharap bisa mendinginkan perasaan yang saat ini tengah tidak karuan.
Hingga beberapa menit kemudian, taksi yang membawanya telah berhenti di depan rumah keluarganya. Amira Tan mengerutkan kening karena ada banyak mobil yang terparkir di depan pintu gerbang tinggi berwarna hitam itu.
"Kenapa ada banyak mobil di depan rumah? Apa yang terjadi?"
Setelah Amira Tan membayar taksi, ia pun tidak membuang waktu untuk masuk ke dalam rumah yang saat ini pintu utama terbuka lebar tersebut. Dengan berbagai macam pertanyaan di otaknya, kini ia membulatkan mata begitu mendengar percakapan dari sang ayah.
'Astaga! Apa yang ayah lakukan? Kenapa semuanya jadi seperti ini?'
"Ayah!" ucap Amira Tan yang saat ini baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan depan dan sontak saja semua orang sudah menoleh ke arahnya.
__ADS_1
To be continued...