Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
114. Mengantarkan sahabat


__ADS_3

Sementara di sisi lain, Rendi kali ini tidak ingin semakin menambah beban pikiran dari sahabatnya yang membuatnya merasa sangat iba melihat nasib percintaan terlarang itu.


Jujur saja ia dari dulu sebenarnya sangat tidak setuju dengan Arya yang menyukai istri orang dan sudah bisa menebak apa yang akan terjadi ke depannya. Seperti saat ini, orang tuanya benar-benar membuat putranya sadar akan kesalahan dengan cara menyiksa secara halus.


Ingin sekali ia menyuruh Arya agar meninggalkan Putri dan kembali ke rumah dari pada harus menderita hidup di luaran sana. Apalagi Arya adalah seorang pria yang memiliki paras tampan dan berasal dari keluarga konglomerat, pasti banyak wanita yang antre untuk bisa menjadi istrinya.


Namun, saat ia mengetahui bahwa Putri tetap mau menerima Arya meskipun saat ini tidak memiliki apapun, membuatnya merasa sangat iri karena sahabatnya mencintai wanita yang tidak matrealistis seperti para kekasih Arya terdahulu yang hanya mendekati karena uang.


"Lebih baik kamu coba saja dulu ke sana. Tidak ada salahnya untuk mencoba karena sebelum mengetahui hasilnya, jangan berhenti untuk berusaha. Siapa tahu pria itu tidak tega pada Putri karena akan menderita tinggal di jalanan bersamamu, akhirnya mau menerimamu tinggal di sana."


"Aku tahu bahwa ia adalah seorang wanita yang memiliki cinta begitu besar padamu dan tidak mempermasalahkan saat kamu tidak punya apa-apa lagi. Aku iri padamu. Kamu rela meninggalkan rumah dan memilih wanita yang sangat mencintaimu."


"Semoga hubungan kalian akan kekal sampai nanti kakek nenek." Rendi menepuk pundak kokoh sahabatnya untuk memberikan sebuah dukungan. "Aku akan mengantarmu ke sana."


Sementara itu, Arya yang tadinya merasa sangat kesal dan putus asa, seperti langsung mendapatkan semangat begitu sahabatnya mengatakan iri padanya. Ia memang sangat mencintai Putri yang luar biasa karena dari awal sangat mencintainya dengan tulus tanpa memikirkan harta.


"Kau benar, Ren. Putri memang sangat mencintaiku dan mau menerimaku. Meskipun mengetahui bahwa aku sekarang hanyalah seorang gelandangan yang tidak punya tempat tinggal. Aku tidak akan pernah menemukan wanita sepertinya karena jika wanita lain, pasti akan langsung pergi tanpa menoleh ke belakang lagi."


Arya yang kali ini sudah mengulas senyuman, melakukan hal yang sama pada Rendi. "Terima kasih sudah menampungku dan masih mau menolong saat papa mengancammu. Kamu benar-benar sahabat terbaikku, Ren. Sekali terima kasih."


"Tidak masalah, Arya. Ini sudah selayaknya kulakukan karena kita adalah teman. Bagaimana, jadi aku antarkan ke tempat kekasihmu? Di mana rumahnya?" Rendi yang kini membantu Arya memasukkan pakaian ke dalam koper di atas ranjang, menunggu hingga sahabatnya tersebut menjawab.

__ADS_1


Sementara itu, Arya yang kini berpikir satu hal, yaitu jika pria itu terpaksa menerimanya tinggal di sana, membuatnya harus rela tinggal di rumah kecil yang menurutnya tidak layak huni.


Bahkan saat dulu ia mengantar Putri pulang dan mengetahui tempat tinggal kekasihnya tersebut, sempat mengejek kontrakan itu seperti kandang ayam yang tak lebih besar dari kamar pelayan di rumahnya.


Kini, Arya mengempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap ke arah sahabatnya.


"Sekarang aku bingung, Ren. Apa aku bisa tinggal di kontrakan kecil yang menurutku tidak pantas untuk ditempati manusia. Rumah kontrakan kecil dan sempit yang lebih seperti kandang ayam. Astaga, membayangkan saja sudah membuatku seperti mau muntah."


"Pasti tinggal di sana sangat tidak nyaman dan akan membuatku menderita." Embusan napas kasar kini terdengar sangat jelas membelah keheningan pagi.


Arya mengerutkan kening saat melirik ke arah sahabatnya yang baru saja menutup kopernya. "Oh ya, kamu tidak berangkat ke kantor? Ini sudah jam berapa? Nanti kamu terlambat."


"Aku libur. Mengenai perkataanmu tadi, aku berpikir bahwa itu jauh lebih baik dari pada kamu tinggal di bawah jembatan. Sekarang kamu pilih mau jadi gelandangan, atau mau tinggal di kontrakan Putri yang kamu bilang kandang ayam itu?"


Rendi sengaja menyadarkan Arya agar bersyukur karena ada wanita yang berusaha untuk menolong. Meskipun ada rasa iba yang terpancar dari wajahnya ketika melihat sahabatnya yang seperti tidak mempunyai semangat hidup.


Sebagai seorang teman yang baik, ia ingin selalu ada di dekat Arya, baik itu saat suka dan duka karena itulah yang disebut sahabat sejati.


"Aku akan selalu mendukungmu. Apapun yang menurutmu baik, aku pun akan menganggapnya baik karena kita adalah sahabat sejati."


Merasa sangat beruntung memiliki sahabat yang baik seperti Rendi, kini Arya sudah memeluk erat sahabatnya. "Kamu memang sahabat sejati yang paling baik. Aku tidak akan pernah melupakan bantuanmu hari ini, Ren. Terima kasih."

__ADS_1


"Sudah berapa kali kamu mengucapkan terima kasih padaku pagi ini? Sana mandi! Aku juga akan mandi dan mengantarkanmu ke tempat calon pengantinmu. Jika pria itu mengizinkanmu tinggal di kontrakan bersamanya, membiarkan kalian di depan matanya, pria itu benar-benar sangat luar biasa."


Rendi terdiam sejenak dan melihat ekspresi dari wajah sahabatnya yang masih belum menanggapi perkataannya. Kemudian ia mulai menasihati sahabatnya tersebut. Jadi, bersikap baiklah pada pria itu, Arya. Hanya itu pesanku."


Sementara itu, Arya yang masih belum membuka suara untuk menanggapi, tidak yakin apakah suami sah Putri mengizinkannya untuk tinggal di sana.


"Entahlah, Ren. Sepertinya itu sangat tidak mungkin. Mana mungkin seorang suami mengizinkan selingkuhan istrinya tinggal di bersama. Konyol sekali. Hari ini aku merasa sedang berada di titik paling rendah sepanjang sejarah hidupku."


"Aku tidak tahu ke mana takdir akan membawaku. Jika nanti aku tidak bisa tinggal di sana, mungkin akan mengajak Putri pergi meninggalkan Jakarta dan memulai kehidupan baru. Mungkin aku akan bekerja di tempat yang jauh dari jangkauan papaku."


Arya sudah berpikir bahwa ia lebih baik meninggalkan kota kelahirannya agar sang ayah tidak selalu mencampuri urusannya. Namun, ia belum tahu tujuannya sebelum mencoba untuk pergi ke kontrakan Putri. Arya kemudian bangkit dan menatap ke arah Rendi.


"Aku mandi dulu dan antarkan ke tempat calon pengantinku."


Rendi yang hanya menganggukkan kepala, kini melihat punggung lebar nan kokoh itu perlahan menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Aku pun tidak yakin suami Putri mengizinkan Arya tinggal di sana atau tidak. Memikirkan hal ini, benar-benar membuatku merasa sangat pusing. Apalagi Arya yang mengalaminya."


Tidak ingin kepalanya pusing memikirkan nasib buruk dari sahabatnya, Rendi memilih untuk berjalan menuju ke arah pintu keluar dan berniat mandi karena akan mengantarkan sahabatnya ke kontrakan kekasih Arya yang masih menjadi istri orang tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2