Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
142. Korban keegoisan orang tua


__ADS_3

Sosok pria yang saat ini tengah duduk di atas rerumputan hijau di sebuah taman dengan beberapa permainan untuk para balita, kini sedang mengamati tingkah menggemaskan putranya yang berusia 3 tahun tengah berlari kesana-kemari dengan bola yang ditendang dengan kaki mungilnya.


Melihat tingkah menggemaskan dari bocah laki-laki yang merupakan buah cintanya dengan sosok wanita yang sangat dicintai, kini membangkitkan semangat sekaligus kesedihan di hati Bagus Setiawan.


Bagaimana tidak, ia yang saat ini masih tidak berkedip menatap wajah tidak berdosa malaikat kecilnya saat tertawa bahagia ketika bermain, merasa sangat bersalah karena sebentar lagi tawa dari putranya akan berganti dengan wajah muram karena tidak akan mendapatkan kasih sayang dari sang ibu.


Bagus tadi memang sengaja meninggalkan rumah saat putranya tidak berhenti menangis ketika melihat Amira memukulnya bertubi-tubi. Bahkan saat itu, ia merasa sangat bersyukur karena putranya tidak berhenti menangis ketika sudah ditenangkan olehnya.


Hingga ia memilih untuk mengajak putranya tersebut ke taman kecil yang ada di dekat kontrakan lewat pintu belakang karena tidak ingin para tetangga menatapnya dengan penuh iba.


Belas kasihan dari para tetangga yang pastinya kini menatap iba padanya setelah mengetahui nasib rumah tangganya yang telah berakhir sangat buruk.


Bahkan ia saat ini tidak bisa membayangkan bagaimana menghadapi pandangan semua tetangga yang pastinya iba padanya.


Namun, ia sedikit terhibur begitu melihat putranya kembali tertawa ceria dan ia kini bangkit berdiri dari posisinya yang dari tadi duduk di atas rerumputan hijau begitu melihat bola menggelinding cukup jauh dari posisi putranya.


"Sebentar, Sayang. Ayah akan mengambil bolanya."


Sementara itu, bocah laki-laki yang kini tidak bisa diam, mengikuti sang ayah saat mengambil bola. Bahkan mengejar sambil berlarian, hingga beberapa saat kemudian terjatuh.


Tentu saja suara tangisan mulai terdengar dan membuat beberapa orang yang tadinya sibuk dengan fokus masing-masing, mencari ke arah sumber suara dan melihat balita sudah menangis tersedu-sedu.


Namun, ada seorang wanita yang datang untuk menolong dan langsung menggendong sambil berusaha untuk menenangkan agar tidak menangis, sehingga orang-orang itu akhirnya kembali mengalihkan perhatian.

__ADS_1


"Putra, hati-hati, Sayang. Pasti sakit, ya. Biar Tante yang tiup lukanya, ya?" ujar Amira Tan yang kini sudah mendaratkan tubuhnya di tempat duduk bulat tak jauh dari ia berdiri.


Beberapa saat lalu, Amira yang tadi langsung memeriksa taman setelah Putri memberitahunya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling area taman untuk mencari-cari keberadaan dari ayah dan anak yang tiba-tiba menghilang tersebut.


Begitu ia melihat siluet dari Bagus yang tadi berlari dan ternyata mengambil bola, Amira Tan beralih pada balita yang menangis dengan suara cukup keras, sehingga langsung menolong.


Kini ia sudah mengeluarkan salep dari dalam tas untuk mengobati luka di lutut bocah laki-laki yang masih menangis tersedu-sedu di pangkuannya.


"Putra kuat, ya. Anak laki-laki harus kuat. Jangan nangis, Sayang. Nanti habis diobati, kita beli es krim coklat, ya."


Saat Amira Tan berniat untuk mengobati luka di kaki mungil itu, melihat Bagus yang terlihat sangat panik dan langsung berjongkok di bawah untuk melihat luka di kaki Putra, sehingga mengurungkan niatnya untuk mengoleskan salep tersebut.


"Sayang, maafkan Ayah. Pasti sakit ini."


Bagus yang kini fokus menatap ke arah lutut yang sedikit berdarah tersebut, langsung meminta salep di tangan Amira Tan. "Biar aku aja yang mengobatinya."


Hal itulah yang membuatnya selalu menyimpan salep untuk luka di dalam tas, jadi saat ada kejadian tak terduga, ia bisa langsung mengobati luka. Seperti kaki terbentur meja, tangan terkena air panas saat membuat kopi, jari-jari kaki lecet karena seharian memakai sepatu hak tinggi.


Kini, ia masih mengamati seorang ayah yang terlihat sangat fokus dan berhati-hati ketika mengobati luka di kaki malaikat kecil yang kini masih merintih karena merasakan perih ketika diobati.


Melihat Bagus yang kini sudah meniup luka di lutut balita dengan wajah sembab karena efek menangis tersedu-sedu saat terjatuh tadi dan membuatnya bisa melihat betapa besar kasih sayang seorang ayah pada sang anak dan membuatnya merasa iba.


'Bagaimana mungkin anak sekecil ini harus kehilangan kasih sayang dari seorang ibu. Padahal masih sangat membutuhkan perhatian. Kasihan sekali nasib kalian berdua,' gumam Amira Tan yang saat ini memilih untuk membuka suara.

__ADS_1


"Nasib baik aku menemukan kalian di sini. Aku dari tadi mencari kalian. Kenapa kamu tiba-tiba pergi begitu saja? Bahkan tidak ada yang tahu kamu pergi tadi."


Amira kembali mengungkapkan kekesalannya sambil mengamati suasana taman yang terlihat tidak ramai karena hanya ada beberapa orang di sana.


Ada seorang ibu yang tengah menemani putranya main ayunan, ada seorang ayah yang sedang menggendong putrinya dan menurunkan di perosotan dan beberapa balita lainnya tengah berlarian di hadapannya, tepatnya di atas rumput hijau yang sangat terawat itu.


Ia menunggu hingga pria itu membuka suara untuk menjelaskan tentang perbuatan yang tadi tiba-tiba menghilang. Namun, pria di bawahnya tersebut seolah tidak tertarik untuk menanggapinya.


"Halo! Apa kau sedang marah padaku? Hingga tidak mau menjawab pertanyaanku?" rengut Amira Tan yang kini mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi karena merasa sangat kesal pada pria di bawahnya saat sibuk meniup lutut balita yang kini sudah tidak menangis seperti tadi.


Sementara Bagus yang sekilas mendongak menatap wajah wanita di atasnya, refleks menggelengkan perlahan.


"Jangan membuat putraku takut dan membencimu. Jika tadi ia tidak jatuh, mungkin tidak akan mau kamu gendong. Kami ingin menghirup udara segar di sini dan menenangkan pikiran."


Ia yang baru saja selesai mengobati luka di lutut putranya, kini sudah bangkit berdiri dari posisinya dan mulai mengarahkan tangannya untuk menggendong, tetapi hanya bisa geleng-geleng kepala atas penolakan.


Karena saat ini bocah berusia 3 tahun itu sudah bergerak turun dari pangkuan dan kembali mengambil bola. Ia tadi meletakkan bola berwarna hijau yang berbentuk serupa dengan semangka tersebut di sebelah kirinya.


Namun, seolah melupakan luka di kaki, putranya sudah kembali mengambil bola dan bermain di rerumputan. Kali ini ada balita lain yang seumuran, sehingga putranya kini tidak main sendiri.


Apalagi ada orang tua yang sedang mengawasi, sehingga ia memilih untuk melakukan hal sama karena tidak ingin putranya kembali terjatuh dan terluka.


Namun, ia mengusap perutnya yang keroncongan karena tadi hanya makan roti di depan minimarket. Bahkan ia kini merasa bersalah pada putranya yang belum makan nasi.

__ADS_1


'Belum apa-apa, putraku sudah menjadi korban dari keegoisan para orang tua.'


To be continued...


__ADS_2