Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
37. Rahasia


__ADS_3

"Tidak ... tidak! Aku belum selesai. Lagipula aku tadi sedang membahas tentang para gadis-gadis yang kamu kencani. Aku merasa sangat penasaran dengan para mantan-mantanmu itu. Seperti apa para wanita itu dan bagaimana caramu berbicara dengan mereka. Aku ingin kamu menceritakan semuanya padaku!"


Merasa sangat pusing dengan keinginan macam-macam dari Putri, Arya hanya memijat pelipisnya. Ia sadar jika menceritakan tentang semua itu, wanita yang sangat dicintainya tersebut akan semakin bertambah murka karena dikuasai oleh api cemburu.


"Sayang, aku lebih suka menyiksamu dengan api gairah dari pada api cemburu. Aku bukanlah pria yang bodoh dan tidak akan pernah masuk ke dalam jebakanmu."


Arya mengingat kejadian yang sering terjadi di masa lalu, yaitu melihat para wanita yang berkelahi memperebutkannya dan berpikir berhak memilikinya.


"Apalagi aku sangat muak dengan kecemburuan para wanita yang selama ini merasa berhak untuk melakukan hal konyol itu. Lebih baik aku membuatmu memunggungiku pada posisi merangkak dan aku berlutut saat melakukan penetrasi dari belakang. Posisi itu sangat panas dan jauh lebih romantis dan lain kali perlu kita coba."


Berbeda dengan Putri yang malah merasa semakin penasaran akan cerita para gadis-gadis yang sempat berkencan dengan Arya di masa sekolah.


"Sudah aku bilang tidak mau karena belum mengantuk. Cepat ceritakan padaku mengenai para wanita itu. Apa kamu juga akan merasa murka jika aku cemburu padamu?" seru Putri yang kini memancing Arya, agar mau membuka tentang para gadis di masa lalu pria itu.


Saat Putri dibakar api penasaran, berbeda dengan yang saat ini dirasakan oleh Arya saat kesal ketika sang kekasih lebih tertarik pada masa lalu. Tidak ingin membenarkan persepsi Putri, refleks ia menyentil kening wanita yang menurutnya sangat bodoh karena mengambil kesimpulan sendiri.


"Dasar bodoh! Bagaimana mungkin kamu menyamakan posisimu dengan para wanita yang sangat tidak penting itu. Apalagi mereka semua tidak berharga seperti dirimu. Kamulah satu-satunya wanita berharga bagiku."


Arya bangkit dari posisinya yang saat ini tengah berjalan menuju ke arah nakas karena ingin mengambil ponsel miliknya.


Sementara itu, Putri lagi-lagi menyunggingkan senyumnya. Ia merasa sangat bahagia karena dihujani banyak pujian oleh sosok pria tampan yang sudah berjalan menuju ke arahnya sambil membawa ponsel dan membuatnya mengerutkan kening.


'Arya benar-benar menggemaskan. Rasanya aku ingin sekali meremas pipinya sampai habis. Kalimatnya selalu sangat manis saat berbicara. Ia terlihat sangat serius dan tidak membual seperti seorang casanova, tapi aku malah melihatnya seperti pria terhormat,' lirih Putri yang kali ini hanya bisa memuji pria tampan yang sangat dipujanya tersebut di dalam hati.


Sementara itu, Arya yang baru saja kembali dengan membawa ponsel miliknya, kini mendaratkan tubuhnya di atas ranjang sebelah Putri. Kemudian ia membukanya, mencari media sosial para mantan kekasihnya dan langsung memberikan ponsel tersebut pada sang kekasih.


"Semua wanita ini yang membuatmu merasa penasaran. Lebih baik kamu lihat sendiri foto-foto yang mereka unggah karena aku sangat malas untuk menjelaskan semuanya padamu. Setelah kamu selesai, langsung tidur!" ujar Arya dengan tatapan tajam mengintimidasi.


Kali ini, ia merasa sangat frustasi karena harus lebih bersabar untuk menunggu Putri melihat foto-foto kebersamaannya dengan semua wanita yang pernah berkencan dengannya.


Saat Putri pertama kali menerima ponsel milik Arya, ia yang langsung mengarahkan pandangan pada layar menampilkan foto-foto kebersamaan antara pria di sebelahnya tersebut dengan beberapa gadis dan tentu saja membuatnya merasa sangat cemburu.

__ADS_1


'Ia benar-benar seorang pria berengsek!' umpat Putri di dalam hati karena tidak mungkin mengungkapkan saat ia sendiri yang tadi meminta Arya menunjukkan padanya.


Lamunan Putri seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari Arya yang saat ini tengah mengungkungnya dalam kuasa tubuh kekar berotot tersebut.


Lagi dan lagi harus mendengar sebuah kejutan yang bisa dibilang bukanlah hal baik, otak Arya kini bisa menangkap apa yang saat ini ada di pikiran Putri.


"Kali ini, kamu mengumpatku apa? Aku tahu kalau saat ini kamu sedang kesal dan cemburu padaku."


Merasakan gugup seperti biasa saat berada pada posisi intim dengan Arya, Putri hanya mengerjapkan mata karena sama sekali tidak menyangka jika mengetahui bahwa ia sedang mengumpat karena kesal sekaligus cemburu.


"Jangan terlalu percaya diri. Memangnya siapa yang cemburu? Bukankah tadi aku sama sekali tidak mengatakan apa-apa?"


"Benarkah? Apa kamu yakin tidak cemburu setelah melihat foto-foto itu?" seru Arya masih pada posisi memblokir wanita di hadapannya agar tidak bisa kabur darinya.


Bahkan posisi yang sangat intim tersebut bisa dengan mudah membuat ia menyentuh wajah dengan paras cantik nan mempesona yang membuatnya tergila-gila.


"Tentu saja aku yakin," seru Putri yang kali ini mendorong dada bidang tersebut, agar melepaskan kuasa.


Kalimat Putri malah membuat Arya tersenyum smirk karena ia ingin membuat wanita itu menarik ucapannya. Ia bahkan saat ini tengah tersenyum menyeringai dan semakin mendekatkan wajahnya untuk berbisik di dekat daun telinga Putri.


"Apa kamu tidak keberatan jika aku bercinta dengan para wanita itu?"


Refleks Putri yang merasa sangat marah begitu membayangkan Arya bercinta dengan wanita lain selain dirinya, langsung mengarahkan tangan untuk menarik rambut pria itu.


"Awas saja jika kamu sampai melakukannya! Bukan hanya rambutmu yang kutarik seperti ini, tapi juga barangmu sampai putus!"


Meskipun sebenarnya Arya merasakan nyeri pada rambut yang ditarik oleh Putri, ia malah terbahak karena telah sukses membuat wanitanya mengakui perasaannya.


"Sekarang lebih baik kamu mengaku, cemburu atau tidak?" ucap Arya sambil mencicipi tepian daun telinga wanita yang tadi dibuatnya merintih dan mendesah, serta meneriakkan namanya.


Bulu kuduk Putri seketika meremang begitu bibir tebal Arya mengisap telinganya, hingga bergelinjang hebat saat lagi dan lagi urat syarafnya menegang. Bahkan membuat tangannya refleks melingkar pada pinggang kokoh tanpa penutup tersebut.

__ADS_1


"Arya," seru Putri dengan suara parau dan menggigit bibir bawahnya.


Ia sadar bahwa pria yang mulai mengirimkan denyut kenikmatan di setiap aliran darahnya tersebut tidak akan pernah mau berhenti dan menyiksa hingga kembali membuatnya meledak dalam puncak gairah.


Arya menarik diri dengan sedikit mundur karena ingin menatap wajah cantik yang berubah memerah tersebut. "Sebelum aku berbuat sesuka hati, lebih baik kamu jawab jujur saja."


Mendapatkan ancaman dari seorang pria yang seolah sudah tidak sabar untuk menghancurkan kendali diri dengan meremukkan tulang-tulangnya saat menegang dalam puncak kenikmatan, Putri kini tidak ada pilihan lain selain mengaku.


"Iya, aku cemburu. Apa kamu puas?"


Jawaban dari sosok wanita yang membuat puas Arya dan menyadari bahwa wanita yang telah berhasil menyihirnya tersebut sangat mencintainya.


"Tentu saja aku puas. Sebagai hadiahnya, aku besok akan mengajakmu jalan-jalan dan belilah apa saja yang selama ini tidak bisa kamu beli."


Sebenarnya Putri merasa sangat senang dengan tawaran dari Arya tapi saat memikirkan tentang sesuatu, refleks langsung menggelengkan kepala.


"Aku tidak bisa membawa barang-barang pemberianmu ke kontrakan dan pria tua itu melihatnya. Pasti dia akan bertanya macam-macam dan menginterogasiku. Lain kali saja, mungkin setelah kita menikah, kamu bisa membelikanku apa yang kumau."


Kini Arya terdiam dan mencari jalan keluar. Saat menemukan ide di kepalanya, kini ia tersenyum simpul.


"Aku mempunyai ide, Sayang."


"Ide apa?" tanya Putri dengan wajah yang sangat penasaran.


"Rahasia, besok kamu akan tahu," ucap Arya yang kini memilih untuk memejamkan mata.


Sementara itu, Putri merasa sangat penasaran dan membuatnya mengerucutkan bibir, tapi harus bersabar sampai esok hari untuk mengetahui apa rencana dari Arya padanya.


'Sepertinya aku harus bersabar sampai besok,' lirih Putri yang kini memejamkan mata dan memeluk erat tubuh kekar di sebelahnya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2