
Putri yang tadinya berniat untuk berakting secara totalitas demi mengelabui sosok pria yang masih tidak dihadapinya ketika ia memilih untuk berlutut.
Namun, saat mengingat bahwa sangat membutuhkan kehadiran dari Arya agar perhatian padanya ketika sedang merasakan tubuhnya lemah ketika muntah-muntah dan disertai pusing kepala.
Akhirnya saat ini bukan sebuah akting yang ditunjukkan karena yang terjadi adalah ia benar-benar sangat mengharapkan bantuan dari pria yang berdiri di hadapannya agar mau menolongnya.
"Maafkan aku karena mengkhianatimu, tapi semua ini tidak mungkin terjadi tanpa sebab, kan? Aku harap kau bisa mengerti dan mau menolongku dengan meminjamkan uang untuk biaya pernikahan kami."
Putri bahkan kini memilih untuk menyingkirkan harga diri dengan cara mencium kaki pria yang masih menjadi suaminya tersebut dan mengatakan semua yang ingin dikatakan, khususnya adalah meminjam uang agar ia bisa menggunakannya untuk biaya pernikahan secara sederhana dengan Arya.
Apalagi saat ini Arya masih menunggu kabar baik darinya mengenai kapan ia mendapatkan uang. Bahkan wajah Putri sudah terlihat memerah dan bola mata dipenuhi bulir kesedihan yang mewakili apa yang saat ini dirasakan.
Bagaimana tidak, ia merasa sangat bersedih ketika saat ini tidak mempunyai apa-apa. Begitu juga dengan pria yang sangat dicintainya. Berubah 180 derajat dari seorang pangeran menjadi seperti seorang pelayan karena tidak mempunyai uang sama sekali ketika diusir dari rumah hanya karena memilihnya.
Hal itulah yang membuatnya ingin segera menikah dengan Arya karena merasa yakin bahwa pria yang rela meninggalkan harta serta orang tua dan memilihnya, akan selamanya mencintainya.
Putri yang baru saja mengungkapkan permohonannya dengan posisi sudah kembali tegak untuk mendongak menatap ke arah wajah dari pria yang saat ini masih belum membuka mulut.
Merasa khawatir jika Bagus sama sekali tidak berubah pikiran meskipun sudah melihat ia membuang harga dirinya dengan cara berlutut, serta mencium kaki pria itu demi bisa menikah dengan Arya.
Hingga saat mendengar suara bariton pria yang terdengar lirih, seolah tengah menahan sejuta kesedihan akibat perbuatannya.
Putri hanya bisa mengungkapkan permohonan maafnya di dalam hati karena sejujurnya dia juga merasa bersalah sekaligus iba pada nasib dari ayah dua anaknya tersebut.
__ADS_1
"Aku sebenarnya juga manusia normal yang merasa berdosa dan juga bersalah padamu karena telah mengkhianatimu dengan Arya. Apalagi saat melihat wajahmu yang seperti ingin menahan tangis karena bagi seorang pria sangat aneh jika melakukan hal yang sering dilakukan oleh para wanita ketika merasa bersedih dengan cara menangis."
"Maafkan aku yang sangat egois karena memikirkan kebahagiaanku sendiri dengan menyakitimu karena tidak ingin hidup menderita seumur hidup bersamamu," ucap Putri yang saat ini tengah menunggu jawaban dari pria yang beberapa saat lalu ia cium kakinya.
Tentu saja dengan harap-harap cemas dan perasaan yang berkecamuk ketika menunggu bibir tebal itu terbuka dan memberikan jawaban padanya.
Di sisi lain, Bagus yang dari tadi hanya diam saja melihat segala perbuatan dari Putri, kini memilih berjalan mundur dua langkah untuk menghindar. Terluka tapi tak berdarah, mungkin seperti itulah yang terjadi padanya saat ini.
Ia hancur, bahkan bisa dibilang sudah berada di titik paling terendah dalam hidupnya karena wanita yang sangat dicintai telah merasa yakin ingin meninggalkannya demi pria lain tanpa memikirkan perasaan dari dua anaknya.
"Putri, aku bertanya sekali lagi padamu untuk memastikan keputusanku."
"Tanya saja, aku akan menjawabnya," sahut Putri yang dari tadi masih mendongak menatap ke arah sosok pria di hadapannya yang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan dan seolah menembus tepat di jantungnya, sehingga rasa bersalah semakin menyeruak di dalam hati Putri.
Namun, ia berusaha untuk tidak goyah karena keputusannya sudah bulat untuk menikah dengan pria yang sangat dicintai.
'Cintaku pada Arya jauh lebih besar dari pada cintaku padamu dulu yang sekarang sudah pudar dan hilang tidak tersisa.'
Sementara itu, Bagus yang saat ini merasa bingung untuk memutuskan apa yang harus dilakukan olehnya. Antara marah, kesal, sedih, kecewa, seolah menjadi satu dan membuatnya benar-benar sangat terpuruk kali ini.
Setelah melihat Putri yang mencium kakinya hanya demi agar ia meminjamkan uang untuk bisa menikah dengan selingkuhan, membuatnya menyadari bahwa sudah tidak ada harapan untuk hubungannya bersama dengan ibu dari dua anaknya tersebut.
Namun, ia kali ini ingin memastikan tidak menyesali keputusan yang diambil setelah mendengar jawaban dari Putri atas pertanyaan yang akan diajukan.
__ADS_1
"Aku benar-benar akan melepaskanmu jika jawabanmu membuatku rela untuk tidak memperdulikanmu lagi. Karena setelah kita benar-benar berpisah, selamanya aku tidak akan pernah mau bertemu lagi ataupun berbicara denganmu."
"Jadi, jawab aku dengan jujur sekarang! Apakah kamu benar-benar tega meninggalkan dua anak kita demi bisa menikah dengan pria itu? Apakah tidak ada sedikit pun keraguan di dalam hatimu ketika memilih untuk bersama dengan ayah dari janin yang kau kandung itu?"
Putri yang saat ini hanya menggigit bibir bawahnya sambil memikirkan jawabannya karena ia takut salah berucap, sehingga Bagus tidak akan mau meminjamkan uang adanya.
"Tentu saja aku ragu karena juga merupakan manusia. Aku bukan iblis tidak berhati. Lagipula kamu mengetahui apa alasan aku memilih jalan ini. Jika kamu mau mengakui alasanku sampai memilih jalan ini, pasti mengerti bahwa cinta tidak pernah salah."
"Seperti kata ayah dari janji yang kukandung ini. Dia mengatakan pada orang tuanya bahwa cinta tidak pernah salah karena yang salah adalah tempatnya. Cinta tidak memandang status karena selalu datang tiba-tiba dan juga ...."
Putri tidak jadi lanjutkan perkataannya karena menyadari bahwa ia takut jika itu terjadi menimpanya.
'Cinta tidak memandang status karena selalu datang tiba-tiba dan juga pergi sesuka hati. Tidak ... Arya akan selalu mencintaiku selamanya dan tidak akan pernah berpaling. Arya bahkan rela meninggalkan apapun hanya demi bisa menikah denganku.'
'Ia tidak akan pernah berpikir untuk berselingkuh ataupun merasa bosan padaku,' gumam Putri yang saat ini menguatkan hati agar ia tidak ragu pada keputusannya.
Jawaban dari Putri berhasil mengobati luka menganga yang ada di dalam hati Bagus. Meskipun ia merasa sangat terluka atas pengkhianatan yang dilakukan oleh sang istri, tetapi paling tidak, wanita yang merupakan ibu dari dua anaknya tersebut masih mengingat memiliki keturunan darinya.
Ia berpikir bahwa naluriah seorang ibu tidak akan pernah hilang dari sang istri dan membuatnya kini bisa sedikit merasa lega. Kini ia sudah mengambil keputusan bulat untuk memberikan uang pada Putri.
"Aku tidak akan meminjamkan uang padamu."
Sengaja Bagus tidak melanjutkan perkataannya karena ingin melihat ekspresi Putri seperti apa. Ia pikir Putri akan marah-marah seperti biasanya karena tidak mau meminjamkan uang.
__ADS_1
Namun, saat ini yang terjadi adalah wanita dengan posisi masih bersimpuh di lantai dingin tersebut terlihat meremas kedua sisi pakaiannya tanpa membuka mulut untuk berkomentar.
To be continued...