
Putri terlihat bahagia saat melihat suaminya yang bersemangat untuk bekerja besok dan sesekali ia masih membahas mengenai pekerjaan yang kira-kira akan dilakukan.
Beberapa saat telah berlalu dan kegiatan makan mereka pun selesai setelah cukup lama berbincang di ruang makan.
Kemudian Putri membereskan bekas makanan dan dibantu oleh Arya yang hari ini terlihat sangat senang, sehingga tidak tega melihat sang istri kelelahan.
Sepuluh menit kemudian, mereka kini berjalan menuju kamar untuk segera beristirahat.
Beberapa saat kemudian, Putri segera berbaring di atas ranjang setelah menyiapkan perlengkapan suami untuk besok.
Di atas ranjang, mereka tidur berhadapan. Mata keduanya saling bertemu, Arya terlihat berbeda malam ini. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang penuh amarah dan rasa kesal. Kali ini pandangan mata itu meneduhkan, hingga Putri tidak ingin berpaling dari tatapan mata suaminya.
“Aku bahagia, besok akhirnya kamu bisa bekerja di perusahaan milik papamu. Aku harap kamu bisa bertahan di sana dan tidak mendapatkan masalah.”
Arya yang saat ini masih menatap wajah cantik di hadapannya, kini tersenyum simpul dan menjawab harapan itu. “Aku juga tidak menyangka akan bisa bekerja di perusahaan papa secepat ini."
"Aku tidak perlu bekerja terlalu keras karena sudah mengetahui sistem pekerjaan di sana, terutama mereka yang hanya karyawan biasa. Apalagi dulu papa selalu menyuruhku untuk membantunya."
“Ya, itu benar. Jadi, besok kamu mau naik kendaraan umum ke kantor?” tanya Putri yang saat ini tengah memikirkan bagaimana Arya pulang pergi ke perusahaan jika tidak mempunyai kendaraan.
“Ya, papa sungguh tidak memberikan kesempatan mengenai itu. Padahal tadi aku sudah memohon untuk membiarkanku membawa satu mobil. Bahkan ada banyak mobil yang hanya menjadi pajangan di rumah.”
Arya kini tengah memikirkan sesuatu, mungkin ia bisa menyuruh Rendi untuk selalu menjemputnya, tapi juga merasa tidak enak karena akan menyusahkan sahabatnya, sehingga menguntungkannya dan berniat untuk naik bus pulang pergi.
“Tidak masalah, pekerjaan itu lebih penting dari kendaraan. Kamu bisa saja menggunakan bus atau jika beruntung, kamu juga bisa diantarkan Bagus.” Putri mencoba untuk menghibur dengan memberikan solusi, berharap Arya mau menerimanya.
__ADS_1
Namun, reaksi Arya yang memang sudah ia duga, kini membuatnya sangat menyesal karena mengatakan hal itu.
Arya yang awalnya merasa mood-nya baik, kini merasa sangat kesal begitu kalimat terakhir Putri tertangkap indra pendengarannya. Kini, ia mengarahkan tatapan tajam pada Putri untuk menegaskan tidak akan pernah melakukan hal itu.
“Kamu mau aku menjadi bahan hujatan pria tua itu? Melihatnya saja membuatku kesal,” ujar Arya mengungkapkan isi hatinya terhadap pria yang menjadi suami pertama Putri.
"Aku tidak akan pernah meminta tolong padanya lagi karena dia malah akan dengan mudah menghinaku." Masih menampilkan wajah masam dengan bibir mengerucut dan wajah memerah.
Putri kini hanya menelan ludah begitu menyadari kebodohannya dan kini ingin meredam emosi dari sang suami yang memiliki jiwa muda itu.
"Maafkan aku. Aku tadi hanya ingin mencari solusi agar kamu tidak susah payah naik bus pulang pergi. Kalau begitu, ayo kita kita tidur. Besok, aku akan memasak untukmu, lalu membawakanmu bekal agar tetap bisa makan makanan yang lezat buatanku.”
Refleks Arya menggelengkan kepala karena berpikir jika membawa bekal malah akan mempermalukannya saja. Ia merasa seperti anak sekolah saja jika membawa bekal.
“Tidak perlu berlebihan, cukup makan pagi saja. Untuk makan siang, aku masih bisa sendiri dengan membeli di kantin perusahaan."
“Kita harus hemat, semua untuk kelahiran anak kita nanti, Arya. Jadi, lebih baik aku memasak untukmu agar kamu tidak setiap hari mengeluarkan uang untuk makan di kantin setiap hari karena itu akan lebih boros. Sekali-kali tidak masalah, tapi jangan setiap hari."
Saat mendengar kata anak yang menjadi andalan Putri, tentu saja membuat Arya selalu lemah. Akhirnya ia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Baiklah, terserah kamu saja."
Setelah menutup mulut, Arya semakin mendekatkan tubuhnya agar bisa mendekati sosok wanita yang sudah berhasil membuat gairahnya naik. Meskipun ada jarak di antara mereka, yaitu perut buncit yang membuatnya memilih untuk sejenak mengusapnya.
"Papa akan menjengukmu sebentar, Sayang. Jangan nakal, ya!"
__ADS_1
Refleks Putri kembali tertawa melihat sang suami berinteraksi dengan bayi yang ada dalam kandungannya dan belum sempat ia menutup mulut, sudah dibungkam oleh bibir tebal Arya yang mulai sibuk mengirimkan gelombang kenikmatan.
Ia yang awalnya mengerjapkan kedua mata, kini memilih untuk memejamkannya dan membalas ciuman dari pria yang sudah bergerilya tangannya. Kemudian ia mengarahkan tangan untuk memeluk pinggang kokoh pria yang malam ini meminta jatah dan tidak akan membuatnya tidur nyenyak.
Apalagi ia dan Arya sudah lama tidak bercinta dengan penuh gairah dan perasaan senang, sehingga kali ini tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat sang suami puas padanya.
Putri kini masih membalas ciuman dari Arya, sudah membuka mata begitu pria yang sangat dicintai menarik diri dengan melepaskan ciumannya.
Kemudian pasrah pada semua yang dilakukan oleh pria yang mulai melucuti pakaiannya dan beberapa saat kemudian ia sudah dibuat telanjang tanpa selembar pelindung pun.
Putri melenguh panjang saat Arya sudah sibuk di bawah sana.
"Arya ...."
Putri menggeliat begitu merasakan sensasi kenikmatan luar biasa menghantam tubuhnya dan ia bahkan sudah kembali memejamkan mata begitu pria di bawahnya sudah memanjakannya pada posisi miring karena semenjak perutnya buncit, ia tidak bisa tidur telentang lagi.
Bahkan kini Arya melakukannya dengan sangat lembut dan ia tidak bisa berhenti mendesah dan merintih karena perbuatan yang telah mengirimkan sejuta kenikmatan padanya hingga urat syarafnya menegang seketika.
Arya yang kini sudah sibuk, hanya tersenyum smirk ketika mendengar Putri sudah bergerak dan menggeliat seperti cacing kepanasan karena perbuatan.
Kali ini ia benar-benar akan memuaskan diri dan membuat Putri kembali memenuhi ruangan kamarnya dengan suara rintihan dan ******* karena perbuatannya.
Putri kembali menjerit saat merasakan Arya seolah terus menyiksanya sebelum melakukan hal utama.
Sementara Arya kini kembali terkekeh saat melihat respon dari Putri yang tidak berhenti meneriakkan namanya saat merasa nikmat.
__ADS_1
"Nikmati semuanya dan jangan berhenti mendesah, Sayang," ucap Arya sambil tersenyum menyeringai ketika melihat sang istri sibuk bergerak dan merintih.
To be continued...