
Rani masih kesal dengan ucapan putranya. Bahkan tiba-tiba saja di tengah acara, Arya berpamitan dan membawa bingkisan yang tersedia di meja.
Arya mencium kedua pipi ibunya, lalu berlalu begitu saja.
Rasa malu yang dialami Rani semakin bertambah saat teman-teman sosialitanya mengajukan protes atas kepergian putranya dari acara.
“Putramu pergi begitu saja? Percuma aku mengajak putriku."
“Iya! Masa para wanita cantik di sini ditinggalkan begitu saja.”
“Maaf. Sebenarnya putraku sibuk sekali. Hari ini ada pekerjaan penting. Tadi baru saja dihubungi oleh papanya untuk menyusul ke lokasi hotel, di mana ada investor asing datang," ucap Rani beralasan dan berharap para temannya percaya.
“Tapi, ini kan hari Minggu. Masa hari libur menemui investor. Apa orang itu tidak libur?”
“Biasa, pengusaha sukses itu tidak melihat hari, yang penting menghasilkan, pasti langsung tancap gas.”
“Wah, iya. Benar sekali, itu sih memang ciri khas di keluarga ini, ya. Pantas kekayaan keluarga Mahesa terus bertambah.”
Rani kini menyembunyikan perasaan yang berkecamuk dengan tersenyum mendengar pujian yang dilontarkan salah satu temannya.
Kembali pada acara utama, mereka yang datang menikmati hidangan di meja. Aneka makanan berat dan kudapan tersedia di meja yang berbeda. Bahkan minuman yang memiliki berbagai macam nama pun ada di meja lainnya.
Di sisi lain, Arya baru saja sampai di rumah. Ia memberikan bingkisan yang dibawa dari rumah orang tuanya untuk sang istri. Ia berkata bahwa bingkisan itu diberikan ibunya untuk menantu.
Tidak percaya dengan ucapan suaminya, Putri justru memiliki firasat buruk tentang mertuanya.
“Wah, isinya banyak sekali, ada makanan dan souvenirnya.”
“Iya, buat kamu semua.”
“Manis sekali, souvenirnya emas batangan? Ini satu gram kalau dijual pasti laku mahal. Sayang, mama kamu tidak rugi memberikan ini ke teman-teman arisannya?”
“Biasalah. Mama hanya mau dipandang tinggi oleh teman-teman sosialitanya. Kalau tidak seperti ini, nanti dijauhi sama teman-temannya.”
“Ternyata ibu-ibu sosialita seperti itu, ya. Namun, mama kamu itu memang suka bingung menghabiskan uang papamu, ya?”
"Tidak juga. Mama selalu menghabiskan limit kartu kredit yang diberikan papa. Karena itu, sekarang sering marah-marah ke mama.”
“Pasti boros sekali.”
Arya melangkah ke dapur untuk mengambil peralatan makan. Diletakkannya di atas piring saji, lalu menyuruh istrinya untuk duduk di salah satu kursi makan.
“Sayang, aku bisa makan sendiri.”
“Sudah, menurut saja! Aku hanya ingin membuat istriku merasa dijadikan ratu di rumah ini.”
“Manis sekali kamu hari ini. Pasti ada maunya.”
__ADS_1
"Aku seperti ini karena tidak mau kamu terlihat lelah. Anggap saja membalas kebaikan selama kamu bekerja dan mengandung putraku.”
Putri tersipu malu, wajahnya tampak merona.
Sementara Arya masih saja memanjakan istrinya dengan kata-kata yang manis.
Keduanya tampak senang dan seperti tidak memikirkan apapun yang bisa membuat keduanya bersedih atau khawatir.
Bahkan, Arya memberikan sejumlah uang yang ditemukan di kamar saat berada di rumah orang tuanya. Dengan alasan bahwa uang itu adalah pemberian orang tua, sehingga berhasil membuat pemikiran sang istri terhadap orang tanya menjadi berbeda.
“Apa aku perlu memberikan tanda terima kasih, pasti mereka akan senang menerimanya.”
“Tidak perlu repot! Lagipula mereka tidak akan menerimanya karena ini diberikan secara cuma-cuma.”
"Baiklah.”
Meskipun sudah tahu apa tanggapan Arya, tetap saja Putri sedikit kecewa, tetapi hal itu tidak mempengaruhi pikiran Putri. Setelah menghitung jumlah uang itu, Putri segera menyimpan uang di dompet.
Saat ini, hari libur Arya akan segera selesai. Tidak ingin membuang waktu, pria itu mengajak Putri pergi.
“Bagaimana jika malam ini kita makan di luar?”
"Apa hari ini ada yang spesial?” Putri tampak tidak percaya dengan ajakan suaminya.
Namun, tidak bisa dipungkiri jika ia sangat senang dan bersemangat mendengar ajakan sang suami.
“Baiklah, aku mau. Aku sangat senang. Hingga tidak percaya jika ini bukan mimpi.”
Seketika Arya mencubit pipi Putri hingga mengaduh, setelah memastikan bahwa hal itu bukanlah mimpi, mereka tertawa bersama, dan Arya menyuruh untuk bersiap untuk makan malam romantis di restoran mewah.
Satu jam kemudian, pasangan suami istri itu sudah tiba di restoran mewah yang dituju.
Di restoran tempat Arya dan Putri makan bersama. Di luar restoran ada pasang mata yang menatap tajam dengan kekesalan tiada tara.
Wanita dengan mobil sedan hitam sedang mengawasi pergerakan putranya yang kini tengah makan bersama istrinya.
Ya, Rani masih emosi dengan sikap Arya yang meninggalkan acara arisan siang tadi. Lalu, saat ia akan memarahi putranya, ternyata keduanya sedang asik makan malam di sebuah restoran yang terletak tidak jauh dari rumah sewa mereka.
“Wanita sialan! Pasti ini yang membuat putraku tidak memiliki uang sedikit pun. Ia selalu meminta untuk makan makanan di luar. Bahkan ini restoran yang cukup mahal untuk kantong seorang pekerja kebersihan! Aku akan membalasmu, Putri! Kau akan hidup menderita."
Tidak ingin berlama-lama di sana, Rani pergi dan kembali ke rumah untuk melampiaskan kemarahannya itu.
Ya, Rani tidak ingin mengambil risiko untuk memarahi putranya di depan umum. Wanita itu tidak ingin nama keluarganya malu hanya karena salah menumpahkan emosi.
“Lihat saja! Aku akan membalasmu, wanita murahan!"
Mobil sedan hitam itu pun masuk ke garasi istananya. Rani berjalan masuk dengan hati panas dan juga kekesalan yang tidak bisa diungkapkan.
__ADS_1
Rani tidak menghiraukan keberadaan suaminya di ruang santai. Ia terus berjalan, hingga sampai di kamar dan melempar tas ke sembarang arah.
“Memang dasar wanita licik! Aku tidak akan membiarkan ia terus berada di sisi Arya. Aku tidak rela putraku menghabiskan seluruh hidupnya dengan seorang wanita miskin dan murahan itu."
"Aku benar-benar tidak rela dan tidak akan pernah membiarkan itu!"
Rani terus saja menggerutu saat melampiaskan amarah. Hingga suaminya datang dan bertanya tentang apa yang terjadi hari ini.
Tentu saja Rani tidak berani menjawab mengenai kedatangan Arya. Rani hanya bercerita tentang temannya yang membuat ia kesal dengan hal lain.
Bahkan berbohong jika seorang teman tidak bisa hadir karena sedang berada di luar negeri.
“Kamu mau pergi ke luar negeri?” tanya Ari langsung ke poin utama.
"Memangnya Mama boleh ke luar negeri sendiri?”
“Terserah! Aku bahkan tidak melarang.”
“Atau, jangan-jangan, ada sesuatu yang kamu sembunyikan dan menyuruh Mama pergi?”
“Kenapa kamu berpikir seperti itu? Apa selama ini aku sering berbohong sepertimu?”
Rani terdiam dengan tersenyum tipis. Rasa malunya cukup memberikan bukti bahwa memang ia lebih sering berbohong pada suaminya.
Setelah itu, Rani mengalihkan percakapan dan membuat sang suami berdecak, lalu berjalan ke luar dari kamar itu.
“Kenapa selalu saja tahu kalau aku berbohong?” gumam Rani.
Di ruang kerja, Ari sedang menghubungi kepala cleaning service untuk sekadar bertanya mengenai kinerja Arya selama berada di bagian kebersihan. Ada banyak cerita dan kisah yang didengar selama putranya berada di sana.
“Putramu itu sebenarnya hanya malas saja. Pada dasarnya, ia bisa bekerja lebih baik dari karyawan lainnya. Semakin hari, pekerjaannya lebih bagus. Hanya saja, ia sangat jahil."
"Sering kali ada karyawan yang mengadu bahwa Arya sedang menjebak karyawan lain, tetapi jika menurut sudut pandangku, ia hanya bosan dan menghilangkan semua dengan melakukan perbuatan itu.”
“Terima kasih. Maafkan aku sudah merepotkanmu."
“Kamu ini bicara apa? Aku tidak merasa direpotkan. Aku dengan senang hati menerima Arya di sana. Meski ada banyak karyawan yang tidak ingin menjadi timnya, tetapi hanya ada satu wanita yang mau.”
“Benarkah? Siapa dia?”
“Karyawan yang sudah bekerja selama empat atau lima tahun di sini. Namanya Rani. Seorang wanita dari keluarga biasa dan memiliki keluarga di kampung. Aku lihat hanya Rani yang bisa bertahan bekerja sama dengan Arya.”
“Apa mereka memiliki hubungan khusus?” Ari kini menautkan alis saat merasa curiga. Hingga jawaban dari seberang telpon itu membuatnya merasa sangat lega dan tidak khawatir.
“Tidak ada. Itu saja yang aku lihat.”
“Baiklah. Terima kasih atas informasinya," ucap Ari yang kini langsung mematikan sambungan telepon dan ia mendadak mendapatkan sebuah ide di kepalanya begitu mendengar cerita dari pria di seberang telpon tersebut.
__ADS_1
To be continued...