Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
157. Penderitaan


__ADS_3

Putri merasa merindukan Putra–anak bungsunya bersama Bagus. Dua minggu sudah ia tidak bertemu dengan anak balita yang pandai itu.


Sembari melakukan pekerjaannya di rumah seorang janda kaya, ia melihat ada dua anak remaja yang sedang mengerjakan tugas sekolah. Seketika Putri juga mengingat anak sulungnya yang kini tinggal bersama sang kakak.


Satu persatu pekerjaan dilakukannya hingga selesai. Dimulai dari memasak, membersihkan dapur dan kamar mandi. Bahkan hampir seluruh pekerjaan asisten rumah dilakukan.


Itu karena asisten rumah di sana sedang mengambil cuti, sehingga tidak ada yang menggantikannya untuk melakukan semua pekerjaan itu.


Ia bekerja dua kali lebih berat dari sebelumnya, tentu berharap bisa mendapatkan lebih banyak uang dari sebelumnya.


Kali ini, Putri tidak akan memberitahu Arya berapa yang akan didapatkannya. Ia tidak ingin Arya kembali bersikap seenaknya.


“Putri, jam dua belas kamu istirahat, ya. Ada makanan di meja yang di sana, itu bisa kamu makan.”


“Terima kasih, Nyonya.”


“Untung saja kamu bisa datang. Aku pusing kalau harus mengerjakan semua sendiri. Kamu bisa datang satu hari setelah mengerjakan pekerjaan di rumah nyonya Maria.”


Putri kini tersenyum simpul karena merasa sangat senang saat majikannya puas dengan hasil kerjanya. “Baik, Nyonya. Saya akan datang kemari lagi.”


“Pekerjaanmu bagus, aku menyukainya. Setelah ini, untuk semua pakaian anak-anak bisa kamu letakkan di keranjang itu. Mereka akan membereskan semua sendiri.”


Putri mengerti dan kembali melanjutkan kegiatannya. Hingga jam istirahat tiba, ia cukup senang bisa memberikan nutrisi untuk bayi yang ada di perutnya.


Waktu untuk istirahat pun hanya satu jam, setelah itu, kembali bekerja. Pada masa kehamilannya saat ini, rasa sakit di punggung juga dirasakannya.


Hal itu terkadang membuat Putri tidak bisa berlama-lama duduk jika sedang melakukan pekerjaan seperti menyetrika, dan mencuci secara manual.


“Kamu harus bisa bekerja sama dengan baik ya, Sayang. Ibumu ini sedang berusaha untuk bisa melahirkanmu tanpa adanya kekurangan.”


Semangat Putri adalah bayi yang ada di perutnya, sehingga lebih bersemangat untuk bekerja.


Sampai jam kerjanya berakhir, ia bersiap untuk kembali ke rumah, tapi sebelumnya ingin membeli beberapa bahan makanan untuk dimasak di rumah.


Seperti biasa, Putri tidak menemukan Arya di rumah. Pria itu selalu saja pergi tanpa mengatakan apapun padanya. Sampai akhirnya, merasa kesal lagi dan lagi.


“Sabar, ini demi hidup yang lebih baik. Untuk saat ini memang harus seperti ini. Mungkin kedepannya aku yakin, orang tua Arya pasti akan menyayangi cucunya."


"Kemudian memberikan kesempatan pada kami. Aku yakin pasti bisa kembali menikmati apa yang seharusnya kami dapatkan.”


Tepat pukul tujuh malam, Arya baru saja sampai di rumah. Makanan pun sudah tersedia di atas meja makan. Tanpa rasa bersalah duduk dan meraih piring untuk memakan semua yang ada di sana.


“Kamu dari mana, Arya?” tanya Putri mengintimidasi.

__ADS_1


“Wah! Ini enak sekali. Seperti ini jauh lebih baik jika setiap hari masak yang enak. Aku jadi betah kalau di rumah.”


“Arya! Kamu dari mana?” tanya Putri dengan sangat kesal karena tidak pernah dijawab oleh sang suami jika bertanya.


“Oh ... ke rumah teman. Nih, aku dikasih pinjaman buat kamu periksa kandungan.”


“Seharusnya sore ini aku ke dokter, tapi kamu baru pulang.”


“Ya sudah, besok pagi saja! Sekarang aku capek, mau makan, lalu tidur. Oh ya, itu uangnya kembalikan lagi minggu depan.”


Putri mendelik tidak percaya dengan ucapan suaminya. Mengembalikan uang adalah tanggung jawab Arya karena meminjam, tetapi ternyata pria itu menguji kesabarannya sekali lagi.


Dalam benak Putri berkata, semua akan indah pada saat orang tua Arya kembali memanggil mereka untuk menempati rumah mewahnya.


Dengan lemas, Putri berjalan menuju kamar, tidak berselera lagi untuk makan bersama suaminya.


Beberapa menit kemudian, Arya menghampiri Putri. “Kamu sudah tidur?”


“Ada apa lagi? Aku capek seharian bekerja.”


“Hei, aku juga berusaha untuk mencari uang. Sekarang aku sudah mendapatkannya, tapi kamu masih saja bersikap seperti ini.” Arya merasa sangat kesal karena sama sekali tidak dihargai meskipun sudah berusaha untuk mendapatkan uang.


“Itu beda! Kamu pinjam uang, sedangkan aku berusaha mendapatkannya dengan bekerja.


“Oh, kamu mengancam? Bukankah sudah aku katakan, papa dan mama pasti akan segera memanggilku untuk kembali. Jadi, kamu harus bersabar untuk itu. Sekarang kamu yang bersusah payah dengan pekerjaan, tetapi nanti? Kamu yang akan menikmati semuanya jika aku kembali ke sana!”


Arya masih berusaha untuk menyadarkan Putri jika sebentar lagi orang tuanya pasti akan menyuruhnya kembali karena merupakan satu-satunya keturunan.


Putri kini kembali memikirkan hal-hal yang memang membuatnya bertahan. Seperti tinggal di rumah mewah milik orang tua Arya dan menjadi istri seorang kaya raya.


“Aku capek. Aku mau tidur.”


“Tidurlah, bukankah besok kamu juga bekerja lagi," sahut Arya yang tidak ingin kembali bertengkar malam-malam.


“Ya, sekarang biarkan aku tidur. Terserah kamu mau ke mana atau mau melakukan apa. Aku lelah.” Hanya itu yang bisa Putri katakan. Kepalanya terasa berdenyut memikirkan suaminya yang hanya bisa membuat masalah selama dua minggu ini.


***


Keesokan harinya, Putri terbangun awal seperti biasa. Kali ini ia mengenakan pakaian yang sedikit rapi untuk pergi ke rumah sakit. Uang yang Arya berikan digunakan untuk memeriksakan kandungannya.


Sementara itu, Arya masih terlelap. Sudah beberapa kali ia membangunkannya, tetapi pria itu masih saja setia dengan menutup mata.


“Arya, sudah siang. Aku bisa terlambat bekerja! Kita harus ke rumah sakit dulu!”

__ADS_1


“Hmm, iya!” Akhirnya, Arya pun bangun dan membersihkan diri di kamar mandi. Setelah itu, sudah siap dengan pakaian rapi untuk pergi dengan istrinya.


Sebuah taksi sudah menunggu mereka di depan rumah. Putri memang memesannya sejak beberapa menit lalu.


“Pak, rumah sakit yang ada di dekat sini.”


“Baik.”


Mobil itu melaju dan mereka menuju ke rumah sakit terdekat.


Setengah jam kemudian, di ruangan dokter, Putri terbaring di atas brankar untuk diperiksa perutnya dengan alat USG. Arya hanya melihat dari samping, dan menatap tanpa berkedip pada layar yang menampilkan rekaman posisi bayi di perut istrinya.


“Kondisi bayinya sehat, sudah masuk bulan keempat ya.”


“Iya.” Putri menjawab singkat sambil menatap ke arah layar


“Jangan terlalu banyak bekerja yang berat. Usahakan cukup istirahat dan makan. Vitamin juga jangan lupa untuk dikonsumsi.” Dokter kini menjelaskan tentang perkembangan dari janin yang dikandung pasien.


Pesan dari dokter didengarkan dan dijawab dengan baik oleh keduanya. Mereka menerima hasil dari pemeriksaan hari ini dan dokter menyarankan untuk kembali bulan berikutnya.


Setelah selesai, Putri dan Arya keluar dari rumah sakit dan tentu saja karena harus bekerja, langsung menuju ke rumah nyonya Maria.


Sementara itu, Arya memilih kembali ke rumah dan meninggalkan Putri di sana. Pria itu ingin melanjutkan kegiatan tidurnya yang terganggu pagi ini.


“Kau sungguh keterlaluan, Arya!” umpat Putri dengan wajah masam saat melihat perbuatan sang suami.


Putri memulai pekerjaan hari ini, dan seperti sebelumnya. Ia hanya mencuci, menjemur, dan menyetrika pakaian. Nyonya Maria juga tidak melarang Putri jika ingin mendapatkan tambahan dengan menyapu dan mengepel sebelum pulang.


“Hari ini saya periksa kehamilan. Maaf terlambat datang, Nyonya.”


“Tidak apa-apa. Apa keadaan bayimu sehat? Kamu tahu, kamu bekerja sangat keras. Apa suamimu tahu hal ini?”


“Nyonya, saya membutuhkan uang untuk proses persalinan. Saat tubuh dan kandungan saya masih bisa bekerja sama, akan melakukan pekerjaan ini.”


“Aku suka dengan semangatmu. Baiklah, kamu bisa kembali kemari selama dua hari sekali. Nyonya Brenda juga sudah mengatakan padaku, ia suka pekerjaanmu. Jadi, kamu bisa kembali ke sana.”


“Terima kasih, Nyonya. Saya akan bekerja dengan giat." Putri merasa senang dengan pujian atas pekerjaannya karena ini adalah pertama kalinya bekerja.


Selama ini selalu dimanjakan dengan uang dari Bagus, tetapi kehidupannya benar-benar berbanding terbalik dan seolah penderitaan dirasakan begitu menikah dengan Arya yang sampai sekarang bahkan tidak berinisiatif untuk mencari uang.


Hingga ia harus bekerja dalam kondisi hamil yang seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2