
Arya dikejutkan oleh kedatangan Calista yang sudah lebih dulu berada di sana.
Saat ini, Calista terlihat sedang duduk di kursi yang ada di samping ranjang tidur wanita paruh baya sembari memakan buah yang baru saja dikupasnya.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Arya dengan mengerutkan kening sembari menatap Calista.
“Tentu saja menjenguk istri bosku lah! Memangnya apa lagi? Masa bertemu klien.” Calista mendelik malas.
Ia kemudian kembali memasukkan jeruk yang sudah dikupas ke dalam mulut dan mengunyahnya.
Arya kemudian menghampiri sang ibu dan menyapa wanita yang sangat disayanginya. “Bagaimana keadaan Mama sekarang? Maaf, aku baru bisa datang sekarang.”
“Keadaan Mama sudah jauh lebih baik. Mama pikir, kamu tidak akan datang.” Rani menggenggam tangan putranya.
Arya bisa melihat jika wanita paruh baya tersebut benar-benar merasa resah.
“Mana mungkin aku tidak datang, Ma. Mulai sekarang, aku akan selalu ada di samping Mama,” ucap Arya meyakinkan sang ibu. Ia membalas genggaman wanita yang telah melahirkannya tersebut.
“Benarkah?” Rani menatap putranya dengan tidak percaya.
Ia kemudian tersenyum senang dan memeluk putranya saat mendapatkan anggukan. Untuk beberapa saat, ibu dan anak itu saling berpelukan melepas rindu.
Satu minggu lebih hanya bisa menyaksikan sang ibu terbaring lemah di dalam ruang ICU tanpa bisa saling bicara dan berkomunasi dua arah, lebih menyakitkan dibandingkan dengan terpisah antara dua kota yang berbeda.
Arya sangat bersyukur saat sang ibu sudah sadar dari koma dan bisa berkomunikasi seperti biasanya lagi.
“Kamu ke sini tidak membawa apa-apa, Arya?” Calista tiba-tiba bertanya asal untuk menguraikan suasana penuh keharuan antara ibu dan anak tersebut.
Hal itu membuat Arya yang sudah melepaskan pelukan sang ibu, menatap wanita yang terlihat sedang mengupas kulit apel di tangan.
“Apa maksudmu?” Arya mengerutkan kening mendengar pertanyaan Calista seperti pada orang lain yang menjenguk pasien.
“Ya, Tante Rani kan baru siuman. Kamu tidak membawakan bunga untuk mamamu?” Calista menatap sebentar ke arah Arya yang terlihat mengerutkan kening.
__ADS_1
“Kedatanganku sudah cukup membuat Mama bahagia lebih dari sekadar mendapatkan bunga atau buah dari seseorang.” Arya melirik buket bunga dan buah yang ada di meja ruangan tersebut.
“Bilang saja kamu pelit. Padahal baru dapat proyek besar. Bahkan berhasil menjual satu unit apartemen mewah andalan perusahaan kita.” Calista memberitahu dengan antusias.
“Oh, ya?” Rani yang sebelumnya menatap Calista, kini beralih menatap putranya. “Apakah benar, Sayang?” tanya Rani dan mendapat anggukan dari putranya.
Arya kemudian berjalan menuju seberang ranjang sang ibu, di mana Calista sedang mengupas buah apel.
Kemudian Arya mengambil buah apel di piring yang sudah dikupas dan dipotong oleh Calista.
“Mau di bawa ke mana? Itu kan aku sengaja mengupas untuk tante Rani.” Calista melayangkan protes.
“Mamaku tidak terlalu suka apel karena ingin mangga. Kamu kupaskan saja mangga itu.” Arya menunjuk buah mangga berwarna kuning yang ada diantara buah-buahan lain yang Calista bawa. “Biar kamu berguna sudah datang ke sini.”
Calista mencebikkan bibirnya, tetapi tak urung ia mengambil juga buah mangga dan mengupaskannya untuk wanita yang dianggap sebagai calon mertuanya.
Namun, ternyata bukan haya Rani yang makan, Arya juga ikut memakan buah tersebut. Bahkan bisa dikatakan Rani hanya memakan beberapa saja dari potongan yang sudah di potong-potong kecil oleh Calista.
“Itu, malah kamu yang banyak makan buahnya. Bukan tante Rani,” protes Calista sembali mendelik malas pada Arya. Ia kemudian merapikan sampah kulit buah tersebut dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.
“Tidak. Anggap saja sebagai latihan untuk melayanimu saat nanti sudah menjadi istri,” celetuk Calista dan berhasil membuat Arya tersedak oleh mangga yang hendak ia telan.
“Pelan-pelan, Sayang.” Rani menempuk pelan pundak putranya.
“Astaga! Memangnya kamu tidak merasa malu? Bicara seperti itu di depan Mamaku?”
“Kenapa harus malu? Aku sudah mendapat restu.” Calista mengadu dengan bangga. “Iya, ‘kan, Tante?” Calista mencari sekutu untuk membela dirinya. Ia kemudian tersenyum bangga di depan pria incarannya.
“Sepertinya kamu sudah mulai gila!” imbuh Arya sembari menggelengkan kepalanya.
“Ya, kan kamu pelakunya yang sudah membuat aku gila. Jadi, kamu harus bertanggung jawab,” tukas Calista tidak mau kalah. “Ayo kita menikah,” sambungnya sambil tersenyum, menampakkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
“What? Di mana-mana yang melamar itu laki-laki, bukan perempuan, Calista.” Arya semakin geram dengan Calista. “Kenapa kamu jadi segila ini?”
__ADS_1
“Untuk apa aku harus jaga image di depanmu. Aku bersikap apa adanya saja. Biar nanti kalau kita sudah menikah, kamu tidak kaget lagi dengan aku yang seperti ini,” celetuk Calista dan berhasil membuat Arya semakin melebarkan matanya.
Ucapan Calista memang terdengar sperti sebuah candaan, tetapi Arya tahu jika wanita itu sebenarnya serius dengan setiap ucapan yang dilontarkan. Ia bukan pria bodoh yang tidak tahu jika Calista menaruh hati padanya.
Maka dari itu, Ia selalu menegaskan pada Calista bagaimana ia sangat mencintai sang istri. Arya pikir, Calista akan menyerah, tetapi ternyata wanita itu masih saja berusaha untuk mendapatkan hatinya.
Ada hal lain yang membuat Arya tetap mau berteman dengan Calista meskipun ia tahu perasaan wanita itu terhadapnya, yaitu sifat wanita itu yang apa adanya dan selalu menghargai keputusannya.
Calista tidak pernah memaksakan kehendak untuk membuatnya selalu bersama wanita itu. Ia menghargai keputusan dan penolakan Arya tanpa merasa marah ataupun kesal.
Calista selalu bersikap wajar dan bisa menjaga jarak dengan Arya, menyadari status mereka hanyalah sebagai teman.
Penegasan Arya akan status yang sudah mempunyai istri dan sangat mencintai istrinya, tidak membuat Calista berhenti untuk mengejar cinta Arya.
Ia benar-benar ingin melihat Arya sukses dan selalu ada untuknya sebagai teman yang baik.
Sementara itu, Rani kini yang menyadari perdebatan kedua anak muda di depannya itu hanya bisa mengulum senyum. Ia bahagia melihat kedekatan keduanya.
“Sepertinya akan seru dan bahagia kalau kalian benar-benar menjadi suami istri,” celetuk Rani dan membuat kedua orang di depannya seketika menatap dirinya. “Pasti rumah kita tidak akan sepi kalau Calista ada di sana.”
“Mama! Ucapan Mama akan semakin membuatnya besar kepala,” sanggah Arya dengan wajah kesal.
“Bilang saja kamu iri karena tidak mempunyai sekutu di sini,” Calista mengerucutkan bibirnya.
Melihat itu, membuat Arya makin mendengkus malas.
"Tante, Calista pamit dulu karena harus ke salon, agar makin tampil cantik nanti malam.”
“Memangnya kamu mau ke mana?” tanya Rani dengan raut wajah penasaran.
“Ke acara pesta ulang tahun teman. Aku harus tampil cantik, agar pangeranku jatuh cinta,” jawab Calista dengan menampilkan wajah menggemaskan.
Ia kemudian beralih menatap pria di seberang ranjang. “Arya, jangan lupa nanti malam, ya!"
__ADS_1
To be continued...