Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
288. Pergi ke Club malam


__ADS_3

Saat ini, mereka sedang duduk dalam satu meja bundar. Pembawa acara terlihat sudah mulai membuka acara tersebut.


Sementara itu, Calista hanya mengerucutkan bibirnya yang seksi itu.


"Ngomong-ngomong, kalian kenal di mana?" Kali ini Rosa ikut menimpali ucapan kedua temannya.


"Orang tua kami memang saling kenal dari semenjak sekolah. Jadi, bisa dikatakan kami sudah dijodohkan dari semenjak dalam kandungan," tukas Calista yang menjawab rasa penasaran teman-temannya.


Arya seketika menoleh ke arah Calista dan nyaris saja tersedak ludahnya sendiri saat mendengar ucapan wanita itu.


"Bukankah begitu, Sayang?" Calista menggenggam tangan Arya di atas meja.


Seolah wanita itu tengah menunjukkan senyumannya yang paling manis padanya sambil mengerjapkan mata beberapa kali.


"Iya, Sayang."


Tanpa Calista duga, Arya meraih tangannya dan memberikan kecupan lembut di sana.


Darah Calista bedesir mendapat perlakuan seperti itu dari Arya.


"Di mana pasangan kalian?" tanya Calista, mengalihkan kegugupan dan rasa terkejutnya.


"Mereka sedang bertemu dengan teman-teman. Nanti juga akan ikut bergabung dengan kita," jawab Cinta dan mendapat anggukan dari Calista.


Benar saja, tidak lama kemudian, tiga orang pria yang memiliki wajah biasa saja di mata Calista, menghampiri meja mereka dan ikut bergabung di sana.


"Calista sudah datang membawa pasangan?


"Apakah akan terjadi hujan angin ribut hari ini?" goda Aldo yang merupakan kekasih Melisa.


"Iya. Memangnya kalian saja yang bisa pamer kemesraan? sanggah Calista sembari mendelik bangga.


Calista juga mengenalkan Arya pada ketiga kekasih temannya tersebut.


Calista memang dekat juga dengan ketiga kekasih temannya. Mereka terkadang suka kumpul bersama dan tentu saja Calista yang selalu menjadi bahan ledekan mereka karena hanya wanita itu yang tidak pernah datang dengan kekasih.


Sementara itu, Karin ditemani oleh kekasihnya saat berada pada meja khusus di depan sana.


Acara berjalan sesuai dengan susunan acara yang sudah di atur. Hingga tiba saat di mana Karin akan meniup kue ulang tahun dan memanjatkan segala harapan.


Sebuah lagu selamat ulang tahun dari salah satu band ternama di negara itu menjadi musik pengiring saat pembawa acara memanggil Karin— memberikan sedikit kata sambutan untuk para tamu undangan yang hadir.


Pesta malam itu hanya di khususkan untuk teman-teman Karin saja karena tidak ada keluarga atau sanak saudaranya yang hadir di sana.


Khusus untuk keluarga, Karin sudah menyiapkan acara sendiri.


“Selamat malam. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada semua yang sudah berkenan hadir di acara yang sederhana ini."


Bersama dengan acara yang istimewa ini, mempunyai pengumuman penting yang akan saya sampaikan khusus di acara ini.”

__ADS_1


Karin menjeda sebentar kalimatnya. Ia kemudian menyapu pandangan pada mereka yang hadir di acara itu.


Wajah wanita itu terlihat sangat gugup. Beruntung Bintang, sang kekasih yang berdiri di sampingnya menggenggam jemari dan memberikan keyakinan pada wanita itu untuk melanjutkan kalimat.


“Di hari yang spesial ini, telah mendapatkan kado yang sangat istimewa dari seorang pria istimewa di samping saya."


"Tepat satu minggu sebelum acara ini, ia telah datang menemui kedua orang tua untuk menyampaikan niat baiknya yang ingin membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius lagi."


"Bintang melamar saya dan kedua orang tua kami sudah saling bertemu untuk membicarakan tanggal pernikahan."


"Saya meminta doa teman-teman semua yang ada di sini, agar kami bisa benar-benar melaksanakan niat dengan lancar, sampai hari itu tiba.”


Semua yang hadir di sana bertepuk tangan dan ikut merasakan kebahagiaan pasangan kekasih tersebut.


“Gila si Karin! Sepertinya ia ingin cepat menikah,” celetuk Calista. “Bahkan tidak bertunangan."


“Kelamaan kalau harus tunangan dulu. Biasanya banyak godaannya,” tukas Cinta.


“Kalian sudah tahu?” tanya Calista menatap keenam orang yang ada di sana secara bergantian dan mendapat gelengan serentak dari mereka.


Acara pun berlanjut dengan meniup lilin dan memberikan potongan kue pertama pada orang spesial.


Karin memberikan potongan pertama untuk kekasihnya, lalu ia memberikan potongan kedua untuk Calista.


Sontak pembawa acara bertanya, alasan wanita itu memberikan potongan kedua pada Calista dibandingkan pada teman yang lain.


“Malam ini juga menjadi hari yang istimewa untuk saya karena untuk pertama kalinya Calista datang bersama dengan kekasihnya."


Pembawa acara memanggil Calista bersama sang kekasih untuk maju ke depan dan menerima potongan kue kedua dari Karin untuknya.


Calista merutuk dalam hati. Kenapa Karin harus memberikan potongan kedua kue ulang tahun itu untuknya?


Lagi-lagi tanpa Calista duga, Arya sudah berdiri di sampingnya dan mengulurkan tangan padanya.


Calista dengan senang hati menyambut uluran tangan Arya dan mereka melangkah bersama menuju tempat di mana Karin dan kekasihnya berdiri di depan meja bundar kecil, dengan kue ulang tahun mewah di atasnya.


Semua mata tertuju pada Calista dan Arya. Mereka menatap dengan penuh kekaguman dan juga penasaran.


Siapa sebenarnya pria yang menjadi kekasih Calista?


Calista cukup terkenal di kalangan teman-temannya. Selain cantik dan cerdas, wanita itu juga pemilih dan sangat selektif jika menyangkut soal pasangan.


Ia tidak akan ragu menolak secara langsung jika memang tidak tertarik dengan pria yang mendekatinya.


Calista menerima kue yang diberikan oleh Karin dan mereka saling memberikan suapan kecil satu sama lain.


Pembawa acara juga meminta agar Calista memperkenalkan pria yang berdiri di sampingnya pada semua yang hadir di sana.


Tentu saja Calista sangat senang karena baginya, ini adalah kesempatan besar untuk menunjukkan pada semua orang yang hadir.

__ADS_1


Bahwa siapa sebenarnya pria yang menemaninya malam ini. Dengan begitu, publik hanya akan tahu jika pasangan Arya adalah dirinya.


Bukan Putri atau wanita lain. Namun, Calista masih menghargai Arya.


Bagaimana pun, hanya mereka yang mengetahui kebenaran di antara mereka berdua.


Calista menatap Arya, seolah-olah meminta persetujuan pria itu. Kedua sudut bibir Calista mengembang, menerbitkan senyum manis yang yang terukir indah di sana saat mendapat anggukan dari Arya. Menurutnya itu adalah kesempatan emas.


“Baiklah, saya akan memperkenalkan siapa pria yang berdiri di samping ini. Perdana hanya di pesta ulang tahu Karin,” ucap Calista yang menadapat tepuk tangan dari mereka yang hadir. “Ia adalah Arya Mahesa— kekasih saya."


Calista menatap sang kekasih dengan binar kebahagiaan dan Arya pun membalas tersenyum pada wanita itu.


Untuk beberapa saat, tatapan mereka saling bertemu dan Arya merangkul pundak Calista yang semakin mengikis jarak di antara mereka.


Semua yang ada di sana terlihat saling menatap dan berbisik. Mahesa yang ada di belakang nama Arya, tentu saja bukan sebuah hal yang asing di telinga mereka.


Bukan hanya tamu undangan lain yang terkejut. Karin dan ketiga teman Calista yang lain pun sama terkejutnya.


“Arya Mahesa? Apakah Anda adalah putra tunggal tuan Ari Mahesa?”


Pembawa acara bertanya dan ingin memastikan jika mereka memang tidak salah mendengar nama belakang Arya.


“Ya, benar.” Arya menjawab dengan tegas.


Siapa yang tidak kenal dengan Ari Mahesa? Salah satu pengusaha property ternama di negaranya. Namanya ada di deretan orang terkaya di negeri ini. Kekayaan pria tersebut juga sudah tidak bisa diragukan lagi.


Publik memang tahu jika Ari Mahesa memiliki satu putra tunggal yang tentu saja akan mejadi penerus dan pemimpin perusahaan kelurga.


Namun, publik tidak pernah tahu sosok putra Ari Mahesa tersebut karena pria itu seperti sengaja menyembunyikan dari publik.


Jika sudah waktunya nanti, pasti akan mengenalkan putra saya pada kalian.


Itulah jawaban Ari Mahesa setiap kali awak media menanyakan perihal putra tunggalnya yang akan menjadi penerusnya kelak.


Acara terus berlanjut hingga larut. Arya memang tidak keberatan sama sekali dengan apa yang dikatakan Calista di sana karena wanita itu juga terlebih dahulu meminta persetujuan darinya.


Namun, rasa bersalah pada Putri tetap saja masih ada dan mengusik hatinya. Seharusnya tidak perlu seperti itu, bukan? Toh, Putri juga melakukan hal yang lebih parah dari itu.


Selesai acara pesta, Arya meminta Calista untuk menemaninya ke club malam.


“Sebentar saja. Temanmu tidak menyediakan minuman di pesta itu dan aku sedang ingin minum malam ini,” pinta Arya.


“Aku takut nanti kamu akan mabuk, Arya.” Calista berusaha untuk mencegah.


“Tidak sampai mabuk, Calisya. Hanya sedikit saja, untuk menghilangkan pusing."


"Kalau kamu tidak mau, biar aku sendiri saja ke sana.” Arya mulai melangkah menuju mobilnya.


“Tunggu! Ya sudah, aku ikut.” Calista memutuskan.

__ADS_1


Ia tidak mungkin membiarkan Arya pergi ke club malam sendirian. Bagaimana jika pria itu lupa diri dan terlalu banyak minum dan mabuk?


To be continued...


__ADS_2