Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
241. Ucapan terima kasih


__ADS_3

Satu jam kemudian, Arya tiba di rumah pukul sepuluh malam. Ia cukup terkejut saat pintu utama rumah tiba-tiba terbuka dan Putri sudah berdiri di ambang pintu.


"Sayang, kamu belum tidur?" Arya menyambut uluran tangan sang istri.


Kemudian mengecup kening Putri setelah wanita itu melakukan hal yang sama pada punggung tangannya.


"Tadi aku sudah tidur, tapi tiba-tiba terbangun dan mengingat jika kamu belum pulang."


"Sebenarnya aku tadi dari kamar mandi. Kemudian mendengar ada suara mobil berhenti di depan rumah, lalu mengintip lewat jendela dan ternyata itu kamu. Akhirnya sekalian saja membuka pintu," jawab Putri yang menjelaskan perihal apa yang terjadi.


Kekhawatiran Arya seketika luntur begitu mendengar penjelasan sang istri. Ia tadi sempat khawatir jika ada pencuri masuk rumah kontrakan dan menyakiti keluarga kecilnya.


"Kamu masuk kamar duluan saja karena aku mau mandi dulu," ujar Arya yang menggandeng tangan istrinya menuju kamar.


"Biar aku siapkan air hangat dulu, Sayang?"


"Tidak perlu. Aku mandi air dingin karena rasanya gerah. Kamu tunggu di kamar saja, oke."


Akhirnya tidak ada bantahan lagi dari Putri. Ia mengangguk dan mengikuti perintah Arya dan menunggu suaminya di dalam kamar.


Beberapa menit kemudian, Arya sudah selesai dengan ritualnya di kamar mandi. Pria itu masuk ke dalam kamar sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil yang ia bawa.


"Sini aku bantu, Sayang." Putri segera beranjak duduk.


Ia kemudian menegakkan tubuh yang bertumpu pada kedua lututnya agar posisinya lebih tinggi dari sang suami.


"Bagaimana keadaan mama, Sayang?" tanya Putri sembari terus menggosok pelan rambut suaminya.


"Asisten papa tadi mengatakan jika mama sempat menggerakkan satu jarinya saat papaku sedang menunggu di ruang ICU, tetapi itu hanya sesaat. Setelahnya, tidak terlihat gerakan apapun lagi."


Arya mengatakan dengan suara yang terdengar lirih. "Aku juga tadi sempat berbincang banyak dengan papa."


"Kamu yang sabar, Sayang. Aku yakin mama akan cepat sadarkan diri." Putri mencoba memberikan semangat dan kekuatan pada suaminya.


Arya membalikkan tubuhnya untuk menghadap Putri dan membuat wanita itu duduk dengan posisi yang benar. Mereka kini saling berhadapan dan bisa saling menatap dengan jelas.

__ADS_1


"Sayang ...." Arya meraih tangan Putri dan menggenggamnya dengan erat. "Dokter mengatakan, kemungkinan mama bisa mendengar suara. Namun, tidak bisa merespons karena kinerja otak tidak berfungsi akibat pembengkakan atau pendarahan yang terjadi. Artinya, semakin mama mendengar suara, terutama hal-hal yang pernah dialami termasuk musik."


"Itu akan semakin baik bagi mama untuk bisa lebih cepat merespon. Meski begitu, hal itu tidak dapat dipastikan akan berhasil sepenuhnya." Arya menjelaskan sembari menatap lembut sang istri yang sangat dicintai.


"Setidaknya, kemungkinan itu masih ada, 'kan, Sayang? Kamu tidak boleh putus asa dan menyerah dengan keadaan. Aku pernah mendengar, bahkan seseorang yang mengalami koma selama beberapa tahun saja masih bisa sadar kembali."


"Jadi, kemungkinan untuk mama kembali sadar masih cukup besar." Putri balas menggenggan tangan suaminya.


Ia mengusap lembut pipi yang memiliki paras tampan nan rupanya tersebut, memberikan semangat lewat senyum lembut yang seolah meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.


Arya membawa tangan Putri ke dekat bibir dan memberikan kecupan lembut di sana.


"Sayang ...." Kembali Arya menatap lembut Putri, tetapi tidak melanjutkan kalimatnya.


"Apa yang ingin kamu katakan, Sayang? Apa yang membuatmu ragu untuk mengatakannya?" tanya Putri dengan membalas tatapan suaminya.


Ia melihat ada keraguan yang terpancar dari manik mata milik pria yang dicintai tersebut. Bahkan ia merasa ada keresahan di sana.


"Papa memintaku untuk sering menemani mama diwaktu jam besuk pasien. Mengajak mama berbincang hal apapun yang bisa membuatnya mengingat hal-hal yang bisa mungkin memberikan respons." Meskipun ragu, pada akhirnya Arya mengatakan juga apa yang ingin ia katakan pada sang istri.


"Jika aku menemani Mama, itu artinya setelah pulang kerja, aku harus ke rumah sakit," sambung Arya masih menatap lekat wajah sang istri.


"Sayang, jika kamu tidak mengizinkan, aku akan memberikan alasan lain pada papa,' ujar Arya dengan penuh keraguan.


Pria itu benar-benar takut jika ia akan menyakiti hati istrinya dan membuat wanita itu sedih.


Putri terkekeh geli melihat wajah panik suaminya. "Sayang, bagaimana mungkin aku melarangmu untuk melakukan hal yang bisa mempercepat mama untuk sadar dan sembuh kembali?"


"Bukankah aku pernah mengatakan padamu, tidak akan melarang menemui kedua orang tua selagi ingat untuk pulang ke rumah ini." Putri kembali mengingatkan suaminya.


"Terima kasih, Sayang. Aku benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu. Meskipun papa dan mama tidak menyukaimu, tapi kamu tidak pernah membenci mereka." Arya menarik pelan tubuh Putri, menekan lembut kepala wanita itu agar menempel di dada bidangnya.


Kemudian menenggelamkan wajahnya dalam kelembutan rambut dan aroma menenangkan dari wanita yang ia cintai.


Putri tersenyum getir mendengar ucapan suaminya. Bukan salah Putri jika pertikaian di antara ia dan mertuanya tidak pernah menemukan titik terang.

__ADS_1


Sekali lagi, seandainya kedua orang tua Arya mau mengakui dan menerima ia sebagai menantu mereka, Putri juga tidak akan ikut larut dalam perseteruan yang tidak pernah ia inginkan sama sekali.


Putri tidak ingin menjadi wanita lemah yang hanya diam saja dan pasrah saat mereka merendahkan dirinya.


Ia bukan istri lemah lembut yang penuh drama, tetapi Putri punya cara sendiri untuk bertahan ditengah berdera perang yang mertuanya kibarkan. Jika ditantang, ia akan menerima semua itu tanpa merasa takut.


Putri memang kesal, marah dan sakit hati mendengar hinaan dan tuduhan yang dilontarkan oleh mertua saat terakhir kali mereka bertemu.


Akan tetapi, ia juga tidak sejahat itu untuk melarang suaminya bertemu dengan mereka. Putri berharap, setelah kejadian ini, semoga mertuanya benar-benar sadar dan berubah.


Setelah lama menikah dengan Arya dan hidup bahagia di kontrakan, ia menyadari bahwa bukan harta dan tahta yang diinginkan.


Ia hanya ingin restu dan kedamaian dalam rumah tangganya bersama Arya dan hidup berbahagia.


Jujur saja ia merasa sedikit takut jika usaha mertuanya berhasil untuk memisahkannya dengan pria yang merupakan segalanya baginya.


Arya mengurai pelukannya, menarik dagu Putri agar wanita itu mendongak menatapnya.


Bahkan jarinya terulur untuk mengusap bibir sang istri.


Sementara itu, Putri memejamkan mata saat Arya semakin mengikis jarak di antara mereka.


Ia merasakan sebuah benda kenyal dan lembab menyentuh bibirnya. Arya memberikan sesapan lembut di sana. Bukan ciuman panas yang penuh hasrat.


Arya hanya memberikan ciuman penuh cinta dan rasa terima kasih.


"Kita tidur sekarang karena aku sangat lelah," ucap Arya saat ia melepas pertautan bibirnya.


Arya lalu memberikan sebuah kecupan lembut di kening sang istri. "Kamu juga pasti sangat lelah."


Arya membaringkan tubuh Putri di atas ranjang dan menutupi tubuh wanita itu dengan selimut yang membungkus hingga leher setelah melihat jawaban berupa anggukan kepala dari sang istri.


Ia kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri, menyusup ke dalam selimut dan memeluk tubuh wanita yang sangat dicintai tersebut.


"Terima kasih untuk semuanya, Sayang. Terima kasih karena kamu tidak pernah mengeluh saat menjalani hari-hari yang begitu berat dan melelahkan."

__ADS_1


Arya menyusupkan lengan kekarnya di bawah leher sang istri, menjadikan sebagai bantal untuk wanita itu. "Tidurlah. Kamu harus istirahat."


To be continued...


__ADS_2