Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
214. Rahasia yang terbongkar


__ADS_3

Arya sedang menunggu kendaraan umum di tempat biasa. Ia tidak tahu jika ada seseorang yang mengawasinya dari kejauhan. Benar saja, saat bus yang ditunggu datang, orang itu mengikuti laju bus hingga sampai di kontrakan.


Pada pintu depan rumah itu, terlihat Putri menyambut kedatangan suaminya. Satu kecupan mendarat di kening wanita itu dan jemari Arya juga mengusap beberapa kali di perut sang istri yang kini sudah sangat besar.


Kemudian mereka masuk bersama dan membuat si pengintai kecewa dan wajah yang semula berbinar tersebut seketika berubah muram dan terlihat mengepalkan tangan yang berada di atas kemudi.


"Arya tidak pulang ke rumah dan malah ke rumah kecil ini dan disambut oleh seorang wanita dengan perut besar? Apakah wanita itu adalah istrinya?'


“Jika ternyata Arya sudah memiliki istri, tapi kenapa papa mengatakan Arya masih sendiri?” gumam wanita yang tak lain adalah Calista.


Ya, tadi Calista mengikuti Arya hingga sampai di sana. Ia juga menyaksikan sendiri sambutan yang diberikan seorang wanita dengan perut membuncit tersebut pada sosok pria yang membuatnya sangat tertarik, tak lain adalah Arya.


“Siapa wanita itu? Aku harus mencari tahu. Jika memang benar ia adalah istrinya, kenapa ayah Arya memilih untuk mencarikan jodoh untuk putranya? Hingga berakhir aku menjadi jatuh cinta pada pandangan pertama setelah melihat fotonya."


Tidak ingin dibebani banyak pertanyaan di otaknya saat ini, Calista memilih untuk menghubungi seseorang melalui ponselnya. Selang beberapa detik seseorang bersuara di seberang sana.


“Ada apa?”


“Bantu aku untuk mendapatkan data mengenai Arya Mahesa. Apakah ia benar-benar masih sendiri atau sudah menikah?”


“Tunggu sebentar.”


Beberapa menit kemudian, terdengar suara bariton dari seberang telpon.


Calissa yang kini menyeringai itu memiliki pola pikir yang aneh. Meski sudah mengetahui siapa Arya, ia justru tidak peduli dengan status pria tersebut. Calista semakin tertantang untuk mendekati Arya dan mendapatkannya.


Keesokan harinya, tanpa ada yang tahu. Calista datang ke kantor untuk menemui di lantai atas. Wanita itu menceritakan apa yang sudah ia lihat kemarin malam. Sontak hal itu membuat Ari Mahesa merasa tidak enak pada Calista.


“Maafkan Paman, Calista. Sebenarnya aku mencari wanita yang bisa mengambil hati putraku dan berpisah dengan istri sirinya. Ya, mereka menikah secara siri karena wanita itu masih memiliki suami.”


Tentu saja bola mata Calista seketika membulat sempurna begitu mengetahui apa yang baru saja dikatakan oleh pria paruh baya tersebut.


Sebenarnya semalam ia menyuruh temannya yang ahli IT untuk mencari informasi mengenai Arya, tetapi hanya mendapatkan kabar bahwa status pada kartu tanda pengenal pria itu masih single dan belum menikah.


Hal itu membuatnya semakin merasa penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hal itulah yang membuatnya nekat datang ke ruangan pria paruh baya yang merupakan rekan bisnis sekaligus teman baik ayahnya.


“Apa? Jadi, tidak ada yang tahu mengenai hal ini? Aku pun akan berpura-pura tidak tahu. Jadi, Paman tenang saja. Aku tertarik dengan Arya dan sama sekali tidak mempermasalahkan jika dia pernah menikah. Aku berharap bisa menikah secara resmi dan menjadi istri yang dicintai oleh Arya.”


Mendengar ucapan Calista, tentu saja membuat Arya tersenyum senang dan puas. Ternyata ia sangat beruntung memilih wanita itu untuk putranya.

__ADS_1


Ambisi besar yang dimiliki Calista membantu Arya untuk bisa mengambil putranya lagi dari tangan Putri.


"Aku benar-benar sangat beruntung jika bisa menjadikanmu seorang menantu di keluarga kami, Calista. Kamu tenang saja karena aku akan selalu mendukungmu untuk mendapatkan Arya."


"Jangan pernah menyerah dan berusaha bersikap natural agar tidak dicurigai oleh Arya. Dia paling tidak suka dengan wanita yang mengejar-ngejarnya. Jadi, bersikaplah sewajarnya, seolah kamu tidak menyukainya. Tahan perasaanmu di depannya, agar Arya tidak ilfil dan hubungan kalian berjalan seperti air mengalir."


"Aku sangat yakin jika itu terjadi, benih-benih cinta akan tumbuh di hati Arya karena terbiasa bersamamu. Ingatlah, aku akan selalu mendukungmu dan menjadi orang pertama di belakangmu, oke!"


Calista yang saat ini mengulas senyuman manis, sudah menganggukkan kepala tanda setuju dan juga senang karena mendapatkan dukungan penuh dari pria yang akan menjadi mertuanya.


Ia bahkan mengangkat dua ibu jari pada pria yang sudah dianggap seperti ayah kandungnya sendiri tersebut. Kemudian mohon izin pamit untuk kembali bekerja dan merencanakan niatnya mendekati Arya.


Setelah pertemuannya dengan Ari Mahesa, Calista kini sudah kembali ke ruang kerjanya bersama Arya.


Hari ini mereka akan kembali mendatangi beberapa klien guna membicarakan kerja sama dan memasarkan produk ke kota-kota besar yang masih belum terjangkau.


Bahkan, Calista sudah merencanakan akan mengajak Arya ke luar kota agar mereka bisa bersama dalam beberapa hari.


“Apa ini tidak berlebihan? Ke luar kota, sepertinya aku tidak bisa Aku memiliki urusan lainnya,” ujar Arya beralasan.


Calista tersenyum tipis, lalu kembali menjelaskan bahwa akan ada bonus yang didapatkan jika melakukan pemasaran sesuai keinginan atasan mereka.


Ya, wanita yang pandai dalam ilmu perbankan itu kini menggunakan keahliannya dan berhasil mempengaruhi Arya untuk bisa bergabung dengannya.


“Baiklah, kapan?” tanya Arya yang kini mulai setuju dengan usulan Calista.


“Tuan Henry akan memberitahu kita kapan surat tugas itu turun. Aku akan mengajukan proposal ini pada tuan Ari Mahesa melalui manager pemasaran.”


“Baiklah, tapi aku harap tidak dalam waktu dekat, mungkin minggu depan, akan aku pikirkan kembali.”


“Mungkin lusa, jawaban dari tuan Ari Mahesa. Itu menurut hasil penerawanganku.”


“Apa kamu berbakat sebagai cenayang kali ini?”


“Ya, aku memiliki bakat itu. Apa kamu mau lihat hal lain yang sudah aku lihat pada masa depan?”


Mereka tertawa bersama dan suasana menjadi sangat akrab untuk keduanya. Pekerjaan dilakukan dengan tim yang solid. Tidak ada hal yang membuat Arya bisa kesal pada Calista.


Wanita itu selalu bisa mengambil celah dan meluluhkan setiap perkataan Arya.

__ADS_1


Saat hampir jam makan siang, Rani sedang membersihkan ruangan staf pemasaran.


Secara tidak sengaja, ia melihat kedekatan Arya dengan Calista. Rani tampak biasa saja dengan keadaan tersebut, tetapi tetap saja ada yang hilang saat Arya mulai naik jabatan menjadi seorang staf di sana.


“Hei, apa kamu mengenalnya? Sepertinya dia terus saja menatap ke arah kita.” Calista menyadari tatapan mata Rani yang tertuju pada mereka.


Arya melirik dari ekor matanya, lalu menggeleng. Ia mengatakan tidak mengenali siapa pekerja kebersihan itu.


Hanya saja Arya tahu jika pekerja tersebut sudah lama bekerja di sana dan bernama Rani.


“Sepertinya kamu memiliki pengagum rahasia, Arya”


Arya hanya tertawa mendengar pemikiran Calista. Akan tetapi, beberapa saat kemudian pria itu dengan percaya diri mengatakan karena wajahnya yang tampan, sehingga menjadi sorotan para wanita. Seketika kalimat Arya membuat Calista tertawa hingga sakit perut.


Saat jam makan siang, kembali Arya menjadi pusat perhatian di kantin perusahaan. Di sana ada beberapa karyawan yang sudah mengenal semasa bekerja menjadi pekerja kebersihan.


Lalu, saat ini, Arya sudah menjadi staff pemasaran. Seorang karyawan yang biasa mendapatkan bantuan dari Arya datang dan menyapanya.


“Arya, wah sekarang sudah tidak ada yang membantu aku lagi. Kamu sudah tidak bisa lembur seperti sebelumnya, ya?”


Calista hanya menatap bingung pada karyawan yang menyapa Arya. Lalu, tiba-tiba saja Arya menjawab dengan sedikit menyindir tentang pekerjaan karyawan tersebut.


Bahkan, Arya juga mulai memberikan ultimatum akan membocorkan tentang kinerjanya yang kurang dalam perusahaan.


Karyawan itu berwajah masam, ia berjalan menjauh tanpa berkata apapun pada Arya dan merutuki sikapnya.


“Apa kamu mengenal karyawan itu?” tanya Calista ingin tahu.


“Sebelumnya memang aku bersikap baik pada mereka. Hanya saja, sepertinya mereka menjadi tidak tahu diri dengan pekerjaan masing-masing. Aku sering membantu mereka dalam mengerjakan pekerjaan saat lembur. Aku tidak menyangka mereka akan menjadi seperti ini.”


“Pekerja yang tidak berkompeten, sebaiknya disingkirkan dari perusahaan. Apapun alasannya, perusahaan membutuhkan seseorang yang bisa bekerja dalam tekanan, bukan?"


"Jika dalam pekerjaannya saja ia tidak bisa menyelesaikan, apalagi dengan pekerjaan lain yang akan datang?”


“Kamu benar, sudahlah. Lagipula aku sudah membicarakan ini dengan papa. Aku yakin, jika ia tidak merubah pekerjaannya, tidak akan lama lagi akan ada surat pengunduran diri.”


“Aku tahu. Baiklah, sebaiknya kita habiskan makan siang ini terlebih dahulu, lalu kita pergi untuk bertemu dengan klien.”


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2