
“Memangnya Arya juga ikut?” Rani terlihat bingung saat menatap ke arah wanita muda nan cantik yang ingin ia jadikan menantu.
“Iya. Aku pinjam dulu putra Tante untuk jadi pasangan di pesta, ya. Buat jadi kekasih satu malam.” Calista terkekeh geli mendengar ucapannya sediri.
“Jadi kekasih sungguhan juga tidak masalah,” celetuk Rani, membuat pipi Calista memerah.
“Biasanya dari pura-pura akan berlanjut menjadi kenyataan.” Rani ikut terkekeh dengan ucapan Calista.
Calista hanya tersenyum malu-malu tanpa membenarkan perkataan dari wanita paruh baya yang sangat mendukungnya untuk menjadi istri Arya. “Ya sudah, Calista pamit dulu, Tante. Lekas sembuh. Biar kita bisa shopping bersama."
“Terima kasih, Calista. Hati-hati di jalan."
“Iya, Tante.” Calista melambaikan tangan.
Setelah berpamitan, Calista pergi dari sana, meninggalkan ibu dan anak tersebut.
Ditinggal berdua dengan sang ibu, membuat Arya harus menjawab beberapa pertanyaan.
Rani mengatakan jika ia sangat bahagia melihat kedekatan dirinya dan Calista.
Arya belum bisa menceritakan tentang hasil tes DNA itu pada ibunya sekarang. Begitu pun tentang hubungannya yang semakin memburuk.
“Mama jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu, ya. Sekarang kita fokus saja dengan kesehatan Mama agar bisa cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit. Aku janji, setelah Mama sembuh nanti, akan bercerita banyak hal.”
“Tentang apa?” tanya Rani penasaran.
“Mama sembuh dulu kalau mau tahu,” imbuh Arya sembari terkekeh.
Arya harus keluar dari ruangan sang ibu saat ponselnya terus berdering, sedangkan Rani sudah bisa menebak siapa yang menelpon putranya tersebut.
Ingin mengabaikan, tetapi Arya takut akan membuat sang ibu curiga. Akhirnya ia memilih untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Sayang, Xander demam. Apa kamu bisa pulang dulu?" Suara Putri di seberang telepon terdengar panik dan khawatir.
Arya juga bisa mendengar suara tangis Xander di seberang sana.
“Memangnya kamu tidak bisa membawa Xander ke klinik sendiri? Aku lagi sibuk dan tidak bisa pulang sekarang,” jawab Arya dengan mudahnya.
__ADS_1
“Baiklah.”
Arya bisa mendengar nada kecewa dari wanita yang masih menjadi istrinya tersebut. Ia menatap layar ponselnya saat Putri memutuskan panggilan telepon tersebut.
‘Apa aku sudah keterlaluan?’ tanya Arya dalam hati.
Perasaan bersalah tiba-tiba saja menyelimuti hati Arya. Namun, segera ia menggelengkan untuk menepis perasaan aneh tersebut. Jika memang Xander sakit, kenapa Putri tidak meminta bantuan pada ayah biologis anak itu saja?
Lagipula, ia tidak mungkin meninggalkan ibunya lagi. Sudah cukup dulu ia meninggalkan sang ibu karena wanita yang ternyata menipunya. Sekarang, Arya ingin menebus kesalahannya di masa lalu dengan terus menemani sang ibu.
Bukankah Putri juga masih punya Bagus yang masih sah menjadi suaminya?
Akan tetapi, entah kenapa memikirkan Putri bersama dengan pria lain, masih saja selalu membuat hati Arya terasa nyeri dan merasa tidak rela. Rasa sakit hati yang besar, membuat Arya ingin memberikan balasan pada wanita itu.
Arya bisa saja menceraikan Putri dan benar-benar pergi dari kehidupan wanita itu, tetapi sang ayah tidak mengizinkan.
Ari Mahesa tidak ingin Arya menceraikan Putri karena dengan bercerai, tidak akan bisa membalas sakit hatinya pada wanita tersebut.
Sang ayah ingin ia membuat Putri merasa semakin tersiksa dengan pernihahan mereka.
Hingga pada akhirnya, wanita itu akan masuk ke dalam jurang penderitaan yang dia sendiri tidak bisa untuk kembali naik ke permukaan.
Arya kembali ke kamar sang ibu. Ia mengatakan semua baik-baik saja. Ibu dan anak itu kembali berbincang hangat menghabiskan waktu kebersamaan mereka.
***
Sementara itu di sisi lain, Putri langsung mematikan sambungan telponnya saat Arya menolak untuk pulang dan sama sekali tidak memperdulikan keadaan Xander.
Ia bahkan memukul dadanya beberapa kali bersamaan dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
Sesak, nyeri. Itulah yang ia rasakan. Hingga beberapa saat kemudian, Putri segera menyeka air mata yang membasahi pipinya dan bergegas memesan taksi online untuk mengantarnya ke klinik. Ia juga memasukkan beberapa barang yang ia butuhkan.
“Kita pergi berdua saja, ya, Sayang.” Putri memindahkan putranya ke dalam gendongan, meraih tas yang sudah disiapkan sebelumnya.
Suhu tubuh Xander cukup panas dan anak itu terus saja menangis meskipun Putri sudah menggendongnya.
Putri semakin panik dan ikut menangis karena ia hanya sendirian di rumah. Hari ini Xander memang rewel sedari pagi. Putri terus menenangkan putranya sembari menunggu taksi datang.
__ADS_1
Keadaan ruang tengah begitu berantakan, apalagi dapur. Bahkan untuk masak saja tidak sempat lagi. Ia hanya bisa memesan makanan lewat aplikasi. Tadi hanya makan satu kali saja saat siang tadi.
Putri benar-benar bingung dan stres melihat anaknya yang sakit dan rewel.
Rumah yang berantakan dan cucian yang menumpuk belum sempat ia kerjakan. Pakaian dan popok yang sudah kering saja hanya ia tumpuk di dalam keranjang pakaian.
Suara klakson mobil yang berhenti di depan rumah, membuat Putri meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja televisi untuk melihat apakah itu mobil taksi pesanannya atau bukan pada aplikasi di ponselnya.
Setelah memastikan, ia segera meraih tas dan berjalan keluar rumah.
“Tolong tunggu sebentar.” Putri sedikit berteriak pada supir taksi yang menurunkan jendela mobil. Ia segera mengunci pintu rumah dan bergegas menuju taksi yang sudah menunggu.
“Putri, kamu mau ke mana?” panggilan dari seseorang yang sangat ia kenal, membuatnya menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara.
“Bagus?”
Bagus menghampiri Putri dan kembali bertanya pada wanita itu.
Putri akhirnya menjawab jika ia akan ke klinik untuk membawa Xander karena putranya sedang demam.
“Kamu tidak pergi dengan Arya?” tanya Bagus sembari memperhatikan mobil di depannya dan ingin memastikan jika Putri akan pergi dengan Arya.
“Tidak. Arya masih di kantor. Aku harus segera pergi.” Putri segera masuk ke dalam mobil dan meminta sopir taksi itu untuk menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Putri berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa dengan putranya.
“Sepertinya taksi di belakang mengikuti kita,” ujar sopir taksi memberitahu.
Putri segera menoleh ke belakang dan ia cukup terkejut saat melihat Bagus ternyata mengikuti mereka. 'Kenapa Bagus sering mengantarkan orang ke kompleks dekat kontrakanku? Apa ini yang disebut dunia tak selebar daun kelor.'
Ia mengembuskan napas berat. “Jalan saja, Pak. Dia bukan orang jahat, hanya ingin mengantar saya ke klinik saja.”
“Baik, Bu.”
Putri benar-benar tidak tahu apa tujuan mantan suaminya mengikuti mereka. Kenapa pria itu tidak pulang saja karena ia selalu merasa bersalah sekaligus berdosa saat bertemu.
To be continued...
__ADS_1