Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
98. Rasa ingin tahu


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu, setelah Putri terlihat sangat frustasi karena saudaranya tidak mau meminjamkan uang.


Padahal itu adalah satu-satunya harapan terakhir. Namun, saat rasa pusing belum menghilang dari kepalanya, kini melihat ponselnya berbunyi dan melihat bahwa yang menghubungi adalah sang kekasih.


Ia ragu untuk mengangkat telpon karena mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh Arya, yaitu apakah ia sudah mendapatkan uang.


'Apa yang harus kukatakan pada Arya? Tidak mungkin aku mengatakan tidak berhasil mencari pinjaman uang. Jika ia mendengar hal itu, pasti akan langsung kembali pada orang tuanya. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku akan melakukan apapun untuk bisa membuat Arya segera menikah denganku.'


Tidak ingin membuat sosok pria yang sangat dicintai marah dan menunggu terlalu lama, kini Putri langsung mengangkat panggilan dengan menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telpon.


"Halo, Sayang. Bagaimana?"


Putri yang saat ini terdengar menelan salivanya berkali-kali atas pertanyaan yang sudah ia duga. Terpaksa ia berbohong demi bisa membuat pria yang sangat dicintainya itu tidak merasa khawatir.


"Kamu tidak usah khawatir, Arya. Aku sudah mendapatkan pinjaman untuk kita menikah. Lalu, kapan kita akan menikah? Asal kita sudah sah secara agama, bagiku cukup karena memang kenyataannya wanita hamil tidak boleh diceraikan."


"Jadi, aku harus menunggu hingga melahirkan, baru Bagus akan menceraikanku. Bagaimana? Kamu tidak masalah, kan?"


Putri kini masih menunggu keputusan dari Arya dengan harap-harap cemas karena takut jika pria yang sangat dicintai tersebut tidak bersedia menikahinya saat statusnya masih seorang istri dari Bagus.


Sebenarnya ia benar-benar sangat membenci situasi serumit ini, tetapi menyadari bahwa semua itu terjadi juga karena salahnya sendiri. Apalagi ia mengetahui bahwa Bagus sangat mencintainya dan tidak mau menceraikannya, tapi tetap ingin menikah dengan Arya.


Hening selama beberapa saat dan jawaban dari Arya, membuatnya merasa sangat bersalah dan menyesal.


"Wah ... luar biasa! Berarti kamu memiliki dua pria." ucap Arya dari seberang telpon karena sama sekali tidak pernah menyangka jika akan mengalami hal konyol dan gila seperti ini, yaitu menikahi wanita bersuami.


Ia sama sekali tidak berpikir seperti itu. Arya hanya berpikir bahwa Putri bercerai dulu dengan sang suami, lalu baru ia menikahinya. Bahkan ia juga tidak menyangka bahwa hidupnya akan berubah 180 derajat begitu diusir dari rumah karena sekarang tidak punya apa-apa.

__ADS_1


Saat ini, ia bahkan tidak punya uang karena biasanya memakai kartu kredit saat membeli apapun. Namun, sekarang semua kartu kredit telah diminta oleh sang ayah dan membuatnya merasa sangat kesal.


Jadi, ia ingin segera membuktikan bahwa tanpa orang tua, masih bisa menikah. Meskipun sama sekali tidak pernah berpikir jika Putri tidak akan bisa bercerai dalam posisi hamil.


"Aku terpaksa mengambil jalan ini karena tidak ada penyelesaian dari masalah kita. Kamu percaya padaku, kan? Bahwa semenjak aku mengenalmu, tidak pernah berhubungan lagi dengan suamiku. Apalagi setelah kita menikah, aku hanya milikmu. Status istri sah hanyalah di atas kertas saja karena aku hanya akan menyerahkan hidupku padamu."


Tentu saja kalimat Putri berhasil membuat sudut bibir Arya melengkung ke atas di seberang telpon. Ia merasa seperti dirayu oleh wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anaknya tersebut.


Ia memang sangat mencintai Putri dan mempercayai semua yang dikatakannya. Bahkan saat ini, ia merasa sangat bangga karena menjadi satu-satunya pria yang dipuja oleh Putri, meskipun sekarang tidak punya apapun.


"Baiklah, apapun untukmu, Sayang. Aku telah kalah oleh bujuk rayumu," ucap Arya yang kini terkekeh geli.


Sementara itu di seberang telepon, Putri yang saat ini menyunggingkan senyumnya, merasa sangat senang karena akhirnya Arya tidak mempertanyakan tentang tawarannya.


"Maafkan aku karena hanya bisa melakukan ini untukmu, Arya. Kamu tahu aku hanya wanita biasa yang tidak punya kekuasaan. Aku harap kamu mengerti."


Namun, ia berpikir bahwa itu mungkin adalah mobil milik saudara tetangga, sehingga ia kembali melanjutkan pembicaraan bersama dengan Arya.


"Setelah uangnya ditransfer oleh kakakku, aku akan mengabarimu. Aku sengaja menjual motorku yang ada di kampung demi kita bisa menikah. Jadi, jangan melupakan perjuanganku untuk kita bisa menikah."


"Aku akan selalu mengingatnya, Sayang. Kamu tenang saja karena nanti akan menggantinya dengan yang lebih bagus dan mahal setelah papa memaafkan aku. Aku adalah satu-satunya keturunan keluarga Mahesa, pasti orang tuaku akan menyuruhku kembali sebentar lagi. Kita buktikan saja bahwa bisa tetap menikah tanpa sepeserpun uang mereka."


"Iya, kamu benar." Putri yang baru saja menutup mulut, mendengar suara ketukan pintu dan membuatnya mengerutkan kening.


"Siapa yang datang?"


"Siapa, Sayang?" tanya Arya dari seberang telpon.

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Kalau begitu sudah dulu, ya. Aku mau lihat siapa yang datang. Nanti aku kabari lagi, oke. Aku mencintaimu."


"Baiklah, aku menunggu kabarnya. I love you too," sahut Arya yang kini langsung menutup sambungan telepon.


Sementara itu, Putri yang masih mendengar suara ketukan pintu hingga beberapa kali, kini memilih berjalan keluar dari ruangan dapur dan berniat untuk membuka pintu.


Namun, saat berjalan melewati putranya, melihat bocah laki-laki tersebut merengek dan membuatnya mengajak ke depan dengan menggenggam jemari mungil putranya.


Semenjak ia hamil, tidak bisa menggendong putranya karena takut jika terjadi sesuatu pada kandungannya, sehingga memilih untuk selalu menggandeng putranya tersebut dan mengajaknya keluar untuk membuka pintu.


Namun, dari dalam rumah mendengar suara bariton dari Bagus dan membuatnya mengerutkan kening.


"Ia sudah pulang kerja? Kenapa? Lalu, sedang bicara dengan siapa?"


Tidak ingin sibuk bertanya-tanya mengenai hal yang kini tengah menari-nari di otaknya, kini Putri sudah membuka pintu di hadapannya dan melihat siluet seorang wanita yang berpakaian setelan rapi dan seksi berwarna hitam, sehingga semakin membuatnya bertanya-tanya.


Namun, melihat sosok pria yang saat ini seperti mengenal dengan baik wanita yang berdiri memunggunginya, membuatnya mengerti bahwa Bagus tengah membalas dendam padanya dengan membawa wanita ke rumah.


'Jadi ia sedang membalas dendam padaku? Terang-terangan membawa wanita ke rumah tanpa merasa malu seperti bukan seorang Bagus Setiawan. Siapa wanita ini? Apa mobil mewah itu adalah miliknya? Berarti ia adalah orang kaya. Bagaimana mungkin bisa mengenal wanita kaya?'


Putri yang kini tersenyum menyeringai, tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan ejekan.


Bahkan setelah itu, ia mengamati sosok wanita yang terlihat sangat rapi tersebut dan sudah bisa dipastikan merupakan pegawai kantoran.


"Kamu siapa?" Putri mengarahkan jari telunjuknya pada sosok wanita yang kini berbalik badan untuk melihatnya dan masih diam saja, sehingga ia kini bersitatap dengan wanita dengan wajah datar tersebut.


"Apa kamu adalah kekasih Bagus?"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2