
Kata orang, dunia itu dibentuk dari hitam dan putih. Jika ada yang kaya raya, maka ada yang tak memiliki apa pun untuk mampu mengisi rasa lapar mereka.
Jika ada yang berfisik rupawan, akan ada juga mereka yang bahkan enggan berfoto hanya karena menganggap rupa mereka terlalu rendah untuk diabadikan.
Jika ada yang memiliki keberuntungan berkali-kali lipat, akan ada juga seseorang yang sekeras apapun mencoba, hanya kesialan saja yang menunggu di depan muka.
Dunia, katanya, berputar seperti itu. Saling berbanding balik dan juga berseberangan. Pada satu sisi itu, mampu membuat seseorang untuk saling memahami.
Namun, ada banyak sisi yang lain itu bisa digunakan oleh orang-orang untuk saling menjatuhkan.
Dibandingkan hal baik, hal buruk tentu lebih sering mendominasi karena praktis dan mudah dilakukan.
Terlebih jika sudah menjadi kaum putih, kaya raya, rupawan, dilimpahi banyak keberuntungan, maka melakukan hal busuk bukanlah sesuatu hal mustahil yang bisa dilakukan.
Bagus Setiawan merasa bahwa dunia ini tak begitu adil kepadanya. Dunia itu bukan hanya diisi oleh si kaya dan si miskin saja. Nyatanya ada kaum menengah yang terlihat sama sepertinya.
Memiliki segalanya secara sederhana—tidak lebih dan tidak kurang—tapi juga tak banyak menguntungkan. Malah lebih banyak sisi pahit daripada indahnya.
Salah satu hal pahitnya adalah tentang kisah cintanya, rumah tangganya dengan sang istri, yaitu Putri Wardhani.
Sebagai seorang suami, sudah merasa bahwa dirinya telah melakukan segala hal untuk Putri secara sempurna.
Ia selalu memprioritaskan istrinya itu dalam segala hal, memberikan apa yang dia mau tanpa banyak protes. Bahkan memastikan bahwa Putri hidup bahagia bersamanya dan selalu mendahulukan wanita itu daripada dirinya sendiri di setiap waktu yang ada.
Selama ini selalu berusaha memastikan bahwa hubungannya baik-baik saja. Ia juga selalu menegaskan bahwa tidak ada masalah serius dalam rumah tangganya.
Namun nyatanya, ekspektasi seringkali tak sama dengan realita, sebab apa yang selama ini selalu dipikir ‘baik-baik’ saja, ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan.
Bagus pikir, semua yang ia berikan kepada Putri sepertinya masih jauh dari kata sempurna, buktinya sang istri bisa pindah ke lain hati dan berselingkuh darinya tanpa pikir dua kali.
__ADS_1
Wanita itu dengan teganya menduakan cintanya dengan seorang laki-laki yang memiliki segalanya.
Memang benar bahwa dunia hanya akan dimenangkan oleh mereka yang kaya saja. Bagus sudah membuktikan hal itu sekarang.
Ia yang tidak ada apa-apanya ini tidak akan bisa berharap banyak untuk kehidupan yang bahagia.
Apalagi Tuhan maha membolak-balikkan perasaan manusia, yang mana Putri telah dijadikan salah satu korbannya.
Wanita itu tidak bisa menjaga hati dan cintanya hanya untuk Bagus seorang. Putri telah membaginya kepada orang lain tanpa pikir dua kali.
Bagus ingin sekali melampiaskan seluruh kemarahannya. Rasanya ia ingin berteriak dan memaki wanita itu yang telah berbuat semaunya dan tak memikirkan perasaannya saat ini, tapi apa yang bisa diakukan selain menerima semuanya dengan lapang dada?
Ia sendiri sadar diri bahwa Putri memiliki alasan yang sangat jelas untuk semua tindakannya.
Wanita itu pergi karena memang Bagus tidak bisa memuaskannya, sehingga memilih pergi dan mencari sosok laki-laki yang bisa memberikan kepuasan yang tidak bisa diberikan oleh sang suami kepadanya.
Menyebalkan memang bagaimana nyatanya ia telah dijadikan nomor dua oleh wanita yang sangat dicintai.
Di saat ia ingin marah, rasa khawatir dan juga kasihan lebih dulu memenangkan hati dan akal sehatnya, sehingga benar-benar tidak bisa melampiaskan apapun kepada Putri.
Semua hanya tentang bagaimana harga dirinya yang diinjak-injak, tapi tidak bisa melawan sama sekali. Hanya karena alasan sebuah rasa cinta yang teramat besar untuk wanitanya tersebut.
‘Aku memang pria yang sangat bodoh karena mau saja menerima seorang istri yang sudah berselingkuh. Bahkan memperbolehkan istriku bersama suami barunya untuk tinggal di kontrakan ini sekalipun sudah dikhianati.'
'Memang benar seperti apa yang orang-orang bilang, aku pria yang sangat bodoh, tapi mereka bahkan tidak tahu sebesar apa rasa cintaku untuk Putri.'
'Mereka tidak pernah tahu apa saja kenangan yang sudah pernah kami lewati bersama-sama. Aku sangat mencintainya, sehingga kesalahan yang dia perbuat pun rasanya tidak bisa membuatku tega mengusirnya dari sini.’
Bagus berbicara kepada hatinya sendiri, memikirkan betapa dirinya telah diperbodoh hanya karena sebuah cinta saja. Memang benar nyatanya bahwa cinta bisa membuat seseorang menjadi gila.
__ADS_1
Contohnya adalah ia yang sudah gila dengan rela menyakiti dirinya sendiri untuk melihat istrinya bermesraan dengan suami barunya di depan kedua matanya sendiri. Sudah lewat satu hari sejak pernikahan Putri dan Arya terjadi.
Sudah sejak kemarin juga mereka berdua tinggal di dalam kontrakan dengan izin darinya sendiri.
Memang aneh rasanya, ia juga tidak terbiasa dengan keadaan semacam ini, tetapi harus menahannya dan tetap membiarkan semuanya mengalir begitu saja.
Ia tidak akan tega jika membiarkan Putri tinggal di bawah kolong jembatan. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi jika tidak memiliki tempat tinggal dan akan luntang-lantung di jalanan sana bersama suami barunya.
Bagus akan merasa masa bodoh terhadap Arya, tapi ia tidak akan tega membiarkan Putri melewati semua itu. Dari pada membuat wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu menderita di luar sana, lebih baik membiarkannya untuk tinggal di dalam kontrakan.
Lagi-lagi semua rasa kasihan itu hadir karena cintanya yang begitu besar untuk Putri, sehingga ia tidak tega sama sekali untuk membuat istrinya tersebut hidup sengsara.
Padahal jika dipikir-pikir, sebenarnya yang paling menderita di sini adalah Bagus. Ia yang paling banyak menelan luka atas semua perlakuan istrinya.
Ia yang harus mendapatkan rasa sakit hati untuk semua perbuatan Putri.
Bagus yang harus rela dikatakan bodoh oleh banyak tetangga hanya karena memperbolehkan sang istri dan suami barunya tinggal bersama dengan dirinya.
Semua pemikirannya buyar ketika kedua telinganya menangkap suara tangis dari seseorang. Ia yang sejak tadi sedang memikirkan nasibnya pun merasa terusik hingga isi kepalanya menjadi pecah dan membuat laki-laki itu akhirnya kembali ke dalam realita.
Bagus menoleh ke arah sebelah kirinya dan menemukan putranya yang sedang menangis di sana. Laki-laki itu menghela napas panjang sebelum akhirnya mendekati putranya.
“Astaga. Maafkan Ayah yang sudah mengabaikanmu, Sayang. Ayah terlalu sibuk berpikir, sampai tidak menyadari kamu sudah bangun. Ayah pikir kamu masih tidur, tapi ternyata sudah bangun.”
Bagus kini menggendong bocah berusia 3 tahun tersebut ke atas pangkuannya. Ia menenangkan sang putra yang tiba-tiba saja sudah terbangun sepagi ini.
Padahal biasanya akan bangun siang, tapi entah mengapa hari ini lebih pagi.
Sepertinya mengetahui bahwa ayahnya sedang berpikiran buruk.
__ADS_1
Tentu saja perasaan seorang anak sangat tajam dan bisa mengerti bagaimana perasaan orang tua.
To be continued...