Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
186. Kedatangan istri pemilik perusahaan


__ADS_3

Sudah dua minggu berlalu, ibu Arya belum mengetahui jabatan apa yang didapatkan putranya di perusahaan. Penasaran dengan hal itu, wanita yang masih memiliki kulit mulus dan kencang itu meskipun sudah berusia setengah abad, selalu memberondong pertanyaan pada suaminya setiap malam.


Namun, pertanyaan-pertanyaan itu selalu berhasil ditepis dan percakapan beralih pada topik lainnya.


Ya, sang suami memang sangat pandai bermain lidah, memberikan banyak alasan pada istrinya mengenai pekerjaan Arya.


Ari Mahesa tidak ingin ada masalah baru dengan istrinya karena masalah jabatan yang diberikan.


Tentu saja ia sangat mengenal bagaimana sang istri yang menyayangi Arya lebih dari apapun. Bahkan, wanita itu berani melanggar apa yang dilarang hanya demi putranya.


“Sayang, cepat beritahu! Apa jabatan Arya di perusahaan! Apa kamu tidak ingin memberitahukannya padaku? tanyanya yang masih seperti malam-malam sebelumnya, yaitu ingin mengetahui posisi apa yang diberikan pada sang suami untuk putra mereka satu-satunya.


“Untuk apa? Kamu ini tidak bisa melakukan apapun di kantor meskipun tahu mengenai jabatan anakmu itu. Biarkan ia bekerja dengan tenang tanpa gangguan darimu.” Rudi memilih untuk menaikkan nada suara lebih tinggi karena saat ini tidak ingin jika sang istri setiap hari mengganggu dengan pertanyaan yang sama.


Tentu saja ia sangat risi, tetapi tetap tidak berniat untuk memberitahu karena meyakini jika sang istri hanya akan mengacaukan semua. Ia tidak ingin wanita itu membuat Arya ragu dan bimbang untuk bekerja sebagai seorang cleaning service.


Sementara wanita dengan wajah masam itu kali ini tidak bisa lagi menahan kekesalan saat sang suami menganggap bahwa ia adalah seorang wanita tidak berguna dan merepotkan.


“Mengganggu? Aku tidak mengganggu putraku. Aku hanya ingin tahu! Aku ingin berkunjung dan memberikan semangat pada Arya. Apa itu salah?"


"Aku tahu, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku!” ucap Rani Paramitha dengan tatapan tajam mengintimidasi karena saat ini merasa curiga pada sang suami saat mendapatkan sebuah ide di kepala untuk mengetahui apa yang ditutupi oleh pria itu.


Refleks Ari menggelengkan kepala, tanda menolak untuk mengatakan hal yang ingin disembunyikan dari sang istri. Semua itu ia lakukan demi kebaikan putra mereka.

__ADS_1


“Tidak ada. Aku lelah. Jalankan kewajibanmu sebagai seorang istri saat melihat suaminya datang dengan rasa lelah karena mencari uang untukmu!”


Rani Paramitha yang langsung menelan saliva dengan kasar saat mendapatkan kalimat skak mat dari sang suami, kini tidak membantah ucapan sang suami.


Akhirnya wanita itu diam dan memilih untuk mengunci mulut dan memilih membantu suami melepaskan jas, hingga sepatunya. Lalu, kembali membantu meletakkan tas di atas meja.


“Siapkan air hangat di kamar mandi karena aku ingin segera mandi dan beristirahat." Tidak memberikan peluang untuk sang istri kembali mengungkit masalah Arya, ia selalu memberikan kesibukan pada sang istri.


“Baiklah. Tunggu di sini! Aku akan menyiapkan air hangat." Berbalik badan dan berjalan meninggalkan sosok pria dengan wajah datar tersebut sambil mengumpat di dalam hati untuk melampiaskan kekesalan.


'Aku yakin ada yang tidak beres di perusahaan. Sepertinya aku harus mengecek sendiri besok. Sebenarnya suamiku memberikan jabatan apa pada Arya? Kenapa keberatan memberitahuku dan selalu kesal saat aku bertanya?'


Setelah sudah menyiapkan air hangat, kini kembali berjalan keluar dari kamar mandi dan memberitahu bahwa sang suami agar segera mandi, sedangkan ia memilih untuk mendaratkan tubuhnya di atas ranjang sambil berpikir.


Ia sudah sangat yakin akan datang ke perusahaan besok pagi tanpa memberitahu pada sang suami yang membuatnya kesal karena tidak menjawab pertanyaan darinya mengenai putranya.


***


Pagi ini, lobi dihebohkan dengan kedatangan Rani Paramitha di kantor suaminya. Wanita itu berjalan dan mencari tahu posisi yang didapatkan putranya di sana.


Langkahnya masuk ke lift yang kini terbuka lebar untuknya. Saat berada di dalam ruangan kotak besi tersebut, sedang berdiri di depan sosok wanita berseragam hitam dan membuatnya mengerutkan kening.


Melihat pakaian pekerja itu, membuat Rani mengambil jarak. Pasalnya, wanita itu tidak menyukai pekerja rendahan, yaitu cleaning service. Bahkan semakin bertambah kesal begitu melihat name tag pada sebelah kanan baju dengan nama yang sama dengannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, bunyi denting lift telah berbunyi dan pintu kembali terbuka. Rani Paramitha segera pergi dari sana untuk menemui suaminya karena ingin memberikan sebuah kejutan besar.


Dengan berjalan penuh elegan, kini langsung masuk ke ruangan sang pemimpin perusahaan—tak lain adalah sang suami.


“Kenapa kamu ke sini?” tanya Ari Mahesa yang terlihat sangat terkejut begitu melihat sang istri tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.


“Aku mau berkunjung saja untuk melihat suami bekerja. Sekalian ingin tahu pekerjaan Arya di sini," jawab Rani Paramitha dengan santai dan mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada tepat di hadapan sang suami.


Ari Mahesa yang tadi memegang bolpoin untuk menandatangani dokumen penting yang sudah di cek, kini meletakkan di atas meja dan mengembuskan napas kasar sambil menatap tajam ke arah sang istri.


“Arya tidak ada di ruangan ini. Jangan berharap kamu bisa bertemu begitu saja dengannya. Apalagi jika membuat kacau semua setelah bertemu dengan Arya yang sudah fokus bekerja. Kembalilah ke rumah karena perusahaan bukanlah tempat untuk bermain-main."


“Kenapa? Apa kamu memberikan pekerjaan di lapangan? Atau, kamu kirim dia ke anak cabang perusahaan?” Rani tentu saja kali ini semakin curiga karena berpikir jika putranya berada pada posisi paling rendah di perusahaan dan ia teringat pada sosok wanita yang berada dalam satu lift tadi.


Namun, ia refleks menggelengkan kepala karena berpikir tidak mungkin sang suami tega pada putra sendiri dengan memberikan posisi sangat memalukan, yaitu seorang cleaning service.


'Tidak mungkin. Mana mungkin sang ayah menyiksa putranya dengan memberikan posisi sebagai tukang bersih-bersih,' lirih Rani di dalam hati dan membuat ia kini semakin bertambah penasaran.


“Semua tebakanmu meleset. Sebaiknya kamu pulang daripada mendapatkan rasa kecewa yang teramat dalam.” Akhirnya Ari Mahesa kini mengibaskan tangan sebagai tanda pengusiran.


Ari merasa jika sebentar lagi sang istri akan membuat keributan besar setelah mengetahui bahwa Arya bekerja sebagai seorang cleaning service dan ia tidak ingin ada kehebohan di sana akibat sikap wanita di hadapannya tersebut ketika menanggapi dengan sangat berlebihan.


Rani Paramitha yang merasa sangat kesal karena diusir dan masih tidak mengerti maksud ucapan suaminya. Wanita itu memilih untuk berjalan keluar dan mencari sendiri keberadaan Arya di lantai empat dan tiga–tempat karyawan biasa kerja.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2