Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
212. Tunggu aku, jodohku.


__ADS_3

Ari Mahesa berada di restoran yang biasa untuk pertemuan bersama rekan bisnisnya. Kali ini, pria itu duduk bersama Choky Andriano, rekan bisnisnya yang selama ini dekat.


Setelah percakapan mengenai bisnis yang mereka bicarakan seperti biasa, Ari Mahesa mengutarakan maksud lain dari pertemuan itu.


“Apa kamu masih ingat dengan putraku?”


Choky menatap Ari Mahesa, lalu matanya berputar seakan ingatan sedang tidak bisa sinkron dengan kegiatan mengunyah.


Tiba-tiba saja satu tangannya berhenti memotong daging yang ada di piring saji. Mulutnya masih penuh dengan makanan, hingga akhirnya tertelan dan membuatnya bisa bersuara.


“Ya, aku ingat. Bagaimana ia sekarang? Apa sudah kembali dari sekolahnya di luar negeri?”


“Sudah. Ia sekarang bekerja di perusahaan. Hanya saja, ada yang ingin aku tawarkan padamu.” Ari kali ini ingin mengutarakan niatnya pada sahabat baiknya.


Ia bisa melihat bahwa respon dari putranya ketika bekerja dengan Tania, merasa tidak akan pernah berhasil. Tentu saja ia jauh lebih menghafal putranya yang semakin dipaksa malah akan pergi


Sementara sang istri tidak bisa memahami hal itu dan tetap saja memaksakan kehendak. Ia dan Rani sering berdebat karena sering berbeda pendapat dalam memutuskan sesuatu.


Jika Ari bisa memakai cara halus yang lebih cerdas dan cantik, sedangkan sang istri selalu memperlihatkan secara terang-terangan rencana dan pastinya tidak akan berhasil pada putranya yang memiliki sikap keras kepala dan arogan itu.


Saat ia menuruti keinginan dari sang istri, sudah berpikir bahwa rencana itu tidak akan pernah berhasil karena jelas-jelas diketahui oleh Arya.


Jadi, ia saat ini berinisiatif untuk merubah strategi dengan cara yang lebih cantik dan seolah semuanya terjadi secara alami. Bukan atas dasar paksaan seperti yang dilakukan oleh istrinya tersebut pada Arya.


"Tawaran? Apa itu menguntungkan?” Choky tersenyum menggoda Ari dengan memainkan alisnya.


“Aku dengar putrimu sudah kembali.”


"Ternyata, berita cepat menyebar rupanya. Ya, sekarang ia sedang sibuk menghabiskan uang orang tuanya. Setelah kembali dari luar negeri, ia malah sering pergi bersama teman-temannya."


"Aku sedang memikirkan agar bekerja di perusahaan, membantuku mengurus karena hanya dia satu-satunya putri pewaris yang nantinya akan melanjutkan kepemimpinan.


"Atau jika nanti sudah menikah, mungkin sang suami yang membantu mengurus perusahaan. Hanya saja, sampai sekarang aku tidak melihat ia dekat dengan seorang pria karena mayoritas temannya adalah wanita."


Choky sengaja meluapkan perasaannya yang sejujurnya sangat mengkhawatirkan putrinya yang sering pergi malam pulang pagi dan sudah pernah ditegur olehnya. Namun, ia malah mendapatkan kalimat telak dan membuatnya tidak bisa berkutik.


Aku sudah mengikuti semua perintah ayah untuk menempuh pendidikan di luar negeri dan mendapatkan peringkat serta prestasi cemerlang. Apakah tidak boleh jika aku sekedar bersenang-senang untuk merehatkan otakku yang sudah diforsir selama bertahun-tahun?

__ADS_1


Tenang saja, aku akan kembali menjadi putri yang membanggakan setelah memimpin perusahaan, tapi tidak sekarang karena ingin beberapa hari bersenang-senang sebelum memforsir otak dan tubuhku sampai bertahun-tahun lamanya.


Semenjak saat itu, Choky sudah tidak lagi menegur putrinya dan membiarkan berbuat sesuka hati. Ia mengetahui bahwa putrinya tidak akan pernah mengecewakan karena sudah terbukti dengan prestasi yang sering diraih.


“Aku dengar Calista sudah lulus dari perbankan, lalu kenapa ia tidak tampak di perusahaanmu?”


“Itulah. Anak satu itu memang ingin bekerja sebagai pegawai di bank, tetapi aku melarangnya. Aku ingin ia mengatur keuangan di perusahaan sendiri. Seperti yang kamu lihat sekarang, masih belum bersedia bekerja di perusahaan orang tuanya sendiri.”


"Ia mengatakan akan bekerja, tetapi masih ingin bersenang-senang karena mengeluh otaknya selama ini sudah terlalu diforsir ketika menempuh pendidikan di luar negeri."


Mendengar keluhan rekan bisnisnya, Ari Mahesa melancarkan aksinya untuk menjodohkan anak mereka.


"Sepertinya aku ada ide untuk membuat putrimu mau bekerja, tetapi bukan di perusahaanmu. Siapa tahu dengan bekerja di perusahaan orang lain, akan membuatnya lebih bisa bersemangat dan bertanggung jawab."


"Aku tidak yakin itu, tapi kamu bisa mencobanya. Aku akan membantumu untuk memberitahunya." Choky yang baru saja menutup mulut, kini menyadari apa yang saat ini diungkapkan oleh sahabat baiknya tersebut.


"Bukan hanya bekerja saja di perusahaanku, tapi aku ingin menjodohkan anak-anak kita agar hubungan kita menjadi lebih dekat. Bagaimana menurutmu?" Ari Mahesa yang baru saja mengungkapkan rencananya, berharap bisa mendapat persetujuan dari rekan bisnis serta sahabat baiknya tersebut.


Hingga sudut bibirnya melengkung ke atas begitu mendengar jawaban dari pria dengan rambut sedikit memutih yang menghiasi bagian samping kanan dan kiri telinga.


Tanpa pikir panjang, Choky menyetujui rencana itu. "Aku sama sekali tidak keberatan untuk menjodohkan Calista dengan Arya. Hanya saja, aku tidak bisa memaksakan kehendak pada anak itu karena dia selalu berbuat sesuka hati."


Bahkan kini, ia menjanjikan untuk memberikan jawaban secepatnya. Dengan mengantongi foto Arya yang tampan bak model, Calista pasti tidak akan menolak, pikir Choky.


"Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu dan pastinya ingin sebuah kabar baik, bukan penolakan." Ari yang saat ini mengulas senyuman sambil kembali melanjutkan ritual makan siang mereka di restoran mewah dengan menu lezat tersebut.


Kemudian keduanya melanjutkan pembicaraan mengenai perusahaan dengan sesekali menampilkan wajah serius dan terkadang mengulas senyuman ketika membahas sesuatu yang cukup menghibur.


***


Setelah pertemuan itu, kini Choky berada di rumahnya. Bersama sang istri dan putrinya yang sedang berkutat pada ponsel di tangan.


Choky awalnya berbasa basi untuk membahas tentang masalah perjodohan. Ia ingin mengetahui bagaimana tanggapan dari putrinya mengenai hal yang sering dilakukan oleh para orang tua untuk memutuskan pasangan terbaik agar keturunannya mendapatkan pasangan.


Kini, ia bertanya pada Calista mengenai perjodohan, sontak hal itu ditolak oleh wanita berusia dua puluh tiga tahun itu.


Sosok wanita berusia 25 tahun tersebut memiliki kulit putih, serta tubuh yang seksi dan perpaduan wajah manis, seolah langsung tidak menyetujui apa yang disebut dengan perjodohan.

__ADS_1


Calista tidak ingin impiannya untuk bisa bekerja di perbankan sirna hanya karena menikah tanpa mengenal pria yang akan menjadi pasangan terlebih dahulu.


Mendengar penolakan, Choky pun menunjukkan foto Arya dengan harapan putrinya akan berubah pikiran. Ia merasa tidak ada pria yang jauh lebih baik dari putra temannya tersebut.


Selain berasal dari keluarga yang sepadan, ia mengetahui bahwa putra dari temannya tersebut tidak suka main perempuan dan pastinya memiliki wajah rupawan.


Ia sangat hafal dengan selera para wanita zaman sekarang yang lebih mengutamakan fisik dan kekayaan daripada hal lainnya, sedangkan Arya memiliki semua yang diimpikan oleh para wanita dan tidak mungkin putrinya menolak pria setampan putra sahabatnya tersebut.


Wajah Calista berubah 180 derajat, dari cemberut hingga tersenyum seperti menginginkan sesuatu.


“Jadi pria tampan ini yang akan dijodohkan denganku?”


“Iya, tampan, bukan? Bahkan teman Papa sendiri yang menawarkan hal ini.” Choky saat ini mengetahui binar wajah dari putrinya itu merupakan sebuah kode atau tanda setuju.


Refleks Calista langsung menganggukkan kepala karena jujur saja setelah melihat foto dari pria yang akan dijodohkan dengannya tersebut, membuatnya terpesona dan sangat antusias.


Paras rupawan seorang pria dengan sudut bibir melengkung ke atas di foto tersebut, berhasil mencuri hatinya dan ia tidak ingin membiarkan kesempatan baik itu disiakan.


“Baiklah, aku bersedia. Apa yang harus aku lakukan, Pa?”


“Kamu hanya perlu mencari perhatian Arya dengan cara bekerja di perusahaan Mahesa. Kami ingin ini berjalan secara alami dan bukan jelas terlihat seperti dijodohkan. Jadi, anggap saja kamu bekerja seperti biasa dan ada bonus menantimu, yaitu seorang pria tampan seperti Arya Mahesa."


"Memangnya aku bekerja di sana di bagian apa?"


"Bagian pemasaran karena nanti Arya juga akan berada di sana dan kalian menjadi satu tim. Jadi, intensitas pertemuan kalian berdua akan membentuk sebuah ikatan batin yang lama-kelamaan dipupuk menjadi benang takdir yang disebut jodoh."


"Itulah rencana dari kami karena orang tua untuk keturunan agar mendapatkan semua hal yang terbaik dan akan melakukan ini untukmu, Putriku."


Choky saat ini mengakhiri ceritanya agar putrinya mengerti bahwa ia melakukan semua ini demi kebaikan.


Kemudian Calista yang mengerti dengan keinginan dan niat baik dari sang ayah, kini sudah memeluk erat tubuh agar itu.


"Aku tahu, Pa. Kalau begitu, aku akan menerima perjodohan ini karena jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat foto pria tampan ini. Pria tampan bernama Arya Mahesa yang akan ditakdirkan untuk menjadi jodohku."


Seulas senyuman terukir dari bibir wanita cantik tersebut yang sangat percaya diri bahwa ia akan bisa menaklukkan hati pria di foto itu.


'Rasanya aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan jodohku,' lirih Calista yang merasa sikapnya sangat lebay karena menyebut Arya adalah pria yang ditakdirkan untuknya.

__ADS_1


'Tuggu aku, jodohku.'


To be continued...


__ADS_2