Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
189. Penolakan Putri


__ADS_3

Putri menelan ludahnya kasar. Itu adalah uang dalam jumlah yang banyak. Akan tetapi, relakah ia menerima uang itu hanya untuk meninggalkan harta sesungguhnya? Ya, ia menganggap Arya adalah harta paling berharga yang tidak bisa ditukar dengan uang sebanyak apapun.


Apalagi ia sangat mencintai Arya dan tidak akan pernah meninggalkan sang suami yang rela melakukan apapun untuknya.


Dengan nada sopan, ia berkata, “Maaf. Aku memilih untuk tetap bersama Arya dan menjalani kehidupan kami bersama. Meski banyak yang kami lalui, bahkan sudah banyak masalah dan duka yang kami alami bersama."


"Tentu, semakin ke sini, aku tidak bisa meninggalkannya. Apalagi sebentar lagi akan melahirkan anak pertama Arya. Tentu anak ini jauh membutuhkan ayahnya.”


Wajah Rani semakin memerah karena merasa sangat kesal ketika tawarannya ditolak. Ia berpikir bahwa uang yang berada di dalam amplop coklat tersebut tidak sebanding dengan harga seorang wanita murahan. Hal itulah yang membuat Rani murka pada wanita yang dianggap tidak tahu diri itu.


“Jadi, kamu menolak uang ini? Aku tidak menyangka jika sungguh licik. Baiklah, aku akan menambah nominalnya setelah kamu resmi meninggalkan putraku. Jika perlu, kamu kembali saja ke suamimu.”


Hati Putri terasa semakin dicabik-cabik dengan penghinaan bertubi-tubi dari sang mertua. Bahkan air matanya seperti ingin keluar, tetapi belum saatnya bagi Putri meneteskan.


Putri belum kehilangan suami saat ini, tetapi masih saja ucapan mertuanya sangat pedas dan membuat telinganya seperti tersumbat.


“Ma.”


“Sudah kukatakan untuk tidak memanggilku dengan sebutan itu!” sarkas Rani yang seketika mengangkat tangan kanan ke atas untuk bersiap mengarahkan sebuah tamparan pada wajah Putri.


Namun, ia mengurungkan niat karena berpikir jika wanita licik itu akan mengadu pada Arya dan akhirnya menjadi benci padanya. Tentu saja ia tidak ingin putranya membencinya, sehingga memilih untuk mencari cara lain demi menghancurkan Putri.


“Baiklah. Maafkan aku. Mungkin, aku memang bukan wanita pilihanmu sebagai istri Arya, tetapi putramu memilihku untuk dicintai. Jadi, di mana letak kesalahanku? Tidak ada yang bisa merubah perasaan atau memaksakan perasaan seseorang."


"Semua datang dengan tiba-tiba. Anda adalah seorang ibu dari suamiku. Jadi, aku masih bersikap sopan melihat status hubungan kita antara mertua dan menantu. Aku mengerti dengan kecemasanmu mengenai Arya."


"Namun, alangkah baiknya melihat langsung apa yang Arya rasakan akhir-akhir ini? Arya bahagia bersamaku. Meskipun tinggal di rumah kontrakan ini." Putri sengaja berkata panjang lebar karena ingin menyadarkan wanita paruh baya tersebut agar menyerah untuk memisahkannya dari Arya.


Dengan menurunkan tangan karena tidak jadi menampar wajah wanita itu, kini Rani masih mengarahkan tatapan tajam dan berteriak, “Diam! Jangan menasehatiku!"


"Kau hanyalah seorang wanita murahan yang tidak pantas untuk putraku! Aku bersumpah akan membuatmu menangis darah saat putraku menceraikanmu!"


Rani berjalan keluar dengan kesal. Ia bahkan menendang pintu untuk meluapkan kekesalannya. Hingga suara gaduh dari perbuatannya berhasil memecahkan keheningan malam.


Putri hanya terdiam mematung di tempatnya melihat siluet wanita itu pergi. Embusan napas kasar seolah mewakili perasaannya saat ini yang campur aduk menjadi satu. Namun, ia mencoba untuk bersabar dan menerima semua itu.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, melihat ada pesan masuk dari Arya yang mengatakan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah.


Dengan perasaan sakit hati yang masih jelas di dada, ia hanya bersikap biasa pada suami dan tidak akan menunjukkan hal yang hanya akan menimbulkan kecurigaan.


“Aku mencintaimu, Arya. Aku harap, keputusan ini tidak salah dan kita bisa terus bersama.”


Putri memilih merapikan semuanya, kembali ke kamar, lalu berbaring di atas ranjang untuk beristirahat karena ia cukup lama berdiri tadi, hingga merasakan kaki pegal. Ia masih mengingat jelas uang yang ada di dalam amplop cokelat. Uang yang banyak dan bisa digunakan untuk persalinan.


“Itu adalah uang yang sangat banyak. Sepertinya wanita tua itu benar-benar ingin aku pergi dari sisi anaknya. Lalu, ia berkata mengenai pekerjaan Arya yang menjadi karyawan biasa "


"Memangnya kenapa dengan karyawan biasa? Setidaknya Arya masih bisa bekerja di perusahaan milik ayahnya. Lalu, mengapa wanita itu seakan-akan berkata jika Arya bekerja dengan jabatan yang paling rendah?” gerutu Putri sembari mengusap perutnya.


Kehamilan Putri memasuki bulan kedelapan. Sudah saatnya bersiap untuk menyambut kehadiran anak ke-tiganya.


“Ibu sudah tidak sabar bertemu denganmu, Sayang. Semoga kamu lahir dengan jalan yang lancar dan mudah.”


Setelah mengatakan kalimatnya, ia merasakan anaknya tengah menendang dengan kuat. Bentuk perutnya juga tampak tidak beraturan saat anaknya bergerak tanpa arah. Kini ia tersenyum simpul saat merasakan sebuah tanggapan dari bayi dalam kandungannya.


"Putraku sangat jago menendang rupanya, jangan terlalu keras, Sayang. Kamu bisa menyakiti Mama.”


***


Keesokan harinya, Putri melihat Arya sedang berbaring di sampingnya dengan mata yang masih terpejam. Ia bergerak perlahan untuk segera ke dapur dan memasak. Putri tidak ingin suaminya melewatkan makan pagi dan bekalnya hari ini.


Ia ingin menjadi istri yang tepat waktu dan selalu berguna untuk suaminya. Hingga beberapa menit kemudian melihat wajah kusut bangun tidur sang suami tengah berjalan mendekat dan mencium keningnya.


"Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Arya yang tadi merasakan pergerakan Putri, sehingga memilih untuk bangkit dan menemani di dapur.


Putri hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepala. “Ya, kenapa kamu bangun? Tidur saja dulu, ini masih terlalu pagi untukmu.”


“Kamu benar, tetapi aku tidak bisa kembali memejamkan mata setelah melihat wajah cantikmu." Arya mendaratkan tubuhnya di atas kursi dan mengungkapkan rayuan mautnya.


“Sudah. Ini masih pagi, jangan menggodaku.” Putri hanya terkekeh geli mendengar pujian manis pagi hari yang berhasil mengobati lukanya.


Kemudian ia melanjutkan memasak dan setengah jam kemudian telah selesai melakukannya. "Akhirnya selesai juga."

__ADS_1


Melihat kegiatan sang istri sudah selesai, Arya beranjak dari kursi, lalu berjalan mendekati Putri. Pria itu mendorong tubuh istrinya untuk masuk kamar mandi dan melepaskan satu persatu pakaian sang istri.


“Arya,, perutku sudah sangat besar. Aku tidak bisa bergerak dengan leluasa,” ujarnya beralasan dan tidak pernah menyangka jika Arya tiba-tiba mengajaknya mandi bersama.


“Aku tahu, sebab itu aku akan melakukannya dengan perlahan dan pasti. Semalam aku ingin melakukannya, tapi tidak tega membangunkanmu. Jadi, sekarang saja," ucap Arya dengan mengedipkan mata sambil melepaskan pakaiannya.


Merasa tidak bisa lagi menolak keinginan sang suami saat sudah berada di dalam kamar mandi, akhirnya Putri memilih untuk pasrah dan membiarkan Arya menjelajahi setiap sudut tubuhnya.


Akhirnya kedua pasangan itu beradu kasih di kamar mandi, saling melepaskan rasa rindu dengan sentuhan yang sudah lama tidak mereka rasakan.


Ya, semenjak sibuk dengan pekerjaan di kantor, Arya sangat jarang menyentuh istrinya. Selain karena pekerjaan, Arya juga tidak ingin anak yang ada di perut istrinya itu akan mendapatkan masalah jika sering bercinta.


Setengah jam kemudian, mereka terlihat sangat segar dan berjalan menuju ke arah meja makan dan Arya mulai membuka suara.


“Hari ini, aku akan berangkat tanpa bekal. Aku tidak ingin merepotkanmu.”


“Tidak, itu sudah menjadi kewajibanku. Jangan halangi kebaikanku ini.”


“Baiklah jika kamu memaksa.”


Setelah persiapan selesai, Putri menoleh ke arah sang suami. “Sudah siap. Kamu pasti menyukai ini.”


"Tentu saja aku akan menyukainya, Sayang." Arya meraih kotak bekal yang ada di meja makan, lalu berpamitan dengan mencium kening istrinya.


“Aku berangkat. Terima kasih untuk makanannya, Sayang. Jaga dirimu, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku!”


“Ya, akan aku lakukan. Kamu juga hati-hati di jalan." Putri tersenyum simpul dan melambaikan tangan pada sang suami yang semakin menjauh.


Setelah kepergian Arya, ia kembali termenung, memikirkan perkataan wanita yang tak lain adalah mertuanya sendiri. Jujur saja ia merasa khawatir dengan ancaman dari wanita itu. Pikirannya terus berputar tentang apa yang akan dilakukan mertuanya setelah ini?


“Semoga saja ibumu tidak bertindak lebih jauh lagi untuk memisahkan kita."


To be continued...


__ADS_1


__ADS_2