Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
82. Kehidupan sebenarnya


__ADS_3

Putri sering muntah-muntah dan merasa lemas. Setelah mengetahui bahwa ia hamil benih Arya, memilih untuk menemui kekasih gelapnya di sebuah café yang menjadi tempat pertama kali pertemuannya dengan pria yang berusia empat tahun lebih muda darinya.


Ia menunjukkan testpack dengan dua garis merah pada Arya, sehingga berhasil membuat kekasihnya sangat terkejut dan sempat meragukan benih yang telah dikandungnya.


"Aku hamil. Kamu ingat saat tidak memakai pengaman, kan? Itu saat aku dalam masa subur. Hingga menyebabkan aku hamil benihmu."


Arya yang tadinya minum, refleks langsung tersedak dan membuatnya terbatuk-batuk begitu mengetahui bahwa Putri mengandung.


Ia berusaha untuk menenangkan diri agar tidak panik. Kemudian ingin memastikan sesuatu.


"Kamu yakin itu anakku? Bagaimana aku tidak mencurigaimu saat kamu masih tinggal serumah dengan suamimu."


Merasa sangat terhina karena Arya tidak mau mengakui benih yang tumbuh di rahimnya, membuat Putri benar-benar sangat marah. Bahkan selama hamil trimester pertama ini, emosinya tidak stabil dan selalu marah-marah.


Begitu pun saat Arya seolah tidak mau mengakui janin yang dikandungnya adalah putranya. Refleks ia bangkit berdiri dan mengepalkan kedua tangannya.


"Kau benar-benar sangat keterlaluan, karena meragukanku. Bahkan aku sudah berjanji padamu, hanya bercinta denganmu karena sangat mencintaimu dan muak pada pria tua tidak berguna itu."


Pertengkaran hebat pun terjadi dan membuat Putri pingsan.


Sementara itu, Arya yang menarik rambutnya frustasi, kini merasa iba dan bersalah. Akhirnya ia membawa wanita yang dicintainya ke rumah sakit untuk dipastikan kehamilannya dan mengetahui usia kehamilan kekasihnya sudah empat minggu.


Ia yang berpikir sudah satu bulan berhubungan diam-diam dengan Putri sampai bercinta seperti layaknya suami istri, akhirnya menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Arya berjanji akan bertanggung jawab.


“Sayang." Arya menggerakkan tubuh Putri dengan lembut. Bahkan ia mengenggam jemari Putri dan berusaha membuat wanita itu sadar.


Seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa.


“Tubuh istri Anda lemah sekali


Ini bisa berakibat kurang baik pada janinnya.” Dokter yang memeriksa memberitahu pria yang terlihat cemas tersebut dan menduga jika itu adalah sang suami dari pasien. Meskipun dalam hati berkata jika wajah pria itu terlalu muda.


Sementara perawat sudah memasang peralatan infus pada tangan pasien.


Menurut dokter, Putri mengalami dehidrasi. Kekurangan cairan dan makanan dapat membuat tubuh wanita hamil lemas. Bahkan bisa pingsan seperti yang dialami oleh pasien.


Arya mendengarkan keterangan dokter dan sesekali menatap ke arah wanita yang masih tidak sadarkan diri tersebut.


"Tolong jaga perasaan istrinya dengan baik karena seorang wanita hamil di trimester pertama sangat rawan dan harus dijaga perasaannya yang jauh lebih sensitif. Mudah-mudahan pasien segera siuman.”


Dokter dan perawat yang mendampingi menyelesaikan pekerjaan mereka dan beranjak ke pasien berikutnya.


Sementara itu, Arya terlihat mengigit bibir bawahnya. Ia tidak menyangka mengalami peristiwa seperti ini. Ia melirik Putri yang belum siuman.


Wajah Putri pucat dan bibirnya terkatup rapat. Berbeda dengan saat wanita itu pertama datang kepadanya meminta pertanggungjawaban. Bibir Putri yang membisu itu sesaat tadi histeris dan marah-marah.


Arya terdiam karena mengingat kejadian di restoran beberapa saat lalu.


“Bagaimana kalau itu adalah benih suamimu?” Arya sempat meragukan Putri membuat kemarahan wanita itu memuncak.


“Aku yakin ini anakmu, Arya. Aku tidak pernah bercinta dengan pria itu setelah mengenalmu!” tegas Putri.


Arya melihat kejujuran di mata wanita yang sangat dicintainya tersebut. Wanita itu tidak mungkin berbohong dan mengatakan bahwa ia mencintainya.


“Aku sangat mencintaimu, Arya ....”


Putri tidak bisa meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba kepalanya pusing dan tubuhnya melemah. Putri tadi hilang keseimbangan dan Arya refleks menahan tubuh Putri agar tidak sampai terhempas lantai.

__ADS_1


Arya mengangkat tubuh Putri ke mobil dan membawanya ke rumah sakit. Petugas rumah sakit sigap menyambut tubuh Putri yang pingsan.


“Tolong dia!" teriak Arya sangat cemas. Ia takut kalau Putri mengalami sesuatu yang membahayakan.


Perasaan apa yang muncul di hatinya? Ia mencemaskan Putri, takut wanitanya itu mengalami hal buruk. Sesuatu menjalari perasaan Arya


Ia menggerakkan tangan, mengusap lembut penuh kasih sayang rambut Putri.


“Aku janji akan bertanggung jawab padamu dengan menikahimu," seru Arya dengan lirih.


Beberapa saat kemudian, Putri yang mengerjapkan kedua mata karena sudah sadar, kini menatap ke arah sosok pria yang tadi membuatnya kehilangan kesadaran.


"Aku ada di mana?” Putri melihat dinding rumah sakit yang putih.


“Sayang, kau sudah sadar?” Arya mengangkat kepalanya, merasakan Putri bergerak dan ia mendengar suara wanita dengan wajah pucat tersebut.


Sementara itu, Putri mengumpulkan semua kesadarannya dan mengingat kejadian dari awal, yaitu pertengkaran dengan suaminya.


Hingga pertemuan dengan Arya.


“Sayang, aku minta maaf.” Arya menggenggam tangan Putri dan mengusap punggung tangan dengan jemari lentik itu. “Semua akan baik-baik saja. Beristirahatlah dan jangan banyak pikiran.”


Putri mengigit bibirnya mendengar kata-kata Arya.


Bagaimana tidak banyak pikiran? Bagus menolak menceraikan dirinya. Bahkan melibatkan saudara tiri yang belum pernah bertemu dengannya.


Ia takut Arya mengetahui bahwa ia hasil perselingkuhan ibunya. Putri membenci Bagus karena telah membuka luka lama yang tak ingin ia ingat.


Arya mengerutkan kening saat melihat Putri tak mau bicara dengannya. Wanita itu memalingkan wajah dan sesekali menghapus air mata yang menetes.


'Apakah Putri masih marah karena ia meragukan janin di perutnya? Ia sudah meminta maaf dan bertanggung jawab, tapi kenapa masih saja diam?' Berbagai macam pertanyaan kini menari-nari di kepala Arya.


Merasa sangat lega dan bahagia, kini Putri menolehkan kepala pada pria yang sangat dicintai.


“Aku tidak ingin kembali ke rumah itu. Aku ingin bersamamu selamanya.” Putri membalas genggaman Arya pada jemarinya, membawa ke dadanya.


“Laki-laki itu membuatku muak, Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi!”


Putri kembali mengatakan betapa ia membenci Bagus. Tentu saja ia kembali mengingat selama menjadi seorang istri, suaminya itu tidak pernah membuatnya bahagia, baik di ranjang, apalagi materi.


Bagus tidak pernah memberinya uang lebih untuk bersenang-senang. Bajunya hanya sedikit dan harganya tidak ada yang mahal.


Tas, sepatu, apalagi perhiasan, suaminya itu tak pernah membelikannya. Jika ada cincin emas yang melingkar di jarinya, merupakan mahar pernikahan mereka.


Bagus sangat sederhana dan sama sekali memiliki ambisi untuk membahagiakannya dan anaknya. Lebih mengenaskan, Bagus tak pernah membuatnya tersenyum puas dan terlelap setelah bercinta. Justru kepalanya menjadi pusing dan tak bisa tidur.


“Aku akan melakukan sesuatu supaya kau berpisah dari suamimu," bisik Arya membelai rambut Putri.


“Apa yang akan kamu lakukan?” Putri melirik Arya.


“Aku akan memperkenalkanmu pada orang tuaku," ucap Arya dengan tatapan intens pada Putri.


“Mau tidak mau, pria itu akan menceraikanmu karena kamu hamil anakku.”


Perkataan Arya terdengar manis di telinga Putri. Mereka berpandangan dan tersenyum. Arya mendekatkan bibir dan memagut lembut bibir Putri.


Baru saja Putri bermaksud membalas, ponsel di dalam tas berbunyi. Ia mengerutkan kening karena penasaran dengan siapa yang menelpon.

__ADS_1


Arya mengambil ponsel dan memberikannya pada Putri.


“Putri, kamu di mana? Cepat pulang karena Putra menangis dan tak bisa diam dari tadi sore. Hanya kamu yang ia panggil!”


Suara suaminya_ Bagus terdengar sangat jelas dan jiwa keibuan Putri membuatnya menjadi panik.


Apalagi putranya terdengar mengamuk dan menangis sejadi-jadinya. Apalagi ia tahu bahwa Bagus bukan seorang ayah yang pandai menenangkan anak.


“Aku harus pulang."


“Kamu masih lemas, Sayang. Bagaimana jika kamu pingsan lagi?" tanya Arya yang ingin memastikan karena sangat mengkhawatirkan keadaan wanita dengan wajah pucat itu.


Refleks Putri yang sudah terbiasa dengan keadaannya, kini hanya menggelengkan kepala.


"Aku tidak apa-apa."


Meskipun ragu, tapi Arya akhirnya terpaksa menuruti keinginan Putri.


"Sebentar, aku panggilkan dokter.”


Arya memencet tombol di atas kepala Putri dan tidak lama kemudian, perawat datang. “Suster, istriku harus pulang," ucap Arya sambil menatap wanita berseragam putih tersebut.


“Memangnya Anda sudah merasa baikan?” tanya wanita berseragam putih tersebut.


“Iya." Putri hanya menjawab singkat.


Meskipun merasa ragu, tetapi akhirnya perawat itu mengangguk. Kemudian menyuruh pasien menunggu karena ia harus bertanya pada dokter.


Tak lama kemudian, Putri diizinkan pulang setelah diberikan resep oleh dokter.


Kini, Arya membantu Putri dari kamar rawat inap menuju ke pintu keluar.


“Aku akan mengantarkanmu hingga rumah."


Putri menurut dan ia sama sekali tidak takut pada suaminya jika sampai melihat Arya karena sudah mengajukan gugatan cerai dan bukan rahasia umum lagi telah berhubungan dengan pria lain.


Bahkan tidak ada yang bisa menghentikan dirinya dari keinginan untuk menikah dengan Arya, termasuk suaminya. Hubungannya dengan Putri ibarat padi dalam sekam, sewaktu-waktu membakar dan habis.


Setengah jam kemudian, mobil yang membawa mereka telah tiba di depan rumah kontrakan Putri. Arya kini bisa melihat kehidupan sebenarnya dari sang kekasih.


Ia mengamati rumah kecil yang tidak ada bandingannya dengan istananya dan sangat terkejut melihat Putri selama ini tinggal di tempat yang menurutnya sangat mengenaskan.


Namun, ia tidak ingin membuat Putri merasa terluka jika membuka suara untuk berkomentar. Apalagi tadi ia mendengar penjelasan dari sang dokter yang tidak boleh membuat perasaan Putri buruk.


“Sudah sampai, Sayang." Arya membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan Putri keluar.


Perlahan Putri menurunkan kakinya dan keluar dari mobil. Ia menatap Arya. Suasana telah gelap, sehingga Putri tidak tahu apakah pria itu tersenyum.


“Terima kasih, Sayang. Aku masuk, kita bertemu lagi besok.”


Arya yang langsung mengangguk perlahan, mengulas senyuman pada wanita yang sangat dicintainya.


“Jaga baik-baik bayi kita.”


"Iya," ucap Putri yang juga langsung tersenyum sambil meraba perutnya.


Kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dan tentunya akan kembali bertengkar hebat dengan pria di dalam rumah yang sama sekali tidak mau menceraikannya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2