Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
106. Bertambah kesal


__ADS_3

Tidak ingin berlama-lama berinteraksi dengan wanita yang malah membuatnya semakin terluka, Bagus memilih untuk segera masuk dalam kamar. Ingin segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan memeluk tubuh putra bungsunya.


Sementara itu, Putri yang tidak mau menyerah karena masih berharap bahwa pria itu mau menolongnya untuk terakhir kali sebelum ia pergi dari rumah kontrakan yang sangat sempit itu.


Tentu saja setelah ia melihat sendiri istana dari keluarga besar Arya, membuat Putri tidak betah tinggal di kontrakan yang dianggapnya sangat sempit dan jelek itu.


Berharap setelah menikah dengan Arya nanti, ia akan segera pindah ke rumah itu karena orang tua dari pria yang dicintainya tersebut berubah pikiran dan mau menerimanya karena mengagumi cinta mereka yang teramat besar.


Refleks Putri menahan pintu yang akan ditutup dari dalam tersebut. "Sebentar saja! Jangan tidur dulu karena aku belum selesai berbicara."


"Astaga, Putri!" sarkas Bagus yang merasa sangat kesal pada sosok wanita yang dicintainya tersebut tengah memanfaatkan kedekatannya dengan Amira Tan.


"Aku mohon cobalah dulu karena sebelum mencobanya, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Aku bisa melihat bahwa Amira Tan sepertinya menyukaimu. Biasanya seorang wanita akan melakukan apapun untuk pria yang disukai," ucap Putri yang saat ini masih menahan pintu dengan kedua tangannya.


Jika sebelumnya, Bagus hanya diam saja ketika pintu ditahan oleh Putri, tetapi setelah mendengar hal konyol yang diungkapkan oleh wanita itu, membuatnya tidak memperdulikan apapun lagi karena sudah langsung menutup pintu tanpa menjawab apapun.


Ia kali ini tidak bisa mentoleransi pikiran konyol dari Putri yang menganggap Amira Tan datang ke rumah karena menyukainya.


Padahal jelas-jelas tadi wanita yang berprofesi sebagai pengacara tersebut mengatakan ingin mengabarkan bahwa gugatan perceraian akan digagalkannya karena sudah dibayar mahal oleh keluarga Mahesa.


Mungkin jika di dalam rumah kontrakan tersebut hanya ada ia dan Putri saja, sudah membanting semua barang-barang yang dilihat tanpa memperdulikan suara bising yang akan tercipta atas perbuatannya.


Namun, saat mengingat bahwa putranya sedang tertidur pulas di atas ranjang, membuatnya sadar bahwa itu akan memberi ingatan buruk pada bocah laki-laki yang masih teramat kecil dan membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu.

__ADS_1


Bagus yang saat ini sudah berbalik badan dari pintu, menatap ke arah putranya dan merasa sedih, serta iba pada nasib dari anak-anaknya karena sebentar lagi tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu yang memilih untuk berbahagia di atas penderitaan mereka.


"Apa ia berpikir bahwa semua orang sepertinya? Ia berpikir aku berselingkuh dengan saudara tirinya dan Amira Tan akan memberikan berapapun uang yang kupinjam."


Tidak ingin semakin dibuat merasa bersalah pada nasib anak-anaknya karena semua itu terjadi juga tidak lepas darinya. Tidak pernah membahagiakan istrinya, itulah yang selalu diungkapkan oleh Putri ketika mencari alasan sebagai pembenaran diri atas perselingkuhan yang dilakukan.


Bahkan saat ini, ia terlihat mengarahkan tangannya untuk sekedar memijat pelipis yang berhasil meninggalkan rasa pusing di sana.


"Apa yang harus aku katakan pada anak-anakku nanti? Apakah mereka akan berpikir hal buruk mengenai wanita yang melahirkan mereka."


Bagus yang saat ini sudah mendaratkan tubuhnya di atas ranjang sebelah putranya, kini terdiam selama beberapa menit karena sedang memikirkan rencana besar untuk dua anaknya.


"Aku harus melindungi anak-anakku agar tidak mendapat karma atas perbuatan dari ibu mereka. Aku pun harus mencari alasan yang tepat untuk mengatakan bahwa saat ini ibu mereka sudah tidak akan bisa berkumpul lagi seperti biasanya."


Sementara itu di luar ruangan, sosok wanita yang saat ini tengah menatap ke arah pintu tertutup di hadapannya yang selama satu bulan ini menjadi ruangan pribadi sang suami.


"Astaga! Aku belum selesai berbicara, tapi ia sudah menutup pintu. Apa yang harus kulakukan? Sepertinya aku harus berbicara jujur pada Arya. Bahwa aku hanya mempunyai uang segini."


Putri kini menunduk menatap ke arah telapak tangan dengan sepuluh lembar uang berwarna merah yang tadi diberikan oleh Bagus secara cuma-cuma dan tidak perlu mengembalikan uang itu.


Tidak ingin membuang waktu, Putri memilih untuk berjalan masuk ke dalam ruangan kamar di sebelah kanan dan meraih ponsel yang ada di atas nakas. Kemudian ia kini kepencet tombol panggil pada daftar kontak Arya yang telah dirubahnya dengan nama asli.


Tidak seperti satu bulan lalu karena mau memberi nama wanita agar Bagus tidak curiga padanya. Tentu saja dengan perasaan berdebar-debar karena ingin menyampaikan kabar buruk pada pria yang tengah bergantung harapan besar padanya.

__ADS_1


Hingga suara serak terdengar dari seberang telpon yang menandakan bahwa pria sangat dicintainya tersebut baru saja terbangun dari tidur. Situasi yang amat berbeda dirasakannya karena saat ini merasa pusing untuk memikirkan cara mendapatkan uang, tetapi Arya malah tidur pulas tanpa beban.


"Halo, Sayang. Ada apa? Kamu mengganggu tidur nyenyakku, hingga mimpiku langsung terputus begitu mendengar suara dari ponsel yang berdering."


Putri tentu saja merasa sangat kesal dan marah, sehingga memilih untuk mengungkapkannya dengan mengomel.


"Astaga, Arya. Aku di sini benar-benar merasa pusing untuk mencari uang, tapi kamu malah enak-enakan tidur. Padahal seharusnya akulah yang membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat, tapi kamu yang tertidur pulas seolah sama sekali tidak mengalami masalah."


Kini, amarah yang meluap di dalam hati Putri seolah sanggup menghancurkan apapun yang dilihat hari ini, sehingga ia benar-benar tidak bisa lagi menahan perasaan yang membuncah dirasakannya.


"Jadi kamu menelponku dengan menggangu tidurku hanya untuk marah-marah seperti ini?"


Tentu saja mendengar respon yang terdengar sama murkanya seperti yang dirasakan olehnya, membuat Putri semakin bertambah kesal, tapi ia sadar bahwa jika semakin marah, hanya akan menambah masalah yang dialami olehnya.


Namun, saat ia hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaan bernada kesal dari Arya, sambungan telpon terputus.


Ia tahu bahwa Arya yang memutuskan sambungan telpon sepihak karena kesal padanya dan amarahnya kian menjadi. Putri kini sudah meraih bantal, serta guling yang ada di sebelahnya dan langsung melemparnya ke lantai dingin ruangan kamar.


"Arya, kamu sangat menyebalkan. Seharusnya kamu merayuku agar tidak marah, tetapi malah balik marah dan mematikan sambungan telpon. Padahal aku belum mengatakan apapun tadi."


Putri yang merasa sangat kesal, kini melemparkan ponsel di tangannya ke atas ranjang dan membanting tubuhnya di sana, lalu memilih untuk meringkuk tanpa bantal dan guling.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2