Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
91. Satu-satunya harapan


__ADS_3

Sesuci itukah wanita itu? Hingga menyebut sesama kaum wanita sebagai wanita busuk dan wanita murahan. Sial. Hati Putri terkikis lagi saat mengingat kejadian tadi siang.


Ia terdiam sejenak dan berpikir lagi untuk mencari sebuah cara membereskan masalahnya.


Ia menemukan caranya. Jika Rani benar-benar menyayangi Arya, tidak akan bisa lama-lama berada jauh dari putranya. Ini adalah kesempatan emas bagi Putri.


Ia bisa membawa Arya ke tempat yang sangat jauh. Hingga Rani menghubungi dan menyuruh mereka untuk kembali dan berpikir bahwa lama-kelamaan restu akan mereka dapatkan.


Putri terlihat sangat kesal saat mengingat tanggapan dari Bagus pagi tadi. Karena ia yang tadi terpaksa meminjam uang, tapi sama sekali tidak membantunya sepeser pun. Hingga, ia kembali memainkan layar ponselnya dan melihat.


"Apa kakakku sudah bisa dihubungi?" tanya Putri yang kini menatap intens ke arah benda pipih yang sering disebut sebagai nyawa kedua oleh orang-orang tersebut.


Suasana rumah sangat sepi kala itu, lalu setelah beberapa saat dering ponsel terdengar dan Putri buru-buru menggeser tombol hijau ke atas. Ia bahkan bisa melihat siapa yang menelponnya, tak lain adalah sang kakak.


Akhirnya, sang kakak menghubunginya dan ia sedikit merasa lega karena akan mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.


"Halo, Putri. Kamu tadi menelpon? Aku tadi sedang di kamar mandi. Jadi, tidak tahu. Ada apa? Apa ada masalah?"


Putri terdiam, ia sudah putuskan untuk bercerita kepada kakaknya, tapi bibirnya terasa kelu dan kaku. Ia menjadi tergagap saat kakaknya bertanya lagi tentang keadaannya.


"Ehm, aku. Aku ingin meminta bantuanmu, Kak," ujar Putri dengan ragu. Akhirnya, ia bisa dengan mudah mengucapkan kata 'itu'.


"Tentu, apa yang bisa aku bantu? Apakah kamu sedang ada masalah dengan Bagus?"


"T-idak. Aku hanya ingin meminjam uang,"


Hening selama beberapa saat karena keduanya sama-sama terdiam.

__ADS_1


Putri dan sang kakak yang tak lain bernama Aini tidak mengeluarkan suara apapun.


Kini, Putri ragu jika kakaknya juga tidak akan membantu. Tentu saja ia merasa sangat bingung harus mencari pinjaman uang ke mana lagi jika satu-satunya saudaranya tidak bisa membantu.


"Memangnya uang dari Bagus kurang?" tanya Aini dari seberang telpon.


Selama ini Putri belum pernah meminjam uang padanya dan merasa curiga jika ada sesuatu yang terjadi, sehingga mencoba untuk mencari tahu.


Apalagi ia hanya tinggal di kampung dan mengandalkan uang dari sang suami yang bekerja sebagai buruh kasar. Itu pun harus merawat anak sulung Putri dan putranya sendiri. Hanya saja, pengeluaran di kampung jauh lebih murah jika dibandingkan hidup di kota, sehingga ia menyadari jika mungkin Putri sedang mengalami kesulitan.


Sementara itu, Putri merasa sangat lega karena sang kakak kembali bersuara.


"Iya." Menggaruk tengkuknya karena merasa sangat bingung harus mengatakannya untuk menceritakan tentang hal yang telah terjadi.


"Uang untuk apa? Apa Bagus tidak bisa menafkahimu lagi?"


Putri yang sangat terpaksa harus memberitahukannya karena ia memang sedang membutuhkan uang dan tidak tahu apa yang akan dilakukan jika tidak bisa mendapatkan uang.


Apalagi saat ini Arya sangat bergantung padanya. Ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini dan langsung berterus terang saja dari pada harus berbohong. Biarkan ia mengikuti jalur takdirnya.


"Menikah? Apa maksudmu?" tanya Aini dengan nada suara yang meninggi dan kebingungan, serta bercampur kemurkaan karena kini mulai bisa membaca ke mana arah pembicaraan dari adiknya.


Sudah Putri duga jika sang kakak akan murka padanya, tapi tak apa, ia akan menerimanya karena memang telah melakukan kesalahan. Namun, ia akan melakukan apapun demi Arya karena ingin menunjukkan bahwa ia sangat mencintai ayah dari benih yang ada di kandungannya saat ini.


Tentu saja dengan harapan bahwa Arya bisa melihat ketulusannya dan tidak akan pernah berpaling darinya. Satu hal yang pasti adalah, harapan utamanya, orang tua Arya akhirnya luluh melihat cinta tulusnya.


Kemudian menyuruh Arya kembali dan menerimanya sebagai menantu di keluarga besar Mahesa yang merupakan konglomerat tersebut. Bahkan ia sudah membayangkan jika itu benar-benar terjadi, akan menjadi seorang istri dari CEO perusahaan dan selamanya hidup enak.

__ADS_1


"Iya. Aku akan menikah dan akan bercerai dengan Bagus," ucap Putri tanpa basa basi dan tidak ingin ada yang ditutupi olehnya.


"Apa kamu gila, Putri? Kenapa? Apa masalah diantara kalian berdua? Mengapa kamu akan menikah lagi dan menceraikan pria baik seperti Bagus? Apa kamu sudah kehilangan akal?" bentak Aini yang merasa sangat murka begitu mendengar pengakuan dari Putri.


Selama ini, ia berpikir bahwa rumah tangga adiknya baik-baik saja karena belum pernah ada masalah yang terjadi setelah menikah selama hampir sepuluh tahun.


Apalagi ia sangat senang saat Putri bisa mendapatkan pria baik dan sabar seperti Bagus dan berharap adiknya tersebut selamanya hidup bahagia. Namun, hari ini pengakuan Putri benar-benar membuatnya merasa sangat terkejut dan tidak habis pikir.


Sementara itu, Putri masih tertegun mendengar tanggapan kakaknya. Perkataan sang kakak memang benar, jika Bagus adalah seorang laki-laki baik yang jarang ditemui. Sifat sabar, lembut, baik dan tidak pernah bersikap kasar padanya.


Namun, Putri juga menemukan itu pada sosok Arya.


Ia merasa Arya bagai kesempurnaan baginya. Ia selalu merasa tercukupi walau sekarang sudah pasti jika dirinya akan hidup susah bersama pria itu. Namun, setidaknya Arya akan mendapatkan pekerjaan yang bagus, bukan?


"Siapa laki-laki brengsek yang akan menikah denganmu? Siapa?"


Suara teriakan dan penuh kemurkaan terdengar memekakkan telinga, sehingga membuat Putri seketika menjauhkan ponselnya dari daun telinga.


Putri hanya ingin meminjam uang, bukan meminta, tapi tanggapan sang kakak membuatnya benar-benar seperti seorang pengemis saja. Mendengar kemurkaan dari sang kakak, ia tidak bisa memberitahukan perihal Arya.


Bisa-bisa nyawa Arya dalam bahaya, itulah yang saat ini terpikirkan olehnya. Apalagi ia tahu bahwa sang kakak sangat menyukai Bagus. Ia tidak ingin membuat Arya tersinggung dan muak serta ilfil padanya saat sang kakak murka, sehingga tidak mencintainya lagi.


"Aku mohon pinjami uang, nanti akan kukembalikan. Aku pasti akan mengembalikannya. Lagipula ini urusan pribadiku dan aku yang akan membereskannya. Kamu hanya perlu meminjamkanku uang saja," bujuk Putri dengan suara yang terdengar memelas.


Tentu saja kali ini benar-benar sangat berharap jika sang kakak mau meminjamkan uang untuknya karena ia berpikir harus secepatnya menikah siri sebelum terjadi hal buruk lainnya, seperti orang tua Arya mengajak pulang dan menyuruh untuk melupakannya.


Satu-satunya harapan Putri saat ini hanyalah wanita yang merupakan kakak tirinya tersebut mau membantu untuk meringankan masalahnya.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2