Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
102. Berakting penuh totalitas


__ADS_3

"Aku hanya manusia biasa yang tidak berhak untuk menghukum atas kesalahanmu karena ada yang lebih berkuasa untuk melakukannya. Ingat pesanku ini, Putri!"


"Suatu saat nanti, kamu disadarkan oleh teguran Tuhan. Entah itu satu tahun, dua tahun, atau lima tahun lagi, aku yakin kamu akan mendapatkan balasan dari perbuatan buruk di masa lalu karena semua manusia yang ada di dunia ini akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia."


Dengan mengempaskan tangannya ke bawah, kini Bagus beralih menatap ke arah sosok putranya yang malah tertidur di atas ranjang dengan posisi memegangi mainannya berupa robot Transformers.


Kemudian ia mengambil selimut untuk menghangatkan tubuh putranya yang tertidur pulas dan membuatnya merasa sangat iba. Ia bahkan kini memilih untuk berbaring di atas ranjang sebelah bocah laki-laki tersebut untuk memeluknya.


'Maafkan ayah, sayang karena mungkin sebentar lagi kamu akan ditinggalkan oleh ibumu. Ayah janji akan memberikan yang terbaik untuk kalian, anak-anakku. Meskipun kalian tidak akan pernah merasakan lagi kasih sayang dari ibu.'


'Karena ibu kalian lebih memilih pria itu dari pada kita bertiga. Aku harap kamu kelak jadi anak yang kuat, Sayang.'


Berbagai macam kekhawatiran yang saat ini dirasakan oleh Bagus ketika mengingat nasib rumah tangganya yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi.


Begitu melihat wajah putranya yang terlihat sangat damai ketika tertidur dengan pulas, ia berniat untuk memejamkan mata.


Namun, indra pendengarannya menangkap suara dari Putri yang mual dan menandakan akan muntah, membuatnya merasa sangat iba, tapi saat berbalik badan untuk bertanya, sudah terlambat karena Putri berlari keluar dari ruangan kamar dan menghilang di balik pintu.


Memang ia sadar bahwa sebagian ibu hamil selalu mengalami beberapa ketidaknyamanan akibat meningkatnya hormon estrogen dan progesteron.


Salah satu efek yang paling terlihat oleh Putri adalah perubahan suasana hati. Sebentar senang, tiba-tiba sedih, lalu jadi takut dan khawatir, kemudian tahu-tahu menangis.


Bahkan ia kini bangkit dari ranjang dan mulai berjalan menuju ke arah kamar mandi di bagian belakang, dekat dengan dapur.


"Apa semua ini karena hormon Kortisol juga?


Meskipun hormon kortisol bukan hormon khusus kehamilan, tapi terkait kondisi psikologis."

__ADS_1


"Namun, hormon kortisol muncul saat seorang ibu mengalami stres, baik diri sendiri ataupun orang lain. Aku tidak ingin Putri stres negatif. yang bisa membuktikan bahwa level kortisol ibu yang meningkat selama kehamilan, akibat distres yang dialami."


"Aku tidak ingin itu berakibat buruk pada berat badan lahir bayi Putri yang lebih rendah, juga hal-hal terkait dengan periode kehamilan lebih singkat, atau resiko kelahiran prematur."


"Sebenarnya aku tidak tega saat melihat Putri yang hamil dan sangat lemah karena adanya perubahan hormon dalam tubuhnya, sehingga menjadikan kehamilan lebih sulit dijalani."


"Namun, perubahan hormon tersebut penting demi terjaganya bayi dalam kandungannya. Aku harus menasihatinya agar menjaga vitalitas tubuh dan berpikir positif untuk mengurangi ketidaknyamanan selama hamil."


Bagus kini membuat teh hangat untuk Putri karena tidak ada susu kehamilan untuk dikonsumsi. Tidak mungkin ia membelikan susu kehamilan untuk istrinya yang


hamil benih pria lain karena masih belum bisa melupakan rasa sakit yang mendarah daging di dalam dirinya.


Meski saat melihat Putri yang pucat dan selalu muntah-muntah, pasti akan membuatnya tetap tidak tega. Seperti yang saat ini dilakukan oleh Bagus ketika membuatkan teh hangat untuk Putri yang masih terdengar muntah-muntah di kamar mandi.


Tentu saja ia teringat saat kehamilan pertama Putri yang disambut dengan kebahagiaan oleh mereka. Bahkan saat itu, ia menuruti apapun yang diminta oleh Putri dengan rela pinjam uang sana-sini karena ingin membahagiakan sang istri yang hamil anak pertama dan melengkapi kebahagiaan rumah tangga mereka.


"Aku tidak mungkin bisa melupakan masa-masa itu, Putri. Sayangnya, kamu bukan milikku lagi karena pilihanmu ada pada pria itu. Mungkin jika nanti terjadi sesuatu hal yang buruk padamu, akan mengingat apa yang kukatakan benar adanya," ucap Bagus dengan suara lirih dan membuatnya kini mendengar suara pintu yang dibuka dari dalam kamar mandi.


Benar saja, terlihat sosok wanita yang sudah keluar dengan wajah pucat dan sama sekali tidak menoleh padanya karena memilih berjalan gontai menuju kamar.


Bagus yang membuka mulut untuk memanggil Putri agar duduk dulu dan minum teh hangat buatannya, tidak jadi melakukannya karena berpikir akan lebih baik Putri beristirahat di dalam kamar.


Ia yang kini menunduk menatap ke arah gelas berisi teh buatannya, tengah menimbang-nimbang apakah akan memberikan pada Putri atau tidak.


'Apa dia mau meminum teh buatanku? Dari cara Putri melihatku saja sudah seperti sangat jijik padaku. Bagaimana jika ia menolak dan melemparkan gelas ini? Jika seperti itu, yang terjadi, aku semakin terhina dan sakit hati.'


Saat Bagus sedang sibuk menimbang-nimbang apakah akan memberikan teh buatannya pada Putri atau tidak, situasi yang sangat berbeda dirasakan oleh sosok wanita yang ada di atas ranjang tengah berbaring dengan posisi miring memeluk guling.

__ADS_1


Sebenarnya ia tadi ingin menanggapi perkataan Bagus yang seperti mengutuknya akan mendapatkan balasan suatu saat nanti. Meskipun ia tahu hal itu, tapi tidak menyukai saat semua orang seperti memvonis hukuman untuknya.


Padahal ia berpikir bahwa setelah ini akan fokus pada rumah tangganya bersama dengan Arya dan memohon ampun pada Tuhan atas kesalahan yang telah dilakukannya.


Ia tahu bahwa Tuhan akan memberikan pengampunan pada semua orang yang tulus menyesali perbuatan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan dosa lagi.


Namun, tadi saat ia ingin mengatakan hal seperti itu, malah merasakan mual dan muntah di kamar mandi. Setelah itu, ia sudah sangat lemas dan tidak punya daya, seolah kekuatannya kini seperti terkuras habis dan langsung berbaring di atas ranjang.


Kini, ia merasakan rasa pusing teramat sangat pada kepalanya dan membuatnya memilih untuk memejamkan mata. Saat ia baru memejamkan mata, mendengar suara ketukan pintu dari luar.


"Putri, aku membuatkan teh hangat. Ini akan sedikit menambah tenagamu setelah lemas karena efek muntah-muntah."


Putri yang kini langsung membuka kelopak mata, mendadak mendapatkan sebuah ide untuk membuat pria di luar kamar tersebut mau meminjamkan uang padanya.


'Ia tidak pernah tega melihatku sakit. Sepertinya aku harus berakting totalitas untuk membuatnya semakin iba padaku. Baiklah, beraktinglah seolah-olah kamu adalah artis terkenal, Putri.'


Putri yang kini berakting dengan suara lemah saat menjawab perkataan Bagus.


"Masuk saja. Aku tidak kuat berjalan untuk membuka pintu."


Putri yang sebelumnya langsung meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, agar terlihat menyakinkan bahwa saat ini ia sangat lemah dan beberapa saat kemudian melihat pintu ruangan kamarnya mulai terbuka.


Bisa dilihatnya pria yang tengah membawa gelas berisi air berwarna keemasan berjalan mendekatinya.


'Saat iba padaku, aku bisa memanfaatkannya untuk meminjam uang,' gumam Putri yang kini melihat Bagus menaruh gelas ke atas nakas di samping kiri ranjang.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2